NovelToon NovelToon
Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Diremehkan Kakaknya, Kunikahi Adiknya

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Keluarga
Popularitas:205.2k
Nilai: 5
Nama Author: uutami

“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.

"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.

"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."

Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.

"Ning, ayo nikah sama Mas."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 30

Ning menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Getarannya berhenti, tapi dadanya justru makin sesak. Ridho masih menggenggam tangannya, matanya menunggu—penuh harap, penuh kebingungan yang membuat Ning nyaris runtuh.

Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat panggilan itu.

“Assalamu'alaikum, Mas?” suaranya pelan, nyaris bergetar.

"Wa'alaikum salam, sayang. Lagi dimana?"

"Ning... Lagi di rumah sakit..." jawab Ning jujur, walau lidahnya terasa berat.

“Apa?” suara Yuda langsung meninggi di seberang. “Rumah sakit? Kamu sakit? Kok nggak bilang, Mas?”

Ning refleks menoleh ke arah Ridho. Tatapan lelaki itu seperti menahan dunia agar tak runtuh.

“Rumah sakit mana? Mas ke sana sekarang!” suara Yuda panik, langkahnya bahkan terdengar tergesa dari balik sambungan.

“Bukan Ning yang sakit, Mas,” Ning buru-buru menambahkan. “Teman. Ning cuma nganter.”

Hening sepersekian detik. Lalu napas Yuda terdengar lebih teratur.

“Oh… teman,” ulangnya, nada suaranya turun. “Ya Allah, kamu bikin Mas hampir copot jantung.”

Ning tersenyum tipis, senyum yang tak benar-benar sampai ke mata.

“Ning... habis ini pulang.”

“Mas jemput,” kata Yuda cepat. “Kamu jangan naik apa-apa sendiri.”

“Iya,” Ning mengangguk meski Yuda tak bisa melihat. “Ning tunggu di rumah sakit.”

Telepon ditutup.

Sunyi kembali menyelimuti ruang IGD itu. Ridho menatap Ning, sorot matanya berubah—ada sesuatu yang retak, jatuh perlahan, tak bersuara.

“Siapa?” tanyanya akhirnya, pelan.

Ning menelan ludah. “Suami,” jawabnya jujur. Tak ada nada bangga, tak ada pula penyesalan. Hanya fakta yang berdiri di antara mereka seperti tembok tinggi.

Ridho terdiam. Jarinya yang tadi menggenggam pergelangan Ning perlahan melemah. Satu per satu, ia melepaskan, seolah takut sentuhan itu melukai dirinya sendiri.

“Oh,” katanya lirih. Sesederhana itu, tapi Ning bisa mendengar sesuatu yang patah di sana.

Ia berdiri, membenarkan letak kruknya. “Ning harus pulang, Mas. Istrimu… atau keluargamu pasti sebentar lagi datang.”

Ridho mengangguk kecil. Tak mencoba menahan lagi. Tak memohon. Wajahnya kosong, tapi matanya basah.

“Terima kasih,” ucapnya. “Udah… nolong.”

Ning tersenyum tipis. “Cepat sembuh, Mas.”

Ia melangkah pergi, setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Ridho menatap punggungnya sampai sosok itu lenyap di balik pintu, lalu ia menutup mata. Dadanya nyeri—bukan sakit kepala kali ini, tapi perasaan asing yang menggerogoti.

Kenapa rasanya seperti kehilangan, padahal ia bahkan tak tahu apa yang hilang?

Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa terdengar.

“Ridho!”

Bu Pur masuk lebih dulu, wajahnya pucat. Pak Pur menyusul, langsung mendekat ke ranjang.

“Kamu kenapa, Le?” tangan ibunya gemetar memeriksa kening Ridho.

“Pusing,” jawab Ridho. “Tadi… ketemu seseorang.”

Bu Pur dan Pak Pur saling pandang. Tak ada kata.

Dalam perjalanan pulang, Ridho menatap keluar jendela. Lampu jalan berlarian, seperti ingatan yang mencoba menyusul tapi selalu tertinggal.

“Bu,” katanya tiba-tiba. “Dulu… Dewi beneran pacar aku, ya?”

Keheningan turun di mobil. Mesin tetap menderu, tapi tak satu pun menjawab.

“Bu?” Ridho menoleh. “Pak?”

Tak ada jawaban.

“Kenapa diam?” suaranya meninggi, nyeri kembali merambat. “Aku cuma nanya. Dewi itu… memang pacar aku kah?”

Bu Pur menghela napas panjang. “Kamu ini, Ridho,” katanya akhirnya, nada suaranya mengeras. “Ibu sudah bilang. Tunggu ingatanmu pulih dulu. Tapi kamu keras kepala. Kamu percaya semua yang Dewi bilang. Kamu menikah karena desakan Dewi, kamu malah main percaya aja apa yang dia bilang. Tapi, sudahlah, Dewi juga enggak buruk. Seenggaknya dia jelas, dari keluarga baik-baik juga.”

“Itu bukan jawabanku, Bu,” Ridho menatap ibunya. “Aku nanya… dia pacar aku atau bukan?”

Bu Pur menoleh ke depan. “Sudah. Jangan dibahas.”

Ridho terdiam. Jawaban itu lebih menyakitkan daripada kebohongan mana pun.

Di rumah, Dewi sudah menunggu. Wajahnya cemberut begitu melihat Ridho masuk tanpa dirinya.

“Mas, kamu pulang duluan?” tanyanya ketus. “Aku tungguin di kantor—”

“Aku enggak enak badan,” potong Ridho. “Pusing. Aku ke rumah sakit.”

Dewi menegang. “Rumah sakit?”

“Iya,” Ridho melepas sepatu. “Kayaknya… ingatanku mulai balik. Sedikit.”

Kalimat itu seperti petir bagi Dewi. Dadanya berdebar. Belum. Belum sekarang. Ia belum hamil. Ia belum benar-benar membuat Ridho jatuh cinta padanya.

Bu Pur langsung mendelik. “Kamu bukannya nanya keadaan suamimu, malah ngomel?” bentaknya. “Dia baru dari rumah sakit!”

Dewi tersentak. “Maaf, Bu,” katanya cepat. “Aku… aku cuma khawatir.”

Ia meraih tangan Ridho. “Mas, istirahat ya. Aku temani.”

Di kamar, Dewi menutup pintu pelan. Wajahnya berubah serius.

“Mas ingat apa?” tanyanya, berusaha terdengar santai.

Ridho berbaring. “Sedikit. Tentang… seorang gadis.”

Jantung Dewi berdegup kencang. “Oh. Itu,” katanya cepat. “Dulu Mas memang pernah pacaran. Tapi dia ninggalin Mas.”

“Kenapa?” Ridho menatap langit-langit.

“Dia nikah sama pria lain,” kata Dewi, suaranya dibuat datar. “Katanya lebih tampan. Padahal cuma tukang ojek yang banyak gaya. Dia ninggalin, Mas demi pria lain. Mas enggak pantas sama dia.”

Ridho terdiam. Ada bagian dari cerita itu yang terasa… janggal. Tapi kepalanya terlalu lelah untuk membantah.

“Sudahlah,” Dewi mengusap dadanya. “Kenangan pahit enggak perlu diingat. Sekarang Mas punya aku. Istri sah Mas.”

Ia mendekat, memeluk. Ridho membalas, tapi pelukannya kosong. Di dalam hati, ada suara kecil yang berbisik: ini bukan cerita yang lengkap.

****

Di rumah kontrakan, Yuda duduk termangu menatap Ning yang sedang membuat adonan pergedel, masih mengenakan jilbab yang sama. Ada sesuatu di wajah istrinya yang membuatnya menatap lebih lama dari biasanya.

“Ternyata dia punya teman juga,” katanya dalam hati. Yuda tersenyum kecil. “Kok aku baru tahu?”

Yuda menggeleng pelan. “Cantik gini, baik gini, ya wajar punya teman,” gumamnya lagi masih dalam hati.

Ning yang merasa sedari tadi dipandangi tanpa Yuda mengatakan apapun, malah jadi salah tingkah. "Kenapa Mas Yuda terus mandang tanpa ngomong apapun, sih?" batinnya memalingkan wajah dan membelakangi Yuda. Malu sekali rasanya dipandangi terus walau oleh suami sendiri.

"Ning!" panggil Yuda. Ning tak menoleh, juga tidak menjawab. Dia masih berdebar saja dan malu.

"Hadap sini dong, Mas jadi enggak bisa lihat kamu nih," protes suaminya merasa keberatan.

Ning jadi makin malu, suaminya terang-terangan bilang mau pandangi wajahnya.

Yuda mendekat, mengambil kruk Ning.

“Mas!” Ning kaget, tubuhnya oleng.

Yuda refleks menangkapnya sebelum jatuh. Ning terhenti di dada Yuda, napas mereka bertemu.

“Mas!” wajah Ning merah.

Yuda tersenyum, memeluk lebih erat. "Kenapa? Mau marah sama Mas?"

Ning menunduk, "Enggak," jawabnya lirih.

"Marahlah."

"Ning enggak berhak marah."

"Kenapa? Kalau kamu disakiti atau dijahili, kamu berhak marah, Ning." Yuda menyentuh wajah Ning agar mata mereka bertemu.

"Mas sudah baik sama Ning. Jadi Ning..."

"Marahlah."

Mata keduanya terkunci, saling menatap.

"Marahlah, kamu punya untuk itu," kata Yuda. Kini matanya malah berfokus pada bibir mungil Ning yang sedikit terbuka.

"Ning..." wanita berjilbab itu mengerjab, ia tak marah, justru ada sedikit rasa bersalah pada suaminya.

"Ning tidak..."

Yuda sudah tak tahan. Ia kecup bibir istrinya.

"Ayo marah... Mas udah merebut kruk mu," bisiknya berganti menarik lepas jilbab Ning. Lalu mencium lehernya.

"Mas~"

Ning memejam, merasakan bibir hangat Yuda menyentuh lehernya.

1
bibuk Hannan & Afnan
hayuh loh, kalian semuanya knp tdk jujur sedari awal saat Ranu sadar siuman dr koma mengenalkan Ning sebagai anggota keluarga baru status nya istri Yudha biar tdk ada kesalah pahaman
Agunk Setyawan
Ning dimanfaatin Bu anggun orangvtua egois Yuda juga aneh knp g jujur
sutiasih kasih
knapa g jujur aj bu anggun... demi kbaikan smua org....
krn klo diam & mnyembunyikan fakta.... yg ada semakin mnmbah masalah...🙄🙄
Ariany Sudjana
muak lama-lama dengan keluarga Yuda, apalagi Bu anggun, uang ada, tapi menyodorkan Ning untuk menemani Ranu terapi, dan ga mau jujur kaalu Ning itu istrinya Yuda
Sapna Anah
kenapa ga jujur aja sebelum terlambat makin d tutupi justru makinmenyskitkan bagi Ranu dan ning
muthia
bu Anggun egois, kasian ning😭
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
smakin ngeselin in novel, banyak ahli terapys knp nyusahin ning, udh gt si anggun jg gak bil kl ning istri yuda, bodohnya lg ning juga gak bilang kl sdh nikah, ah
Bunda Juna
ibunya goblok greget bnget knpa gak jujur dari awal .....
Sri Rahayu
knp sih ngga terus terang ma Ranu...kl Ning itu istri nya Yuda...ya resiko lah apa yg akan Ranu rasakan, drpd.bohong trs nanti terlalu dlm perasaan Ranu pd Ning... lanjut Thorr😘😘😘
mama
bu anggun soplak.. greget bgt.. tak skip aja lah nunggu semuanya kebongkar aj baru tau rasa.. buat ning ny pergi jauh thor setelah tau semuanya.. biar Yuda sama anggun kalang kabut nyari🤣.. enk aj ning mau di manfaatin cuma buat kesembuhan ranu.. gk mikir ati ny ning blas km yud sm bu anggun😭
Arin
Mending jujur sekarang sebelum terlalu jauh. Daripada nunggu nanti-nanti Bu Anggun
Arieee
sembunyikan terus biar anak u saling benci😡😡😡😡😡😡
Nurmaulida Zahra
satu kata egois untuk keluarga yuda
Sri rahayu
demi anaknya hidup dia menghancurkan anaknya yg lain .sungguh kejam Bu anggun .seharusnya setelah Ranu bangun jujur sebenarnya Ning udah menikah dengan Yuda .jadi Ranu tidak mengharap Ning terlalu dalam
Sri rahayu
kasihan Ning tidak tau sekenario orang tua Yuda dan Yuda sendiri .dia seperti pion yg diumpankan kepada Ranu supaya Ranu mau berusaha tetap hidup dan berjalan seperti sedia kala .mungkin nanti Ning di suruh menikah dengan Ranu .dan Ning tidak tau sekenario yg mereka ciptakan
sutiasih kasih
mna ktegasanmu dbg suami yud....
jgnlah krna ibumu km tega mmbuat ning dlm posisi sulit... pdhl km pun jga merasakn ancaman dlm rmh tanghamu...
boleh bakti trhdp org tua yud.... tpi mnolak hal yg akn mmbuat rmh tanggamu hncur jga suatu keharusan yuda........
krna prmintaan ibumu itu konyol... & mrmaksakn khendaknya...🙄🙄
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Indah Puspia Sari
klw percya y bodoh ,udah tes DNA tp klw percya y bodoh
Arieee
demi anak yang sakit anak yang sehat ditekan sampai sakit hati🤧🤧🤧🤧
Ariany Sudjana
Yuda bodoh, ga mau bicara sama Ning, apa yang dirasakan. Ning juga bodoh, suami pulang kerja, kok tetap urus Ranu, suaminya dulu yang diprioritaskan. Bu anggun juga bodoh, kan orang kaya, kenapa Ning yang disuruh jadi terapisnya Ranu? ini yang akan menghancurkan rumah tangga Yuda dan Ning
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!