“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 30
Ning menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya. Getarannya berhenti, tapi dadanya justru makin sesak. Ridho masih menggenggam tangannya, matanya menunggu—penuh harap, penuh kebingungan yang membuat Ning nyaris runtuh.
Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mengangkat panggilan itu.
“Assalamu'alaikum, Mas?” suaranya pelan, nyaris bergetar.
"Wa'alaikum salam, sayang. Lagi dimana?"
"Ning... Lagi di rumah sakit..." jawab Ning jujur, walau lidahnya terasa berat.
“Apa?” suara Yuda langsung meninggi di seberang. “Rumah sakit? Kamu sakit? Kok nggak bilang, Mas?”
Ning refleks menoleh ke arah Ridho. Tatapan lelaki itu seperti menahan dunia agar tak runtuh.
“Rumah sakit mana? Mas ke sana sekarang!” suara Yuda panik, langkahnya bahkan terdengar tergesa dari balik sambungan.
“Bukan Ning yang sakit, Mas,” Ning buru-buru menambahkan. “Teman. Ning cuma nganter.”
Hening sepersekian detik. Lalu napas Yuda terdengar lebih teratur.
“Oh… teman,” ulangnya, nada suaranya turun. “Ya Allah, kamu bikin Mas hampir copot jantung.”
Ning tersenyum tipis, senyum yang tak benar-benar sampai ke mata.
“Ning... habis ini pulang.”
“Mas jemput,” kata Yuda cepat. “Kamu jangan naik apa-apa sendiri.”
“Iya,” Ning mengangguk meski Yuda tak bisa melihat. “Ning tunggu di rumah sakit.”
Telepon ditutup.
Sunyi kembali menyelimuti ruang IGD itu. Ridho menatap Ning, sorot matanya berubah—ada sesuatu yang retak, jatuh perlahan, tak bersuara.
“Siapa?” tanyanya akhirnya, pelan.
Ning menelan ludah. “Suami,” jawabnya jujur. Tak ada nada bangga, tak ada pula penyesalan. Hanya fakta yang berdiri di antara mereka seperti tembok tinggi.
Ridho terdiam. Jarinya yang tadi menggenggam pergelangan Ning perlahan melemah. Satu per satu, ia melepaskan, seolah takut sentuhan itu melukai dirinya sendiri.
“Oh,” katanya lirih. Sesederhana itu, tapi Ning bisa mendengar sesuatu yang patah di sana.
Ia berdiri, membenarkan letak kruknya. “Ning harus pulang, Mas. Istrimu… atau keluargamu pasti sebentar lagi datang.”
Ridho mengangguk kecil. Tak mencoba menahan lagi. Tak memohon. Wajahnya kosong, tapi matanya basah.
“Terima kasih,” ucapnya. “Udah… nolong.”
Ning tersenyum tipis. “Cepat sembuh, Mas.”
Ia melangkah pergi, setiap langkah terasa lebih berat dari sebelumnya. Ridho menatap punggungnya sampai sosok itu lenyap di balik pintu, lalu ia menutup mata. Dadanya nyeri—bukan sakit kepala kali ini, tapi perasaan asing yang menggerogoti.
Kenapa rasanya seperti kehilangan, padahal ia bahkan tak tahu apa yang hilang?
Tak lama kemudian, langkah kaki tergesa terdengar.
“Ridho!”
Bu Pur masuk lebih dulu, wajahnya pucat. Pak Pur menyusul, langsung mendekat ke ranjang.
“Kamu kenapa, Le?” tangan ibunya gemetar memeriksa kening Ridho.
“Pusing,” jawab Ridho. “Tadi… ketemu seseorang.”
Bu Pur dan Pak Pur saling pandang. Tak ada kata.
Dalam perjalanan pulang, Ridho menatap keluar jendela. Lampu jalan berlarian, seperti ingatan yang mencoba menyusul tapi selalu tertinggal.
“Bu,” katanya tiba-tiba. “Dulu… Dewi beneran pacar aku, ya?”
Keheningan turun di mobil. Mesin tetap menderu, tapi tak satu pun menjawab.
“Bu?” Ridho menoleh. “Pak?”
Tak ada jawaban.
“Kenapa diam?” suaranya meninggi, nyeri kembali merambat. “Aku cuma nanya. Dewi itu… memang pacar aku kah?”
Bu Pur menghela napas panjang. “Kamu ini, Ridho,” katanya akhirnya, nada suaranya mengeras. “Ibu sudah bilang. Tunggu ingatanmu pulih dulu. Tapi kamu keras kepala. Kamu percaya semua yang Dewi bilang. Kamu menikah karena desakan Dewi, kamu malah main percaya aja apa yang dia bilang. Tapi, sudahlah, Dewi juga enggak buruk. Seenggaknya dia jelas, dari keluarga baik-baik juga.”
“Itu bukan jawabanku, Bu,” Ridho menatap ibunya. “Aku nanya… dia pacar aku atau bukan?”
Bu Pur menoleh ke depan. “Sudah. Jangan dibahas.”
Ridho terdiam. Jawaban itu lebih menyakitkan daripada kebohongan mana pun.
Di rumah, Dewi sudah menunggu. Wajahnya cemberut begitu melihat Ridho masuk tanpa dirinya.
“Mas, kamu pulang duluan?” tanyanya ketus. “Aku tungguin di kantor—”
“Aku enggak enak badan,” potong Ridho. “Pusing. Aku ke rumah sakit.”
Dewi menegang. “Rumah sakit?”
“Iya,” Ridho melepas sepatu. “Kayaknya… ingatanku mulai balik. Sedikit.”
Kalimat itu seperti petir bagi Dewi. Dadanya berdebar. Belum. Belum sekarang. Ia belum hamil. Ia belum benar-benar membuat Ridho jatuh cinta padanya.
Bu Pur langsung mendelik. “Kamu bukannya nanya keadaan suamimu, malah ngomel?” bentaknya. “Dia baru dari rumah sakit!”
Dewi tersentak. “Maaf, Bu,” katanya cepat. “Aku… aku cuma khawatir.”
Ia meraih tangan Ridho. “Mas, istirahat ya. Aku temani.”
Di kamar, Dewi menutup pintu pelan. Wajahnya berubah serius.
“Mas ingat apa?” tanyanya, berusaha terdengar santai.
Ridho berbaring. “Sedikit. Tentang… seorang gadis.”
Jantung Dewi berdegup kencang. “Oh. Itu,” katanya cepat. “Dulu Mas memang pernah pacaran. Tapi dia ninggalin Mas.”
“Kenapa?” Ridho menatap langit-langit.
“Dia nikah sama pria lain,” kata Dewi, suaranya dibuat datar. “Katanya lebih tampan. Padahal cuma tukang ojek yang banyak gaya. Dia ninggalin, Mas demi pria lain. Mas enggak pantas sama dia.”
Ridho terdiam. Ada bagian dari cerita itu yang terasa… janggal. Tapi kepalanya terlalu lelah untuk membantah.
“Sudahlah,” Dewi mengusap dadanya. “Kenangan pahit enggak perlu diingat. Sekarang Mas punya aku. Istri sah Mas.”
Ia mendekat, memeluk. Ridho membalas, tapi pelukannya kosong. Di dalam hati, ada suara kecil yang berbisik: ini bukan cerita yang lengkap.
****
Di rumah kontrakan, Yuda duduk termangu menatap Ning yang sedang membuat adonan pergedel, masih mengenakan jilbab yang sama. Ada sesuatu di wajah istrinya yang membuatnya menatap lebih lama dari biasanya.
“Ternyata dia punya teman juga,” katanya dalam hati. Yuda tersenyum kecil. “Kok aku baru tahu?”
Yuda menggeleng pelan. “Cantik gini, baik gini, ya wajar punya teman,” gumamnya lagi masih dalam hati.
Ning yang merasa sedari tadi dipandangi tanpa Yuda mengatakan apapun, malah jadi salah tingkah. "Kenapa Mas Yuda terus mandang tanpa ngomong apapun, sih?" batinnya memalingkan wajah dan membelakangi Yuda. Malu sekali rasanya dipandangi terus walau oleh suami sendiri.
"Ning!" panggil Yuda. Ning tak menoleh, juga tidak menjawab. Dia masih berdebar saja dan malu.
"Hadap sini dong, Mas jadi enggak bisa lihat kamu nih," protes suaminya merasa keberatan.
Ning jadi makin malu, suaminya terang-terangan bilang mau pandangi wajahnya.
Yuda mendekat, mengambil kruk Ning.
“Mas!” Ning kaget, tubuhnya oleng.
Yuda refleks menangkapnya sebelum jatuh. Ning terhenti di dada Yuda, napas mereka bertemu.
“Mas!” wajah Ning merah.
Yuda tersenyum, memeluk lebih erat. "Kenapa? Mau marah sama Mas?"
Ning menunduk, "Enggak," jawabnya lirih.
"Marahlah."
"Ning enggak berhak marah."
"Kenapa? Kalau kamu disakiti atau dijahili, kamu berhak marah, Ning." Yuda menyentuh wajah Ning agar mata mereka bertemu.
"Mas sudah baik sama Ning. Jadi Ning..."
"Marahlah."
Mata keduanya terkunci, saling menatap.
"Marahlah, kamu punya untuk itu," kata Yuda. Kini matanya malah berfokus pada bibir mungil Ning yang sedikit terbuka.
"Ning..." wanita berjilbab itu mengerjab, ia tak marah, justru ada sedikit rasa bersalah pada suaminya.
"Ning tidak..."
Yuda sudah tak tahan. Ia kecup bibir istrinya.
"Ayo marah... Mas udah merebut kruk mu," bisiknya berganti menarik lepas jilbab Ning. Lalu mencium lehernya.
"Mas~"
Ning memejam, merasakan bibir hangat Yuda menyentuh lehernya.