NovelToon NovelToon
TINDER LOVE

TINDER LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Kontras Takdir / Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Apung Cegak

Swipe kanan, lalu berharap. Begitu sederhana, tapi selalu berakhir rumit. Dari sekian banyak pertemuan di Tinder, aku belajar satu hal: cinta digital bisa terasa nyata, tapi tak selalu bertahan. Aku jatuh, aku percaya, aku terluka-berulang kali, seakan ini adalah pola yang tak pernah selesai.

Tulisan ini bukan sekadar kisah tentang aplikasi kencan, melainkan tentang perjalanan hatiku sendiri. Tentang bagaimana aku terus mencari seseorang yang benar-benar tinggal, di antara banyak yang hanya singgah. Dan tentang keberanian untuk tetap membuka hati, meski patah hati selalu menunggu di ujung swipe.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apung Cegak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Awal dari Jarak

Besoknya, pagi datang dengan cara yang aneh—sunyi tapi penuh suara di kepalaku. Aku terbangun sebelum alarm berbunyi, menatap langit-langit kamar yang terasa lebih luas dari biasanya. Ada jeda beberapa detik sebelum aku benar-benar sadar bahwa hari ini tidak sama. Tidak ada pesan “Are you awake?” yang biasanya muncul sebelum aku sempat membuka mata. Tidak ada suara langkah kecil di luar kamar. Hanya aku, napasku sendiri, dan rasa rindu yang diam-diam sudah menunggu.

Aku meraih ponsel dengan gerakan pelan, seolah takut mengganggu sesuatu yang rapuh. Ada satu pesan darinya, dikirim beberapa jam lalu.

“I’ve arrived. I’m tired, but I’m safe.”

Kalimat sederhana itu membuat dadaku menghangat. Aku tersenyum kecil, lalu membalas singkat, berusaha terdengar kuat meski hatiku belum sepenuhnya siap menerima jarak ini.

Pagi berjalan lambat. Aku membuat kopi seperti biasa, tapi rasanya berbeda. Aku duduk di kursi dekat jendela, memandangi jalan yang mulai ramai. Orang-orang berjalan cepat dengan tujuan masing-masing, sementara aku merasa berada di tempat yang sama, tapi dengan satu bagian diriku tertinggal jauh. Aku mencoba mengisi waktu—mencuci piring, merapikan kamar, membuka buku yang sudah lama tidak kusentuh—namun pikiranku terus kembali padanya. Apakah dia sudah makan? Apakah perjalanannya melelahkan?

Menjelang siang, ponselku bergetar lagi. Sebuah foto masuk. Langit biru dengan awan tipis, diambil dari jendela tempat ia berada.

“This is today’s sky,” tulisnya.

Aku menatap foto itu lama, lalu melihat ke luar jendelaku sendiri. Langit di atasku hampir sama. Biru, luas, tenang. Aku tersenyum kecil, merasa jarak itu sedikit menyusut.

Hari itu aku memaksa diriku keluar rumah, berjalan tanpa tujuan pasti, hanya untuk memastikan bahwa hidup tetap bergerak. Di sebuah kafe kecil, aku duduk sendirian, memperhatikan orang-orang yang tertawa dan berbincang. Ada rasa perih yang singgah sebentar, tapi aku menahannya. Aku tidak ingin iri pada kebersamaan orang lain. Aku ingin percaya pada kebersamaan kami—meski kini hadir dalam bentuk yang berbeda.

Menjelang sore, ketika cahaya matahari mulai meredup dan bayangan memanjang di lantai kamar, ponselku bergetar di atas meja. Nama Moses muncul di layar, disertai ikon video call. Dadaku berdegup lebih cepat sebelum aku mengangkatnya.

Layar menyala. Wajahnya muncul, sedikit lelah tapi tersenyum. Ia berada di dalam mobil; cahaya jalan bergerak pelan di balik jendela.

“Hey,” katanya lembut.

“Are you okay?”

Aku mengangguk.

“I’m okay. Just a little tired.”

Dia tersenyum kecil.

“I wanted to see you. It feels different just texting.”

Aku menatapnya lama. Melihatnya—meski hanya lewat layar—membuat rindu yang sejak pagi kutahan tiba-tiba terasa nyata. Kami berbincang hal-hal kecil: tentang hari yang panjang, tentang lalu lintas, tentang cuaca. Tidak ada janji besar, hanya kehadiran.

“You look tired,” katanya pelan.

“Don’t forget to eat.”

“You too,” jawabku. “Drive safe.”

Sebelum panggilan berakhir, dia terdiam sejenak, lalu menatapku lebih lama.

“I know today is hard,” katanya. “But we’re doing okay.”

Aku mengangguk, menahan rasa di dada.

“Yeah… we are.”

Panggilan itu berakhir, layar kembali gelap, tapi rasa hangatnya tertinggal. Sore itu, aku sadar bahwa kehadiran tidak selalu soal jarak. Kadang, ia hadir lewat usaha kecil—meluangkan waktu, menatap layar, dan tetap memilih untuk peduli.

Malam datang dengan lebih tenang dari yang kuduga. Aku berbaring sambil menatap langit-langit kamar, ponsel tergeletak di samping bantal. Rindu masih ada, tapi tidak lagi menyesakkan. Ia berubah menjadi keyakinan pelan—bahwa kami sedang berjalan di jalan yang sama, hanya dari sisi yang berbeda.

Dan di hari pertama setelah perpisahan itu, aku belajar satu hal: jarak mungkin memisahkan tubuh, tapi perhatian dan ketulusan selalu menemukan caranya sendiri untuk tetap dekat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!