NovelToon NovelToon
Menantu Cenayang

Menantu Cenayang

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Action / Harem
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sean Sensei

🔖 SINOPSIS :

Selama tiga tahun pernikahan nya, Satya dianggap sebagai sampah di mata keluarga besar nya. Sebagai pemuda lulusan universitas kecil di pedesaan tanpa koneksi, ia hanya menjadi suami yang mengurus dapur selagi istri nya mengejar karier. Puncak nya, Satya diceraikan secara sepihak dan diusir hanya dengan membawa satu koper pakaian.

​Tepat satu bulan setelah perceraian nya, badai besar menghantam; dunia mulai diguncang oleh Krisis Moneter 1997. Di tengah keterpurukan ekonomi yang mencekik dan status-nya yang luntang-lantung, sebuah warisan yang tertidur dalam darah nya tiba-tiba terbangun.

Satya menyadari bahwa ia adalah keturunan terakhir dari garis darah cenayang peramal legendaris. Ia mendapatkan kemampuan khusus: hanya dengan menatap wajah seseorang, ia bisa melihat masa depan, rahasia kelam, hingga peruntungan finansial yang akan datang.

🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁----------------🍁

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sean Sensei, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 21 | Singgasana yang Dingin

...----------------🍁----------------🍁----------------...

Kantor pusat Samantha Holdings di puncak gedung pencakar langit Shanghai malam ini terasa lebih menyerupai lemari pendingin raksasa daripada ruang kerja seorang miliarder. Suhu pendingin ruangan sebenarnya diatur pada standar 24°C, namun bulu kuduk ku berdiri setiap kali aku melintasi ambang pintu ruang kerja Tuan Satya. Keheningan di sini tidak lah damai; ia bersifat menindas, seperti tekanan air di dasar palung terdalam.

"Sudah tiga hari dia tidak berkedip lebih dari sepuluh kali dalam satu jam," gumam ku sambil menatap baki perak di tangan ku. Secangkir teh Longjing yang ku siapkan satu jam lalu sudah mendingin, permukaan nya ditutupi lapisan tipis minyak yang kaku. "Dulu, dia akan tersenyum kecil saat aku masuk. Dia akan menanyakan apakah aku sudah makan atau apakah ibu ku di desa sudah menerima kiriman uang nya. Sekarang? Aku merasa sedang berjalan memasuki Kuil Dewa Buddha yang tidak mengenal rasa lapar atau rindu."

Aku melangkah mendekat ke meja kerja yang terbuat dari satu blok batu obsidian hitam. Satya duduk di sana, membelakangi pintu, menatap dinding kaca yang menampilkan gemerlap Shanghai. Namun, dia tidak melihat pemandangan kota. Di depan nya, selusin layar holografik, teknologi prototipe yang dia kembangkan sendiri, menampilkan ribuan grafik fluktuasi pasar global yang bergerak dalam kecepatan yang tidak bisa diikuti mata manusia.

"Teh Anda sudah dingin, Tuan," bisik ku pelan.

"Letakkan saja, Xia," suara nya terdengar seperti gesekan logam dingin. Tidak ada intonasi. Tidak ada emosi. Hanya frekuensi datar yang efisien.

Aku tidak mundur. Aku memberanikan diri berjalan ke samping nya. Saat itulah aku melihat matanya. Kekuatan nya yang seperti sihir itu sedang aktif sepenuh nya. Pola fraktal emas di dalam pupil merah nya berputar dengan presisi mesin kronometer. Ia tidak sedang melihat grafik; ia tampak sedang melihat masa depan.

"Tuan, Anda sudah tidak tidur selama tujuh puluh dua jam," kata ku, mencoba memasukkan nada kepedulian manusiawi ke dalam laporan ku. "Nona Meiling sangat khawatir. Dia ingin mengajak Anda makan malam di Bund malam ini."

"Makan malam adalah pemborosan waktu biologis yang tidak perlu," jawab Satya tanpa menoleh. "Dalam enam jam ke depan, The Sovereign akan mencoba melakukan short-selling terhadap cadangan nikel di London. Jika aku tidur, ribuan keluarga di sektor industri kita akan bangkrut besok pagi. Apakah perasaan Meiling lebih berharga daripada stabilitas ekonomi sepuluh distrik industri?"

Aku tertegun. Logika nya sempurna, namun memuakkan. "Tapi Anda adalah manusia, Tuan. Jika tubuh Anda runtuh, siapa yang akan memimpin kami?"

Satya perlahan memutar kursi nya. Tatapan nya menghantam ku. Aku merasa seolah seluruh rahasia hidup ku, setiap sel dalam tubuh ku, sedang dipindai dan dikategorikan sebagai data statistik.

"Manusia adalah konsep yang membatasi, Xia," kata nya. Ia mengangkat tangan nya, dan aku melihat garis-garis emas di bawah kulit nya bersinar lebih terang dari biasa nya. "Sejak kekuatan ini berevolusi, aku bisa melihat kausalitas. Aku melihat benang yang menghubungkan tawa seorang anak di pinggiran kota dengan keputusan suku bunga di New York. Semuanya adalah angka. Cinta, benci, kesetiaan... itu hanya lah variabel yang bisa dimanipulasi untuk mencapai hasil optimal."

"Termasuk saya?" suara ku bergetar. "Apakah saya juga hanya variabel bagi Anda?"

Satya diam sejenak. Mata nya menyipit, pola fraktal itu melambat. "Kau adalah variabel yang konstan, Xia. Berguna. Efisien. Tapi jangan biarkan sentimentalitas mu mengganggu kalkulasi ini."

Tiba-tiba, salah satu layar holografik berkedip merah. Sebuah simbol asing muncul, tampak sebuah mahkota berduri yang terbungkus lingkaran. The Sovereign.

"Mereka menyerang," bisik ku.

"Bukan serangan pasar," Satya berdiri, tubuh nya yang tegap tampak seperti patung marmer yang hidup. "Ini adalah infiltrasi data. Mereka mencoba meretas Imperial Network kita."

Pintu ruang kerja terbanting terbuka. Detektif Chen masuk dengan napas memburu, tangan nya memegang pistol yang sudah dikokang. "Satya! Kita punya masalah. Unit paramiliter tak dikenal terlihat di lift kargo. Mereka tidak menggunakan tanda pengenal, tapi sensor termal ku mendeteksi senjata canggih yang tidak terdaftar di database kepolisian."

"Itu adalah The Arbiters," kata Satya tenang, melangkah menuju meja konsol nya. "Lengan eksekutor dari The Sovereign. Mereka datang untuk mengambil kepala ku, atau menghentikan jantung ku."

"Kita harus keluar dari sini! Sekarang!" seru Chen sambil menarik lengan Satya.

Namun, Satya tidak bergerak. Ia justru melepaskan pegangan Chen dengan kekuatan yang luar biasa lembut namun tak terpatahkan. "Melarikan diri adalah variabel dengan probabilitas kegagalan 84%. Bertahan di sini dan memutus saraf mereka adalah 99% kemenangan."

"Kau gila! Ada dua puluh orang bersenjata lengkap menuju ke sini!" Chen berteriak frustrasi.

Satya hanya menatap pintu. "Xia, matikan semua lampu di lantai ini. Aktifkan protokol Silent Night."

"Tapi Tuan—"

"Lakukan," perintah nya, dan kali ini ada getaran kekuatan yang membuat ku secara otomatis bergerak menuju panel kontrol pusat.

KLIK.

Seluruh lantai tenggelam dalam kegelapan total. Hanya cahaya bulan yang menembus kaca jendela dan sinar merah-emas dari mata Satya yang memberikan penerangan.

Suara dentuman keras terdengar dari lobi luar. Pintu ganda ruang kerja itu diledakkan dengan breaching charge. Asap memenuhi ruangan. Dalam kegelapan, aku melihat siluet-siluet pria berpakaian taktis menggunakan kacamata night vision.

"Target teridentifikasi! Tembak!" teriak pemimpin penyerang.

Rentetan peluru senapan mesin memecah keheningan. Aku menjerit dan tiarap di balik meja marmer, sementara Chen membalas tembakan dari balik pilar. Namun, di tengah kekacauan itu, aku melihat Satya.

Dia tidak bersembunyi.

Dia berjalan di tengah hujan peluru dengan langkah yang tenang, hampir malas. Kedua mata nya menyala terang, menyinari asap seperti dua obor neraka. Peluru-peluru itu... mereka tidak mengenai nya. Setiap kali peluru melesat ke arah nya, Satya menggeser tubuh nya satu inci ke kiri atau merunduk satu milidetik sebelum proyektil itu lewat. Dia tidak menghindar; dia sedang menari di antara celah takdir yang dia ubah.

"Dia bukan lagi pria yang ku selamatkan di gang itu," gumam ku dalam hati, air mata ketakutan membasahi pipi ku. "Dia adalah sesuatu yang lain. Sesuatu yang mengerikan."

Satya sampai di depan salah satu penyerang. Tanpa menggunakan senjata, dia hanya menyentuh dahi pria itu dengan jari telunjuk nya.

"Nasib mu berakhir di sini," bisik Satya.

Seketika, pria itu ambruk. Tidak ada darah. Tidak ada luka. Jantung nya berhenti berdetak karena Satya baru saja memutus benang nasib kehidupan nya secara langsung. Satu per satu, para penyerang jatuh seperti boneka yang tali nya di potong.

Chen berhenti menembak. Dia menatap pemandangan itu dengan ngeri. "Satya... apa yang kau lakukan? Kau membunuh mereka tanpa menyentuh senjata mu?"

Satya berdiri di tengah tumpukan mayat, napas nya bahkan tidak memburu. Dia berbalik ke arah kami. Cahaya emas di mata nya mulai merambat ke seluruh wajah nya, menciptakan pola retakan cahaya yang mistis.

"Aku tidak membunuh mereka," jawab Satya datar. "Aku hanya menghapus kemungkinan mereka untuk ada di masa depan. Mereka adalah anomali yang harus dibersihkan dari papan permainan ini."

Aku merangkak keluar dari persembunyian ku, gemetar hebat. "Tuan... tolong. Berhenti. Wajah Anda... Anda tampak kesakitan."

Garis-garis emas itu tampak membakar kulit nya. Satya memegang kepala nya, lutut nya sedikit goyah. Untuk pertama kali nya dalam beberapa hari, aku melihat secercah rasa sakit di mata nya, satu-satu nya bukti bahwa dia masih memiliki daging dan darah.

"Xia..." suara nya pecah, kembali menjadi suara Satya yang ku kenal sebentar. "Panas... semua nya terlalu terang. Aku bisa melihat akhir dari segalanya..."

Aku berlari ke arah nya, mengabaikan peringatan Chen. Aku memeluk nya erat, menempelkan wajah ku pada dada nya yang dingin. "Kembalilah, Tuan. Jangan lihat masa depan. Lihat lah saya. Lihat lah Lin Xia yang bodoh ini yang selalu membuatkan teh untuk Anda. Jangan tinggalkan kami demi singgasana dingin itu."

Satya terdiam. Tangan ku merasakan detak jantung nya yang tadi nya sangat lambat mulai berpacu kencang. Cahaya di mata nya meredup perlahan, tampak pola fraktal emas nya menghilang, menyisakan warna cokelat tua yang dipenuhi air mata yang tidak sempat jatuh.

Dia menyandarkan kepala nya di bahu ku, berat tubuh nya sepenuh nya bertumpu pada ku. "Xia... dunia ini... sangat bising."

"Saya tahu, Tuan. Saya tahu," bisik ku sambil membelai rambut nya.

Detektif Chen mendekat, menyimpan pistol nya. Dia menatap mayat-mayat di lantai dengan ekspresi rumit. "The Sovereign tidak akan berhenti, Satya. Ini hanya lah tim pembersih. Mereka akan mengirimkan sesuatu yang lebih besar. Sesuatu yang tidak bisa kau hentikan hanya dengan menyentuh dahi mereka."

Satya mendongak. Sifat dingin nya mulai kembali, namun kali ini ada sedikit kelelahan manusiawi di sana. "Aku tahu. Itu lah sebab nya kita harus pergi ke New York. Jika aku ingin menghancurkan mahkota mereka, aku harus berada di pusat sarang mereka."

"Tapi kondisi Anda—" aku mencoba memprotes.

"Siapkan pesawat pribadi, Xia," Satya memotong ku, suara nya kembali otoriter namun tidak lagi sedingin es. "Dan panggil Meiling. Katakan pada nya... aku akan ikut makan malam. Tapi hanya tiga puluh menit. Kita punya dunia yang harus dibeli sebelum fajar menyingsing di Amerika."

Aku memperhatikan Satya berjalan kembali ke meja nya, kembali menatap layar holografik. Kekuatan nya memang membuat nya menjadi penguasa, namun aku tahu, setiap kali dia menggunakan kekuatan cenayang nya itu, dia semakin jauh dari kami.

"Aku akan tetap di sini dan menemani nya," gumam ku sambil mulai membersihkan pecahan kaca di lantai. "Meskipun aku harus menjadi satu-satu nya orang yang memegang tali yang mengikat nya ke bumi. Aku tidak akan membiarkan The Sovereign mengambil kemanusiaan nya. Karena jika Satya kehilangan hati nya, maka dunia yang dia selamatkan tidak akan ada beda nya dengan neraka yang dia hancurkan."

Malam itu, di puncak Shanghai, sebuah kekaisaran baru telah resmi memulai perang nya melawan tatanan dunia lama. Dan di belakang sang penguasa, berdiri seorang sekretaris kecil yang bersumpah untuk menjaga api di dalam hati tuan nya, agar tidak membeku di atas singgasana yang dingin.

...----------------🍁----------------🍁----------------...

1
LOL #555
Wihh,ini mereka bakal jadi pasangan atau cuman rekan kerja biasa
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
jadi, kekuatan mata super itu diketahui banyak orang yang Thor?
Serena Khanza
wuih wang meiling pocecip 🤭 biasanya kan cowok yang pocecip ya 🫣
Panda
cukup oke cuma wang itu terlalu telling dan kebanyakan narasi emosi dibanding "show" emosi
Syh.Mutiara
waduh gak cukup tuh untuk hidup dalam seminggu
LOL #555
emas murni sama jam tangan ? 200k? pengen ditendang ni bapak satu
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
kelazzz cuyyy, ijin copas 🤭
Hunk
Keren banget bagian ini. Ketegangan dan urgensinya kerasa nyata, apalagi saat keputusan ekstrem seperti jual Yuan dan pakai leverage besar langsung dieksekusi. Dialognya tegas dan punya power, bikin karakter MC terasa dominan dan berani ambil risiko.👍
Serena Khanza
wow adegan nya panas thor
Hunk
/Applaud/Aww terlalu dekat🤭
Serena Khanza
tinggi bener 88 lantai ya buset 😭
Alexanderia
ceritanya bagus 👍👍
Syh.Mutiara
benar jugaa ya🤔 Dunia ini akan berubah seiring waktu
LOL #555
Satrya ,kalau udah kaya di Shanghai sana , ingat ya ,aku adikmu 🤣
LOL #555
Berarti nanti anak Satya fak bakal bisa cenayang ya?
Serena Khanza
siapa nih🤔 si meiling ya
🄱🅃🅃🄷_Wₐₙg Yᵤₓᵢᵤ
karakter es selalu menjadi karakter favorit aku 💪
LOL #555
Wow ,bisa nerawang kayak dukun 🤣
LOL #555
Wow ,udah didukung segitunya malah direndahin? Dasar kacang lupa kulit!
Syh.Mutiara
gilir ada cowok tulus kek gitu malah digituin ya, memang mau jenis kelaminnya apa. kalo terlalu tulus akhirnya gak bagus biasanya. gak dihargain gitu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!