Sebuah kisah cinta yang berakhir sia-sia, dimana ketulusan cinta Reina yang awalnya begitu penuh kebahagiaan bersama dengan Kevin yang diawali dari kisah LDR hingga pada tahun ketiga, tiba-tiba Kevin lost contact yang membuat Reina begitu kecewa dan sakit hati sehingga tak lagi bisa membuka hati untuk siapapun. Cinta Reina serasa habis dikisah cinta yang dia anggap akan berakhir bahagia. Apakah Reina bisa melupakan Kevin? Apakah Reina bisa membuka hati lagi? atau cintanya benar-benar habis dikisah 3 tahun yang sia-sia itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmawati18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan Kedua Orang Tua
Sinar Matahari pagi pun menyapa. Menyelinap di sela-sela tirai jendela kamar Viona. Sinarnya yang tidak terlalu panas pun mampu membangunkannya dari dinginnya malam.
Dentuman jarum jam yang terus bergerak di setiap detiknya menandakan waktu terus berjalan. Viora bangun dan beranjak dari tempat tidurnya. Hari ini dia sudah ada janji dengan beberapa pasien yang sedang melakukan Program Hamil.
Ia bergegas untuk mandi dan segera bersiap-siap ke rumah sakit. Tak lupa ia sarapan terlebih dahulu sebelum berangkat. Viona hanya sendiri di rumah pribadinya. Ia memilih untuk tinggal disini ketimbang bersama kedua orang tuanya. Ia hanya menginap sekali seminggu di rumah orang tuanya.
Rumah ini sudah menjadi tempat ternyaman untuk Viona. Ia turun dan segera menuju dapur. Pagi ini ia membuat sarapan sup. Setelahnya ia mengisi teko dengan air dan menyalakan kompos untuk memanaskan air tersebut.
Setelah semuanya sudah selesai, ia pun memindahkan sup ke dalam sebuah mangkuk dan membawanya menuju meja makan dan menyantapnya perlahan.
Sarapannya sudah habis. Viona pun berangkat ke rumah sakit dengan mengendarai mobil. Wanita mandiri ini begitu sangat gila kerja.
Sesampainya di rumah sakit, sudah terlihat banyak pasiennya yang sudah datang menunggu di depan ruangannya. Ia pun melangkah dan masuk kedalam ruangan. Satu persatu pasien pun berganti masuk untuk dilakukan pemeriksaan.
"Diusia kandungan ibu ini, ibu tidak boleh kelelahan. Apalagi ini hamil pertama yang dinantikan" jelas Viona kepada salah satu pasiennya.
"Iya Bu, Alhamdulillah setelah konsultasi beberapa kali dengan Bu dokter akhirnya saya Sudah jadi calon ibu sekarang" Ucap pasien itu dengan penuh terima kasih.
Pasien lainnya pun masuk. Viona kembali memeriksa semua pasien bergantian sesuai dengan antrian mereka. Hari ini cukup melelahkan baginya. Pasien bergantian keluar masuk ruangan untuk melakukan pemeriksaan rutin.
ini adalah pasien terakhir yang ia periksa.
"Ibu harus lebih berhati-hati lagi ya, kandungannya harus di jaga dengan baik" Ucap Viona sambil menuliskan resep obat untuk pasiennya itu.
"Baik Bu Dokter, terima kasih" ucapnya sambil membawa kertas yang tertuliskan resep obat dari Viona tadi.
Sementara itu ditempat lain Bara yang sedang Sibuk di depan laptopnya pun memilih untuk beristirahat sejenak dan meregangkan semua otot-ototnya.Ia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan ke arah jendela. Bara berdiri dan bersedekap dada memandangi Kota ini dari ketinggian.
-
-
-
Reina dan teman-temannya sedang duduk di kantin kantor sambil menikmati minumannya.
"Reina, jadi kapan pertunangan Abang mu?" Tanya Lala.
"Katanya sih akhir bulan ini" jawab Reina.
"Reina, aku jadi patah hati mendengar itu" ucap Wiwi dengan ekspresi yang sengaja di sedih-sedihkan.
"Dasar" celetuk Dea.
Mereka kembali menikmati minumannya sembari tertawa bersama. Tidak terasa KKN mereka sudah hampir selesai. Setelah ini mereka akan kembali ke kampung halamannya untuk menyelesaikan kuliahnya.
Setelah selesai, mereka kembali ke ruang kerja dan bekerja seperti biasanya.
Bara yang sedang duduk di kursi kerja Reina pun sontak membuat adiknya itu kaget.
"Tuan Bara yang terhormat, Anda ngapain di ruang kerja saya?" tanya Reina judes.
Bara berdiri dan menyentil kening adiknya itu.
"ABAAANGGG,,," Teriak Reina dengan muka kesel. Lala yang mendengar itu pun kaget.
"Abang,,,Abanggg. Panggil aku Pak Bara. Mengerti" Ucap Bara dengan muka yang ngeselin. Bara melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.
"Daras Orang nggak waras" Celetuk Reina dengan muka keselnya.
Bara berjalan menuju ruang resepsionis. Ia melihat Dea dan Wiwi. Dea dan Wiwi yang sadar akan itupun kembali sok sibuk dengan pekerjaannya.
"Dea, Pangeranku datang" Ucap Wiwi bercanda
"Pangeran,,,Pangeran. Kamu mau di bunuh sama calonnya" Ucap Dea sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Yaelah,,cuman bercanda juga. Gue kan sudah punya calon suami juga" ucap Wiwi asal.
Bara berdiri tepat di hadapan mereka berdua.
"Selama siang Pak" Ucap Wiwi dan Dea sambil menunduk.
Bara berdiri di depan kedua wanita itu, tangannya di masukkan ke dalam saku celananya.
"Bagaimana kerjaan kalian, apakah ada kendala?" tanya Bara
"Tidak ada Pak, semuanya berjalan lancar. Berkat bantuan dan bimbingan dari Pak Broto" Ucap Dea.
"Baguslah kalau begitu" Bara melangkah meninggalkan mereka yang masih berdiri.
Bara kembali keruang kerjanya, ia duduk dan melonggarkan dasinya. Bara meraih ponselnya dan memilih untuk menghubungi Viona.
"Vi, kamu masih sibuk?" tanya Bara
"Udah nggak Bar. Ini baru aja selesai memeriksa pasienku" Jawab Viona.
"Kalau begitu, sampai jumpa nanti malam ya" Bara mengakhiri teleponnya.
Jam pulang kerja sudah tiba. Bara bergegas pulang.
Sementara itu Reina, Dea, Wiwi dan Lala pun berkemas untuk pulang.
-
-
-
Sesampainya di rumah, Bara langsung menuju ke kamarnya untuk membersihkan badannya yang dirasa sudah lengket akan keringat. Sementara itu kedua orang tuanya pun bersiap-siap.
Makan malam hari ini adalah makan malam yang sangat penting, karena akan membahas masalah pertunangan Bara dan Viona.
Singkat cerita, mereka akhirnya tiba di sebuah restoran besar di pusat kota Jakarta. Bara dan kedua orang tuanya pun menuju meja makan yang sudah ia pesan tadi sembari menunggu kedatangan Viona dan orang tuanya.
Tak butuh waktu lama, Yang di tunggu pun telah datang. Viona bersama kedua orang tuanya menuju meja yang di tempati Bara.
Sontak saja, ketika Ibu Viona melihat Mamanya Bara ia pun langsung kaget. Dan berjalan cepat kearahnya. Dan pelukan pun melayang diantara keduanya.
"Seila, lama tidak bertemu" Ucap Reni ibu dari tunangannya Bara.
"Iya Ren, Kamu apa kabar?" tanya Seila dan mempersilahkan mereka untuk duduk.
"Aku baik-baik aja" Jawab Reni sambil menarik kursinya untuk duduk.
Reni dan Seila adalah sahabat masa kecil. Mereka selalu bersama, mulai dari sejak TK, SD, sampai pada masa perkuliahan. Dan ternyata anak mereka saling menyukai. Ini adalah awal yang bagus untuk hubungan Bara dan Viona.
"Mama kenalan sama. Tante Reni?" Tanya Bara Penasaran.
"Iya, Tante Reni ini sahabat masa kecilnya mama" Ucap Seila antusias.
"Waaa, dunia ini memang sempit ya" Ucap Bara dan mempersilahkan mereka untuk menikmati makanan yang dihidangkan.
Diselah-selah makan malam mereka, mereka pun membahas tentang pertunangan Bara dan Viona dengan penuh semangat.
Mereka berbicara begitu lama. Bukan hanya masalah pertunangan yang mereka bahas tetapi masa-masa kecil mereka pun ia bahas. Tak disangka pertemuan ini membuat Seila dan Reni bertemu kembali. Sahabat lama yang begitu dirindukan.
Setelah Pembahasan pertunangan anak mereka, Reni dan keluarganya pun berpamitan untuk pulang. Bara dan kedua orang tuanya pun bergegas untuk pulang juga.
Dalam perjalanan pulang Viona dengan tatapan tak percaya, ternyata pilihannya tidak salah. Selama ini ia memilih laki-laki yang tepat untuk pendamping hidupnya.
-
-
-
...----------------...