NovelToon NovelToon
ERROR 404: BOSS IN LOVE

ERROR 404: BOSS IN LOVE

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Komedi / CEO / Cinta Seiring Waktu / Romansa / Office Romance
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Aira Aksara

💻 ERROR 404: BOSS IN LOVE ⚠️


"Apa jadinya kalau CEO robot harus belajar jadi manusia dari staf paling kacau di kantornya?"



Arsenio adalah CEO Volt-Tech yang hidupnya hanya berisi angka, logika, dan efisiensi. Baginya, manusia hanyalah kumpulan data. Tapi bagi Alinea, staf baru yang hidupnya seberantakan kabel charger di dasar tas, Arsenio hanyalah sebuah robot dingin yang sensor perasaannya sudah expired.
Gara-gara insiden kopi susu dan mulut pedasnya, Alinea terjebak kontrak gila:


"Humanity Coaching".


Tugasnya? Mengajari Arsenio cara menjadi manusia normal demi meyakinkan neneknya bahwa sang cucu bukan mesin pencetak uang semata. Alinea pikir ini cuma soal akting sampai sang Bos mulai menunjukkan glitch aneh: detak jantung yang mendadak overclock tiap kali Alinea berada dekat dengannya.



Ternyata, mengajari robot cara mencintai itu lebih rumit daripada coding paling error sekalipun.


🚫 Warning: High tension, snarky comments, and a lot of heart-melting glitches.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aira Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13 — TRAINING MODE

Lantai 27 biasanya menjadi saksi bisu angka-angka saham yang beterbangan dan janji-janji manis di depan investor. Namun hari ini, elegansi ruang konferensi itu mendadak berubah fungsi. Keheningannya terasa lebih intimidatif hari ini, ia adalah ruang simulasi.

Arsenio berdiri tegak di ujung meja mahogani yang panjang, jemarinya bergerak lincah di atas permukaan tablet. Di layar LED raksasa di belakangnya, terpampang rundown gala amal bulan depan—sebuah labirin detail yang terdiri dari deretan tamu VIP, strategi tempat duduk yang sarat politik, hingga daftar sponsor yang tak boleh tersinggung barang satu detik pun.

Sementara itu, Alinea berdiri di tengah ruangan. Tanpa meja untuk bersembunyi, tanpa sandaran untuk bertumpu. Ia tampak persis seperti kandidat sidang skripsi yang sedang diuji oleh profesor paling pelit nilai; sendirian, diawasi, dan siap dibedah.

“Ini bukan sekadar hadir,” kata Arsenio tenang. “Ini navigasi sosial tingkat tinggi.”

“Pak, saya cuma perlu senyum dan makan canapé kecil kan?”

“Tidak.”

Jawaban itu cepat.

“Setiap gerakan kamu akan dianalisis. Cara berdiri. Cara menjawab pertanyaan. Bahkan cara kamu diam.”

Alinea menyilangkan tangan. “Wah. Jadi saya harus update firmware dulu ya.”

Arsenio tidak tersenyum. Tapi matanya sedikit melembut.

“Mulai dari dasar.”

Arsenio melangkah mendekat.

“Postur.”

Alinea spontan berdiri lebih tegak.

“Bukan tegang,” koreksi Arsenio. “Santai tapi stabil. Bahu turun sedikit.”

Arsenio berdiri tepat di belakangnya.

Terlalu dekat.

Tanpa perlu bersentuhan, Alinea bisa merasakan hawa hangat yang merayap dari tubuh pria itu, mengusik fokusnya.

“Turunkan bahu.”

Suara Arsenio lebih rendah dari biasanya.

Alinea menurunkannya sedikit.

“Dagu jangan terlalu tinggi. Itu terlihat defensif.”

Tangannya terangkat.

Tertahan sejenak di udara, memberi jeda bagi Alinea untuk menjauh.

Alinea tetap di tempat.

Ujung jarinya menyentuh dagu Alinea, mengarahkannya sedikit ke bawah. Hanya sentuhan singkat.

Namun, itu cukup untuk membuat sistem saraf Alinea mati total.

“Begitu.”

Arsenio mundur satu langkah.

Meninggalkan ruang kosong yang justru terasa lebih mencekik.

Udara di sekitar Alinea mendadak tipis, seolah oksigen di ruangan itu ikut terbawa pergi bersamanya.

Alinea berdeham kecil. “Pak… ini training atau sabotase jantung?”

“Fokus.”

“Tolong jangan berdiri sedekat itu kalau mau saya fokus.”

“Kenapa?”

Alinea menoleh. “Karena saya manusia. Bukan robot.”

Arsenio terdiam sepersekian detik.

Lalu berjalan ke depan lagi.

“Bagus. Itu jawabannya.”

“Hah?”

“Kalau wartawan bertanya dengan nada merendahkan, jawab seperti itu. Tenang. Jujur. Tanpa defensif.”

Alinea mengernyit.

“Jadi saya boleh jawab sarkas?”

“Tidak.”

“Yah.”

Arsenio memencet tablet. Slide berikutnya muncul.

Simulasi wawancara.

“Saya jadi media. Kamu jadi kamu.”

Alinea menarik napas panjang.

“Silakan, Pak Wartawan.”

Arsenio mengubah ekspresinya seketika. Profesional. Tajam.

“Banyak yang bertanya-tanya, bagaimana seorang staf riset bisa mendampingi CEO di acara sekelas ini?”

Langsung.

Tanpa pemanasan sedikit pun.

Alinea menahan refleks untuk menggigit bibirnya sendiri.

Ia tetap berdiri tegak. Menolak untuk terlihat goyah.

“Saya hadir bukan sebagai simbol. Saya bagian dari tim yang mengerjakan proyek yang dipresentasikan malam itu.”

Tatapannya stabil.

“Dan kontribusi tidak diukur dari latar belakang, tapi dari kompetensi.”

Hening.

Arsenio menatapnya cukup lama.

“Bagus,” katanya akhirnya.

“Serius?”

“Kamu tidak terdengar defensif.”

“Karena saya memang kompeten.”

Sudut bibir Arsenio terangkat tipis.

“Percaya diri terlihat berbeda saat kamu tidak menyerang.”

Kalimat itu masuk.

Sesi berikutnya: body language pasangan.

Alinea langsung protes.

“Pak, kita ini belum nikah.”

“Ini simulasi publik.”

“Simulasi tetap bikin canggung.”

Arsenio berjalan mendekat lagi.

“Di gala nanti, orang akan membaca jarak.”

Arsenio merapat ke sampingnya.

“Kalau terlalu jauh, mereka akan bilang kita formal.”

Arsenio bergeser satu inci lebih dekat. Begitu dekat hingga bahu mereka nyaris bersentuhan.

“Kalau terlalu dekat, mereka akan bilang ini pencitraan.”

“Dan kalau pas?”

“Orang tidak akan sadar kita sedang berusaha.”

Sunyi.

Arsenio mengangkat tangannya perlahan.

“Boleh?”

Alinea mengangguk tipis.

Tangan pria itu menyentuh pinggangnya. Ringan. Tanpa paksaan. Tanpa obsesi.

Hanya sebuah penempatan posisi.

“Di sini.”

Jantung Alinea langsung overheat.

Ia mencoba tetap stabil.

“Dan tangan saya?”

“Di lengan saya. Tidak menggantung. Tidak mencengkeram.”

Alinea mengikuti instruksi.

Kini mereka berdiri tepat seperti pasangan sungguhan.

Cermin besar di ujung ruangan memantulkan bayangan itu tanpa sensor. Dan di sana, pantulan mereka terlihat... cocok.

Justru kecocokan itulah yang membuat sistem pertahanan Alinea mulai berisik.

“Lihat ke cermin,” kata Arsenio.

Alinea melihat.

“Yang kamu lihat apa?”

Alinea terdiam.

“Saya lihat seseorang yang sedang dipoles supaya layak.”

Ruangan langsung berubah suhu.

Arsenio perlahan melepaskan tangannya.

“Layak untuk siapa?”

“Untuk dunia Bapak.”

Itu bukan tuduhan. Itu observasi.

“Semua ini—postur, diksi, jarak—rasanya seperti saya sedang diperbaiki.”

Arsenio menatapnya lurus.

“Saya tidak sedang memperbaiki kamu.”

“Lalu?”

“Saya memastikan kamu tidak diserang karena detail yang bisa kita kontrol.”

Alinea tersenyum tipis.

“Berarti tetap ada yang salah dari saya.”

“Tidak.”

Nada Arsenio lebih tegas.

“Kamu tidak salah.”

“Pak,” suaranya melembut sedikit, “saya bisa belajar table manner. Bisa belajar intonasi. Tapi saya tidak bisa belajar lahir dari keluarga konglomerat.”

Sunyi.

Dan sunyi itu sendiri adalah inti dari luka.

Arsenio melangkah maju satu kali lagi.

Tanpa sentuhan.

Hanya berdiri sedemikian dekat, hingga napas mereka nyaris bersinggungan di udara yang sama.

“Saya tidak pernah meminta kamu menjadi Nadia.”

Nama itu menggantung di udara.

Alinea menelan ludah.

“Dunia luar akan membandingkan.”

“Biarkan.”

“Mudah bagi Bapak bilang begitu.”

“Tidak.”

Arsenio menatapnya lebih dalam.

“Tidak mudah.”

Untuk pertama kalinya, ada celah.

Bukan sosok CEO yang angkuh.

Bukan pula pewaris takhta konglomerasi yang sedang bermain peran.

Hanya seorang pria. Seseorang yang dengan sadar memilih sosok yang paling tidak sesuai dengan ekspektasi keluarganya.

Dan pilihan itu sekarang berdiri tepat di hadapannya.

“Saya tidak memilih kamu karena

kamu sempurna,” lanjutnya pelan.

“Saya memilih kamu karena kamu tidak mencoba menjadi orang lain.”

Deg.

Kalimat itu mendarat terlalu dekat.

Terlalu personal.

Secara refleks, Alinea mundur setengah langkah—sebuah upaya sia-sia untuk menarik kembali batas yang baru saja dilanggar.

“Pak, jangan ngomong kayak gitu waktu kita lagi berdiri setengah senti.”

“Kenapa?”

“Karena saya bisa salah setting.”

Sudut bibir Arsenio naik lagi.

“Kamu selalu bercanda saat gugup.”

“Saya tidak gugup.”

“Kamu baru saja mundur.”

Alinea mendadak kaku.

Lidahnya kelu.

Satu kata yang berteriak di kepalanya: ketahuan.

Di bawah tatapan Arsenio, seluruh tembok pertahanan yang ia bangun susah payah baru saja runtuh tanpa suara.

Sesi terakhir: simulasi red carpet.

Lampu dimatikan, hanya satu spotlight menyala.

“Bayangkan kamera di sana,” kata Arsenio.

“Media akan tanya soal hubungan.”

Alinea menghela napas.

“Pak, kita ini hubungan apa sih?”

Pertanyaan itu keluar tanpa skrip.

Arsenio tidak langsung menjawab.

“Di depan publik, kita solid.”

“Dan di belakang publik?”

Hening.

Beberapa detik yang terasa lama.

“Masih proses.”

Jawaban aman.

Tapi jujur.

Alinea mengangguk kecil.

“Baik. Kalau begitu, saya akan tampil sebagai partner profesional.”

“Bukan partner pura-pura?”

Alinea menatapnya.

“Bapak yang bilang ini bukan permainan.”

Arsenio tidak berkedip.

“Kamu mulai percaya itu?”

Alinea tersenyum tipis.

“Saya mulai takut itu.”

Kembali sunyi.

Dan ketegangan itu kini memiliki detak jantung.

Arsenio melangkah maju sekali lagi. Mengikis habis jarak aman yang tersisa.

Tangannya terangkat pelan, seolah ingin kembali menyentuh wajah Alinea—persis seperti memori panas di dalam mobil malam itu.

Tangan itu berhenti di udara. Menggantung.

Waktu seakan melambat, memaksa setiap detik menjadi beban.

Alinea bisa merasakan panas tubuh Arsenio merambat ke kulitnya.

Napas pria itu menyapa wajahnya, menarik oksigen yang kini terasa semakin langka.

“Kalau saya menyentuh kamu sekarang,” suara Arsenio rendah, “itu bagian dari training… atau bukan?”

Jantung Alinea benar-benar crash.

Ia menatapnya lurus.

“Kalau Bapak harus tanya, berarti bukan.”

Hening.

Lalu Arsenio menurunkan tangannya.

Mundur satu langkah.

“Kita selesai untuk hari ini.”

Nada kembali profesional.

Terlalu cepat.

Seolah barusan tidak hampir terjadi sesuatu.

Alinea mengambil tasnya.

Di depan pintu, ia berhenti.

“Pak.”

Arsenio menoleh.

“Saya akan belajar semua yang perlu saya pelajari untuk gala.”

Ia menarik napas pelan.

“Tapi jangan pernah ajari saya cara jadi orang lain.”

Tatapan mereka bertemu.

Lama.

“Saya tidak tertarik pada orang lain,” jawab Arsenio tenang.

Dan itu jauh lebih berbahaya dari sentuhan mana pun.

Sebab, tanpa seujung jari pun mendarat di kulitnya, Arsenio sudah berhasil menyentuh bagian yang paling tidak tersentuh dalam diri Alinea: instingnya.

Alinea berhasil keluar dengan langkah yang dipaksakan stabil.

Namun, begitu daun pintu tertutup rapat, seluruh ketegarannya luruh. Ia menyandarkan punggung ke dinding dingin koridor, membiarkan jantungnya yang liar mencoba menemukan ritme normalnya kembali.

Training mode? Sialan. Ini lebih mirip emotional combat simulation.

Di dalam ruangan yang kini senyap, Arsenio masih berdiri di titik yang sama.

Matanya terpaku pada cermin besar, menatap sisa-sisa bayangan tempat mereka berdiri berdampingan tadi. Ia adalah pria yang jarang ragu, apalagi kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Namun hari ini—

Arsenio hampir menyentuh Alinea bukan karena tuntutan peran.

Dan itu adalah masalah besar.

Gala amal itu bahkan belum dimulai, tapi sistem pertahanan yang ia bangun bertahun-tahun justru sudah mengalami error lebih dulu.

1
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Halo para silent readers! Aku tahu kalian ada di sana mengawasi perjalanan Si Boss, berasa dipantau CCTV tapi yang ini versi baik hati. 🕵️‍♂️💖


Boleh minta tolong nggak, readers? Klik tombol Like dong! Tenang, klik Like itu 100% GRATIS, nggak dipungut biaya sepeser pun dan nggak bakal ngurangin kuota seblak kalian. Hehe. 🤭 Yuk, bantu Author yang lagi multitasking ini tetap semangat update dengan satu klik aja. Show some love, please? 🫶✨
Aira Aksara|IG:@ntii_tan
Bab ini judulnya SOROTAN, tapi kok kalian malah main petak umpet sih? Makasih ya yang sudah baca! Yuk, keluar dari persembunyian dan tunjukkan pesonamu lewat tombol Like & Komen! 🔦😎✨
Nur Halida
seru banget baca tiap kalimatnya
Aira Aksara|IG:@ntii_tan: 🥹🥹
makasih lohh🙌🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!