"Menikah denganku."
Risya Wicaksono, berusia 27 tahun.
Atau lebih di kenal dengan panggilan Icha, melotot terkejut, saat kalimat itu terlontar dari mulut lelaki yang sangat tidak ia sangka.
Arnold Adiguna.
Lelaki berusia 33 tahun. Yang juga masih merupakan salah satu kakak sepupunya.
Lelaki itu mengajaknya menikah. Semudah lelaki itu mengajak para sepupunya makan malam.
Icha tidak menyangka, jika lelaki itu akan nekat mendatanginya. Meminta menikah dengannya. Hanya karena permintaan omanya yang sudah berusia senja.
Dan yang lebih gilanya. Ia tidak diberikan kesempatan untuk menolak.
Bagaimanakah Icha menjalani pernikahan mereka yang sama sekali tidak terduga itu?
Mampukah ia bertahan hidup sebagai istri sang Adiguna? Lelaki yang dikenal sebagai CEO sekaligus Billionaire dingin nan kejam itu.
Mampukah mereka mengarungi pernikahan tanpa saling cinta?...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elis Hasibuan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Meminta maaf
"Bukan seperti itu!" Icha berseru. Tidak ingin malu di hadapan Arnold.
"Jadi?!" Arnold mengangkat alisnya. Menunggu jawaban dari Icha.
"Pokoknya aku marah, karena kak Ar tidak memberikan kabar!" Icha berseru dan menaikkan nada suaranya.
"Oke. Aku salah." Arnold memilih tidak memperpanjang masalah mereka.
"Aku di sana sangat sibuk Icha. Tidak sempat bagiku untuk memberikan kabar pada siapapun. Bahkan pada papa dan mama sekalipun. Aku selesai bekerja sangat larut. Kadang hingga jam 3 pagi baru bisa tidur. Sebelum mulai bekerja jam 8 pagi." Ia mulai menjelaskan.
"Aku tidak sempat membuka ponsel. Bukan karena tidak mau mengabarimu. Tapi karena tidak tahu mau memberikan kabar apa. Apalagi aku belum tahu kapan bisa pulang." Ia mengelus lengan Icha perlahan.
"Pekerjaan yang sangat menumpuk. Juga jam kerja yang sangat banyak. Membuatku tidak mau mengganggumu. Aku tidak mau mengganggu tidurmu jam 3 pagi Icha. Jadi aku bertekad menyelesaikan semua masalah itu. Sebelum bisa menghubungimu." Ia menatap mata Icha.
Wanita itu setia mendengarkan semua penjelasannya. Dan berharap wanita ini mau mengerti dengan kondisinya yang sulit saat itu.
"Jika kak Ar masih single, aku tidak akan memprotes itu. Tapi kak Ar sudah menikah! Kak Ar punya istri! Apa susahnya sih memberikan kabar sebentar saja. Aku tidak akan protes jika menerima panggilan jam 3 sekalipun. Paling tidak, aku tahu bagaimana kabar kak Ar di sana." Icha masih tetap kekeh dengan ucapannya.
"Oke. Aku salah. Lain kali saat ada di Thailand, aku akan selalu rutin memberikan kabar." Arnold mengalah.
Setelah mendengar keluhan Icha. Amarahnya tidak seberapa di banding kekecewaan wanita itu.
"Jika kak Ar tidak mengirimkan kabar, maka aku akan menyusul ke sana. Memarahi kak Ar di depan semua karyawan kak Ar di sana." Ancam Icha.
"Baiklah. Maafkan aku ya?" Arnold kembali bersuara. Tidak ingin memperpanjang perdebatan mereka.
"Oke. Aku maafkan. Tapi jika lain kali kak Ar berbuat seperti ini lagi, aku akan sangat marah." Icha memicingkan mata dan melirik Arnold cukup tajam.
"Baiklah bu Dokter. Sekarang peluk aku. Dua bulan tidak bertemu, tidakkah kamu merindukan suami sekaligus sepupumu ini?" Arnold mengangkat sebelah alis dan tersenyum kecil pada Icha.
"Aku merindukan kak Ar "
Icha langsung memeluk Arnold. Memejamkan mata di leher lelaki itu.
Tidak membohongi dirinya. Ia merindukan lelaki ini. Dua bulan tidak bertemu sama sekali. Membuatnya merindukan lelaki ini.
"Aku juga merindukanmu." Arnold balas memeluk Icha lebih erat lagi.
Keduanya tersenyum dan berpelukan cukup lama. Sebelum Icha menjauh dan menatap Arnold.
"Oke, sekarang lepaskan aku." Icha berusaha bergerak melepaskan diri.
Ia benar - benar tidak bisa berada dalam situasi ini lebih lama lagi. Ini membuatnya semakin tidak nyaman. Terlebih mereka tidak memiliki hubungan romantis.
"Tapi aku masih nyaman seperti ini." Arnold tidak terusik dengan pergerakan Icha.
"Kak Ar. Tidak sepantasnya kita seperti ini." Icha mengingatkan. Sedikit kesal karena ia tidak bisa lepas dari dekapan lelaki itu.
"Kenapa tidak? Aku suamimu Icha. Dan kamu adalah istriku. Jika kita tidak pantas seperti ini. Terus siapa yang pantas?" Ia mendelik karena pernyataan Icha.
"Apa aku harus memangku wanita lain begitu?" Arnold juga menambahkan.
"Ya nggak begitu juga." Icha menjawab dengan cepat. Terlalu cepat malah.
Senyuman di sertai kekehan kecil terdengar dari mulut Arnold. Ia mengusap punggung Icha yang semakin tegang. Menyukai interaksi mereka.
"Jadi bagaimana kegiatan dokter - dokteranmu selama 2 bulan ini?" Arnold bertanya kesibukan Icha selama ia tinggalkan.
"Sibuk seperti biasa." Icha menjawab ringan.
Arnold mengangkat sebelah alisnya mendengar jawaban itu. Itu jelas tidak memuaskannya. Apalagi setelah mendengar laporan dari para anak buahnya, yang ia tempatkan untuk menjaga Icha.
Istrinya ini sama sekali tidak mau menyinggung semut yang mulai mendekat itu. Dan itu membuatnya tidak puas.
Icha memperhatikan raut wajah Arnold. Lelaki ini sepertinya ingin mendengar lebih banyak lagi.
Apa ia harus menceritakan semuanya? Icha menimbang baik soal ini.
Ah!
Ia teringat akan Galaxy. Ia harus memberitahu lelaki ini sebelum membawa Galaxy dan Siti ke mansion Adiguna.
Persetujuan Arnold untuk mereka di mansion Adiguna jelas di perlukan olehnya.
"Oh ya kak Ar." Icha kembali bersuara.
"Aku merekrut seorang wanita muda untuk bekerja sebagai pelayan di mansion. Ia memiliki usia yang sama denganku, tapi ia sudah janda dan memiliki seorang anak, namanya Galaxy." Icha mulai menjelaskan.
Arnold memperhatikan Icha yang bercerita. Sepertinya orang yang ia maksudkan, memberikan kesan yang berarti buat Icha. Dan ia ingin mendengar lebih.
"Ia datang dari kampung. Mengadu nasib di kota ini. Beberapa hari yang lalu, anaknya masuk kemari dan di rawat. Ia bekerja dan meninggalkan anaknya seorang diri di kontrakan. Jadi aku menawarkan pekerjaan di mansion untuknya." Ia menceritakan semuanya.
"Ia hanya tamat SMA. Dengan anaknya, yang tidak mungkin ia tinggalkan lagi. Menurutku hanya pekerjaan ini yang bisa aku berikan. Bukankah ia bisa tinggal di paviliun para pelayan nantinya? Bolehkan ia bekerja di mansion?" Icha menanyakan keputusan Arnold.
Memang agak terlambat sih. Karena ia sudah memberikan pekerjaan itu. Bukankah ia seharusnya meminta ijin terlebih dahulu?
Tapi hatinya tang tergerak untuk Galaxy. Tidak bisa ia tahan lagi. Icha bersikap impulsif terlebih dahulu. Dan lupa menanyakan pendapat Arnold.
"Kenapa kamu tergerak untuk bocah itu?" Arnold mengelus rambut Icha yang nakal ingin kembali menutupi wajah cantik itu.
"Matanya membuatku merasa ia perlu aku tolong. Aku yakin anak itu sangat baik. Anak itu juga sopan kak Ar." Icha menjelaskan.
Semua reaksi wajah Icha tidak lepas dari tatapan Arnold. Membantu seseorang bukanlah hal yang baru bagi mereka sekeluarga. Bahkan mereka memiliki yayasan sendiri untuk membantu anak - anak kurang mampu.
Namun sikap Icha yang membawa anak itu untuk tinggal di mansion mereka. Membuat Arnold penasaran. Pasti ada sesuatu yang Icha lihat dari anak itu. Dan ia ingin tahu apa.
"Lakukan sesukamu. Itu adalah mansionmu juga. Jadi kamu bebas melakukannya." Arnold mengangguk.
"Terimakasih kak Ar!" Icha berseru dengan riang. Ia kembali memeluk lelaki itu dengan erat. Meluapkan rasa senangnya karena diijinkan oleh Arnold.
"Anytime Icha." Arnold mengusap rambutnya lembut. Ikut senang dengan semangat wanita itu.
Icha merasa lega karena akhirnya bisa membawa Galaxy dan mamanya untuk tinggal bersama mereka nanti. Meski tidak satu atap. Tapi ia bisa memastikan anak itu terpenuhi semua impiannya.
Dan itu sungguh menyenangkan baginya.
"Tidak ada hal lain yang ingin kamu ceritakan." Arnold bergumam di telinga Icha.
"Tidak ada lagi yang penting. Semua biasa saja." Icha bergumam. Memejamkan mata di pundak Arnold.
Untuk sebentar, ia ingin bermanja dengan lelaki ini. Lelaki yang telah menjadi suaminya, dan tidak ia temui selama 2 bulan ini.
"Baiklah."
Arnold tidak memaksa Icha lagi. Ia cukup terhibur dengan perkataan Icha yang menyebutkan biasa saja.
Bukankah itu artinya, semut itu tidak penting dalam hidup Icha?
Itu artinya, Icha masih akan terus menjadi istrinya bukan?
..........................
apa yg kamu lakukan ituu .... jahat buat babang Ar...
Sejauh ini ceritanya menarik