Daniel Rei Erwin, seorang siswa baru yang dapat melihat arwah orang yang sudah meninggal. Berteman dengan 3 orang siswa penghuni bangku belakang dan 2 orang siswi pandai yang penuh dengan logika.
Ia kira semua akan berjalan normal setelah ia pindah, namun tampaknya hari yang normal tidak akan pernah ada dalam hidupnya.
Semuanya berawal dari kasus kesurupan misterius dan menjalar ke kasus-kasus lainnya, hingga pada akhirnya ia tidak tahu kapan ini akan berakhir.
Jalani saja semuanya dengan sepenuh hati, mungkin akan ada satu hati lain yang akan ia temukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon humairoh anindita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KASUS 2 bagian 1
Senin pagi ujian tengah semester berlangsung seperti yang dijadwalkan. Semua guru dan staff berusaha sekuat mungkin untuk menutupi kejadian yang terjadi di Jum’at lalu, pondok belakang sekolah juga telah dihancurkan dan dibiarkan kosong begitu saja. Namun sepandai apa pun mereka menyimpan bangkai akhirnya terungkap juga. Ada begitu banyak saksi mata, dan jangan lupakan petugas penyuluhan kesehatan yang menyaksikan penangkapan, tentu bukan hal yang mudah untuk menyembunyikan fakta. Mereka hanya bisa meredamnya dengan menyebarkan rumor lainnya.
Jadi tidak heran jika selama ujian berlangsung lorong-lorong sekolah masih dipenuhi dengan berbagai macam rumor aneh yang tidak sedikitpun berbobot. Semua kasus yang telah terjadi 3 bulan terakhir seolah tertutup dengan berbagai macam berita. Kepala sekolah yang tidak peduli anaknya berbuat kriminal dan masih menjabat, ia juga digosipkan haus harta setelah tidak melakukan tindakan drop out terhadap Bagas setelah tindakan yang ia perbuat. Hingga rumor aneh yang bercerita tentang hantu toilet umum di halaman depan pun menjadi topik hangat. Namun dari sekian banyak gosip yang ada, hal yang paling mencolok adalah berita orang hilang yang terjadi beberapa waktu ini. Beberapa berakhir dengan ditemukan tewas, beberapa yang lain menjadi gila dan sisanya tidak ditemukan sama sekali jejaknya.
Semua hal yang berkaitan dengan kekacauan di sekolah seolah selesai begitu saja, tertutup dengan masalah baru yang terdengar lebih menarik. Andre sudah kembali dengan motor barunya, dan Mitha pun akhirnya kembali ke sekolah setelah libur tambahan kurang lebih 3 bulan. Meski keceriaannya masih sama seperti sebelumnya, itu tidak mengaburkan fakta bahwa kini badannya semakin kurus, rambutnya menipis dan ada lingkaran hitam yang tergantung di bawah matanya. Dia tidak lagi berniat untuk bergabung dengan geng sosialita atau geng mana pun, ia lebih memilih menyendiri. Apalagi setelah mendengar berita tentang Sora dan Bagas, pikirannya berubah. Sepertinya memiliki teman terkenal tidak menarik lagi.
Satu-satunya hal yang menarik bagi anak-anak yang terlibat dalam penyelidikan diam-diam ini adalah bagaimana caranya menyembunyikan nilai mereka dari orang tua mereka. Ujian mungkin berjalan dengan mulus tanpa hambatan, tapi mereka yakin nilai mereka tidak akan sebagus itu. Tidak ada satu pun materi yang tertinggal dalam otak mereka dalam 3 bulan terakhir. Semuanya dipenuhi kasus penyelidikan yang bahkan bukan milik mereka. Tidak ada satu pun orang yang bersemangat untuk mengambil nilai.
Ke-empat siswa penghuni bangku pojok belakang itu terlihat pasrah ketika menerima hasil nilai. Tidak ada rasa syukur atau semangat.
“Jika ada pengkhianat diantara kita, dia pasti yang tidak ikut remedial” ucap Ilyas.
Daniel menghela nafas lelah melihat hasil ujiannya. Tidak remedial, namun sangat pas. Ayahnya pasti akan berteriak melihatnya. Nilainya tidak pernah seburuk ini sebelumnya, ia harap tidak ada raket nyamuk yang menunggunya di rumah.
“Pasti baik-baik saja, itu lebih baik daripada miliku” ucap Andre. Ia memperlihatkan kertas itu dengan tatapan tidak menarik dan berpura-pura sedih. Kira-kira apa yang akan dikatakan ibunya jika melihat nilainya?
“Haruskah aku beralasan bahwa kita terlibat penyidikan kasus pembunuhan dan mengabaikan pelajaran. Kita seperti sudah pas untuk pekerjaan yang lebih besar daripada duduk disini dan mendengarkan bapak ibu guru menjelaskan apa itu Homo Sapiens dengan neraca yang tidak balance itu” ucap Ilyas sambil meletakkan kertas nilainnya.
“Hanya orang bodoh yang akan mempercayainya” jawab Andre.
Orang pandai mana yang akan percaya dengan cerita itu? Mereka hidup dalam lingkungan yang sangat realistis, tidak ada secuil pun mitos yang boleh terselip diantara mereka. Bahkan beberapa dari mereka masih menyangkal bahwa kasus Mitha itu benar-benar kesurupan, mereka percaya bahwa itu hanya pengalihan isu atau pencari perhatian. Mungkin mereka harus merasakan sendiri untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Tidak ada gunanya membicarakan sesuatu yang tidak ingin orang lain percayai.
Kelas terasa hening ketika wali kelas mereka berkata untuk merenungkan nilai mereka, belajar lebih giat dan memperlihatkan ketika jam pelajaran berlangsung. Semua siswa mengerang keras ketika wali kelas mengatakan hasil ujian itu sudah dikirim ke orang tua masing-masing.
“Bu, kalo aku tiba-tiba dikeluarkan dari Kartu Keluarga bagaimana?” tanya Jonatan.
“Ya itu bukan urusan saya, yang pasti ibu tidak mau ketambahan anggota keluarga baru. Jadwal remedial akan ditentukan oleh guru mata pelajaran masing-masing. Ingat remedial itu untuk memperbaiki bukan memperburuk” jawab guru itu sambil berlalu keluar ruangan.
Sebenarnya guru mana yang benar-benar peduli pada kehidupan muridnya? Mungkin hanya dapat dihitung dengan jari di satu tangan.
Setelah pembagian nilai, kelas menjadi cukup sepi. Hani, Ida, dan Andre dipanggil untuk menjalani rapat dewan ambalan tidak lama kemudian, disusul Ilyas yang harus menghadiri koordinasi PMR dan beberapa siswa lain yang menjalani kegiatannya masing-masing. Menyisakan Jonatan dan Daniel di dalam kelas.
Daniel masih memikirkan berita yang ia dapat tadi pagi. Beberapa siswa telah membicarakan tentang ibu Vito yang menjadi salah satu korban pembunuhan dan jasadnya tidak ditemukan hingga hari ini. Mungkin kah itu salah satu alasan mengapa ia menjadi pembunuh? Rasa kecewa yang dipupuk dengan pengkhianat tentu menjadikan dendam tumbuh subur.
“Organisasi mu tidak mengadakan rapat Jo?” tanya Daniel.
“Rapat apa? Mencari mengganti Vito? Sudah dapat sejak lama” jawab Andre malas.
“Memangnya Vito benar-benar anak haram kepala sekolah ya?” tanya Daniel lagi.
“Apa yang membuat Tuan Muda ini begitu tertarik mengenai gosip?” tanya Jonatan.
Daniel menghela nafas mendengar panggilan Jonatan. Ia tidak pernah terbiasa dengan ejekan atau gurauan yang melibatkan orang tuanya, tapi tampaknya di tempat ini semuanya telah mendarah daging. Harta, rayuan, dan kekuasaan tampaknya lebih penting dari empati atau prestasi apa pun.
“Cuman penasaran, tidak mungkin kan dia membunuh hanya karena dikhianati” jawab Daniel dengan tatapan yang menerawang.
“ Kamu pasti mendengar rumor tentang ibunya Vito yang hilang itu. Gosipnya sih seperti itu, tidak ada yang mengkonfirmasi benar atau tidaknya berita. Kamu dengar sendiri rekaman pertengkaran mereka, bukankah seperti ayah dan anak? Dalam kartu keluarga kepala sekolah pun Vito hanya tercatat sebagai saudara lain. Lagipula ini sudah terjadi, tidak ada lagi cara untuk menghentikan masa lalu” jawab Jonatan.
Keheningan terjadi sesaat. Daniel tahu mengetahui motif sebenarnya dari seorang pelaku kriminal terlihat sangat tidak berguna, itu terdengar seperti menguak masa lalu yang akan menyakiti salah satu pihak. Yang tidak mereka pertimbangkan adalah kemungkinan dirinya sendiri untuk menjadi salah satu pelaku. Tidak semua pelaku kejahatan melakukan kejahatan karena ingin, terkadang itu karena rasa sakit. Oleh sebab itu motif itu penting, agar tidak ada lagi orang yang melakukannya.
“Kamu kenal baik Vito ya?”
“Tidak juga. Kami satu organisasi tentu perlu kompromi dan obrolan, kalau tidak organisasi kami tidak akan berjalan” jawab Andre.
Itu adalah hal yang diajarkan seseorang di masa lalunya. Semua masalah dalam organisasi harus dihadapi tanpa terlihat oleh siapa pun. Di luar organisasi kita harus terlihat bersatu, tanpa menunjukkan satu masalah pun. Itu adalah semacam trik untuk menipu organisasi lain agar mereka berfikir kalah kompak sebelum bertarung.
Keheningan terjadi selama beberapa saat, sampai desiran angin menerbangkan tirai jendela. Daniel menatap lurus ke bangku terdepan. Dia tidak melihat arwah siswa bernama Yuan akhir-akhir ini, bukan karena tidak ingin tapi karena waktu yang tidak tepat. Arwah itu pemalu, dia akan pergi ketika ada lebih dari satu orang di dalam ruangan. Sedangkan dia akhir-akhir ini akan sampai ketika bell sekolah hampir berbunyi.
“Kalau tentang Yuan, apa dia punya pacar?” Tanya Daniel tiba-tiba.
“Pertanyaan apa lagi ini, memangnya kenapa?” Tanya Jonatan balik.
“Tidak, hanya penasaran saja”
“Dia ikut kita sampai kelas ini ya?”
Daniel hanya mengangguk kecil.
“Kesan pertama saat mengenalnya adalah seorang gadis lugu yang pemberani dan sederhana. Namun ternyata aku salah, seiring berjalannya waktu sifat lugunya itu luntur. Beberapa teman lamanya bilang kalau sifat aslinya memang tidak sebaik itu, dia terkenal nakal dan banyak melanggar peraturan. Awal semester itu ia berpacaran dengan sepupuku, dia kelas 12 MIPA dan salah satu dewan ambalan yang membimbing kami. Aku tidak tahu pasti seperti apa hubungan mereka, karena saat perkemahan mereka bertengkar. Aku dengar karena sepupuku tidak membantunya ketika asmanya kambuh. Semua orang lupa bahwa selalu ada batasan diantara laki-laki dan perempuan, apalagi kita masih SMA. Hingga tengah semester aku dengar mereka putus dan Yuan kembali berpacaran dengan anak kelas sebelah yang hanya bertahan 2 bulan. Dia kembali berpacaran dengan seorang Mahasiswa PPL hingga kematiannya” jelas Andre.
Daniel terdiam mendengar cerita Jonatan,
“3 laki-laki dalam 1 tahun di usia 16 tahun. Sungguh luar biasa.”
Jonatan tidak tahu itu pujian atau hinaan, tapi ia tahu maksud dari tidak sesederhana itu. Dalam sudut pandang Jonatan, Daniel bukan lah orang yang sederhana. Ia seperti dalang dalam pelakonan wayang, terlihat dingin dan tidak ingin peduli namun diam-diam menyelesaikan segalanya. Kata-katanya terdengar sederhana dan mudah dicerna, tidak banyak orang yang menyadari untuk berada di titik itu seseorang harus mempelajari lebih banyak dari orang lain.
“Apakah kau ingin mengusir arwahnya?” tanya Andre.
“Pengusiran arwah tidak semudah itu. Dalam pemahamanku arwah adalah sekumpulan harapan semu dari jasad yang mati. Jika dia masih tinggal kemungkinan besar masih ada harapan atau keinginannya yang belum terpenuhi. Menurut cerita Andre dia meninggal saat akan pergi latihan ke pementasan, jika itu memang tujuan terakhirnya itu artinya dia sudah selesai. Teman-temannya sudah menempatkan arwahnya di tempatnya” jawab Daniel sambil berfikir.
“Tidak ada yang tahu apa keinginannya saat itu, teman-temannya pun berkata bahwa dia tidak memiliki satu keinginan apa pun. Kecuali angan-angan tentang masa depan yang terdengar mustahil” Jonatan menghela nafas “ memangnya apa untungnya kita melepaskan arwahnya, toh dari awal dia tidak menganggu kita” sambungnya.
“Dia arwah yang pemalu yang akan pergi begitu ada lebih dari satu orang di kelas”
“Berbanding terbalik dengan kehidupannya.”
Daniel menghela nafas pasrah, Jonatan benar arwah itu tidak menganggu. Jika ia tidak ingin bertemu dengannya ia hanya perlu berangkat sedikit lebih siang.
“Tapi Dan, apakah hanya arwah Yuan yang kamu lihat di dalam sekolah?” tanya Jonatan setelah lama hening.
“Tidak, hari pertama masuk sekolah itu hujan dan aku sudah melihat beberapa entitas gaib yang menyabut di depan gerbang. Namun itu bukan arwah seseorang yang mati, ia hanya entitas yang tinggal disana. Lalu di ruang kepala sekolah, Andre bilang itu arwah kepala sekolah atau yang menyerupainya. Aku tidak berinteraksi karena memang tidak perlu, dan Yuan itu baru aku lihat beberapa minggu yang lalu. Dia tidak meminta tolong namun hanya diam” jawab Daniel.
“Hanya itu? Gosipnya hampir setiap tahun sekolah meminta tumbal untuk kejayaan tempat ini, dan selalu terjadi di akhir semester kedua. Tempat ini seharusnya sudah penuh dengan arwah penasaran. Apakah kematian mereka hanya kebetulan belaka?” tanya Jonatan.
“Tumbal ya? Aku tidak pernah bertemu dengan arwah-arwah yang seperti itu. Aku meyakini mereka mati dengan tenang dan jika ada suatu penampakan yang wujudnya sama dengan tumbal itu, mungkin saja itu hanya entitas yang menyerupai korban” jelas Daniel.
“Kau tahu lebih banyak daripada Andre, aku heran kenapa dia memilih untuk menutup indra ke-enam nya” heran Jonatan.
“Itu karena kamu tidak memilikinya Jo, jadi kamu bisa bilang begitu. Jika memang bisa aku juga ingin menutupnya. Terkadang melihat sesuatu yang tidak ingin kita lihat itu juga merepotkan, apalagi jika bentuk dan rupanya tidak seperti manusia pada umumnya” jawab Daniel. Ia memejamkan matanya merasakan semilir angin yang berhembus dari jendela yang terbuka. Bell pulang sebentar lagi berbunyi dan masih tidak ada satu pun siswa yang kembali. Sepertinya acara perkemahan Minggu depan benar-benar akan merepotkan.
“Apakah itu seperti yang di film-film?” tanya Jonatan.
“Bukankah siswa kelas sebelah sudah menceritakan semua detail makhluknya, apa kamu tidak mendengar cerita Hani?”
“Ah, siswa pencari perhatian itu. Aku muak melihatnya apalagi mendengar ceritanya. Di tengah sekolah yang penuh dengan logika dan realita ini mengapa masih ada siswa yang percaya akan hal-hal mistis seperti itu?” ucap Jonatan kesal.
Daniel menatapnya heran. Bukankah beberapa waktu yang lalu dia juga mempertanyakan hal yang sama, mengapa sekarang menyalahkan orang? Mungkin terlalu lama mendengar suara drum dan begitu banyak alat musik membuat otak ya sedikit terkikis.
Keheningan kembali terjadi. Daniel ingin tidur dan Jonatan tampak memikirkan sesuatu yang terlihat berat.
“Tapi Dan, kau bilang manusia yang menjadi tumbal itu mati dengan tenang. Itu sebabnya kamu tidak melihat arwah siapa pun di sekolah. Tapi mengapa kamu melihat arwah Yuan dan Kepala sekolah lama? Mungkinkah mereka sebenarnya tidak menjadi tumbal?” tanya Jonatan memecah keheningan.
Mereka saling melempar pandang. Arwah adalah sekumpulan energi yang tertinggal dari seseorang yang mati karena keinginannya belum terpenuhi. Hanya ada 2 arwah yang Daniel lihat, mungkin maksudnya kedua arwah itu keinginannya belum terpenuhi.