Ternyata, teori tentang benang merah itu memang ada. Sejauh dan selama apapun berpisah, jika ada yang belum selesai makan akan tetap bertemu dengan cara yang terkadang tak masuk dalam logika.
Siapa yang sangka, Bianca akan kembali bertemu , mantan tunangan yang dulu dijodohkan dengannya dalam keadaan Bianca yang sudah tidak seperti dulu lagi.
Tunangan yang dulunya pergi meninggalkannya karena alasan tidak mencintainya, kini justru selalu terlihat dalam hidup Bianca yang begitu pelik.
Padahal mantan tunangannya itu sudah memiliki wanita yang dicintai sejak dulu menjalin hubungan dengan Bianca.
"Bisakah kau melewatiku begitu saja saat melihatku? Jangan mendekat dan jangan ikut campur terlalu jauh ke dalam hidupku!" - Bianca -
Apa jadinya jika dua orang itu justru terikat oleh sebuah teori benang merah yang tidak pernah putus diantara mereka?
Apakah mereka akan kembali bersama meski benang merah sudah terlalu rumit mengikat mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi.santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apartemen Bianca
Ternyata tak sampai di sana, Elgard tak puas dengan apa yang Bianca katakan padanya tadi. Dia sekarang malah kembali mengikuti Bianca pulang ke rumah.
Entah apa yang membuat dirinya menjadi seperti penguntit seperti itu. Tapi rasanya tak tega melihat Bianca pulang sendirian malam-malam seperti ini.
Elgard sampai mengikuti bus yang membawa Bianca. Ini pertama kalinya Elgard mengikuti seseorang yang menaiki bus dan orang itu adalah mantan tunangannya sendiri. Sebenarnya Elgard ingin sekali meminta Bianca untuk masuk ke dalam mobilnya dan mengantarnya pulang. Tapi Elgard tau sendiri kalau Bianca tidak akan pernah mau ikut masuk ke dalam mobilnya.
Saat ingin membawa jasad Ibunya ke tempat keremasi saja, Bianca lebih memilih untuk ikut ke dalam mobil ambulance daripada bersama dirinya.
Jadi sekarang Elgard lebih memilih mengikuti bus yang ditumpangi Bianca dari pada harus berdebat dengan Bianca.
Elgard memarkirkan mobil setelah melihat Bianca turun dari Bus, cukup dekat dengan area apartemen milik Bianca yang agak masuk ke dalam melalui jalanan kecil yang tak bisa dilalui dengan mobil.
"Mau apa kalian?" Bianca mundur satu langkah ketika melihat beberapa pria menghadangnya dengan senyum mereka yang menjijikkan.
"Tentu saja kami ingin menagih hutang! Mau sampai kapan kau terus menghindar dan lepas tanggung jawab dari semua hutangmu itu?"
"Aku akan membayarnya, tapi beri aku waktu lagi!"
"Sayangnya aku tidak mau menunggu lagi. Aku ingin uangnya sekarang juga! Kalau tidak..." Pria-pria itu semakin mendekat pada Bianca dengan senyum yang mengerikan.
"Mau apa kalian?" Bianca mundur ketakutan.
"Kau harus melayani ku! Ha..ha..ha..ha..!" Tawa dari mereka semua terdengar begitu menakutkan di telinga Bianca.
Dia wanita dan hanya seorang diri, mana mungkin dia bisa melawan empat orang pria dengan tubuh tinggi dan besar itu.
"Aku pasti akan membayarnya, tapi tolong lepaskan aku dulu!"
"Aku tidak percaya kau akan membayar hutang Kakakmu yang menggunung itu. Memang benar kata Davis kalau dia punya adik yang cantik. Kalau tau adiknya seperti ini, sudah dari dulu aku mengambilmu saat Davis menawarkanmu padaku!"
"Aku tidak sudi!!" Bianca benar-benar tak menyangka kalau Kakaknya tega menawarkan dirinya pada para rentenir itu.
"Cepat tangkap dia!" Perintah salah satunya.
"Tidak, jangan mendekat! Akkhhh!!" Kedua tangan Bianca sudah dicengkram oleh dua orang dari sisi kiri dan kanannya. Dia sudah tudak bisa melawan lagi walaupun dia memberontak sekuat tenaga.
"Lepaskan!! TOLONNGG!! TOLOOOONNGGGG!!!" Teriak Bianca berharap akan ada yang membantunya meski jalan kcil menuju apartemennya itu gelap dan sepi.
"Ayo bawa pergi!" Bianca ditarik Bianca menuju ke tempat mereka
"Lepaskan dia!!" Seru seseorang dari kejauhan.
Bianca melihat Elgard mendekat dari kejauhan. Entah kenapa bisa pria itu ada di sana saat ini. Tapi jujur saja dia merasa lega karena ada Elgard yang mungkin saja bisa mencegah rentenir itu membawanya.
"Siapa kau? Apa urusannya denganmu?!" Salah satu anak buah rentenir itu.
"Lepaskan atau aku akan panggilkan polisi untuk menangkap kalian semua!" Ancam Elgard.
"Silahkan saja, aku tidak takut! Wanita ini punya hutang yang begitu banyak dan kami punya perjanjian hitam di atas putih. Tentu saja polisi tidak akan ikut campur urusan kami!"
"Berapa hutangnya? Akan aku bayar asal lepaskan dia sekarang juga!"
"Tidak, aku akan membayarnya sendiri!" Bianca hanya berharap Elgard akan menolongnya lepas dari para pria itu, bukan untuk membayarkan hutangnya.
"Kau dengar kan? Lagipula aku lebih tertarik pada wanita ini daripada uangmu!" Pria tadi tersenyum mengejek.
"Cepat bawa!"
"Tidak, lepaskan!" Binaca kembali memberontak.
Srett...
Bug...bug...
Elgard yang sudah hilang kesabaran langusng menarik pria tadi dan menghajarnya begitu saja. Kedua pria yang tadi mencengkeram tangan Bianca kini justru ikut menyerang Elgard yang seorang diri.
Bianca sekarang mencoba untuk menghubungi polisi karena tak mungkin jika Elgard bisa mengatasi empat orang sekaligus sedangkan Elgard hanya seorang diri.
Tapi sempat panggilannya tersambung, empat pria tadi sudah berhasil dilumpuhkan oleh Elgard. Mereka terkapar di jalanan dengan tak berdaya.
"Entah kalian dari sini, jangan ganggu dia lagi! Kalau sampai aku melihat kalian menyentuhnya lagi, habis kalian!"
"Baik Tuan, maafkan kami Tuan!" Mereka berempat lari tunggang langgang karena takut jika Elgard benar-benar akan menghabisinya.
Elgard menoleh pada Bianca yang berdiri dikejauhan dengan wajah yang masih terlihat panik dan ketakutan.
"Kau tidak papa?" Elgard pucuk kepala Bianca.
Seketika Bianca tersadar, dia terkesiap dengan sentuhan Elgard dan langsung membuatnya menghindar.
Tangan Elgard yang masih berada di atas udara langsung mengepal dengan kuat.
"Apa mereka selalu mengganggumu seperti itu?"
"Hmm!" Gumam Bianca.
"Mereka rentenir yang meminjamkan uang pada Davis?"
"Sejauh apa anda mencari tau tentang saya?" Bianca telihat tak suka dengan kelancangan Elgard.
"Aku hanya ingin tau sedikit tentang apa yang terjadi padamu selama delapan tahun ini Bee!"
"Sepertinya anda terlalu berlebihan Tuan. Saya memang menerima bantuan anda dan saya ucapkan terima kasih banyak karena tadi sudah membantu saya lagi, tapi apa yang anda lakukan membuat saya tidak nyaman!"
"Bee, aku..."
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih Tuan, permisi!" Bianca meninggalkan Elgard begitu saja.
"Awww, shhhh!!" Elgard merintih kesakitan memegang perut dan wajahnya hingga mengundang perhatian Bianca yang baru beberapa langkah menjauh.
"Bee, sepertinya pukulan tadi membuat tubuhku cidera. Tolong beri aku tempat untuk istirahat sebentar saja!" Elgard membungkuk memegang perutnya.
"Anda bisa langsung pergi ke rumah sakit Tuan!"
"Aku seperti ini karena menolongmu. Apa kau tidak mau bertanggung jawab? Kalau bukan karena aku, kau pasti sudah dibawa mereka sekarang!"
Bianca memutar bola matanya dengan jengah karena muak dengan sikap Elgard itu.
"Aww, tolong aku Bee. Aku tidak mampu berdiri dengan tegak!"
"Ck!" Bianca akhirnya mendekat untuk membantu Elgard.
Tapi dia terkejut karena Elgard langsung merangkul bahunya dan mengajaknya berjalan masuk ke dalam gedung apartemen.
Elgard tertegun melihat apartemen milik Bianca. Apartemen kecil yang tak lebih besar dari kamar Elgard di rumah Ibunya. Dia tak menyangka saja jika Bianca berakhir di tempat seperti itu. Tapi meski tempat itu kecil dan berada di gedung yang terlihat terbengkalai dari luar, ruangan itu begitu rapi menurut Elgard.
"Dulu butuh berapa lama dia menyesuaikan diri dengan tempat seperti ini?"
Tapi yang langsung menarik perhatian Elgard adalah wangi yang menyapa hidungnya dengan sangat sopan. Elgard beberapa kali mencium aroma itu ketika berdekatan dengan Bianca sejak pertama kali bertemu di gedung rumah sakit. Tadi saat merangkul Bianca, dia juga bisa mencium wangi itu lebih tajam.
Mata Elgard tertuju pada beberapa botol cairan di atas meja. Ternyata Bianca masih suka meracik parfum seperti dulu. Wanita itu dulu memang memiliki impian untuk menjadi peracik parfum terkenal.
Jadi parfum yang Bianca pakai itu adalah racikannya sendiri, makanya Elgard seperti belum pernah mencium wangi parfum seperti yang melekat pada tubuh Bianca.
"Sepertinya anda baik-baik saja Tuan!" Bianca datang mengulurkan gelas berisi air putih dengan cukup kasar karena kesal dengan kepura-puraan yang Elgard lakukan.
lanjut....
baguslah kamu sudah menceritakan kelakuan Meriana ke Elgard dengan jujur