"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30: Wisuda di Zurich dan Tamu yang Tersembunyi
Empat tahun berlalu seperti deru angin di pegunungan Alpen cepat, dingin, namun membawa perubahan yang drastis. Di Zurich, waktu telah mematangkan segalanya. Gadis remaja yang dulu berlari menjauh dengan air mata dan darah kini telah bertransformasi menjadi seorang wanita dewasa yang tenang, cerdas, dan memiliki otoritas atas dirinya sendiri.
Hari ini adalah hari paling bersejarah bagi Gabriella Rachel De Alfa. Halaman Universitas Zurich dipenuhi oleh jubah-jubah hitam dan topi toga yang dilemparkan ke udara. Aroma kemenangan tercium di mana-mana. Achell berdiri di antara kerumunan, mengenakan jubah wisudanya dengan bangga. Di tangannya, ia menggenggam ijazah kedokteran dengan predikat Summa Cum Laude. Empat tahun perjuangan tanpa henti, malam-malam tanpa tidur, dan ribuan liter kopi akhirnya terbayar lunas.
"Achell! Sini! Kita harus foto bertiga!" teriak Sophie yang tampak sangat modis dengan gaun rancangannya sendiri di balik jubah wisuda desainnya (yang tentu saja lebih gaya dibanding jubah standar).
Julian, yang juga wisuda dari fakultas hukum dengan nilai yang nyaris sempurna, berjalan mendekat sambil merapikan toganya. "Berhenti berteriak, Sophie. Kau memalukan fakultas desain," ejeknya, namun matanya memancarkan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan untuk kedua sahabatnya itu.
"Biar saja! Hari ini kita adalah penguasa Zurich!" balas Sophie sambil merangkul Achell dan Julian.
Di tengah kegembiraan itu, Liam Vanderwaal—yang kini sudah menjadi dokter residen senior—datang membawakan sebuah buket bunga lili putih yang besar untuk Achell. "Selamat, Dokter Gabriella. Aku tahu kau akan berhasil melaluinya dengan gemilang," ucap Liam dengan suara lembut yang selalu berhasil membuat Achell merasa dihargai.
Achell tersenyum manis, menerima bunga itu. "Terima kasih, Liam. Tanpa bantuanmu di lab, aku mungkin masih berkutat dengan teori anatomi."
Namun, di balik pilar besar gedung universitas yang bergaya gotik itu, seorang pria berdiri tersembunyi dalam bayangan. Ia mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu gelap dan topi yang ditarik rendah.
Itu adalah Victor Louis Edward.
Ia datang secara rahasia. Ia tidak memberitahu Jake, ia tidak memberitahu sekretarisnya, bahkan ia datang menggunakan penerbangan komersial biasa agar tidak terdeteksi oleh radar intelijen keluarga De Alfa. Victor hanya ingin satu hal: melihat Achell sekali saja dalam momen terbaiknya.
Dari kejauhan, Victor menatap Achell.
Jantungnya berdenyut nyeri saat melihat senyum Achell yang begitu lepas. Senyum yang tidak pernah diberikan untuknya di London. Ia melihat bagaimana Achell tertawa bersama teman-temannya, bagaimana ia berbicara dengan akrab pada pria muda bernama Liam itu.
Victor mengepalkan tangannya di dalam saku mantel. Ia merasakan sebuah kotak kecil di sana—sebuah jam tangan medis yang sangat mahal dan langka yang ingin ia berikan sebagai hadiah kelulusan. Namun, kakinya seolah terpaku di lantai. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: ia tidak punya tempat di sana. Ia adalah orang asing yang hanya akan membawa awan mendung di hari cerah Achell.
"Kau sudah tumbuh sangat besar, Achell..." bisik Victor lirih. Suaranya tenggelam oleh sorak-sorai wisudawan lain.
Ia melihat Achell yang kini begitu mandiri. Ia teringat bagaimana dulu ia selalu meragukan kemampuan Achell, bagaimana ia menuduhnya mencuri, dan bagaimana ia memaksanya untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya. Kini, Achell berdiri sebagai dirinya sendiri—seorang dokter yang siap menyembuhkan dunia.
Tiba-tiba, Liam merangkul pundak Achell untuk sebuah foto. Victor memalingkan wajah. Rasa cemburu itu ada, namun rasa bersalahnya jauh lebih besar. Ia merasa tidak punya hak bahkan untuk merasa cemburu.
"Tuan," sebuah suara rendah terdengar di sampingnya. Itu adalah orang kepercayaannya yang bertugas menjaga jarak aman. "Mobil sudah siap. Jika kita tidak berangkat sekarang, kita akan ketinggalan penerbangan kembali ke London."
Victor mengangguk pelan. Ia menatap Achell untuk terakhir kalinya. Achell sedang tertawa lebar saat Sophie mencoba memakaikan kacamata minus milik Dave yang malang (yang juga hadir dengan kacamata minus 12-nya yang baru) ke wajah Julian.
Victor berbalik dan melangkah pergi. Ia tidak menemui Achell. Ia tidak memanggil namanya. Ia meninggalkan area universitas dengan perasaan yang lebih hampa daripada saat ia datang.
Setelah upacara selesai dan pesta kecil mereka di apartemen berakhir, Achell duduk sendirian di balkon, menatap matahari terbenam. Sophie dan Julian sudah tertidur lelah di ruang tengah.
Achell merasakan sesuatu yang aneh. Sepanjang hari tadi, ia merasa seolah ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Seseorang yang auranya sangat ia kenal, namun ia segera menepis pikiran itu.
Tidak mungkin dia di sini, pikir Achell.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun kode negaranya adalah Inggris (+44).
"Selamat atas kelulusanmu, Dokter Gabriella. Dunia butuh tangan-tangan penyembuhmu. Teruslah terbang tinggi, jangan pernah menoleh ke belakang lagi. Seseorang di sini bangga padamu, meski ia tidak pantas untuk mengatakannya."
Achell menatap pesan itu cukup lama. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia tahu siapa pengirimnya. Ia tahu hanya satu orang yang memanggilnya dengan cara yang begitu rumit antara formalitas dan kerinduan.
Apakah ia merasa sedih? Tidak.
Apakah ia merindukan pria itu? Mungkin sedikit, sebagai bagian dari masa kecilnya.
Tapi apakah ia ingin kembali? Sama sekali tidak.
Achell menekan tombol 'Hapus' pada pesan tersebut. Ia tidak membalas, ia tidak menyimpan nomornya. Ia hanya menatap langit Zurich yang mulai gelap dan tersenyum tipis.
"Terima kasih atas sanksinya, Uncle Victor," bisik Achell pada angin. "Tanpa luka yang kau berikan, aku tidak akan pernah menjadi wanita sekuat ini."
Victor yang saat itu sudah duduk di dalam pesawat, menatap awan dari jendela kecil. Ia menunggu balasan yang tak kunjung datang, sampai akhirnya ia sadar bahwa keheningan Achell adalah sanksi terakhir yang harus ia jalani. Achell telah benar-benar menutup pintu, bahkan tidak memberinya kesempatan untuk sekadar menjadi orang asing yang menyapa.
Di London, mansion itu tetap kosong. Di Zurich, masa depan Achell baru saja dimulai. Dan di antara keduanya, ada jurang bernama penyesalan yang tak akan pernah bisa diseberangi oleh apa pun.
Empat tahun tidak mengubah cinta yang salah menjadi benar, ia hanya mengubah seseorang yang dulu buta menjadi seseorang yang bisa melihat dengan sangat jelas siapa yang pantas berada di sisinya. Dan pria itu, pastinya bukan Victor Louis Edward.