NovelToon NovelToon
The Punchline

The Punchline

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / Cintapertama
Popularitas:8.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ra H Fadillah

​"Sepuluh tahun lalu, Victor menyebut cinta Achell sebagai 'lelucon'. Sekarang, Achell kembali untuk memastikan Victor merasakan betapa pahitnya akhir dari lelucon itu. Sebuah kisah tentang penyesalan yang terlambat, cinta yang mati rasa, dan harga mahal dari sebuah keangkuhan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ra H Fadillah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Wisuda di Zurich dan Tamu yang Tersembunyi

Empat tahun berlalu seperti deru angin di pegunungan Alpen cepat, dingin, namun membawa perubahan yang drastis. Di Zurich, waktu telah mematangkan segalanya. Gadis remaja yang dulu berlari menjauh dengan air mata dan darah kini telah bertransformasi menjadi seorang wanita dewasa yang tenang, cerdas, dan memiliki otoritas atas dirinya sendiri.

​Hari ini adalah hari paling bersejarah bagi Gabriella Rachel De Alfa. Halaman Universitas Zurich dipenuhi oleh jubah-jubah hitam dan topi toga yang dilemparkan ke udara. Aroma kemenangan tercium di mana-mana. Achell berdiri di antara kerumunan, mengenakan jubah wisudanya dengan bangga. Di tangannya, ia menggenggam ijazah kedokteran dengan predikat Summa Cum Laude. Empat tahun perjuangan tanpa henti, malam-malam tanpa tidur, dan ribuan liter kopi akhirnya terbayar lunas.

​"Achell! Sini! Kita harus foto bertiga!" teriak Sophie yang tampak sangat modis dengan gaun rancangannya sendiri di balik jubah wisuda desainnya (yang tentu saja lebih gaya dibanding jubah standar).

​Julian, yang juga wisuda dari fakultas hukum dengan nilai yang nyaris sempurna, berjalan mendekat sambil merapikan toganya. "Berhenti berteriak, Sophie. Kau memalukan fakultas desain," ejeknya, namun matanya memancarkan kebanggaan yang tak bisa disembunyikan untuk kedua sahabatnya itu.

​"Biar saja! Hari ini kita adalah penguasa Zurich!" balas Sophie sambil merangkul Achell dan Julian.

​Di tengah kegembiraan itu, Liam Vanderwaal—yang kini sudah menjadi dokter residen senior—datang membawakan sebuah buket bunga lili putih yang besar untuk Achell. "Selamat, Dokter Gabriella. Aku tahu kau akan berhasil melaluinya dengan gemilang," ucap Liam dengan suara lembut yang selalu berhasil membuat Achell merasa dihargai.

​Achell tersenyum manis, menerima bunga itu. "Terima kasih, Liam. Tanpa bantuanmu di lab, aku mungkin masih berkutat dengan teori anatomi."

​Namun, di balik pilar besar gedung universitas yang bergaya gotik itu, seorang pria berdiri tersembunyi dalam bayangan. Ia mengenakan mantel panjang berwarna abu-abu gelap dan topi yang ditarik rendah.

Itu adalah Victor Louis Edward.

​Ia datang secara rahasia. Ia tidak memberitahu Jake, ia tidak memberitahu sekretarisnya, bahkan ia datang menggunakan penerbangan komersial biasa agar tidak terdeteksi oleh radar intelijen keluarga De Alfa. Victor hanya ingin satu hal: melihat Achell sekali saja dalam momen terbaiknya.

​Dari kejauhan, Victor menatap Achell.

Jantungnya berdenyut nyeri saat melihat senyum Achell yang begitu lepas. Senyum yang tidak pernah diberikan untuknya di London. Ia melihat bagaimana Achell tertawa bersama teman-temannya, bagaimana ia berbicara dengan akrab pada pria muda bernama Liam itu.

​Victor mengepalkan tangannya di dalam saku mantel. Ia merasakan sebuah kotak kecil di sana—sebuah jam tangan medis yang sangat mahal dan langka yang ingin ia berikan sebagai hadiah kelulusan. Namun, kakinya seolah terpaku di lantai. Ia menyadari sebuah kenyataan pahit: ia tidak punya tempat di sana. Ia adalah orang asing yang hanya akan membawa awan mendung di hari cerah Achell.

​"Kau sudah tumbuh sangat besar, Achell..." bisik Victor lirih. Suaranya tenggelam oleh sorak-sorai wisudawan lain.

​Ia melihat Achell yang kini begitu mandiri. Ia teringat bagaimana dulu ia selalu meragukan kemampuan Achell, bagaimana ia menuduhnya mencuri, dan bagaimana ia memaksanya untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya. Kini, Achell berdiri sebagai dirinya sendiri—seorang dokter yang siap menyembuhkan dunia.

​Tiba-tiba, Liam merangkul pundak Achell untuk sebuah foto. Victor memalingkan wajah. Rasa cemburu itu ada, namun rasa bersalahnya jauh lebih besar. Ia merasa tidak punya hak bahkan untuk merasa cemburu.

​"Tuan," sebuah suara rendah terdengar di sampingnya. Itu adalah orang kepercayaannya yang bertugas menjaga jarak aman. "Mobil sudah siap. Jika kita tidak berangkat sekarang, kita akan ketinggalan penerbangan kembali ke London."

​Victor mengangguk pelan. Ia menatap Achell untuk terakhir kalinya. Achell sedang tertawa lebar saat Sophie mencoba memakaikan kacamata minus milik Dave yang malang (yang juga hadir dengan kacamata minus 12-nya yang baru) ke wajah Julian.

​Victor berbalik dan melangkah pergi. Ia tidak menemui Achell. Ia tidak memanggil namanya. Ia meninggalkan area universitas dengan perasaan yang lebih hampa daripada saat ia datang.

​Setelah upacara selesai dan pesta kecil mereka di apartemen berakhir, Achell duduk sendirian di balkon, menatap matahari terbenam. Sophie dan Julian sudah tertidur lelah di ruang tengah.

​Achell merasakan sesuatu yang aneh. Sepanjang hari tadi, ia merasa seolah ada seseorang yang memperhatikannya dari jauh. Seseorang yang auranya sangat ia kenal, namun ia segera menepis pikiran itu.

​Tidak mungkin dia di sini, pikir Achell.

​Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, namun kode negaranya adalah Inggris (+44).

​"Selamat atas kelulusanmu, Dokter Gabriella. Dunia butuh tangan-tangan penyembuhmu. Teruslah terbang tinggi, jangan pernah menoleh ke belakang lagi. Seseorang di sini bangga padamu, meski ia tidak pantas untuk mengatakannya."

​Achell menatap pesan itu cukup lama. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang. Ia tahu siapa pengirimnya. Ia tahu hanya satu orang yang memanggilnya dengan cara yang begitu rumit antara formalitas dan kerinduan.

​Apakah ia merasa sedih? Tidak.

Apakah ia merindukan pria itu? Mungkin sedikit, sebagai bagian dari masa kecilnya.

Tapi apakah ia ingin kembali? Sama sekali tidak.

​Achell menekan tombol 'Hapus' pada pesan tersebut. Ia tidak membalas, ia tidak menyimpan nomornya. Ia hanya menatap langit Zurich yang mulai gelap dan tersenyum tipis.

​"Terima kasih atas sanksinya, Uncle Victor," bisik Achell pada angin. "Tanpa luka yang kau berikan, aku tidak akan pernah menjadi wanita sekuat ini."

​Victor yang saat itu sudah duduk di dalam pesawat, menatap awan dari jendela kecil. Ia menunggu balasan yang tak kunjung datang, sampai akhirnya ia sadar bahwa keheningan Achell adalah sanksi terakhir yang harus ia jalani. Achell telah benar-benar menutup pintu, bahkan tidak memberinya kesempatan untuk sekadar menjadi orang asing yang menyapa.

​Di London, mansion itu tetap kosong. Di Zurich, masa depan Achell baru saja dimulai. Dan di antara keduanya, ada jurang bernama penyesalan yang tak akan pernah bisa diseberangi oleh apa pun.

​Empat tahun tidak mengubah cinta yang salah menjadi benar, ia hanya mengubah seseorang yang dulu buta menjadi seseorang yang bisa melihat dengan sangat jelas siapa yang pantas berada di sisinya. Dan pria itu, pastinya bukan Victor Louis Edward.

1
shabiru Al
akhirnya ngaku juga achell cinta sama victor
shabiru Al
sama sama keras kepala angkuh dan berego tinggi,,, kapan bisa bersama keburu victornya makin tua 🤭
shabiru Al
eleehhh sanksi saja terus,, dan akan berubah sesuai keadaan.. klo begini kapan selesainya....
shabiru Al
siapa marco,, kenapa begitu detail tahu kisah victor dan achell ?
panjul man09
/Cry//Cry//Cry//Cry/
Hanja
🤍🫶🏻
panjul man09
author memang 👍 diawal ,pemeran victor kami benci, tapi saat ini victor bisa menarik simpatik dan dukungan untuk mendapatkan achell 😄
christian Defit Karamoy
mantap thor👍
panjul man09
sosok victor yg dulu dan yg sekarang sangat kontras
panjul man09
untuk bisa sepenuhnya lepas dari victor ,achell harus menikah dgn orang lain .
panjul man09
untuk laki2 usia 32 bukan tua tapi matang , kenapa di cerita ini victor selalu disebut tua.
Anny
jgn kau hukum Victor begitu keras Gabriel aku merasa kau terlalu kejam dan tidak punya hati untuk seukuran perempuan yg pernah mencintai dan memujanya dahulu
Anny
Menurut aku yaa disini tg paling tersiksa adalah Victor karena kesalahan dia yg tidak terlalu berat dimasa lalu harus menerima hukuman yg berkali kali lipat GK adil bgt bagi dia
panjul man09
di awal cerita disebut usia victor 25 dan memasukkan achel ke asrama selama 3 tahun ,saat achel lulus usia victor 28 ditambah achel kuliah 4 tahun berarti usia victor sudah 32 tahun ,iya kan thor ???
panjul man09
sangat puitis dan/Cry//Cry//Cry//Cry/
panjul man09
alur ceritanya sangat menarik ,terlihat sangat berbeda dari novel2 yg lain , sangat menyentuh hati , ada pelajaran yg bisa diambil , tata bahasanya sangat bagus ,saat membaca novel ini seolah olah kita menonton film barat romance di layar tv .
panjul man09
hanyut terbawa cerita ....lanjut
panjul man09
semoga achell mau membuka hatinya
shabiru Al
semangat up nya ya thor,, ntar senin ta kasih vote.. besok ta kasih bunga sampe abis tuh poin 😄🤭
panjul man09
jangan pernah mengingatnya lagi achell !!!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!