Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------
Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.
Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.
Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20
Jam digital di dinding lobi VIP menunjukkan pukul dua dini hari. Bradley membuka matanya, rasa sakit di punggungnya terasa seperti dihujam ribuan jarum panas, namun itu tidak sebanding dengan rasa sesak di dadanya saat ingatan terakhirnya adalah teriakan histeris Megan.
"Megan..." panggilnya lirih, suaranya parau.
Pandangannya kabur, menyapu ruangan yang asing baginya. Ia melihat Peter meringkuk tak nyaman di sofa panjang, tertidur karena kelelahan setelah mengurus kekacauan di hotel.
Bradley mengerang, mencoba menggerakkan tubuhnya yang kaku. Dengan tangan gemetar, ia menyibak tirai pembatas di sisi kanannya.
Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat sosok wanita yang terbaring di extra bed tepat di samping ranjangnya.
Kelegaan sempat menyapu batinnya, namun seketika berubah menjadi amarah yang dingin saat melihat wajah Megan yang pucat pasi, nyaris seputih salju London.
Tanpa mempedulikan selang infus yang tertarik, Bradley meraih ponsel di meja nakas dekat sofa Peter, tanpa niat mengusik asisten setianya itu, ia berbicara pada seseorang "Ke sini, sekarang!" perintahnya singkat.
Dua puluh menit kemudian, Matthew Collins masuk dengan piyama, wajahnya menunjukkan kekesalan yang luar biasa. "Kau manusia paling sialan yang pernah kukenal, Brown. Kau tidak lihat jam berapa ini?"
Bradley mengabaikan protes Matthew. Matanya tetap terkunci pada Megan. "Katakan padaku, kenapa dia pucat? Apa dia sakit? Bagaimana dengan bayiku?"
Matthew terkekeh sinis sambil memeriksa grafik medis di ujung ranjang. "Bayimu? Jadi kau benar-benar menghamili putri penguasa Langley? Kau gila, Brad," desisnya.
"Aku tidak butuh pendapatmu! Katakan apa yang terjadi padanya!" bentak Bradley, meski suaranya masih lemah.
"Dia mendonorkan darah untukmu."
Bradley tertegun. Sedetik kemudian, dengan sisa tenaga yang ia miliki, ia menarik kerah piyama Matthew hingga dokter itu nyaris terjungkal. "Dan kau membiarkannya? Kau membiarkan wanitaku mempertaruhkan nyawanya? Kau tidak berpikir itu membahayakan janinnya, hah?!"
Bradley menghempaskan Matthew kembali ke sofa, membuat Peter refleks terbangun dan langsung bersiaga.
"Kau tahu betul wanitamu itu keras kepala, Brown," sahut Matthew sambil merapikan piyamanya yang kusut. "Timku sudah melarangnya, tapi dia masih menyimpan senjatanya di balik celana. Dia hampir melubangi kepala perawatku."
Bradley mengusap wajahnya kasar. Sialan. Ia tahu betul betapa nekatnya Megan jika sudah terpojok.
"Sekarang keluar, atau kurobohkan klinikmu ini, Math," ancam Bradley.
Matthew mendengus, memilih pergi daripada harus melayani kegilaan temannya itu lebih lama. Bradley kemudian turun dari ranjangnya, menyeret tiang infus dengan langkah gontai yang dipaksakan.
"Tuan, Anda masih butuh istirahat," cegat Peter yang baru saja sadar sepenuhnya.
"Diam kau, Pet. Kau pasti sudah mengancamnya sehingga dia nekat mempertaruhkan semuanya," Bradley menatap Peter dengan kilat tajam. "Sekarang keluar, atau kutembak kakimu."
Peter akhirnya menyerah. Ia tahu tidak ada yang bisa menghentikan Bradley jika sudah menyangkut Megan.
"Aku akan keluar. Pastikan Tuan Brown dan Nona Nora baik-baik saja," pamit Peter pada dua bodyguard di depan pintu, sebelum ia sendiri memutuskan kembali ke hotel untuk memijat kepalanya yang pening akibat drama ini.
Bradley perlahan sampai di samping brankar Megan. Ia berlutut perlahan, meraih tangan Megan yang terasa sedingin es, lalu menciumnya lama.
"Jika terjadi sesuatu padamu, aku tidak tahu harus bahagia karena kau menyelamatkanku, atau sedih karena kau sebodoh ini," bisik Bradley di depan wajah Megan yang terlelap. "Tapi yang jelas, aku tidak bisa memaafkan diriku maupun dirimu karena sudah membahayakan janin itu, Meg."
Perlahan, Bradley merebahkan tubuhnya di samping Megan, posisi yang selalu ia lakukan selama dua bulan terakhir, menjadikan Megan candu baginya. Ia membelai wajah pucat Megan, membiarkan detak jantungnya yang kini berdetak karena darah Megan, menyatu dalam keheningan malam Langley.
***
Cahaya matahari pagi Virginia menembus kaca jendela klinik, menyinari debu-debu yang menari di udara steril itu. Megan membuka matanya perlahan, hal pertama yang ia rasakan bukan lagi hangatnya pelukan Bradley yang ia rasakan samar dalam mimpinya, tapi bau antiseptik yang menyesakkan dan dinginnya ruangan yang menusuk tulang.
Saat Ia menoleh, Bradley sudah duduk di kursi samping ranjangnya, ia mengenakan pakaian klinik wajahnya masih sedikit pucat. Namun, yang membuat Megan tersentak bukan pemandangan itu, melainkan tatapan Bradley.
Bukan tatapan terima kasih karena nyawanya baru saja disambung, melainkan kilat amarah yang tertahan, seolah Megan baru saja melakukan dosa besar.
"Kau pikir kau pahlawan, Nora?" suara Bradley berat, bergetar karena emosi yang tertahan di tenggorokan.
Megan mencoba duduk, mengabaikan rasa pening yang hebat di kepalanya. "Apa maksudmu?”
"Kau hampir membunuh anakku demi egomu untuk menyelamatkanku!"
Megan tertawa getir, suara tawanya terdengar parau dan menyakitkan. Ia menatap tepat ke mata elang Bradley yang berkilat penuh amarah.
"Anakmu?" desis Megan tajam mengabaikan kepalanya yang terasa berputar. "Aku bahkan berharap darah yang mengalir dari nadiku tadi membawa pergi janin itu bersamaku ke neraka, Brad."
Bradley membeku. Cengkeramannya di pinggiran brankar semakin kuat hingga terdengar bunyi derit logam yang tertekan. "Jaga bicaramu, Megan Ford."
"Kenapa? Kau terkejut?" Megan justru memajukan wajahnya, menantang Bradley, "Kau pikir aku akan menjadi ibu yang penuh kasih sayang pada benih yang kau tanam dengan paksa? Tidak. Aku membencinya, Bradley. Aku membenci janin ini sebesar aku membencimu. Jika donor darah itu bisa membuatnya lenyap dari rahimku, aku akan melakukannya lagi dan lagi tanpa ragu."
BRAK!
Bradley menghantam meja nakas di sampingnya hingga vas bunga di atasnya pecah berkeping-keping. Ia menyambar rahang Megan, menekannya dengan kekuatan yang sanggup meremukkan tulang, memaksa wanita itu menatap lubuk matanya yang kini dipenuhi kabut kegelapan.
"Kau... berani sekali kau bicara seperti itu tentang anakku," suara Bradley kini lebih pelan, jauh lebih berbahaya daripada sebuah teriakan.
"Memang itu kenyataannya!" bentak Megan, air mata kemarahan menggenang di pelupuk matanya. "Dia bukan anakku! Dia adalah kutukan! Dia adalah rantai yang kau pasang untuk mengikatku! Jadi jangan berani-berani menudingku mencoba menjadi pahlawan. Aku hanya ingin kau bangun, menjelaskan semuanya, lalu biarkan aku pergi dari neraka ini dengan atau tanpa janin sialan ini!"
Bradley menatap Megan dengan tatapan yang sangat asing. Ada rasa sakit yang teramat dalam yang tertutup oleh kemurkaan yang luar biasa.
Dia yang semalam memeluk Megan seolah wanita itu adalah dunianya, kini harus menelan kenyataan bahwa Megan lebih memilih keguguran daripada mengandung darah dagingnya.
Bradley mendekatkan wajahnya, membiarkan deru napasnya yang memburu menyapu kulit pucat Megan. "Kau ingin penjelasan, Meg? Kau ingin tahu kenapa aku menghancurkan hidupmu?"
Bradley tertawa miris, sebuah suara yang terdengar seperti retakan kaca di tengah malam. "Maka bersiaplah untuk kecewa. Karena sampai mati pun, aku tidak akan memberikan penjelasan apa pun padamu. Tidak satu kata pun."
Megan tersentak, namun Bradley belum selesai.
"Jika aku harus mati, maka aku akan memastikan kematianku tetap mengikatmu. Kau akan tetap menjadi milikku, meski sebesar apa pun kebencian yang kau tanam di rahimmu untukku. Kau tidak akan pernah bebas, Megan Ford. Tidak di dunia ini, tidak juga di neraka nanti."
BRAK!
Dengan amarah yang memuncak, Bradley menghantamkan tinjunya ke sisi ranjang besi Megan. Bunyi benturan itu bergema di ruangan. Darah segar merembes dari buku jari Bradley yang baru saja pulih, menetes di atas lantai marmer yang putih, namun pria itu bahkan tidak berkedip.
Rasa sakit di tangannya tidak sebanding dengan rasa hancur di dadanya karena penolakan Megan terhadap anak mereka. Bradley berbalik dan melangkah pergi.
Isak tangis Megan yang semula tertahan kini pecah, memenuhi ruangan yang sunyi itu.
"Bi... Aku nggak tahu lagi harus bagaimana," rintih Megan, suaranya tercekat oleh tangis. "Sekuat-kuatnya aku, aku juga bisa rapuh, Bi... Papa yang kubanggakan bahkan tak bisa menyelamatkanku. Justru aku harus menggadaikan kebebasanku demi kehormatannya..."
Di ambang pintu yang sedikit terbuka, langkah Bradley terhenti. Tangan yang semula hendak mendorong pintu itu kini membeku. Amarah yang tadi meluap-luap di dadanya mendadak padam, digantikan oleh rasa sesak yang asing.
"Siapa putramu, Bi? Kenapa dia tidak juga datang untuk menyelamatkanku?" Megan memeluk dirinya sendiri di atas ranjang, tubuhnya bergetar hebat. "Aku lelah, Bi... Aku rindu pelukanmu..."
Bradley memejamkan mata rapat-rapat. Setiap isakan Megan seperti pisau yang mengiris egonya. Dia adalah alasan Megan lelah. Namun ia tak sanggup melihat Megan yang rapuh, ia kemudian memutuskan pergi.
Baru saja Bradley melangkah tiga meter dari pintu kamar, mengabaikan rasa sakitnya, Ia mencoba mengatur napasnya yang sesak, mencoba menulikan telinganya dari rintihan Megan.
Namun, langkahnya harus terhenti seketika saat sebuah suara dentuman keras terdengar dari dalam kamar.
BRAKK!
Suara benda jatuh beradu dengan lantai keramik yang keras, disusul suara pintu yang di banting.
"Megan?" desis Bradley.
Jantungnya berdegup kencang. Rasa sakit di punggungnya mendadak hilang, berganti dengan ketakutan. Tanpa berpikir dua kali, ia berbalik dan menerobos pintu kamar yang baru saja ia tutup.
Pandangannya langsung menyapu ranjang yang kosong. Selimutnya tersingkap, dan tiang infus Megan miring nyaris roboh. Bradley berlari menuju pintu toilet yang terbuka separuh.
Di sana, di atas lantai marmer yang dingin, Megan tergeletak tak berdaya. Ia tampak mencoba bangkit sebelum kesadarannya hilang,
"Megan! Bangun!" Bradley jatuh berlutut, mengabaikan rasa perih yang menyengat di punggungnya.
Saat Ia baru saja akan menyusupkan lengannya ke bawah leher dan lutut Megan untuk mengangkatnya kembali ke ranjang. Gerakan Bradley terhenti. Napasnya tercekat di tenggorokan, dan sepasang matanya terbelalak menatap pemandangan mengerikan di bawah sana.
Cairan merah pekat mengalir perlahan dari sela kaki Megan, menodai lantai marmer putih yang dingin dan membasahi bagian bawah celana rumah sakit yang dikenakannya..
Tangan Bradley yang gemetar kini bersimbah darah. Bukan darah dari lukanya sendiri, tapi darah dari rahim Megan.
"T-tidak... Tidak mungkin..." gumam Bradley, suaranya hilang ditelan kepanikan.
Detik itu, dunia Bradley Brown seolah berhenti berputar. Pria yang tak pernah takut pada moncong senjata atau ancaman kematian itu kini gemetar hebat. Ia menatap telapak tangannya yang merah, lalu menatap wajah Megan yang terpejam rapat dengan ekspresi kesakitan.
Kebencian Megan, donor darah yang nekat itu, dan semua amarah Bradley... semuanya seolah menguap, digantikan oleh kenyataan pahit yang menghantam dadanya tepat di ulu hati.
"PETER!! SIAPAPUN DI SANA ….TOLONG!!!.
😔
Megan hamil ✅
🤭🤭