NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

30.TGD.30

Lima bulan kemudian, "Omah Tandur" dan desa tempat tinggal Shelly tidak hanya disibukkan oleh persiapan panen raya, tetapi juga oleh desas-desus kehamilan kedua sang "Dewi Padi" yang konon jauh lebih luar biasa dari yang pertama.

Setelah melakukan pemeriksaan rutin di rumah sakit kabupaten, dokter kembali menggelengkan kepala tak percaya di depan monitor USG. Shelly dan Arkan, yang awalnya mengira hanya akan menambah satu adik untuk si kembar tiga laki-laki mereka, kembali dihadapkan pada kenyataan ajaib: **kembar tiga lagi.**

Namun kali ini, prediksinya berbeda. "Selamat, Pak Arkan, Mbak Shelly. Kali ini mereka perempuan semua," ujar dokter dengan senyum lebar.

Arkan sempat terdiam di kursi rumah sakit, memegangi kepalanya yang mendadak terasa ringan. "Enam, Shel... Kita bakal punya enam anak. Tiga traktor, dan sekarang tiga... apa ya? Bunga?"

Shelly tertawa meski napasnya mulai terasa berat. "Tiga melati, Mas. Tiga bunga desa yang akan mempercantik sawah kita."

---

Hari panen raya tiba. Ini adalah momen krusial karena koperasi akan melakukan pengiriman perdana beras organik ke pasar Eropa. Shelly, dengan perut yang kini membuncit luar biasa besar, tetap bersikeras untuk turun ke gudang pemrosesan.

Namun, Arkan tidak lagi membiarkan Shelly berjalan sendirian. Ia telah merancang sebuah "sistem proteksi" yang melibatkan seluruh warga desa dan ketiga anak laki-lakinya.

"Bumi, Aksara, Padi! Siaga satu!" seru Arkan di depan rumah.

"Siap, Ayah!" teriak si kembar tiga yang kini berusia hampir empat tahun. Mereka mengenakan kaos seragam bertuliskan *'Paspampres Ibu'* (Pasukan Pengaman Perut Ibu).

Arkan menggandeng tangan Shelly perlahan menuju gudang. "Mas, aku cuma mau cek kadar air beras, bukan mau perang," protes Shelly sambil tersenyum melihat tingkah suami dan anak-anaknya.

"Nggak ada bantahan, Shel. Dokter bilang kamu harus kurangi jalan kaki yang terlalu ekstrem. Jadi, biar para 'mandor kecil' ini yang jadi matamu," jawab Arkan tegas namun penuh kasih.

Sesampainya di gudang, pemandangan luar biasa terjadi. Pak Kardi dan para petani lainnya sudah menyiapkan sebuah kursi kayu besar yang dimodifikasi dengan roda dan bantalan empuk—sebuah "kursi singgasana" agar Shelly bisa berkeliling gudang tanpa kelelahan.

"Mbak Shelly, silakan duduk! Biar kami yang bawa Mbak berkeliling cek karung-karung ini," ujar Pak Kardi dengan bangga.

Shelly duduk di sana, dikelilingi oleh suaminya yang membawa botol air mineral dan tiga anak laki-lakinya yang sibuk menghalau siapa pun yang berjalan terlalu dekat dengan ibunya. "Awas! Jangan dekat-dekat Ibu! Ada tiga adik bayi di dalam!" teriak Padi dengan nada serius yang menggemaskan.

---

Di sela-sela pengecekan kualitas beras, Shelly memanggil Arkan yang sedang sibuk mendokumentasikan logistik pengiriman.

"Mas, sini sebentar," panggil Shelly.

Arkan mendekat, mengusap peluh di dahi istrinya. "Kenapa? Ada yang sakit? Mau pulang sekarang?"

"Bukan... aku cuma kepikiran. Tiga anak laki-laki kita sudah begitu aktif. Nanti kalau tiga anak perempuan kita lahir, apa Mas sanggup bagi waktu?"

Arkan duduk di lantai di samping kursi Shelly, menyandarkan kepalanya di lengan kursi. "Shel, waktu kita baru punya Bumi, Aksara, dan Padi, aku belajar tentang kekuatan. Sekarang, dengan hadirnya tiga anak perempuan nanti, aku rasa aku akan belajar tentang kelembutan. Aku sudah mulai mendesain perluasan kamar mereka. Aku akan buatkan taman bunga di belakang rumah, biar mereka nggak cuma tahu bau gabah, tapi juga bau wangi kembang."

Shelly mengelus rambut Arkan. "Mas benar-benar berubah ya. Dari arsitek kota yang kaku, jadi ayah yang luar biasa lembut."

"Itu karena gurunya hebat," Arkan mencium tangan Shelly. "Tapi janji ya, setelah ini kita 'tutup pabrik'. Enam anak sudah cukup buat bikin satu tim sepak bola cadangan di desa ini."

Shelly tertawa riuh. "Setuju, Mas! Enam sudah lebih dari cukup."

---

Kehamilan kedua ini terasa lebih berat secara fisik, namun secara mental, Shelly jauh lebih tenang. Yang unik, kali ini justru Arkan yang sering merasa "ngidam".

"Shel, aneh banget... tiba-tiba aku pengen makan rujak ulek buatan Ibu kamu jam satu malam begini," bisik Arkan suatu malam saat mereka sedang bersantai.

Shelly menoleh dengan tatapan menggoda. "Loh, yang hamil siapa, yang repot siapa? Kemarin pengen manggis, sekarang rujak. Kayaknya bayi-bayi cewek ini mau ngerjain ayahnya deh."

Arkan hanya bisa pasrah. Ia rela bangun malam-malam, menuju rumah mertuanya yang hanya berjarak beberapa ratus meter, demi sepiring rujak. Bapak Shelly yang membukakan pintu hanya bisa geleng-geleng kepala.

"Nak Arkan, kamu itu suaminya apa kembarannya Shelly? Kok bisa kamu yang mual-mual?" tanya Bapak sambil tertawa di dapur.

"Nggak tahu, Pak. Rasanya kalau nggak makan rujak ini, hati saya nggak tenang," jawab Arkan sambil lahap mengunyah buah kedondong.

---

Waktu yang dinantikan pun tiba. Pagi itu, saat gerimis tipis membasahi sawah, Shelly merasakan kontraksi yang sudah sangat ia kenal. Namun kali ini, ia jauh lebih siap. Tidak ada kepanikan luar biasa seperti saat kelahiran pertama.

"Mas, waktunya," ucap Shelly tenang saat sedang melipat pakaian di kamar.

Arkan segera menginstruksikan "Paspampres" kecilnya. "Bumi, Aksara, Padi! Ikut Kakek dan Nenek dulu ya. Ayah mau antar Ibu jemput adik-adik bunga!"

Di rumah sakit yang sama, dengan dokter yang sama, keajaiban itu terulang kembali. Prosesnya berjalan lancar. Suara tangisan bayi yang lebih halus namun bernada tinggi memenuhi ruangan operasi.

Tiga bayi perempuan lahir dengan selamat.

**Kirana Embun Anindya** (Cahaya yang bening seperti embun pagi).

**Larasati Sawah Arkananta** (Keharmonisan yang menyejukkan).

**Mentari Padi Dirgantara** (Kehangatan yang memberi energi bagi kehidupan).

---

Dua bulan kemudian, "Omah Tandur" benar-benar berubah menjadi pusat semesta kecil yang sibuk. Shelly duduk di ruang tengah, menyusui salah satu bayinya, sementara dua bayi lainnya tertidur di ayunan bambu yang didesain khusus oleh Arkan.

Bumi, Aksara, dan Padi duduk melingkar di sekitar adik-adik mereka dengan wajah penuh kekaguman.

"Ibu, kenapa tangan adik Kirana kecil sekali? Kayak butiran padi," tanya Padi sambil menyentuh jari adiknya dengan sangat hati-hati.

"Karena dia masih butuh banyak kasih sayang dari kakaknya supaya bisa tumbuh kuat," jawab Shelly lembut.

Arkan masuk membawa nampan berisi teh dan camilan. Ia melihat pemandangan itu dan merasa bahwa ini adalah karya arsitektur terbaik yang pernah ia miliki: sebuah keluarga yang utuh, di sebuah rumah yang dibangun dengan kejujuran, di atas tanah yang memberikan kehidupan.

"Gimana, Bu Direktur? Sudah siap kembali ke sawah?" goda Arkan.

"Minggu depan, Mas. Pak Kardi bilang ada sistem drone baru yang mau dicoba. Tapi kali ini, aku mau bawa pasukan lengkap," Shelly melirik keenam anaknya.

Arkan duduk di samping Shelly, merangkulnya. "Enam anak, ribuan hektar sawah, dan satu desa yang makmur. Kita benar-benar sudah 'panen' besar dalam hidup ya, Shel?"

"Ini baru permulaan, Mas," jawab Shelly mantap. "Kita nggak cuma menanam padi, kita sedang menanam generasi. Dan aku nggak sabar melihat mereka semua tumbuh besar di bawah langit desa ini."

Di luar, angin berembus membawa aroma harum padi yang sedang menguning. Desa tetap sunyi bagi orang luar, namun bagi Shelly dan Arkan, desa itu bergemuruh dengan harapan, tawa, dan masa depan yang tak terbatas. Enam tunas kecil itu akan menjadi penjaga bumi, memastikan bahwa tanah leluhur mereka tidak akan pernah mati, melainkan terus memberi makan dunia dengan cinta yang mereka pelajari dari ayah dan ibunya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!