Di sekolah, Kella hanyalah gadis yatim piatu yang miskin, pendiam, dan jadi sasaran bullying, Gala si mirid baru yang angkuh juga ikut membulinya. Kella tidak pernah melawan, meski Gala menghinanya setiap hari.
Namun, dunia Gala berputar balik saat ia tak sengaja datang ke sebuah Maid Cafe. Di sana, tidak ada Kella yang suram. Yang ada hanyalah seorang pelayan cantik dengan kostum seksi yang menggoda iman.
Kella melakukan ini demi bertahan hidup. Kini, rahasia besarnya ada ditangan Gala, cowo yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang kekasihnya.
Akankah Gala menghancurkan reputasi Kella, atau justru terjebak obsesi untuk memilikinya sendirian?
#areakhususdewasa ⚠️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikyoooo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 (Part 1) Nafas dibalik Dinding Kayu
Kegelapan di ruang bawah tanah itu terasa menghimpit. Oksigen seolah menipis setiap kali Kella mendengar detak jantungnya sendiri yang berdentum di telinga. Telapak tangannya masih membekap mulut Gala, sebuah tindakan naluriah untuk memastikan pria itu tidak mengerang dalam tidurnya yang gelisah.
Gala sudah sepenuhnya terjaga. Meski tubuhnya masih lemas dan matanya sayu karena demam yang belum turun, insting bertahannya langsung mengambil alih. Ia menatap Kella dalam kegelapan, mata mereka bertemu, berbagi ketakutan yang sama namun juga tekad yang selaras. Gala perlahan memegang pergelangan tangan Kella, memberinya isyarat bahwa ia sudah sadar dan Kella boleh melepaskan bekapannya.
Di atas sana, hanya berjarak beberapa inci dari langit-langit kayu mereka, langkah kaki Hendra terdengar sangat berat. Duk... duk... duk...
Setiap langkah itu terasa seperti palu yang menghantam mental Kella. Ia mendengar suara kursi yang diseret, lalu bunyi denting kaleng kopi yang jatuh ke lantai. Hendra tidak sedang mencari secara acak; dia sedang memeriksa setiap sudut dengan ketelitian seorang pemburu.
...
Pukul 04.15 WIB – Ketegangan yang Membeku
"Pak Heru," suara Hendra terdengar dari atas, rendah dan penuh ancaman yang disamarkan. "Saya tahu Anda mengenal Gabriel dengan sangat baik. Dan saya tahu anak itu sering menyimpan barang di sini sebelum dia... menghilang."
Suara Pak Heru terdengar bergetar, namun ia berusaha tetap tenang. "Saya sudah bilang, Tuan. Saya tidak melihat siapa pun. Kafe ini tutup sejak jam sepuluh malam. Saya hanya sedang membersihkan sisa panggangan kopi."
"Bersih-bersih pukul empat pagi? Di tengah hujan deras?" Hendra tertawa pendek, sebuah tawa yang kering tanpa humor. "Jangan main-main dengan Alangkara, Pak Tua. Saya hanya mencari Tuan Muda Gala. Beliau sedang sakit dan dalam bahaya karena pengaruh gadis pelayan itu. Jika Anda menyerahkan mereka sekarang, saya pastikan kafe ini tetap berdiri besok pagi."
Kella merasakan tubuh Gala menegang di sampingnya. Gala mencoba bangkit, namun Kella menahan bahunya kuat-kuat. Kella menggelengkan kepala dalam kegelapan, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. Jika Gala keluar sekarang, semua pengorbanan mereka—termasuk dokumen yang dibawa Adrian—akan sia-sia.
Sreeek...
Suara sesuatu yang tajam ditarik di atas lantai. Sepertinya Hendra sedang menusukkan pisau atau tongkat besi ke celah-celah lantai kayu.
"Area penyimpanan bawah tanah di bangunan tua seperti ini biasanya ada di balik dapur atau rak utama," gumam Hendra pada dirinya sendiri.
Langkah kaki itu mendekat ke arah rak kopi tempat pintu rahasia berada. Cahaya senter Hendra mulai mengintip melalui celah kecil di pintu kayu atas.
Sinar putih itu menyapu dinding semen ruang bawah tanah, hanya beberapa inci dari ujung sepatu Kella.
Kella menutup matanya rapat-rapat, merapal doa dalam hati. Di saat kritis itu, Gala tiba-tiba menarik Kella ke dalam pelukannya. Bukan untuk bermesraan, melainkan untuk memastikan tubuh mereka menjadi satu bayangan kecil yang tersembunyi di balik tumpukan karung goni tua yang berisi biji kopi mentah. Aroma kopi yang sangat pekat di sini membantu menyamarkan bau keringat dan obat-obatan yang mereka bawa.
Tiba-tiba, suara deru mesin mobil lain terdengar di depan kafe. Suara pintu mobil dibanting keras.
"Hendra! Lapor!" suara seorang pria dari walkie-talkie yang dibawa Hendra memecah keheningan.
"Bramantyo memerintahkanmu kembali ke kantor sekarang. Polisi sudah mulai bergerak ke arah ruko Adrian. Kita harus fokus memblokir akses digital mereka sebelum foto dokumen itu tersebar!"
Hendra terdiam sejenak. Ia menatap rak kopi di depannya dengan saksama. Kella bisa merasakan keberadaan pria itu tepat di atas kepalanya.
"Baik," sahut Hendra akhirnya. "Saya akan menyisakan dua orang di sini untuk berjaga. Jika mereka keluar, habisi mereka di tempat."
Langkah kaki itu menjauh. Suara pintu depan kafe yang dibanting menandakan Hendra telah keluar, meski Kella tahu ancaman itu belum benar-benar pergi.
...