Bayinya baru saja lahir ke dunia. Namun, dalam perjalanan pulang dari rumah sakit, mobil yang membawa sang istri duluan pulang, ternyata mengalami kecelakaan maut, sehingga menelan korban. Nyawa istrinya melayang.
Kini Kapten Daviko sedih sekaligus kalang kabut mencari ibu susu untuk sang putra yang masih bayi merah.
Saliha perempuan 26 tahun, baru saja patah hati dan ditinggal pergi kekasihnya, stress berat sehingga mengalami galaktorea, yaitu kondisi di mana ASI melimpah.
Selain stres Saliha mendapat tekanan dari tempat kerjanya, karena kondisinya tidak memungkinkan untuk bekerja. Perusahaan memberhentikannya bekerja. Ia tertekan sana sini, belum lagi tagihan uang kos yang sudah nunggak.
Saliha butuh pekerjaan secepatnya. Tapi, siapa yang mau menerimanya bekerja, sementara perusahaan jasa tempat ia bekerja saja memilih mengeluarkannya tanpa pesangon?
"Lowongan pekerjaan, sebagai ibu susu". Mata Saliha terbelalak seketika, setelah ia membaca berita online.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19 Ejekan Dan Hinaan Yang Fatal
Sore itu, langit di atas kediaman Daviko tampak temaram, seolah sedang menyimpan rahasia yang sebentar lagi akan meledak. Di dalam rumah, ketegangan yang kasat mata mulai merayap di antara tembok-tembok kokohnya.
Mama Davira, yang memiliki insting tajam sebagai seorang ibu, sudah lama menyadari ada yang tidak beres dengan kehadiran Bu Ratna dan Tari yang semakin intens.
Di sudut taman samping yang asri, Mama Davira duduk berdua dengan suaminya, Papa Arkaffa. Wajahnya tampak gelisah, jari-jarinya saling bertautan erat.
"Papa lihat sendiri, kan? Bagaimana cara Bu Ratna dan Tari mencari muka di depan Daviko?" tanya Mama Davira dengan nada bicara yang rendah namun penuh penekanan.
Papa Arkaffa menyesap tehnya perlahan. "Mereka keluarga almarhumah Amara, Ma. Wajar kalau mereka ingin tetap dekat dengan Daviko."
"Bukan sekedar dekat, Pa. Mereka ingin menjodohkan Tari dengan Daviko untuk menggantikan posisi Amara. Mama sama sekali tidak setuju!" Mama Davira menggeleng tegas.
"Tari tidak punya ketulusan seperti Amara. Dia hanya mengejar posisi dan kenyamanan. Kalau seperti itu, Mama lebih baik melihat Daviko kembali pada Saliha, meskipun di masa lalu Saliha pernah menyakiti anak kita. Setidaknya, Saliha punya hati yang tulus untuk Kaffara."
Percakapan itu berakhir di sana. Namun tidak disangka, Bu Ratna diam-diam menguping dari balik pintu geser ruang tengah, ketika ia akan menuju dapur. Ia berbalik dan segera menarik Tari ke kamar tamu lalu menutupnya rapat-rapat.
Di dalam kamar, wajah Bu Ratna merah padam karena menahan amarah yang meluap-luap. Ia mondar-mandir di depan Tari yang tampak bingung melihat perubahan sikap ibunya.
"Ada apa, Ma? Kenapa wajah Mama seperti itu?" tanya Tari cemas.
Bu Ratna mendengus kasar, lalu duduk di tepi ranjang dengan perasaan dongkol yang tidak terbendung. "Davira benar-benar keterlaluan, Tari! Mama baru saja mendengar dia bicara dengan suaminya. Dia terang-terangan menolak kalau kamu jadi pengganti Amara!"
Tari terbelalak, napasnya tertahan. "Apa? Tapi kenapa, Ma?"
"Dia lebih setuju apabila si Saliha yang jadi pengganti Amara. Davira bilang si Saliha punya kasih sayang yang tulus untuk Kaffara. Huh...bayangkan, gadis kampungan yang sudah menghancurkan hati anaknya sendiri malah lebih dibela daripada kamu yang jelas-jelas adik ipar Daviko. Dasar wanita bodoh!" umpat Bu Ratna dengan suara yang ditekan agar tidak terdengar ke luar.
Tari mengepalkan tangannya, rasa iri dan benci kini menyatu di dadanya. "Lalu, kita harus bagaimana, Ma? Kalau Tante Davira tidak merestui, jalanku akan sulit."
Bu Ratna tertawa sinis, sebuah tawa yang penuh dengan penghinaan. "Si Davira itu berlagak sok suci. Dia berani menolak kamu seolah dia itu keturunan bangsawan. Dia tidak tahu diri, tidak ingat dulu asalnya dari mana!"
Bu Ratna mendekatkan wajahnya ke telinga Tari, membocorkan rahasia lama yang selama ini ia simpan rapat sebagai senjata pamungkas. "Dia itu hanya anak yang dipungut dari pembuangan sampah. Hanya karena keberuntungan dia dinikahi oleh kakak angkatnya, hidupnya jadi bergelimangan harta seperti sekarang. Kalau tidak ada keluarga Arkaffa, dia itu cuma sampah masyarakat. Dan sekarang, sampah itu mau sok berkuasa mengatur hidup Daviko."
Tari ikut tertawa getir, rasa hormat yang selama ini ia buat-buat untuk Mama Davira seketika lenyap berganti dengan kalimat sinis yang cenderung mengejek.
"Serius, Ma? Kok Mama baru cerita, sih? Jadi, Tante Davira itu hanya anak pungut yang kebetulan beruntung, lalu jadi Sinderela kemudian dinikahi kakak angkatnya?" Tari menatap Bu Ratna, dia belum sepenuhnya percaya. Tapi, rasa ingin tahu terlanjur menyelimuti jiwa raganya.
"Serius. Tetangganya tahu kalau si Davira itu hanya anak angkat dalam keluarga suaminya," balas Bu Ratna, diiringi tangan mencak-mencak.
"Lalu gimana ceritanya Tante Davira dan Om Arkaffa bisa menikah? Mereka saling jatuh cinta?" seru Tari, semakin penasaran dengan kisah masa lalu mantan mertua kakaknya itu.
"Bisa iya bisa tidak. Bisa juga karena jebakan. Lalu Arkaffa menikahi si Davira karena terpaksa."
"Oh...begitu ceritanya? Sudah dipungut, tapi tidak tahu malu." Tari mendengus.
"Ya... begitulah."
"Pantas saja dia lebih menyukai si Saliha ketimbang aku. Ternyata mereka berdua sama-sama berasal dari tempat yang sama. Sama-sama sampah! Kalau Tante Davira lebih menyukai si Saliha, itu artinya mereka memang satu level, satu kasta sampah, hahaha!"
Tari tertawa lepas, mengejek takdir Mama Davira dan Saliha dengan nada bicara yang penuh kemenangan. Mereka berdua merasa sangat aman di dalam kamar itu, menganggap tidak ada telinga lain yang bisa menjangkau hinaan keji yang baru saja mereka lontarkan.
Namun, mereka melakukan satu kesalahan fatal. Mereka tidak menyadari bahwa sore itu Daviko pulang lebih awal dari kantor.
Suara mesin mobil Daviko yang sangat halus dan modern sama sekali tidak terdengar sampai ke dalam rumah. Daviko melangkah masuk lewat pintu samping, berniat memberikan kejutan kecil untuk Kaffara. Namun, langkah kakinya terhenti tepat di depan pintu kamar tamu. Ia mendengar obrolan dari dalam yang terdengar tidak biasa.
Awalnya ia hanya melewati kamar itu saja. Namun, kalimat demi kalimat yang terdengar dan keluar dari mulut Bu Ratna dan Tari membuat darahnya mendidih.
Daviko berdiri mematung di luar pintu. Setiap kata "sampah", dan "anak pungut", serta hinaan terhadap mamanya juga Saliha, masuk ke telinganya seperti tusukan jarum yang panas.
Wajah Daviko yang tadinya lelah karena pekerjaan, kini berubah menjadi merah padam. Matanya yang tajam berkilat penuh amarah yang luar biasa. Baginya, menghina dirinya mungkin masih bisa dimaafkan, tapi menghina wanita yang telah melahirkannya dan membesarkannya dengan kasih sayang adalah suatu hal yang fatal. Dan ia tidak bisa terima hinaan itu, meskipun pada kenyataannya benar adanya.
Daviko melangkah pelan, sangat pelan, hingga bayangannya jatuh menutupi sebagian daun pintu.
Perlahan ia meraih handle pintu, lalu mengangkatnya dengan sangat hati-hati.
Pintu itu mulai terkuak sedikit demi sedikit, lalu....
Dehem...
Daviko berdehem dengan suara yang sangat rendah namun bergetar karena emosi yang tertahan, sesaat setelah pintu sudah memberikan celah kurang lebih 10 senti meter.
Seketika, tawa Tari terhenti. Suasana kamar yang tadinya penuh dengan ejekan mendadak hening seketika. Bu Ratna dan Tari menoleh ke arah pintu secara bersamaan, dan jantung mereka seolah berhenti berdetak saat melihat sosok Daviko berdiri di sana.
"Da~Daviko...."
semangat ya😚