Setelah bertahun-tahun bercerai, dan memiliki jalan hidup masing-masing, api cinta yang pernah membara diantara mereka masih saja terasa.
Dan meskipun telah tertutup oleh debu waktu, akankah takdir dapat membawa mereka kembali bersatu?
Ikuti kisahnya, karena hanya Tanah Wonosobo yang tahu. 🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Langit 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kasus misteri
Matanya melebar dengan rasa ingin tahu, "kenapa nggak dijawab, ibu?" tanya Tya lagi.
Arumni merasa jantungnya berhenti sejenak ketika menyadari Tya mendengar percakapan itu. "A—apa yang harus ibu jawab? Me–memangnya ibu bilang apa?" ucap Arumni terbata.
Dengan sikap tenangnya Adit mencoba mengalihkan, "hei, sayang. Kamu menguping pembicaraan orang tua, itu tidak baik, nak."
Anak itu tidak langsung menjawab, dia hanya menatap ayah dan ibunya, seolah menunggu jawaban. "Om Galih benar-benar seperti Rania," ucap Tya yang membuat Adit dan Arumni membulatkan matanya.
"Rania? Memangnya kenapa dengan Rania?" tanya Arumni.
"Dia bilang mau jadi teman ku, baru datang sekali saja sudah pergi tanpa sebab, itu namanya berkhianat kan, ibu?" Ucap Tya yang membuat Arumni bernapas lega.
Adit menahan tawa yang langsung membuat Arumni menghunus tatapan.
"Ehm, benar apa kata mu, sayang." Kata Adit sembari melangkahkan kakinya—meninggalkan Arumni dengan rasa kesalnya.
"Mas! Urusan kita belum selesai, ya!" seru Arumni yang dijawab angkat tangan oleh Adit.
* *
Rasa sepi menghampiri, setiap kali Rama merasa ditinggal ibunya. Rama segera masuk ke kamar memantapkan duduknya, dibukanya galeri yang ada di ponsel, "ini foto pertama kita bertiga, ayah, ibu." Katanya dengan suara pelan.
Rama jadi terbayang saat-saat indah bila mana kedua orang tuanya masih bersatu. "Ayah, ibu. Berkali-kali aku menemukan foto-foto kalian, entah di akun kalian, ataupun di album foto itu. Aku bisa melihat cinta dan kebahagiaan itu. Tapi, kenapa kalian harus berpisah?" Ucap Rama sambil menyeka air matanya.
Galih datang menghampiri, lalu duduk di sampingnya. Matanya berkaca, Galih mengusap puncak kepala Rama. "Rama, maafkan ayah, ya?"
"Kenapa ayah harus minta maaf? Aku yang harus minta maaf pada ayah, karena aku masih saja berharap punya keluarga utuh, padahal itu tidak mungkin kan, ayah?" Ucap Rama yang membuat Galih langsung memeluknya.
Rama memperlihatkan foto itu pada Galih, "lihat, yah! Ini foto pertama keluarga kita."
Galih mengambilnya dari tangan Rama, lalu memandang foto itu dengan segudang harapan.
Rama kembali memintanya lalu memperjelas pandangannya, "tapi aku merasa aneh, ayah." Katanya.
"Kenapa memangnya?" tanya Galih.
"Eemmm.... Kalau aku perhatikan, kenapa aku sama sekali nggak mirip ibu? Apanya yang mirip, ya? Sepertinya sama sekali nggak mirip?" Sebuah pertanyaan dari Rama, yang tak kunjung menemukan jawaban pasti.
Galih menghela napas, "kamu miripnya sama ayah, Rama." Kata Galih yang dijawab anggukan oleh Rama.
"Iya sih. Aku mirip ayah, tapi kulit ayah sama ibu kenapa lebih gelap dari aku?" tanya Rama penasaran.
"Kita orang tua, sudah sering kena panas, jadi mana mungkin kulitnya akan putih seperti kamu, Rama." Alasan Galih yang membuat Rama terkekeh.
"Sepertinya alasan ayah kurang masuk akal, kita para pelajar yang lebih sering kena panas lho, yah. Teman-teman ku banyak yang kulitnya jauh lebih gelap dari pada aku. Hemm, ini sama dengan kasus misteri, sepertinya aku butuh detektif buat memecahkan kasus ini." Ucap Rama saat beban di dadanya mulai berkurang.
Degup jantungnya cukup kencang, setiap kali Rama menyingung perkara kulitnya yang berbeda dari orang-orang yang berada di sekitarnya, Galih merasa resah dengan rahasia yang masih ia simpan rapat-rapat.
"Ayah mau cari alasan apa lagi?" Tanya Rama membuyarkan lamunan.
"Ayah nggak mau cari alasan apa-apa, Rama. Soal kulit putih mu, itu anugrah Tuhan Yang Maha Esa." Kata Galih yang membuat Rama terdiam.
Ia kembali menggeser layar ponsel itu, meski sudah berkali-kali tetap saja masih merasa aneh. Dan Rama semakin tidak bisa mengabaikan perbedaan itu.
"Malam ini ayah tidur di sini, ya?" Ucap Galih dengan perasaan yang semakin tidak tenang.
Galih tahu, sejak kecil Rama sudah sering mempertanyakan tentang hal itu, tidak menutup kemungkinan dia akan semakin ingin mencari tahu kebenarannya.
* *
Arumni duduk di atas ranjang sambil menyalakan TV, bibirnya terkatup rapat menunggu suaminya selesai mandi. Waktu terasa melambat saat sedang menunggu, sesekali ia melirik ke pintu kamar mandinya.
"Lama banget sih, mas Adit nggak keluar-keluar." Gumamnya dalam hati.
Sejenak pandangannya tertahan, saat sang suami sedang keluar dari kamar mandi dengan ukiran senyum manis di bibirnya.
"Lagi nungguin, ya?" Goda Adit yang membuat Arumni mengkerutkan dahinya. "Sudah, ngaku saja," sambungnya lagi.
"Mas, obrolan kita tadi belum selesai lho, ya?" kata Arumni kesal.
"Ya sudah, ayo kita selesaikan." Kata Adit sambil duduk mendekatinya, "mau selesaikan di mana?" godanya lagi.
"Mas, aku lagi nggak mau bercanda."
"Siapa yang mau bercanda? orang aku serius."
Baru saja mulut Arumni akan terbuka untuk memprotesnya, Adit sudah lebih dulu menahan dengan tatapan tajam dan jari telunjuk yang dia letakan di bibir Arumni, membuat Arumni jadi terdiam pasrah.
"Sayang, malam ini begitu indah, dan aku ingin menghabiskan waktu dengan kamu. Aku tahu kamu masih marah, tapi aku ingin meminta maaf dengan cara yang lebih romantis. Mau aku nyalakan lilin dan kita bisa berbicara di bawah bintang-bintang? Atau kamu sudah merasa cukup, kalau kita menyelesaikannya di sini?" Kata Adit, yang membuat hatinya jadi meleleh.
Sudut bibirnya mulai membentuk bulan sabit, saat kata-kata manis terucap dari bibir suaminya yang nyaris sempurna itu.
Adit memang paling bisa memecah suasana hatinya. "Gombal!" katanya, sambil menyembunyikan pipinya yang masih saja memerah saat suaminya sedang mengoda.
Meski rumah tangga yang mereka bina sudah cukup lama, namun keromantisannya sama sekali tidak berkurang.
...****************...