NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 26 Retakan Yang Tak Terlihat

Sejak pertemuan itu, Aluna memang tidak lagi memanggil Naya dengan sebutan ummi. Kata itu seolah menghilang begitu saja dari bibirnya, tanpa tangisan, tanpa protes. Namun satu hal tidak berubah—nama Naya masih sering keluar dari mulutnya, muncul di sela-sela aktivitas sederhana, seakan sudah menjadi bagian dari pikirannya.

“Luna tadi gambar rumah Tante Naya,” ucap Aluna suatu sore sambil berlari kecil menghampiri Salma.

Ia menyodorkan selembar kertas dengan wajah bangga. Di sana tergambar sebuah rumah berpagar rendah, halaman kecil dengan bunga-bunga warna-warni, dan dua sosok perempuan—satu dewasa, satu anak kecil—berdiri berdampingan sambil tersenyum.

Salma menerima kertas itu dengan tangan yang sedikit gemetar.

“Kenapa Tante Naya lagi?” tanyanya pelan, berusaha menahan getaran di suaranya.

Aluna mengangkat bahu kecilnya. “Soalnya di rumah Tante Naya tenang, Oma. Luna suka.”

Kalimat itu sederhana. Tidak ada nada berlebihan, tidak ada harapan yang diucapkan terang-terangan. Tapi justru kesederhanaannya yang membuat dada Salma terasa sesak.

Ia tersenyum tipis, lalu mengusap kepala cucunya. “Iya… bagus gambarnya.”

Gambar itu ia simpan, tapi pikirannya tidak bisa ikut tenang.

Salma mulai menyadari bahwa kehadiran Naya—yang bahkan tidak berlangsung lama dan tidak pernah menjanjikan apa pun—telah meninggalkan jejak emosional di hati Aluna.

Bukan euforia sesaat, bukan kegembiraan yang meledak-ledak. Melainkan rasa nyaman.

Rasa yang tumbuh perlahan.

Rasa yang seharusnya tidak mudah hadir.

Malam itu, setelah Aluna tertidur, Salma duduk sendirian di ruang keluarga. Lampu tidak ia nyalakan sepenuhnya, hanya cahaya redup yang menemani pikirannya yang berputar tanpa henti.

Bayangan Naya kembali hadir. Cara perempuan itu berbicara. Nada suaranya yang lembut. Sikapnya yang hangat, tapi tahu batas. Tidak berusaha mengambil peran, tidak juga menolak dengan dingin.

Bukan tipe perempuan yang mudah ditemui.

Siapa sebenarnya dia? batin Salma.

Naya bukan lagi sekadar perempuan yang kebetulan mirip dengan mendiang Alya. Ada sesuatu yang berbeda. Sesuatu yang sulit dijelaskan, tapi terasa.

Salma menghela napas panjang. Perasaan bersalah menyelinap pelan. Ia sadar, mungkin tanpa sengaja ia telah membiarkan cucunya berharap. Tapi di sisi lain, nalurinya mengatakan bahwa perasaan Aluna tidak muncul begitu saja.

Perasaan anak tidak pernah tumbuh tanpa sebab.

Dan justru karena itu, Salma mulai ingin tahu lebih jauh tentang Naya. Bukan untuk mencampuri hidup orang lain. Bukan pula untuk mencari-cari kesalahan. Ia hanya ingin memahami—agar tidak salah melangkah di kemudian hari.

Perubahan Aluna juga tidak luput dari perhatian Sagara.

Putrinya memang tidak lagi murung seperti sebelumnya. Tidak menangis. Tidak pula rewel. Tapi ada ketenangan baru yang terasa janggal. Aluna menjadi lebih sering melamun, duduk lama di satu tempat, memeluk bonekanya tanpa ekspresi.

Sebagai ayah tunggal, Sagara terlalu terbiasa membaca perubahan kecil.

“Luna capek?” tanyanya suatu malam saat melihat Aluna hanya mengaduk-aduk makanan di piring.

Aluna menggeleng. “Tidak, Abi.”

“Tapi makannya sedikit.”

“Luna sudah kenyang.”

Jawaban itu diucapkan tanpa nada bermasalah. Terlalu datar untuk anak seusianya.

Sagara tidak memaksa. Ia hanya menatap putrinya lebih lama, menyimpan kegelisahan itu sendiri. Ia tahu, diam Aluna bukan tanda ia baik-baik saja.

Diam itu… sedang menunggu sesuatu.

Saat malam benar-benar turun dan Aluna sudah terlelap, Sagara duduk sendiri di kamar kerjanya. Ia membuka laci, mengambil sebuah foto lama.

Foto Alya—istrinya—tersenyum lembut seperti selalu.

Ia teringat bagaimana Alya dulu menenangkan Aluna. Tidak dengan janji, tidak dengan paksaan. Hanya dengan kehadiran.

Tanpa sadar, cerita-cerita tentang Naya yang ia dengar dari Salma dan Aluna berkelindan di kepalanya. Tentang kelembutan. Tentang ketenangan. Tentang rasa aman yang dirasakan anaknya.

Perempuan itu… lembut juga, pikirnya.

Sagara terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak kepergian Alya, sebuah pertanyaan muncul dengan jujur—dan menyakitkan.

Apa aku egois membiarkan Aluna berharap?

Ia mengusap wajahnya perlahan. Sebagai ayah, ia ingin melindungi putrinya dari luka. Tapi ia juga tahu, menutup mata bukan solusi.

Sejak pertemuan singkat itu, ada satu bayangan yang terus kembali mengetuk pikiran Naya, meski ia berusaha mengabaikannya.

Seorang anak kecil dengan mata yang terlalu jujur untuk disembunyikan. Cara ia memandang. Cara ia bertanya. Cara ia memanggil satu kata yang seharusnya tidak pernah sampai ke telinganya.

Naya mencoba mengalihkan diri dengan kesibukan. Mengatur rumah. Mengecek catatan keuangan kos-kosan. Menyibukkan tangan agar pikirannya tidak sempat berkelana. Namun tetap saja, setiap kali ia berhenti, bayangan itu muncul kembali.

Aluna.

Naya menarik napas panjang. Ia sadar, anak itu bukan siapa-siapa baginya. Bukan tanggung jawabnya. Bukan pula bagian dari hidupnya. Ia hanya anak kecil yang kehilangan ibu—dan secara tidak sengaja menemukan kemiripan pada dirinya.

Namun justru di situlah dadanya terasa bergetar.

Karena harapan polos itu menyentuh satu ruang yang selama ini ia jaga rapat-rapat.

Malam semakin larut. Adit belum pulang. Naya duduk sendirian di kamar, lampu meja menyala redup. Tangannya memeluk kedua lutut, punggungnya bersandar pada kepala ranjang.

Ucapan Ratna—yang bertahun-tahun lalu dilontarkan dengan nada ringan tapi menghujam—kembali terngiang jelas.

“Perempuan kalau tidak bisa memberi keturunan, mau dianggap apa?”

Naya menutup matanya. Ia tidak ingin mengingatnya. Tapi kata-kata itu selalu datang di saat-saat sunyi, ketika tidak ada siapa pun yang bisa ia salahkan selain dirinya sendiri.

Sudah hampir empat tahun pernikahannya berjalan. Mereka baik-baik saja. Tidak ada pertengkaran besar. Tidak ada kekurangan berarti. Hidup mereka stabil, bahkan cenderung mapan.

Tapi satu ruang itu tetap kosong.

Perlahan, pertanyaan yang selama ini ia hindari muncul ke permukaan.

Apakah aku yang bermasalah?

Pertanyaan itu membuat dadanya sesak. Naya segera menggeleng, seolah bisa mengusir rasa bersalah hanya dengan gerakan kecil itu. Ia tidak pernah berani mengucapkannya keras-keras—bahkan di dalam hatinya sendiri.

Lalu muncul pertanyaan lain. Lebih sunyi. Lebih menakutkan.

Atau… Mas Adit?

Naya menelan ludah. Tidak. Ia tidak ingin berpikir sejauh itu. Tidak ingin menuduh. Tidak ingin membuka kemungkinan yang bisa melukai siapa pun.

Ia tahu, tidak semua pasangan langsung diberi keturunan. Ada yang harus menunggu. Ada yang diuji lebih lama. Tapi tekanan dari luar—tatapan, bisikan, pertanyaan yang pura-pura peduli—perlahan menggerus keyakinannya.

Naya bangkit dan berdiri di depan cermin. Ia memandangi wajahnya sendiri. Wajah yang selalu terlihat tenang di mata orang lain. Tidak ada yang tahu betapa rapuhnya ia di balik senyum itu.

Tangannya menyentuh perutnya pelan. Hampir ragu.

“Kalau memang belum waktunya,” gumamnya lirih, “aku harus sabar.”

***

Kesibukan Adit benar-benar meningkat sejak jabatan barunya resmi berjalan. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat. Kadang sebelum Naya sempat menyiapkan sarapan. Malam hari, ia pulang saat rumah sudah hampir gelap.

Jika dulu mereka masih sempat berbincang panjang, kini percakapan sering terpotong rasa lelah.

“Mas capek?” tanya Naya suatu malam saat Adit melonggarkan dasinya.

“Iya,” jawab Adit singkat. “Sedikit.”

Kata sedikit terdengar ringan. Tapi Naya tahu, lelah itu tidak sesederhana itu.

Mereka masih makan bersama jika sempat. Masih saling bertanya kabar. Masih tersenyum satu sama lain. Tapi ada jarak kecil yang mulai terasa. Bukan jarak karena pertengkaran. Bukan pula karena salah paham.

Jarak itu tumbuh dari rutinitas. Dari waktu yang semakin sempit. Dari hal-hal yang tidak sempat dibicarakan.

Adit sering membawa pekerjaan ke rumah. Laptopnya menyala hingga larut malam. Ponselnya jarang benar-benar terlepas dari genggaman. Pesan dan panggilan datang silih berganti.

Naya memahami semua itu. Ia tahu Adit bekerja keras bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi untuk masa depan mereka. Untuk kestabilan hidup yang sedang mereka bangun.

Padahal, diam bukan berarti tidak ada yang retak.

Naya tetap menjadi istri yang sama. Menyambut Adit dengan senyum. Menjaga rumah tetap hangat. Mendukung setiap langkah suaminya. Tapi di dalam hatinya, ada kegelisahan yang belum menemukan tempat untuk dibicarakan.

*****

Di sisi lain kota, Ratna duduk di ruang tamu rumah besarnya. Teh di cangkirnya sudah dingin, tapi ia belum menyentuhnya. Seorang kerabat jauh baru saja pamit setelah berbincang cukup lama—dan satu topik kecil yang sempat terucap tanpa sengaja masih berputar di kepalanya.

“Sudah lama juga ya Adit menikah,” ucap perempuan itu tadi, seolah hanya basa-basi. “Tapi kok belum ada kabar anak?”

Ratna hanya tersenyum saat itu. Senyum tipis yang tidak menjawab apa-apa. Namun begitu pintu tertutup, senyum itu memudar, digantikan tatapan yang jauh lebih tajam.

Empat tahun.

Ia tahu betul hitungannya. Terlalu lama untuk sekadar disebut menunggu. Terlalu sering pula pertanyaan itu muncul—di pengajian, di arisan, di acara keluarga—dengan nada yang semakin sulit disamarkan sebagai kepedulian.

Ratna menyilangkan tangannya di dada.

“Perempuan memang seharusnya peka,” gumamnya pelan. “Kalau belum bisa memberi keturunan, harusnya sadar diri.”

Ia tidak berniat menyerang. Belum. Ratna cukup mengamati. Mengumpulkan potongan-potongan kecil: tatapan orang-orang, pertanyaan yang diulang, bisikan yang mulai berani keluar ke permukaan.

Ia tahu, tekanan sosial sering kali bekerja lebih efektif daripada konfrontasi langsung.

Dan kali ini, tekanan itu perlahan mulai terbentuk.

Malam semakin larut. Di rumah Naya, lampu kamar masih menyala. Adit belum pulang. Naya duduk di tepi ranjang, tangannya menggenggam sebuah benda kecil yang sejak tadi ia sembunyikan di telapak tangan.

Alat tes kehamilan.

Ia menatapnya lama. Garisnya tetap sama. Kosong.

Tidak ada air mata yang jatuh. Tidak ada isak yang pecah. Hanya keheningan yang terasa semakin berat. Naya menarik napas dalam-dalam, mencoba menerima jawaban itu tanpa menyalahkan siapa pun.

“Tidak apa-apa,” bisiknya pada diri sendiri. “Mungkin memang belum waktunya.”

Namun kalimat itu terdengar lebih seperti penguatan daripada keyakinan.

Bayangan Aluna kembali terlintas. Cara anak itu memandangnya. Cara ia memanggil dengan suara polos yang penuh harap. Tanpa sadar, Naya menutup alat tes itu, menyimpannya kembali ke dalam laci—bersama semua pertanyaan yang belum berani ia ajukan.

Ia merebahkan diri, memejamkan mata, berusaha tidur. Tapi pikirannya terus berkelana.

Antara ingin berbicara pada Adit…

dan takut menambah beban di pundak suaminya.

Di tempat lain, di rumah Pramudya, Salma duduk sendirian di ruang kerjanya. Lampu meja menyala terang, menerangi sebuah foto yang terletak di atas meja.

Foto Naya.

Ia mendapatkannya tanpa banyak bertanya, lewat orang kepercayaannya. Salma menatap wajah perempuan itu lama. Terlalu lama untuk sekadar rasa ingin tahu biasa.

Ada sesuatu di sana. Bukan hanya kemiripan dengan Alya—melainkan ketenangan yang terasa nyata, bahkan dari sekadar gambar.

Salma menghela napas panjang.

“Apa ini hanya kebetulan…” gumamnya pelan.

Ia teringat Aluna. Tatapan cucunya yang berubah. Gambar rumah yang penuh rasa aman. Dan kini, wajah Naya yang entah kenapa terasa semakin dekat, meski mereka tidak pernah benar-benar saling mengenal.

Salma menutup mata sejenak.

Ia tahu, ia sedang berdiri di ambang keputusan yang tidak sederhana. Keputusan yang jika salah langkah, bisa melukai banyak hati—terutama hati seorang anak kecil.

...****************...

Selamat malam selamat membaca like komennya dong terimakasih..

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!