NovelToon NovelToon
Aku Bukan Milik Langit

Aku Bukan Milik Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Kebangkitan pecundang / Budidaya dan Peningkatan / Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:980
Nilai: 5
Nama Author: Dana Brekker

Di dunia yang tunduk pada Mandat Langit, kultivasi bukan sekadar kekuatan, melainkan belenggu. Setiap embusan qi dikenakan pajak oleh langit, dan mereka yang membangkang akan dikutuk dalam kehancuran. Di tengah tatanan tiran ini, hiduplah Li Shen, seorang yatim piatu fana dengan meridian cacat yang dianggap sampah oleh dunia.

Namun, penolakannya terhadap anugerah langit justru menarik perhatian Dewa Xuan Taiyi.

Selama seratus tahun, Li Shen ditempa dalam isolasi dimensi Taixu Shengjing, mengasah Kehendak Murni yang tidak mampu diintervensi oleh dewa mana pun. Ia bangkit kembali bukan sebagai pahlawan, melainkan sebagai Penolak Takdir.

Perjalanan panjangnya di mulai dari Perkumpulan Tanpa Mandat, sebuah gerakan revolusi rakyat kecil Lianzhou yang muak dengan penindasan langit. Bersama Yan Shuhua (Hua'er), gadis pembunuh bayaran yang setia, dan Ru Jiaying, penjinak binatang roh misterius, Li Shen memulai perang mustahil.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 21 : Dua Jalan, Satu Kehendak

Li Shen dan wanita bertanduk yang bernama Luyin tengah berdiri di atas reruntuhan gua yang kini tak lebih dari hamparan bongkahan batu. Batu-batu besar bertumpuk tanpa bentuk, menutup mulut gua sepenuhnya seperti makam raksasa. Sementara angin hutan bertiup sejuk, membawa bau alami yang masih menggantung di udara sejak pertarungan kemarin.

Kabut beracun melayang rendah di antara pepohonan. Dari tempat Li Shen berdiri, hutan di depan mereka tampak gelap dan berbahaya. Batang-batang pohon hitam menjulang kaku, daun-daunnya kusam dan kering, beberapa batu tajam mencuat dari tanah seperti gigi monster. Di kejauhan, terdengar lolongan binatang buas yang tak jelas dari mana asalnya.

Li Shen menunduk, menatap reruntuhan di bawah kakinya. Gua yang kemarin menjadi medan hidup dan mati kini lenyap sepenuhnya. Tidak ada jalan keluar. Tidak ada jasad. Hanya gundukan batu.

Meskipun luka di dadanya telah mengering berkat ramuan Luyin, nyeri tumpul masih menusuk setiap kali ia menarik napas. Tulang-tulangnya yang remuk belum pulih sempurna, namun Kehendak Murni di dalam dirinya menjadi pilar yang menopang raga itu agar tetap tegak, memberi ruang bagi tubuh fananya untuk merajut kembali sel-sel yang rusak.

Di sampingnya, Luyin berdiri tenang, tampak selalu tenang semenjak mereka bertemu. Rambut putih panjangnya bergoyang tertiup angin. Mata hijau dalam itu menatap hutan dengan sorot yang sulit dijelaskan. “Kau lihat hutan ini?” ucap Luyin dengan lembut.

Li Shen mengangguk. “Penuh kegelapan.”

Luyin mengangkat satu tangan. Telapak tangannya bercahaya hijau samar, hangat dan hidup. “Lihat sekali lagi.”

Perubahan terjadi seketika.

Kabut beracun surut seperti air pasang yang ditarik mundur. Cahaya matahari menembus lebih dalam, menyinari pepohonan. Warna hijau segar muncul di dedaunan yang sebelumnya layu. Batang pohon hitam perlahan berubah menjadi cokelat tua. Bunga liar bermekaran di sela-sela tanah yang sebelumnya tandus. Burung-burung berkicau merdu.

Di kejauhan, sungai tampak mengalir jernih. Cahaya hijau berpendar di udara. Roh-roh berwujud manusia bertanduk rusa bermunculan, bayangan cahaya seukuran kepalan tangan, beterbangan bebas di antara pepohonan. Hewan roh berlari tanpa rasa takut, dan energi alam mengalir seperti sungai tak kasatmata, saling terhubung satu sama lain. Hutan itu hidup, damai dan indah.

Li Shen menatap pemandangan itu tanpa berkedip sekalipun. “Ini ilusi?”

“Bukan,” Luyin mengoreksi dengan nada lembut. “Ini adalah wujud asli hutan sebelum Tianyuan datang mencemari segalanya.”

Li Shen hanya bisa terdiam, menatap kehidupan yang terasa asing di hadapannya. Terlalu indah untuk menjadi kenyataan.

“Ribuan tahun lalu,” Luyin mengulurkan tangan, membiarkan seekor burung hinggap di jemarinya, “Lianzhou adalah tanah subur. Manusia dan alam berjalan selaras. Kultivator mengambil qi secukupnya dan mengembalikannya lewat ritual dan penghormatan. Penunggu pohon kuno seperti aku bertugas melindungi desa. Sementara roh sungai memberi air bersih dan binatang roh membantu berburu. Tidak ada mandat langit. Hanya keseimbangan.”

Ia melanjutkan tanpa emosi berlebihan, seolah sedang menyebut fakta yang lama terkubur. “Qi mengalir bebas. Rakyat kecil bisa berkultivasi tanpa ujian. Sekte kecil membantu desa, bukan memerasnya. Bila alam marah, ia memberi tanda dan manusia akan mendengarkan.”

Li Shen mendengarkan dalam diam.

“Tiga ratus tahun lalu,” Luyin menegaskan suaranya, alisnya berkerut benci. “Tianyuan datang dari Utara. Mereka membawa mandat suci dan berkata langit memberi mereka hak menguasai segalanya. Pohon-pohon ditebang untuk membangun paviliun. Roh alam diperas menjadi pil. Sungai dialihkan untuk tambang batu meridian.”

“Alam memperingatkan mereka. Banjir. Gempa. Kabut beracun. Tapi Tianyuan menyebutnya sebagai ujian mandat. Rakyat kecil akhirnya mati. Elit selamat karena berlindung di balik mandat dan mereka tidak pernah berhenti, mereka hanya semakin rakus. Alam hanya menunggu untuk dikoreksi.”

Li Shen menatap Luyin. “Apa yang kau maksud dikoreksi?”

“Maksudnya adalah alam menunggu sosok yang bisa mengembalikan keseimbangan meski harus menghancurkan struktur yang menyimpang.” Luyin menatapnya balik. “Kau Penolak Langit, Li Shen. Kau tidak punya qi, tapi kehendakmu murni. Kau tidak memaksa alam. Kau berdiri sejajar dengannya, dan karena itulah kau dapat mengoreksi alam.”

Ia melangkah lebih dekat. “Kau bisa menjadi jalan kembali bagi keseimbangan. Membebaskan Lianzhou bukan hanya dari Tianyuan, tapi dari sistem yang mencuri kehidupan.”

Li Shen kembali menatap hutan yang indah. “Aku tidak menjanjikan kemenangan.”

“Kau sedang berusaha,” jawab Luyin. “Itu sudah lebih dari cukup.” Ia mengangkat kedua tangan. Cahaya hijau terang keluar dari tubuhnya, mengalir seperti sungai cahaya, masuk ke dada Li Shen. Tidak ada rasa sakit. Hanya kehangatan yang menyebar, menyatu dengan kehendak murni di dalam dirinya.

“Ini hadiah dari alam,” ucap Luyin. “Kehendak Alam yang terbatas. Hewan akan mendengarmu. Tanaman akan mempermudah jalanmu. Angin akan menjawab niatmu. Bukan sebagai senjata. Tapi sebagai pengakuan.”

Li Shen mencoba mengulurkan tangannya. Angin berputar pelan. Seekor burung kecil hinggap tanpa takut. Tanaman merambat membuka celah di antara batu. “Terima kasih.”

Luyin tersenyum. Sosoknya mulai memudar. “Gunakan dengan benar, Li Shen. Alam mengamatimu… aku… akan selalu bersamamu.”

Ia pun lenyap. Hutan kembali gelap. Kabut beracun naik. Kehidupan roh menghilang seolah tak pernah ada.

Li Shen menoleh ke tombak milik Mo Wuxie yang kebetulan masih tertancap di antara bongkahan batu meski tuannya tidak lagi terlihat sejauh Li Shen memandang. Batangnya berwarna hitam legam, permukaannya dipenuhi ukiran tegas nan rumit. Ia mendekat, lalu mencabutnya dengan kuat.

Begitu tombak berpindah tangan, getaran asing langsung menjalar ke lengannya. Bukan rasa lapar atau haus biasa, melainkan dorongan rakus terhadap qi di sekitarnya. Tombak itu jelas senjata pemangsa, diciptakan untuk menyedot kekuatan apa pun yang disentuhnya.

Namun sesuatu perbedaan mulai terasa. Li Shen tidak memiliki qi. Alih-alih memberontak, tombak itu justru beradaptasi. Getaran liar mereda. Bilah hitamnya tetap haus, tetapi arah hausnya berubah. Qi yang diserap tidak mengalir ke tubuh sebagai energi mentah seperti yang terjadi pada Mo Wuxie, melainkan diperas, dimurnikan, lalu dialihkan menjadi kehendak murni yang selaras dengan jiwa Li Shen. Tidak ada amukan ataupun dorongan membunuh. Hanya ketajaman yang tenang.

Li Shen mengangkat tombak itu dan mengayunkannya ke arah sebuah batu besar di dekat kakinya. Satu tebasan saja, batu itu pecah berhamburan tanpa suara ledakan. Retakan menjalar rapi, seperti dipotong dengan penggaris tak kasatmata. Bersamaan dengan itu, sisa qi yang tertanam di batu tersedot masuk ke tombak, lalu mengalir ke tubuh Li Shen dalam bentuk kehendak murni.

Ia merasakan efeknya seketika. Otot-ototnya terasa lebih padat. Napasnya lebih stabil. Rasa nyeri di dada dan bahu berkurang tajam, seakan tubuhnya dipaksa mengingat bentuk utuhnya.

Efeknya mirip dengan Mo Wuxie yang menyerap kekuatan lawan untuk memperkuat diri, namun jalurnya berbeda. Mo Wuxie tenggelam dalam kerakusan tombak itu, matanya memerah, pikirannya tumpul oleh nafsu membunuh. Setiap serapan mempercepat keruntuhan jiwanya.

Sedangkan Li Shen, ia masih sepenuhnya sadar. Kehendak murninya menjadi penahan. Tombak itu tidak lagi memimpin, melainkan mengikuti.

Karena penasaran, ia menguji sekali lagi.

Pandangan Li Shen tertuju pada sebuah pohon hitam yang tumbuh miring di tepi reruntuhan. Batangnya nyaris remuk, daunnya layu, qi tercemar mengendap di serat kayunya.

Li Shen mengayunkan tombak.

Ujung bilah menyentuh batang pohon itu tanpa suara. Dalam sekejap, qi pohon tersedot habis. Batangnya mengering, rapuh, lalu roboh ke tanah.

Gelombang kehendak murni kembali mengalir ke tubuh Li Shen. Bukan kekuatan liar, melainkan kejernihan. Fokusnya meningkat, tekanannya terhadap jiwa terasa lebih tajam.

Lantas Li Shen menurunkan tombak dan menatap kedua senjata yang kini ia miliki. “Dua senjata,” gumamnya. “Dua jalan keluar.”

Pedang Langit adalah pemutus murni. Stabil, jujur, menebas apa adanya. Kekuatan fisik dan kehendak bertemu di satu garis lurus.

Sedangkan Tombak Pemangsa Qi ini berbeda. Ia adalah pemangsa, penyerap. Senjata yang berbahaya bagi siapa pun yang tak mampu mengendalikannya. Namun di tangannya, haus itu menjadi alat, bukan kutukan.

Ia tidak tahu apakah ini anugerah, atau sekadar kebetulan yang berbahaya.

Li Shen berbalik. Sudah waktunya kembali ke Jing’an. Di dekat mulut gua yang runtuh, seekor kuda hitam berdiri gelisah. Zirah hitam masih menempel di tubuhnya, mata merahnya menyala liar. Itu kuda milik Mo Wuxie, binatang perang yang terbiasa mencium darah dan kekacauan.

Kuda itu meringkik keras saat Li Shen mendekat. Li Shen mengangkat tangan dan menyentuh lehernya perlahan.

Kehendak alam mengalir tanpa disadari. Getaran liar di tubuh kuda mereda. Mata merahnya padam, lalu warna hitam pekat menggantikannya, sebelum kuda gagah itu menundukkan kepala. Patuh.

Li Shen naik ke punggungnya, tombak hitam tergenggam mantap di tangannya. “Bawa aku pulang.”

Kuda itu berlari cepat, menembus jalur hutan ke arah utara, menuju ke Jing’an.

Di balik pepohonan yang kesunyiannya begitu mencekam, di antara akar dan tanah yang masih terluka, alam mengamati kepergiannya. Untuk pertama kalinya sejak waktu yang sangat lama, alam menaruh harapan pada seorang manusia fana.

1
yuzuuu ✌
bau2 istri MC 🤭
yuzuuu ✌
lanjut lanjutt lanjut thor..... suka bngtt 😍
MuhFaza
lanjutt
yuzuuu ✌
wkakaka mampus
yuzuuu ✌
bakal se op apa beliau2 ini 👀
MuhFaza
baguss
MuhFaza
tpikal novel zero to hero
yuzuuu ✌
wakakak 🤣👍
yuzuuu ✌
meskipun menolak pemberian langit tapi nggak mulai dari nol yh,. si Xuan yg kasi secara cuma2 atw karena li Shen membunuh bayangan2 di taixu jadi naik tingkat?
yuzuuu ✌
apakah nanti jadi jodohnya huaer? 👀🤭
DanaBrekker: /Doge/
total 1 replies
yuzuuu ✌
🤣/Sob/
yuzuuu ✌
jarang nemu novel yang pembukaannya rapi begini thor. semangat 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
yuzuuu ✌
suka tipe MC sampah begini di awalnya. tinggal jejak dulu thor, lanjutkan 👍
DanaBrekker: /Good/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!