Bagaimana rasanya kembali ke masa lalu?Mia dan Dania kembali ke masa lalu, namun... cerita mereka sedikit berbeda... Makam kuno yang mereka lihat membawa mereka kembali ke masa kejayaan Dinasti Song. Dinasti yang kala itu berdiri dengan megah yang menjadi tonggak kemajuan zaman.
"Dimana ini?"
Kalimat yang sering Mia dan Dania ucapkan setelah menjadi target "Kilatan Waktu"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ami Greenclover, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok Itu Lagi?
“Kilatan?Waktu terhenti?”
Wajah Mia bingung dan sedikit takut.
“Kok aku jadi merinding ‘ya…”
Dania mendekatkan dirinya pada Mia.
“Kayaknya… kita bukan orang pertama yang bisa pergi ke masa lalu.”
“Kau yakin kita beneran pergi ke masa lalu? Aku lebih curiga kita ini kerasukan arwah hantu di makam itu.”
“Kerasukan apanya! Kalau kerasukan mungkin kita udah dipanggilin dukun dari kemarin.”
“Iya juga ya…”
Mereka mencoba menelaah apa yang terjadi pada mereka beberapa waktu yang lalu. Unggahan yang di unggah oleh akun Ami Greenclover tersebut membuat Dania dan Mia sedikit takut dan tak tenang. Untuk mencegah kembali masuk kedalam mimpi itu lagi, Mia dan Dania tidak tidur malam ini.
“Udah?”
Mia bertanya.
“Udah.”
Dania mengangguk.
Mereka mengunci pintu dan jendela rumah Dania.
“Ayo kita pergi!”
Mia dan Dania pergi berlari dengan tergesa-gesa. Ternyata malam ini Dania akan menginap di rumah Mia. Dania menganggap rumah Mia lebih aman dari rumahnya, jadi dia akan menginap di rumah Mia untuk beberapa hari.
Hari sudah mulai gelap, suara adzan telah berkumandang menandakan waktu maghrib telah tiba. Mia sibuk menonton drama china di laptopnya, sedangkan Dania sibuk bermain game di ponselnya.
“Teh, udah maghrib… tutup pintu dengan jendela.”
Ayah Mia menyuruh Mia untuk menutup pintu dan jendela rumah mereka.
“Bapak mau kemana?”
Mia bertanya pada ayahnya yang terlihat sangat rapih dengan sarung dan kopiah nya.
“Bapak mau pergi yasinan, inikan malam jum'at.”
“Malam jum'at?”
Mia menoleh pada Dania. Dania membalasnya.
“Bapak pergi dulu.”
“Iya, pak.”
Ayah Mia pergi dari rumah untuk menghadiri yasinan. Yasinan diadakan setiap seminggu sekali tepatnya pada hari kamis di malam jum'at. Dia melihat ayahnya pergi menjauh secara perlahan.
Mia pun menutup pintu dan jendela. Dia tak sendiri, dia dibantu oleh Dania.
“Jendela kamar belum di tutup.”
“Oke.”
Dania menutup jendela kamar.
Mia pergi ke dapur untuk menutup jendela dapur. Sialnya, saat hendak menutup jendela dia melihat sosok yang sama seperti yang ia lihat saat berada di rumah Dania.
Mia terdiam, badannya seolah membeku. Wajahnya pucat pasi.Mia berdiri membeku di depan jendela. Melihat Mia yang hanya berdiri diam, Dania lantas menghampirinya.
“Mia, kau kenapa?”
Dania bertanya pada Mia. Mia menelan air liurnya, suaranya bergetar sambil menunjuk ke luar jendela.
“Da-dania… lihat…”
Dania menoleh ke luar jendela.
“Anjirrr! Setan!”
Dania spontan menutup jendela dan menarik tangan Mia. Dania menarik tangan Mia dan membawanya ke kamar.
“Itu setan kan! Setan!”
Dania panik ketakutan.
“Kau juga bisa liat?…”
Mia masih ketakutan, sampai badannya lemas.
“Njirr, nanya lagi. Emangnya kau gak lihat badan aku udah gemeter gini?!”
“Ku kira hanya aku yang bisa liat.”
“Udah gak bener ni, gak bener.”
Dania mengambil selimut dan menutupi tubuh mereka berdua.
“Kenapa dia menampakkan diri di depan kita sih?”
Mia bingung.
“Namanya juga setan, ya terserah dia lah.”
“Terus kita harus gimana ni? Aku takut.”
“Aku juga takut, kita tunggu bapak kau pulang.Jadi, kita jangan keluar dulu dari kamar ini.”
“Oke…”
Mereka berdua duduk saling berdampingan dengan selimut yang menutupi tubuh mereka. Hati mereka dipenuhi rasa was-was dan juga rasa takut. Mereka berdua berdo'a agar penampakan yang mereka lihat segera pergi dan tak mengganggu mereka lagi.
Suasana sangat sunyi, yang terdengar hanyalah suara jangkrik yang memang biasa terdengar saat malam tiba. Jarak rumah antar tetangga yang berjauhan menambah kesan sunyi di tempat itu. Saat Mia dan Dania fokus berdo'a tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu dari luar.
*tok tok tok
Tak ada suara lain selain ketukan pintu.
“Siapa?!”
Mia bertanya dari dalam kamar. Namun, tak ada balasan dari pertanyaan yang di ajukan oleh Mia itu.
“Sttt!”
Dania menutup mulut Mia.
*brag!!
Suara pintu terbuka dengan dorongan yang keras terdengar. Mia dan Dania ketakutan, karena seingat mereka pintu rumah mereka telah mereka kunci, mustahil pintu itu bisa dibuka. Mia dan Dania mulai keringat dingin. Mereka masih bersembunyi di dalam kamar dengan selimut mereka.
“Baca do'a!”
Dania menyuruh Mia untuk membaca do'a. Mereka berdua membaca do'a.
“Mia…”
Suara Dania lirih ketakutan.
“Mia… ada yang megang pundak aku…”
Dania menoleh pada Mia di dalam selimut. Mia tiba-tiba seperti terhentak.
“Aku juga…”
Ternyata ada yang memegang pundak Mia juga. Mia dan Dania saling menatap.
“Aaaaaa!!!!”
Tanpa aba-aba mereka berdua teriak dengan kompak.
“Kalian kenapa sih?!”
Seseorang bertanya pada mereka.
“Eh, kok mirip suara teh Yana?”
Mereka membuka selimut mereka. Ternyata itu adalah Yana, kakak ipar dari Mia. Melihat kehadiran kakak iparnya, Mia dan Dania merasa lega. Mereka mengelus dada mereka.
“Huuh, syukurlah…”
“Kalian ini kenapa sih?”
Yana tampak bingung.
“Tadi ada hantu teh…”
“Hantu? Kalian halusinasi kali.”
“Masa iya halusinasi berdua?”
“Hmm, iya juga ya…”
Yana mulai memikirkan perkataan mereka.
“Teteh kok bisa masuk sih? Kan pintunya di kunci.”
Dania heran.
“Pintu tu rusak, engselnya copot. Kayaknya teteh terlalu kuat lah dorong nya hehe.”
Yana tertawa kecil.
“Emang iya sih, engsel pintu itu udah mau copot memang dari kemarin.”
Mia baru menyadari hal itu.
Saat ini Mia dan Dania merasa lega karena ada Yana yang menemani mereka. Mereka pun pindah mengobrol ke ruang tamu. Mia dan Dania menceritakan apa yang mereka lihat kala waktu maghrib tadi.
“Ih, seremnya!”
Bulu kuduk Yana merinding mendengar cerita mereka. Malam jum'at menambah seram cerita tersebut.
“Kok bisa sih kalian berdua lihat itu hantu?”
“Ya kami gak tau lah teh… kalau kami tau kami udah kabur dari awal.”
“Iya juga ya…”
“Teteh jangan pulang dulu ya, tunggu bapak pulang baru teteh boleh pulang.”
“Oke,oke.”
Mereka menunggu kepulangan ayah Mia sambil bercerita tentang banyak hal, tentu saja bukan cerita seram yang mereka ceritakan. Setelah sejam berlalu tepatnya pada pukul 08.47 malam, ayah Mia akhirnya pulang ke rumah. Wajahnya tampak kaget saat melihat pintu itu lepas dari tempat yang seharusnya. Melihat wajah kaget ayah mertuanya itu Yana hanya bisa cengengesan.
“Maaf, pak… tadi Yana terlalu keras dorong nya.”
Ayah mertuanya tidak marah.
“Pintu ini emang udah rusak engselnya, harus ganti yang baru.”
“Bener itu, pak!”
Mia setuju.
Ayah Mia pergi ke kamar dan kembali dengan membawa uang senilai 50 ribu. Ayahnya memberikan uang itu pada Mia.
“Teh, beli engsel dulu gih ke pasar. Pintu ini harus di benerin.”
“Beli engsel? Malam-malam begini ,pak?”
“Iya atuh teh, masa iya ini pintu mau dibiarin kayak gini? Nanti hantu masuk gimana?”
Mendengar itu Mia dan Dania segera mengambil kunci motor dan langsung pergi ke pasar.
Malam itu sangat dingin, mereka berdua yang penakut itu memberanikan diri mereka untuk pergi membeli engsel pintu di toko bangunan yang ada di pasar. Untung saja, keadaan jalan raya sangat ramai jadi mereka tidak terlalu takut keluar pada malam hari.
Setelah permasalahan pintu selesai, Mia dan Dania kembali masuk ke kamar. Mereka berbaring sambil melihat langit-langit.
“Kau ngantuk?”
Dania bertanya pada Mia. Mia mengangguk.
“Bagaimana kalau malam ini kita tidur saja? Kalau kita bermimpi ke tempat itu lagi, kita tak perlu takut… kita harus mencari kebenaran dari kejadian-kejadian yang terjadi sama kita.”
“Okelah kalau gitu,semoga kita aman.”
Mereka pun tertidur lelap.