NovelToon NovelToon
Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Kembalinya Kaisar Dunia Bawah

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Perperangan / Romansa
Popularitas:912
Nilai: 5
Nama Author: blueberrys

Dunia ini bukanlah tempat bagi mereka yang lemah si kaya terbang membelah awan layaknya naga, sementara si miskin terinjak sebagai debu di bawah kaki sang penguasa. Di tengah kejamnya takdir, hiduplah Zhou Yu, bocah laki-laki yang jiwanya jauh lebih dewasa dibanding usianya yang baru delapan tahun. Sejak kecil, ia adalah pelita bagi orang tuanya, sosok anak berbakti yang rela menghabiskan masa bermainnya di pasar demi menyambung hidup keluarga.

Namun, langit seolah runtuh saat Zhou Yu pulang membawa harapan kecil di tangannya. Aroma darah dan keputusasaan menyambutnya di ambang pintu. Ia menemukan sang ayah pria yang selama tiga bulan terakhir berjuang melawan sakit tergeletak mengenaskan dalam napas terakhirnya. Di sudut lain, ibunya terkulai lemas, tak berdaya, bersimbah darah dan dengan kondisi yang mengenas. Di detik itulah, kepolosan Zhou Yu mati. Dalam tangis yang tertahan, sebuah dendam dan ambisi membara ia tidak akan lagi mengubah nya menjadi sosok yang berbeda.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blueberrys, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan jalan di sore hari

Pasar pusat Kota Kekaisaran Zhonghua pada sore hari adalah sebuah simfoni warna dan suara. Lampion-lampion merah mulai dinyalakan di sepanjang jalan, memantulkan cahaya pada lantai batu yang bersih. Bau harum dari tumisan rempah, manisnya gula kapas, dan aroma dupa mahal bercampur di udara. Di tengah keramaian itu, lima orang dari tim Akademi Tian Meng berjalan perlahan, memberikan kontras yang unik di antara para penduduk kota dan kultivator lainnya.

Yan Xu berjalan paling depan dengan energi yang seolah tidak pernah habis. Ia bergerak dari satu kios ke kios lain, jubah merahnya berkibar tertiup angin sore. Di sampingnya, Zhou Yu berjalan dengan langkah yang tenang dan wajah yang nyaris tanpa ekspresi. Kesan polos namun dingin terpancar dari Zhou Yu, terutama ketika ia menatap barang-barang mewah di pasar itu seolah-olah itu adalah artefak kuno yang berbahaya.

"Zhou Yu! Lihat ini!" Yan Xu tiba-tiba menarik lengan baju Zhou Yu, membawanya ke sebuah kios yang menjual giok pemurni Qi. "Ini giok biru dari pegunungan selatan. Sangat cocok dengan elemen es milikmu. Kalau kau pakai ini, mungkin wajahmu tidak akan sebeku puncak gunung lagi, hahah!"

Zhou Yu menatap giok itu dengan serius, dahi sedikit berkerut. "Apakah ini benar-benar berguna? Bagiku, ini hanya terlihat seperti batu yang bisa pecah sekali pukul."

Yan Xu terbahak, menepuk bahu Zhou Yu dengan keras. "Kau ini terlalu polos atau terlalu praktis? Ini tentang gaya, kawan! Kultivator hebat harus terlihat elegan!" Ia kemudian mengambil sebuah kipas lipat dengan hiasan emas. "Bagaimana dengan ini? Kau bisa menggunakannya untuk menutupi wajahmu saat kau merasa malu."

Saat Yan Xu sedang asyik memperagakan cara menggunakan kipas itu dengan gaya centil, ia tidak sengaja menyenggol tumpukan keranjang buah di kios sebelah.

Braakk!

Buah-buah persik segar menggelinding ke mana-mana. Penjualnya berteriak kaget, dan Yan Xu dengan cepat membungkuk-bungkuk minta maaf sambil mencoba memungut buah-buah itu, namun malah terpeleset kulit buahnya sendiri.

Zhou Yu hanya berdiri diam, menatap Yan Xu yang sibuk di bawah dengan tatapan bingung. "Apakah terjatuh juga bagian dari teknik eleganmu, Yan Xu?" tanyanya dengan polos, yang membuat orang-orang di sekitar tertawa kecil.

Beberapa langkah di belakang mereka, Su Lin berjalan dengan keanggunan seorang dewi salju. Ia memeluk pedang Phoenix Es-nya erat-erat di depan dada. Wajahnya yang cantik tertutup oleh cadar selapis es yang tidak terlihat, menolak interaksi dari siapa pun. Namun, hal itu tidak menghentikan Yan Xu untuk terus berputar di sekelilingnya setiap kali ia selesai dengan Zhou Yu.

"Su Lin, kau tahu? Rambutmu yang perak itu kalau terkena cahaya lampu pasar terlihat seperti es yang mencair di bawah matahari. Cantik sekali," goda Yan Xu dengan cengiran lebar setelah ia bangkit dari insiden persik tadi.

Su Lin bahkan tidak menoleh. "Matahari akan selalu kalah oleh es abadi, Yan Xu. Berhentilah bicara hal yang tidak berguna."

"Galak sekali! Tapi kau tahu tidak, es yang terlalu keras itu mudah retak. Kau butuh sedikit kehangatan api dariku agar hatimu tetap elastis," lanjut Yan Xu, sengaja berjalan mundur di depan Su Lin.

Su Lin menghentikan langkahnya, matanya menatap tajam ke arah Yan Xu. "Satu kata lagi, dan aku akan membekukan lidahmu."

"Oh, ancaman yang sangat romantis!" Yan Xu tertawa renyah, sama sekali tidak merasa terancam. Ia terus menggoda Su Lin, memberikan pujian-pujian konyol yang membuat Su Lin sesekali mendengus, meski ada sedikit rona merah tipis yang nyaris tak terlihat di telinganya akibat kegigihan pemuda api itu.

Di barisan paling belakang, suasana terasa jauh lebih manis namun tetap jenaka. Wang Da berjalan dengan sikap protektif di samping Xiao Bai. Wang Da sesekali jahil, menyenggol bahu Xiao Bai atau menarik tas obatnya hingga gadis itu terhuyung kecil.

"Wang Da! Berhenti bermain-main, ini pasar kekaisaran, bukan lapangan latihan!" keluh Xiao Bai sambil membetulkan letak tasnya.

"Halah, Xiao Bai, kau ini terlalu tegang. Lihat ini!" Wang Da mengambil sebuah sate daging bakar yang sangat besar dan menyodorkannya tepat ke depan hidung Xiao Bai. "Buka mulutmu. Kau butuh tenaga agar tidak pingsan saat melihat darah besok. Dan juga untuk pertumbuhan mu, hahah" ejek Wang Da

Xiao Bai awalnya menolak, namun aroma daging itu terlalu menggoda. Saat ia hendak menggigit sate itu, Wang Da sengaja menariknya sedikit menjauh, membuat Xiao Bai menggigit angin.

"WANG DA!" teriaknya kesal.

Namun, Wang Da tertawa dan akhirnya memberikan sate itu sepenuhnya. Saat mereka melewati sebuah kios aksesoris wanita, Wang Da berhenti sejenak. Ia melihat sebuah tusuk konde perak sederhana dengan hiasan bunga melati kecil yang terbuat dari mutiara. Tanpa banyak bicara, ia membelinya saat Xiao Bai sedang asyik melihat pertunjukan sulap di pinggir jalan.

Beberapa menit kemudian, saat jalanan sedikit sepi, Wang Da berjalan mendekat ke sisi Xiao Bai. "Hei, Xiao Bai."

"Namaku Xiao Mei!"

"Terserahlah. Ini," Wang Da menyodorkan tusuk konde itu dengan kasar, wajahnya menoleh ke arah lain untuk menyembunyikan rasa canggung. "Tadi aku lihat ini jatuh dari kios... maksudku, aku beli ini karena tusuk kondemu yang lama sudah jelek sekali. Jangan bikin malu tim kita."

Xiao Bai tertegun. Ia menerima tusuk konde itu dengan tangan gemetar. Mutiaranya berkilau lembut di bawah cahaya bulan. "Ini... untukku?"

"Cepat ambil sebelum aku berubah pikiran dan memberikannya pada kuda istana," gerutu Wang Da.

Xiao Bai menerimanya dengan malu-malu, lalu ia mencoba menyematkannya di rambutnya. "Apakah... apakah terlihat bagus?" tanyanya pelan.

Wang Da melirik sekilas, lalu jantungnya sendiri berdegup kencang melihat betapa cantiknya gadis polos itu di bawah sinar rembulan. "Lumayanlah. Tidak seburuk biasanya."

Xiao Bai tersenyum lebar, dan saat itulah tangannya tidak sengaja bersentuhan dengan tangan besar Wang Da saat mereka berjalan bersisian. Jantung Xiao Bai berdetak kencang, wajahnya memanas hingga ke leher, dan ia segera menarik tangannya kembali, menunduk dengan wajah yang tersipu malu. Wang Da hanya berdeham keras, mencoba bersikap seolah tidak terjadi apa-apa, padahal langkah kakinya menjadi sedikit tidak beraturan.

Di tengah keramaian timnya yang sibuk dengan urusan masing-masing, Zhou Yu berjalan sendirian di tengah. Ia adalah pusat dari tim ini, namun ia juga yang paling merasa terisolasi oleh pikirannya sendiri. Matanya menatap ke arah istana besar yang menjulang di ujung jalan, tempat kompetisi akan diadakan.

"Babak pertama adalah bertahan hidup," pikirnya. "Lembah Kabut Kematian bukan tempat yang bisa dihadapi hanya dengan kekuatan kasar. Aku harus memastikan Wang Da tidak bertindak gegabah, dan Yan Xu harus tetap menjaga stamina apinya agar Xiao Bai tidak kelelahan."

Setiap kali ia melihat sepasang kekasih di pasar, bayangan Ling'er selalu muncul. Ia teringat bagaimana Ling'er dulu sangat suka melihat bunga yang mekar di musim semi. "Ling'er... seandainya kau ada di sini. Pasar ini pasti akan terlihat jauh lebih indah jika kau yang berada di sampingku, bukan Yan Xu yang sibuk mengejar Su Lin."

Rasa rindu itu menjadi bahan bakar bagi tekadnya. Ia tidak boleh kalah. Apapun rintangannya, Mutiara Jiwa itu harus menjadi miliknya.

Setelah lelah berjalan-jalan, mereka akhirnya kembali ke kamp mereka. Kamp itu bukanlah tenda biasa, melainkan rumah kayu dua lantai yang disediakan khusus untuk tim elit. Di lantai dua, Zhou Yu, Wang Da, dan Yan Xu duduk di balkon kecil.

Suasana sangat tenang. Wang Da sedang membersihkan palunya, Yan Xu sibuk mencoba kipas barunya, dan Zhou Yu menatap bintang-bintang.

"Besok adalah hari besar, Zhou Yu," ucap Yan Xu, nada bicaranya sedikit lebih serius. "Tapi aku senang bisa satu tim dengan orang-orang seperti kalian. Setidaknya aku tidak akan bosan."

"Asal kau tidak jatuh karena kulit persik lagi, aku rasa kita akan baik-baik saja," timpal Wang Da yang disambut tawa oleh Yan Xu.

"Wang Da, kau sendiri harus menjaga emosimu. Tadi kau hampir meruntuhkan gerbang istana hanya karena prajurit itu menggoda nona Xiao." goda Yan Xu.

Zhou Yu hanya mendengarkan dengan senyum tipis. Ia merasa tenang melihat rekan-rekannya bisa sedikit bersantai sebelum pertempuran hidup dan mati dimulai.

Tak lama kemudian, suara Xiao Bai terdengar dari lantai bawah. "MAKANAN SUDAH SIAP! CEPAT TURUN SEBELUM DINGIN!" teriak nya..

Mereka bertiga segera turun. Di ruang makan, Xiao Bai dan Su Lin telah menyiapkan hidangan sederhana namun terlihat sangat lezat. Sup ayam herbal, ikan bakar rempah, dan beberapa sayuran segar.

Mereka duduk melingkar, makan bersama dalam suasana yang hangat. Yan Xu, yang tidak bisa diam, kembali membuka percakapan. "Ngomong-ngomong, Su Lin, kau tahu tidak? Orang tuaku dan orang tuamu sebenarnya sudah bicara tentang... yah, perjodohan kita."

Su Lin yang sedang memegang sumpit terhenti. Wajahnya kembali dingin. "Aku sudah bilang berkali-kali, Yan Xu. Aku tidak tertarik pada urusan konyol seperti itu. Jalanku adalah jalan pedang, bukan jalan pelaminan."

Yan Xu justru tersenyum lebar, tidak sedikitpun tersinggung. "Aku tahu! Itu sebabnya aku menyukaimu. Kau sulit ditaklukkan. Tapi ingat, api matahari tidak akan pernah menyerah mengejar es abadi. Suatu hari nanti, aku akan membuat pedangmu itu meleleh karena kehangatanku."

"Silakan bermimpi," jawab Su Lin pendek, meski ia tetap memberikan potongan ikan terbaik ke piring Yan Xu tanpa berkata apa-apa.

Malam itu ditutup dengan tawa kecil dan bincang-ringan. Di luar, angin malam berhembus sejuk, membawa aroma musim gugur. Di dalam rumah kayu itu, lima kultivator muda berbagi kehangatan terakhir sebelum mereka harus saling bertaruh nyawa di Lembah Kabut Kematian. Zhou Yu menatap mereka satu per satu, merasa bersyukur bahwa di tengah perjalanan yang berat ini, ia tidak benar-benar berjalan sendirian.

Mereka pun beristirahat, menyiapkan jiwa dan raga untuk matahari esok yang akan membawa bau darah dan tantangan yang tak terbayangkan.

...Bersambung.......

1
༺⬙⃟⛅ada badaknyaℛᵉˣ
baru 1 bab udah cerita sedih/Sweat/
pinguin: author kejam👍
total 1 replies
Butet Kon77
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!