Malam itu, di Desa Gadhing yang damai, Tirta hanyalah seorang pemuda biasa yang lebih akrab dengan cangkul daripada pedang. Wajahnya selalu menunduk malu, bicaranya pelan, dan tubuhnya kurus. Ia tak punya minat pada dunia persilatan yang sering dibicarakan para tetua di gardu. Baginya, kebahagiaan adalah melihat ladang bapaknya subur dan senyum ibunya mengembang.
Namun, ketenangan itu hancur saat desa mereka diserang. Sekelompok perampok yang dipimpin oleh Lurah Karta, seorang demang serakah yang terkenal bengis, datang dengan tujuan menjarah. Tirta menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana kedua orang tuanya tewas di tangan mereka saat berusaha melindunginya. Suara pedang yang beradu dan jeritan pilu ibu masih terngiang-ngiang di telinganya. Dalam duka dan amarah yang meletup, sesuatu di dalam dirinya pecah. Sebuah kekuatan terpendam bangkit. Dengan tangan kosong, ia berhasil melumpuhkan beberapa perampok, membuat Lurah Karta terkejut dan mundur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BADAI JARUM DI LEMAH ABANG
Malam semakin larut saat rombongan kecil itu mencapai perbatasan Desa Lemah Abang. Desa ini tersembunyi di sebuah lembah yang subur, dipeluk oleh tebing-tebing curam yang seolah-olah mengisolasi mereka dari kejamnya dunia luar. Namun, keindahan alam itu kini tertutup oleh awan kelabu ketakutan yang pekat. Tak ada suara gong penjaga, tak ada tawa anak-anak yang biasanya masih terdengar di emperan rumah. Yang ada hanyalah kesunyian yang mencekam, seolah-olah desa itu sedang menahan napas menunggu ajal yang merayap datang.
Tirta berjalan paling depan. Langkah kakinya yang dulu berat dan penuh keraguan, kini terasa ringan namun sangat mantap. Di pinggangnya terselip sebuah tongkat kayu jati pemberian Ki Ageng Lingga—sebuah senjata sederhana, tanpa ukiran emas, namun menyimpan kepadatan energi yang luar biasa. Di belakangnya, Mayangsari berjalan dengan kewaspadaan penuh. Matanya yang tajam menyapu setiap bayangan, sementara tangannya sesekali menyentuh hulu pedang tipisnya yang melingkar di pinggang bagai ikat pinggang perak yang cantik namun mematikan.
Dimas Rakyan, seperti biasa, mencoba mencairkan suasana meskipun ia sendiri tak bisa menyembunyikan keringat dingin yang membasahi keningnya.
"Tirta," bisik Dimas, suaranya hampir hilang ditelan desau angin malam. "Kau mencium itu? Bau belerang dan sesuatu yang... manis? Seperti bunga yang layu?"
Tirta menghentikan langkahnya, mengendus udara dalam-dalam. Benar kata Dimas. Ada aroma manis yang memuakkan, aroma yang seolah-olah menarik jiwa untuk tertidur selamanya. Ia menoleh ke arah Mayangsari, meminta kepastian.
"Itu racun," ujar Mayangsari dengan nada dingin yang mengiris. "Ciri khas Ratna Gatri. Ia sering merendam jarum-jarumnya dalam ekstrak bunga Wijaya Kusuma Hitam yang hanya tumbuh di makam-makam kuno. Aroma manis itu adalah jebakan; jika kau menghirupnya terlalu banyak, paru-parumu akan terasa seperti terbakar dari dalam."
"Gunakan pernapasan perut yang diajarkan Guru," perintah Tirta singkat. Ia segera memusatkan pikirannya, mengingat latihan di bawah air terjun Menoreh, di mana ia harus belajar memisahkan oksigen murni dari uap air yang menyesakkan.
Saat mereka memasuki alun-alun desa, pemandangan memilukan tersaji di bawah cahaya obor yang bergoyang. Puluhan penduduk desa dikumpulkan di tengah lapangan, berlutut dengan tangan terikat ke belakang. Di sekeliling mereka, berdiri sekumpulan orang berpakaian seragam hitam dengan lambang bunga kemuning di dada—pasukan elite Ratu Kemuning. Namun, perhatian Tirta segera tertuju pada sosok wanita yang berdiri angkuh di atas panggung kayu balai desa.
Wanita itu mengenakan kemben berwarna ungu gelap dengan selendang transparan yang melambai-lambai ditiup angin, memberikan kesan mistis sekaligus mengerikan. Wajahnya sangat cantik, namun kecantikannya terasa tajam dan berbisa, seperti mawar hitam yang penuh duri beracun. Di sela-sela jemari tangannya yang lentik, terselip beberapa batang jarum panjang berwarna perak kehitaman yang berkilau jahat di bawah cahaya bulan. Dialah Ratna Gatri, sang 'Kematian Tanpa Suara'.
"Lurah desa ini benar-benar keras kepala," suara Ratna Gatri terdengar merdu, namun mengalir seperti es yang menggores kulit. "Aku hanya meminta kalian menyerahkan upeti dan mengakui kekuasaan Ratu Kemuning. Kenapa harus mengorbankan nyawa untuk sesuatu yang begitu sederhana?"
Seorang pria tua, yang wajahnya penuh luka lebam, mencoba mendongakkan kepala dengan sisa kekuatannya. "Kami hanya petani, Nyai... Kami tidak punya emas. Hasil bumi ini untuk makan anak cucu kami..."
Ratna Gatri tersenyum tipis, sebuah senyuman yang tidak sampai ke matanya yang dingin. "Kalau begitu, anak cucu kalian tidak perlu makan lagi selamanya."
Ia mengangkat tangannya, siap melepaskan jarum mautnya ke arah sang lurah. Namun, sebelum jarum itu lepas, sebuah bayangan meluncur lebih cepat dari kedipan mata.
Wush!
Sebuah batu kecil, yang disalurkan tenaga dalam murni, menghantam tangan Ratna Gatri tepat di titik syarafnya. Jarum-jarum itu terpental dan menancap di tiang kayu balai desa. Kayu tempat jarum itu menancap seketika menghitam, mengeluarkan asap kecil dan bau busuk yang menyengat.
"Siapa?!" teriak Ratna Gatri, matanya menyapu kegelapan di pinggir alun-alun dengan penuh kemarahan.
Tirta melangkah maju ke dalam lingkaran cahaya obor yang temaram. Dimas dan Mayangsari mengikuti di kedua sisinya, membentuk formasi segitiga yang kokoh.
"Hentikan kekejaman ini, Ratna Gatri," ujar Tirta tenang. Suaranya tidak meledak-ledak, namun memiliki getaran wibawa yang membuat beberapa anak buah Ratna Gatri mundur selangkah tanpa sadar.
Ratna Gatri menyipitkan mata, lalu tawanya pecah—sebuah tawa yang terdengar seperti gesekan logam yang memuakkan.
"Oh, jadi ini bocah yang dibicarakan Nyai Rukmina? Si pewaris 'Sinar Gadhing' yang katanya hebat itu? Ternyata hanya seorang pemuda ingusan yang bahkan belum bisa menyembunyikan bau lumpur di tubuhnya."
Mata Ratna beralih ke Mayangsari dengan pandangan menghina. "Dan kau, Putri bangsawan yang memilih jadi pengemis di padepokan tua. Benar-benar pemandangan yang menyedihkan."
Mayangsari tidak membalas dengan kata-kata. Ia menarik pedang tipisnya dari pinggang. Suara denting logam yang beradu terdengar nyaring di tengah kesunyian malam.
"Mulutmu lebih beracun dari jarummu, Ratna. Mari kita lihat apakah tanganmu secepat bicaramu yang sombong itu."
"Serang mereka! Jangan biarkan ada yang tersisa!" perintah Ratna Gatri dengan nada tinggi.
Sekitar dua puluh prajurit Ratu Kemuning merangsek maju dengan senjata terhunus. Dimas Rakyan adalah yang pertama bergerak. Dengan jurus Elang Mengangkasa, ia melompat tinggi, kakinya memberikan tendangan bertubi-tubi yang menjatuhkan dua orang lawan sekaligus. Gerakannya lincah, memutar di udara seperti gasing, membuat musuh kesulitan menangkap bayangannya yang berkelebat di antara cahaya obor.
"Jangan lupakan aku, kawan!" teriak Dimas sambil mendaratkan satu pukulan telak ke rahang seorang prajurit hingga gigi pria itu tanggal.
Mayangsari bertarung dengan keanggunan yang mematikan. Pedang tipisnya meliuk-liuk bagai ular perak yang menari di bawah rembulan. Setiap gerakannya sangat efisien; satu tebasan kecil di pergelangan tangan sudah cukup untuk membuat musuh menjatuhkan senjatanya. Ia bergerak di antara kerumunan lawan seolah sedang menari di sebuah pesta bangsawan.
Sementara itu, Tirta dikepung oleh lima orang pendekar berpengalaman. Namun, Tirta tidak langsung menyerang dengan membabi buta. Ia mengingat pesan Ki Ageng Lingga: Jadilah danau yang tenang di tengah badai. Ia membiarkan serangan musuh datang, membaca arah angin, dan dengan gerakan yang sangat minim, ia menghindar. Saat celah terbuka, ia menggunakan tongkat jatinya untuk memukul titik syaraf lawan.
Bukk! Bukk!
Tiga orang jatuh tersungkur. Mereka tidak berdarah, namun wajah mereka pucat karena tak mampu lagi menggerakkan kaki mereka.
Melihat anak buahnya mulai kocar-kacir, Ratna Gatri akhirnya turun tangan. Ia melompat dari panggung dengan gerakan seringan kapas, seolah gravitasi tidak berlaku baginya. Tangannya bergerak secepat kilat, melepaskan selusin jarum ke arah titik-titik mematikan di tubuh Tirta.
"Tirta, awas!" teriak Mayangsari penuh kecemasan.
Tirta merasakan bahaya yang sangat besar. Ia memejamkan mata sejenak, memusatkan seluruh aliran napasnya ke telapak tangan. Tiba-tiba, dari tubuhnya terpancar aura keperakan yang lembut namun sangat padat. Inilah Sinar Gadhing yang mulai terbangkitkan oleh desakan bahaya.
Ting! Ting! Ting!
Jarum-jarum beracun itu jatuh ke tanah sebelum menyentuh kulit Tirta, seolah-olah mereka menghantam dinding baja yang tak terlihat. Ratna Gatri tertegun. Ia tak menyangka pertahanan pemuda ini begitu kokoh.
"Mustahil!" geram Ratna. Ia mengeluarkan kipas dari balik pinggangnya, yang ternyata terbuat dari bilah-bilah baja tajam. "Rasakan jurus Badai Jarum Langit!"
Ratna berputar dengan kecepatan tinggi, menciptakan pusaran angin yang membawa ratusan jarum kecil yang diselimuti hawa dingin. Ruang lingkup serangannya sangat luas, mengancam tidak hanya Tirta, tapi juga para penduduk desa yang masih terikat.
Tirta sadar ia tak bisa hanya memikirkan keselamatannya sendiri. Ia menatap Mayangsari, memberikan kode lewat tatapan mata. Mayangsari yang sudah sangat mengerti pikiran Tirta segera mengangguk; ia melesat ke arah para penduduk untuk melindungi mereka dengan putaran pedangnya.
Tirta memantapkan kuda-kudanya, kakinya seolah menghujam ke jantung bumi. Ia mengangkat tongkat jatinya tinggi-tinggi. Cahaya perak di tangannya kini menjalar ke seluruh permukaan tongkat itu, membuatnya bersinar benderang, menyaingi terangnya rembulan di langit.
"Sinar Gadhing: Perisai Rembulan!"
Tirta memutar tongkatnya melingkar di depan dada. Cahaya perak itu membentuk sebuah cakram raksasa yang menyerap semua jarum yang dilepaskan Ratna Gatri. Ledakan energi terjadi saat hawa panas murni dari Sinar Gadhing bertemu dengan hawa dingin beracun dari senjata lawan.
BOOM!
Asap tebal menyelimuti alun-alun. Saat asap mulai menipis, terlihat Ratna Gatri terengah-engah dengan napas memburu. Kipas bajanya patah menjadi dua bagian. Di seberangnya, Tirta masih berdiri tegak, meski wajahnya pucat karena kekuatan itu sangat menguras tenaga dalamnya yang belum sempurna.
Ratna Gatri menyadari bahwa ia telah kalah dalam hal kekuatan murni. Ia menatap Tirta dengan mata yang penuh kebencian dan dendam yang mendalam.
"Kau menang kali ini, pewaris Gadhing. Tapi jangan senang dulu. Nyai Rukmina tidak akan membiarkanmu hidup lama. Aki Sapu Jagad sudah mulai bergerak, dan saat tua bangka itu datang, bahkan seluruh padepokanmu akan berubah menjadi pemakaman!"
Dengan lemparan bom asap, Ratna Gatri menghilang ke dalam kegelapan malam, menyisakan anak buahnya yang kocar-kacir melarikan diri ke hutan. Suasana mendadak menjadi hening. Perlahan, penduduk desa mulai berani bergerak. Dimas segera membantu melepaskan ikatan mereka satu per satu. Sang lurah mendekati Tirta dengan air mata yang mengalir di pipinya yang keriput.
"Terima kasih, Pendekar... Kau telah menyelamatkan nyawa kami semua," ujar sang lurah sambil mencoba bersujud di kaki Tirta.
Tirta segera menahan bahu pria tua itu dengan lembut, wajahnya kembali menampakkan sifat aslinya yang rendah hati. "Jangan, Kek. Saya bukan pendekar hebat. Saya hanya seorang pemuda yang tidak ingin melihat penderitaan yang sama terulang lagi."
Di tengah kerumunan warga yang mulai bersorak haru, Tirta merasakan sebuah tangan lembut menyentuh lengannya. Ia menoleh dan mendapati Mayangsari berdiri tepat di sampingnya. Cahaya rembulan yang jatuh di mata wanita itu memperlihatkan kekaguman sekaligus kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.
"Kau terluka?" tanya Mayangsari pelan, jemarinya yang halus mengusap sedikit goresan di pipi Tirta.
Tirta merasa jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia menghadapi jarum beracun tadi. Sentuhan itu terasa lebih hangat daripada aliran tenaga dalam mana pun. "Hanya goresan kecil, Mayang. Kau sendiri... apa ada yang sakit?"
Mayangsari tersenyum tipis—sebuah senyum tulus yang membuat kecantikannya melampaui bunga apa pun. "Aku baik-baik saja. Kau luar biasa tadi, Tirta. Tapi ucapan Ratna tentang Aki Sapu Jagad... itu benar-benar mengkhawatirkanku. Dia bukan lawan biasa."
Tirta mengangguk, menatap ke arah gelapnya hutan di mana musuh-musuhnya bersembunyi. "Aku tahu. Perjalanan kita masih panjang, Mayang. Tapi selama kau dan Dimas ada di sisiku, aku tidak akan merasa takut lagi."
Dimas Rakyan muncul dari kerumunan warga sambil membawa dua buah kelapa muda yang diberikan warga. "Hei, kalian berdua! Jangan terlalu asyik bermesraan di tengah lapangan! Penduduk desa sedang menyiapkan jamuan sederhana sebagai rasa syukur. Ayo makan, perutku sudah berteriak sejak tadi!"
Tirta dan Mayangsari tertawa kecil, meski ada bayangan kelam yang masih menghantui pikiran mereka. Malam itu, di Desa Lemah Abang, Tirta belajar bahwa kekuatannya bukan hanya untuk membalas dendam pribadi, tapi untuk menjadi cahaya bagi mereka yang tertindas. Namun, di balik kemenangan itu, sebuah ancaman yang jauh lebih besar bernama Aki Sapu Jagad mulai mendekat, siap memadamkan sinar yang baru saja mulai menyala.
"Mayang," panggil Tirta sebelum mereka bergabung dengan kerumunan warga.
"Ya?"
"Terima kasih... telah percaya padaku, bahkan di saat aku sendiri tidak percaya pada diriku sendiri."
Mayangsari menatap Tirta lama, lalu menggenggam tangan pemuda itu sejenak sebelum melepaskannya dengan wajah yang sedikit merona merah. "Kita saling menjaga, Tirta. Itulah arti sahabat... atau mungkin lebih."
Kalimat itu diucapkan Mayangsari dengan suara yang sangat pelan, namun cukup untuk membuat Tirta merasa bahwa setiap luka dan duka yang ia lalui, akhirnya menemukan tempat untuk berlabuh.