NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:20k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 32

Debu dari reruntuhan aula istana Wali Kota Chuwei perlahan mengendap, menyisakan kesunyian yang memekakkan telinga. Cahaya lentera yang tersisa bergetar lemah, memantulkan bayangan pilar-pilar emas yang patah dan lantai marmer yang retak seperti urat nadi yang terputus. Bau darah dan Qi yang terbakar masih menggantung di udara, menciptakan tekanan tak kasatmata yang membuat para prajurit biasa sulit bernapas.

Cao Yi berdiri tegak di tengah kehancuran itu, jubahnya berkibar pelan meski tak ada angin. Aura merah di matanya belum sepenuhnya padam, berdenyut samar seperti bara yang menunggu hembusan terakhir. Tatapannya tertuju pada Gubernur Lin dan Wali Kota Han Zao yang meringkuk di sudut aula yang tersisa, wajah mereka pucat pasi, keringat dingin membasahi dahi meski tubuh mereka gemetar tak terkendali.

Dengan langkah anggun namun sarat hawa maut, Cao Yi maju satu langkah. Lantai di bawah kakinya berderak lirih. Tangannya terangkat perlahan, jari-jemarinya yang lentik mulai menghimpun sisa Qi yang masih bergejolak di dalam meridiannya. Gelombang tekanan halus menyebar, cukup untuk membuat kedua pejabat itu menjerit tertahan, seolah tulang dan organ mereka ditekan oleh gunung tak terlihat.

“Hentikan, Yi’er!”

Suara tegas Raja Yan Liao menggema, menembus aura pembunuhan yang hampir meledak. Nada suaranya tidak tinggi, namun mengandung wibawa yang tak bisa diabaikan.

Cao Yi menghentikan gerakannya. Aura merah di matanya bergetar sesaat sebelum sedikit meredup. Ia menoleh, menatap kakak angkatnya dengan sorot mata yang masih menyimpan amarah membara.

“Mereka telah menumpahkan darah rakyatmu dan mencoba mencabut nyawamu, Kakak Raja,” ucapnya dingin. “Keadilan apa lagi yang harus ditunggu?”

Yan Liao melangkah maju melewati puing-puing pilar emas yang runtuh. Sepatu botnya menginjak serpihan batu tanpa ragu. Tatapannya tertuju pada dua pejabat yang kini bersujud gemetar, lalu beralih pada Cao Yi. Di balik wajahnya yang tenang, pikiran Yan Liao berputar cepat, menimbang setiap konsekuensi politik yang akan muncul.

“Kematian terlalu mudah bagi mereka saat ini,” katanya dengan suara rendah namun tajam. “Aku membutuhkan mereka tetap hidup. Penggelapan dana sebesar ini tidak mungkin dilakukan tanpa perlindungan kuat. Keberadaan Pendekar Guru Suci di pihak mereka adalah bukti bahwa tangan-tangan besar di istana pusat ikut bermain.”

Ia berhenti tepat di hadapan Gubernur Lin dan Han Zao. Sorot matanya menusuk seperti pedang.

“Aku yakin, beberapa Menteri Istana masih bermain api di belakang punggungku.”

Tubuh kedua pejabat itu ambruk sepenuhnya ke lantai.

“Ampun, Paduka Raja!” ratap Han Zao dengan suara parau.

“Kami hanya menjalankan perintah,” sambung Gubernur Lin terbata-bata, matanya dipenuhi ketakutan.

Yan Liao tidak menunjukkan sedikit pun belas kasihan.

“Hukuman mati adalah kepastian bagi kalian,” ucapnya datar. “Namun sebelum kepala kalian dipenggal, kalian akan membuka mulut. Semua nama. Tanpa terkecuali.”

Letnan Bai Wang melangkah maju dengan wajah kaku. Dengan satu isyarat tangan, pasukan elit segera bergerak. Rantai besi berat yang diukir dengan formasi penekan Qi dililitkan ke leher dan tangan kedua pejabat itu. Begitu besi menyentuh kulit, mereka menjerit kesakitan, meridian mereka langsung terkunci, bahkan untuk sekadar mengedarkan Qi pelindung pun mustahil.

Di sisi lain aula, Lu Ying berlutut di dekat jasad-jasad yang telah mengering seperti mumi. Bersama tiga pendekar wanita lainnya, ia memeriksa sisa-sisa pakaian dan benda yang melekat di tubuh para musuh. Ekspresinya mengeras ketika menemukan sebuah lambang kecil tersembunyi di balik jubah salah satu pendekar tingkat guru.

“Paduka Raja,” panggilnya sambil berdiri dan mengulurkan lambang itu. “Dugaan kita benar. Dua pendekar guru berasal dari Perguruan Sungai Bambu. Sedangkan yang satu lagi, Guru Suci itu, berasal dari Perguruan Giok Suci.”

Mata Yan Liao menyipit. Ingatan pahit sepuluh tahun lalu kembali menghantam benaknya.

“Keduanya adalah sekte yang membantu Paman Yan Jiayi dalam pemberontakan,” ucapnya dengan suara tertahan. Amarahnya kini tidak lagi meledak, melainkan mengental, berat dan berbahaya. “Ternyata sisa-sisa pemberontak masih bernapas, bersembunyi di balik jubah para pejabat korup.”

Ia mengepalkan tangan.

“Mereka tidak hanya merampok rakyat,” lanjutnya, “tetapi juga membangun kekuatan militer ilegal di bawah hidung kerajaan. Benang merah ini akhirnya menampakkan dirinya.”

Cao Yi menurunkan tangannya sepenuhnya. Aura pembunuhan di sekelilingnya perlahan menghilang, namun kilatan dingin di matanya menandakan satu hal.

—-

Keesokan harinya, wajah Kota Chuwei berubah total. Gerbang timur hingga barat dijaga ketat oleh pasukan kerajaan bersenjata lengkap. Menara pengawas dipenuhi pemanah, sementara patroli berkuda menyisir jalan-jalan utama tanpa henti. Di bawah perintah langsung Raja Yan Liao, seluruh akses keluar masuk kota ditutup rapat. Tidak satu pun kereta dagang diizinkan melintas, tidak pula seorang pejalan kaki boleh meninggalkan wilayah kota tanpa pemeriksaan ketat. Yan Liao tidak berniat memberi celah sekecil apa pun bagi sisa-sisa komplotan pengkhianat untuk melarikan diri.

Kabar tentang tindakan tegas sang Raja menyebar cepat, membuat warga yang semula bersembunyi di balik pintu rumah mulai mengintip dengan perasaan campur aduk antara takut dan berharap. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, mereka merasakan kehadiran kekuasaan yang berpihak.

Di alun-alun kota yang luas, sebuah panggung tinggi didirikan menghadap ribuan warga Chuwei. Spanduk kerajaan berkibar di atasnya, memantulkan cahaya matahari pagi. Yan Liao berdiri tegak di atas panggung, jubah kebesarannya jatuh rapi, sementara di sisi bawah panggung, Gubernur Lin dan Wali Kota Han Zao dipertontonkan di dalam kerangkeng besi. Wajah mereka kusut, pakaian mereka kotor, dan mata mereka kosong setelah semalaman interogasi tanpa henti.

“Rakyatku di Chuwei!” suara Yan Liao menggema, tegas dan penuh wibawa. “Selama ini kalian ditindas. Harta kalian dirampas dengan dalih pajak. Anak dan keluarga kalian diancam oleh pendekar bayaran yang berlindung di balik nama pejabat.”

Ia berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap ke hati setiap orang.

“Hari ini aku berdiri di sini untuk membuktikan bahwa takhta tidak pernah melupakan kalian.”

Suasana yang semula sunyi perlahan retak. Beberapa warga mulai berani maju. Suara-suara kecil berubah menjadi teriakan penuh amarah dan kepedihan. Mereka melaporkan kekejaman para kaki tangan pejabat, pemerasan yang berlangsung bertahun-tahun, serta ancaman yang memaksa mereka menunduk dalam diam.

Lu Ying turun langsung ke tengah kerumunan. Dengan sikap tenang dan bahasa yang mudah dipahami, ia membimbing warga satu per satu. Di tangannya terkumpul catatan pajak palsu yang disimpan diam-diam oleh para kepala keluarga, daftar nama saudagar yang bekerja sama dengan Han Zao untuk menimbun bahan pangan, serta bukti penjualan gandum kerajaan ke pasar gelap dengan harga berlipat. Setiap bukti yang diangkat ke hadapan publik seperti memotong satu lapis kebohongan yang selama ini menyelimuti kota.

Di saat perhatian seluruh kota tertuju pada alun-alun, Cao Yi bergerak dalam bayang-bayang. Meski dikenal sebagai Dewi Kematian, perannya kali ini jauh lebih senyap. Indra Qi-nya yang telah mencapai sepuluh tetes sempurna terbentang luas, menangkap getaran halus yang tak bisa dirasakan pendekar biasa. Ia menyusuri lorong-lorong kantor gubernur, menembus dinding rahasia dan formasi pengabur yang disusun dengan tergesa-gesa.

Di sebuah ruang bawah tanah tersembunyi, Cao Yi berhenti. Udara di sana terasa berat, sarat dengan aroma tinta tua dan kertas lembap. Di dalam peti besi yang disamarkan sebagai altar persembahan, ia menemukan setumpuk surat rahasia. Segel lilin merahnya masih utuh, terukir cap resmi milik salah satu Menteri Senior di ibu kota.

Malam harinya, di markas sementara kerajaan, Cao Yi menyerahkan surat-surat itu langsung kepada Yan Liao.

“Ini adalah benang merah yang Kakak Raja cari,” ucapnya datar. “Menteri Pertahanan memasok senjata dan memberikan perlindungan hukum bagi Perguruan Sungai Bambu dan Giok Suci agar bisa menetap dan membangun kekuatan di sini.”

Yan Liao membaca setiap lembar dengan teliti. Rahangnya mengeras, sorot matanya berubah gelap.

“Ternyata pengkhianatnya berada tepat di bawah hidungku,” katanya pelan namun beracun. “Chuwei hanyalah lumbung dana. Mereka menjarah kota ini untuk merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar di masa depan.”

Dengan bukti yang lengkap dan dukungan penuh dari warga kota yang kini berbalik memuja sang Raja, Yan Liao memulai pembersihan besar-besaran. Pasukan kerajaan bergerak cepat dan tanpa ampun. Setiap nama yang tercantum dalam catatan penggelapan dana ditangkap. Gudang-gudang rahasia disegel. Senjata ilegal disita sebelum sempat digunakan.

“Perjalanan ke Chuwei ini memberi kita lebih dari sekadar emas yang kembali ke kas negara,” ucap Yan Liao sambil menatap Cao Yi dan Lu Ying. “Ini adalah awal dari perang sesungguhnya. Perang melawan musuh yang bersembunyi di dalam selimut kekuasaan.”

Cao Yi mengalihkan pandangannya ke langit malam Chuwei. Awan hitam yang selama ini menggantung seolah telah tersibak, menyingkap bintang-bintang pucat di baliknya.

“Siapa pun yang menghalangi keadilan,” ucapnya pelan, “akan mencicipi dinginnya tanah. Aku akan memastikan itu.”

****

Satu-satu yang penting lancar dari pada di gas ujung-ujung macet, benar gak? Hehehe!

1
Mujib
/Good//Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
🤣🤣🤣🤣🤣
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
😅😅😅😅😅
Mujib
👀👀👀👀👀
Mujib
🤔🤔🤔🤔🤔
Mujib
🖕🖕🖕🖕🖕
Mujib
💪💪💪💪💪
Mujib
👍👍👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!