NovelToon NovelToon
LEGENDA DEWI KEMATIAN

LEGENDA DEWI KEMATIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Kutukan / Misteri / Iblis
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: adicipto

Dunia persilatan dipenuhi kepalsuan. Yang kuat menindas, yang lemah hanya bisa menunggu mati.

Dari kegelapan, muncul seorang gadis bermata merah darah, membawa kipas hitam yang memanen nyawa. Ia dikenal sebagai Dewi Kematian. Bukan pahlawan, bukan pula iblis, melainkan hukuman bagi mereka yang kejam.

Setiap langkahnya menebar darah, setiap musuhnya lenyap tanpa jejak. Namun di balik kekuatan terlarang itu, tersembunyi luka masa lalu dan takdir kelam yang tak bisa dihindari.

Ini bukan kisah penyelamatan.
Ini adalah legenda tentang kematian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon adicipto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPS 30

Roda kereta kayu terus berderit dengan irama yang nyaris menenangkan, membelah jalanan setapak yang perlahan melebar seiring rombongan kerajaan mendekati wilayah administrasi Kota Chuwei. Tanah di bawah roda sudah tidak lagi berupa lumpur desa, melainkan jalan yang dipadatkan dengan batu kerikil halus, pertanda bahwa mereka telah memasuki kawasan yang berada langsung di bawah pengawasan pemerintah daerah.

Di dalam kereta keempat, suasana terasa unik dan nyaris canggung.

Lu Ying duduk dengan punggung tegak, sikapnya sempurna sebagaimana calon Selir Utama seharusnya. Namun pandangannya terus berulang kali melayang ke arah Cao Yi. Di matanya, tidak ada sedikit pun keraguan atau kecanggungan, hanya binar penghormatan yang begitu dalam, seolah ia sedang berada di hadapan makhluk yang jauh melampaui batas manusia biasa.

Meskipun saat ini Cao Yi tampak seperti gadis remaja biasa dengan napas tenang dan wajah pucat alami, Lu Ying sama sekali tidak bisa melupakan hawa murni yang pernah ia rasakan beberapa hari lalu. Aura dingin yang mampu menghentikan aliran darah dan menekan jiwanya hingga nyaris runtuh masih terpatri kuat dalam ingatannya.

Ia juga memperhatikan satu hal yang semakin lama semakin terasa janggal.

Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei bersikap sangat protektif kepada Cao Yi. Setiap kali kereta berguncang, salah satu dari mereka akan refleks menggeser posisi, seolah takut tubuh Cao Yi terhantam dinding kereta. Tatapan mereka penuh kewaspadaan, namun kewaspadaan itu lahir dari anggapan bahwa Cao Yi hanyalah gadis muda tanpa kekuatan tempur.

Dari sanalah Lu Ying menyadari satu fakta yang membuatnya nyaris menahan senyum getir. Dia mengira ketiga pendekar ahli wanita ini sama sekali tidak mengetahui bahwa sosok yang mereka lindungi dengan sepenuh hati adalah Dewi Kematian yang namanya ditakuti di seluruh penjuru Liungyi.

Namun Lu Ying tidak tahu, jika ketiga Wanita itu sudah mengetahui seberapa hebatnya Cao Yi, hanya saja, dan sikap mereka hanya ingin memberikan pelayanan terbaik bagi Cao Yi agar merasa nyaman dalam perjalanan.

“Tuan Putri,” ucap Lu Ying akhirnya dengan suara yang sangat lembut, hampir seperti bisikan, sembari menundukkan kepala dalam-dalam ke arah Cao Yi. “Jika perjalanan ini membuat Anda merasa lelah, hamba memiliki beberapa teknik pernapasan ringan dari Perguruan Bukit Hijau. Teknik itu tidak membutuhkan tenaga dalam dan dapat membantu menyegarkan tubuh. Mohon Tuan Putri jangan sungkan memberitahu hamba jika ada yang terasa tidak nyaman.”

Ucapan itu membuat Meng Xin dan kedua rekannya saling berpandangan. Alis mereka bertaut tipis. Ada rasa heran yang sulit disembunyikan.

Di hadapan mereka, Lu Ying bukanlah wanita biasa. Ia adalah cucu dari pemimpin perguruan besar, putri seorang Pendekar Ahli yang gugur sebagai pahlawan, dan kini telah resmi diterima sebagai calon Selir Utama Raja. Namun sikapnya di hadapan Cao Yi justru terlalu rendah hati, bahkan lebih hormat daripada sikapnya kepada Permaisuri.

“Nona Lu, Anda tidak perlu berlebihan,” sela Tang Ruo dengan senyum tipis yang berusaha terdengar santai. “Nona Cao Yi memang adik angkat Paduka Raja, namun status Anda sekarang sangat tinggi. Di dalam kereta ini, Anda tidak perlu menyapa dengan sebutan seformal itu.”

Lu Ying menoleh ke arahnya, lalu tersenyum kecil. Senyum itu tenang, penuh makna, namun sama sekali tidak memberi celah bagi siapa pun untuk mengorek rahasia yang ia simpan rapat-rapat.

“Bagi saya,” jawabnya pelan, “Tuan Putri Cao Yi memiliki kemuliaan yang melampaui gelar apa pun. Menghormatinya bukan kewajiban karena status, melainkan ketulusan dari lubuk hati saya.”

Cao Yi yang sejak tadi memejamkan mata akhirnya membuka kelopak matanya perlahan. Tatapannya datar, dingin, namun tidak kosong. Ia melirik Lu Ying sesaat, seakan menilai keteguhan batin wanita itu. Di balik wajah tanpa ekspresi, ada secuil kilatan penghargaan yang nyaris tak terlihat.

“Terima kasih atas perhatianmu, Nona Lu Ying,” ucapnya singkat. “Simpanlah energimu. Kota Chuwei sudah dekat, dan udara di depan kita tidak sesegar yang terlihat.”

Ucapan itu membuat Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei terdiam. Entah mengapa, kata-kata Cao Yi terdengar seperti peringatan yang lahir dari insting tajam, bukan sekadar firasat kosong.

Beberapa hari kemudian, setelah melintasi perbukitan hijau dan jalur perdagangan yang semakin ramai, iring-iringan Raja Yan Liao akhirnya tiba di pinggiran luar Kota Chuwei.

Namun pemandangan yang menyambut mereka sama sekali tidak sesuai dengan harapan.

Gerbang kota yang seharusnya terbuka lebar justru tertutup. Di tengah jalan utama berdiri barikade kayu besar yang disusun kasar namun kokoh. Balok-balok kayu saling mengunci, diperkuat dengan besi dan tali tebal, jelas bukan barikade darurat.

Di belakangnya, berdiri sekitar seratus orang pria berbadan tegap mengenakan baju zirah baja hitam tanpa lambang kerajaan. Tombak-tombak panjang teracung rapi, sementara beberapa pemanah telah memasang anak panah di busur mereka, ujungnya mengarah lurus ke depan dengan sikap yang sama sekali tidak ramah.

Mereka bukan tentara kerajaan.

Mereka adalah prajurit bayaran elit, pasukan yang disewa khusus oleh Gubernur dan Wali Kota Chuwei untuk mempertahankan wilayah otonom mereka, bahkan dari Raja sendiri.

Ketegangan langsung menyelimuti barisan pengawal kerajaan. Beberapa prajurit refleks menggenggam senjata, sementara para kusir menahan kuda agar tidak bergerak lebih jauh.

Letnan Bai Wang memacu kudanya ke depan, wajahnya memerah oleh amarah yang meledak-ledak. Tatapannya tajam, penuh wibawa seorang kapten Pasukan Elit Istana.

“Buka jalan!” bentaknya lantang, suaranya menggema di udara pagi. “Apakah mata kalian sudah buta hingga tidak mengenali panji Naga Emas Kerajaan Liungyi? Di dalam rombongan ini adalah Paduka Raja Yan Liao yang sedang melakukan perjalanan dinas!”

Suara Bai Wang menggantung di udara, menunggu jawaban yang akan menentukan apakah Kota Chuwei masih tunduk pada takhta, atau justru telah berubah menjadi wilayah yang berani menentang kekuasaan pusat secara terbuka.

Seorang pria bertubuh gempal dengan bekas luka panjang di pipi kirinya melangkah maju dari balik barikade. Setiap langkahnya berat dan penuh keangkuhan. Ia meludah ke tanah tanpa sedikitpun rasa hormat, ludah itu jatuh tepat di jalur utama menuju gerbang kota.

“Siapapun yang ingin masuk ke Kota Chuwei harus melalui pemeriksaan kami dan membayar pajak keamanan wilayah,” katanya dengan suara serak yang dipenuhi ejekan. “Kami tidak peduli pada panji atau gelar dari ibu kota. Di sini, perintah Gubernur adalah hukum tertinggi.”

Ucapan itu jatuh seperti tamparan keras di wajah rombongan kerajaan.

Wajah Letnan Bai Wang langsung berubah merah padam. Urat di pelipisnya menonjol, dan aura kemarahannya melonjak tanpa bisa ditahan lagi. Ia menarik pedangnya keluar dari sarung dengan suara nyaring yang menggema di udara pagi.

“Lancang!” teriaknya penuh amarah. “Ini adalah pemberontakan secara terang-terangan!”

Ia mengangkat pedangnya tinggi-tinggi dan menunjuk ke arah barikade. “Pasukan Elit! Hancurkan penghalang ini! Bersihkan jalan untuk Yang Mulia!”

Perintah itu menjadi pemantik neraka.

Benturan senjata meledak hampir bersamaan. Seratus prajurit bayaran itu bergerak maju dengan teriakan kasar. Mereka bukan gerombolan preman biasa. Banyak dari mereka adalah Pendekar Tingkat Terlatih, memiliki dasar bela diri yang kasar namun kuat, ditempa dari pertempuran jalanan dan tugas-tugas kotor yang tidak mengenal belas kasihan.

Tombak bertemu pedang. Anak panah melesat di udara. Barisan depan Pasukan Elit istana sempat terdorong mundur beberapa langkah akibat tekanan jumlah dan kebrutalan serangan musuh. Debu beterbangan, suara logam beradu menggema tanpa henti.

Di tengah kekacauan itu, pintu kereta keempat terbuka dengan cepat. Empat sosok wanita melesat keluar bagai kilat.

Meng Xin bergerak paling depan, pedang tipisnya menari dengan kecepatan yang sulit diikuti mata. Setiap tusukan tepat sasaran, mematikan tanpa gerakan sia-sia. Tang Ruo menyusul dari sisi kiri, senjatanya membentuk lengkungan cahaya dingin yang memaksa lawan mundur sambil menjerit kesakitan. Qing Fei menutup sisi kanan, langkahnya mantap dan presisi, mematahkan formasi musuh dengan pukulan dan tebasan yang terukur.

Di antara mereka, Lu Ying maju tanpa ragu. Ia menghunuskan pedang peninggalan ayahnya. Aura hijau khas Perguruan Bukit Hijau langsung meledak keluar dari tubuhnya, tajam dan murni, seperti angin pegunungan yang membawa maut. Matanya menyipit fokus, setiap gerakannya penuh disiplin dan kehormatan seorang pendekar sejati.

“Berani menghalangi jalan rombongan Tuan Putri,” serunya lantang, suaranya menusuk di tengah hiruk pikuk pertempuran. “Kalian benar-benar mencari mati!”

Tebasan pertamanya membelah barisan depan prajurit bayaran. Dua orang langsung terpental dengan dada terbelah, darah memercik ke tanah sebelum mereka sempat berteriak. Aura hijau menyapu ke depan, membuat lawan-lawannya gemetar ketakutan.

Beberapa prajurit bayaran tertegun. Mereka menyadari satu hal yang janggal. Lu Ying sama sekali tidak menyebut nama Raja. Ia justru menyebut Tuan Putri. Sebuah isyarat yang jelas bahwa dalam hatinya, Cao Yi atau sosok Dewi Kematian yang tersembunyi di baliknya jauh lebih layak dihormati daripada penguasa takhta.

Pertempuran berubah sepihak, Meng Xin, Tang Ruo, dan Qing Fei bergerak seperti satu kesatuan sempurna. Mereka saling menutup celah, menyerang tanpa ragu, mematahkan semangat tempur musuh sedikit demi sedikit. Prajurit bayaran yang mencoba mendekati kereta Raja langsung tumbang satu per satu, tubuh mereka terhempas ke tanah tanpa kesempatan bangkit kembali.

Lu Ying bergerak dengan keanggunan seorang penari. Setiap langkahnya ringan, setiap ayunan pedangnya mematikan. Tidak ada teriakan sia-sia, tidak ada ampun. Ia menebas, menusuk, dan melumpuhkan dengan ketegasan seorang pewaris perguruan besar yang menanggung dendam dan kehormatan sekaligus.

Dalam waktu kurang dari satu jam, perlawanan itu runtuh total. Seratus prajurit bayaran kocar-kacir. Banyak yang tergeletak di tanah dengan luka parah, merintih di antara debu dan darah. Sisanya melarikan diri ke arah gerbang kota dengan wajah pucat penuh ketakutan, tidak lagi memiliki nyali untuk bertahan.

Letnan Bai Wang memimpin Pasukan Elit menghancurkan barikade kayu. Balok-balok besar dipotong dan ditendang hingga hancur berkeping-keping, membuka jalan lurus menuju Kota Chuwei.

Raja Yan Liao akhirnya keluar dari keretanya, ia berdiri tegak, jubah kerajaannya berkibar tertiup angin. Tatapannya dingin saat menyapu mayat-mayat prajurit bayaran yang berserakan. Tidak ada rasa puas, tidak ada pula keraguan. Yang ada hanya kemarahan sunyi dan kesadaran pahit.

Korupsi di Kota Chuwei telah membusuk hingga ke akar. Mereka bahkan berani menyewa tentara pribadi untuk menentang takhta secara terbuka.

Di belakangnya, Cao Yi melangkah turun dengan tenang. Ia tetap dalam wujud manusianya yang terlihat lemah dan tidak berbahaya. Namun tatapannya tertuju lurus ke arah gerbang kota yang menjulang di kejauhan. Di balik mata hitamnya, tersimpan kewaspadaan tajam seperti pisau yang diasah perlahan.

Ia tahu betul. Bentrok di pinggiran ini hanyalah hidangan pembuka. Sebuah ujian, atau mungkin peringatan halus dari Wali Kota dan Gubernur Chuwei tentang apa yang menanti mereka di dalam kota.

“Selamat datang di Chuwei, Kakak Raja,” ucap Cao Yi lirih, hampir seperti gumaman. “Tampaknya penguasa kota ini sedang menunggu kita dengan pisau yang disembunyikan di balik jubah sutranya.”

1
algore
joz
algore
jos
Dania
misi
algore
tumben cuma sedikit babnya hehe
Mujib
/Good//Good//Good//Good/
Mujib
/Pray//Pray//Pray//Pray/
Mujib
/Rose//Rose//Rose//Rose/
Mujib
/Wilt//Wilt//Wilt//Wilt/
Mujib
/Sun//Sun//Sun//Sun/
Mujib
/Heart//Heart//Heart//Heart/
Mujib
/Drool//Drool//Drool//Drool/
Mujib
/Angry//Angry//Angry//Angry/
Mujib
/CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy//CoolGuy/
Mujib
/Casual//Casual//Casual//Casual/
Mujib
/Frown//Frown//Frown//Frown/
Mujib
/Smile//Smile//Smile//Smile/
Mujib
😅😅😅😅
Mujib
/Coffee//Coffee//Coffee//Coffee/
Mujib
🤣🤣🤣🤣
Mujib
👀👀👀👀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!