AKU baru saja pulang dari medan perang dengan membawa kekalahan pihak musuh di genggaman tangan mendadak dikejutkan oleh kemunculan seorang anak perempuan kecil berumur lima tahun dari dalam karung goni milik salah satu perompak yang menghalangi jalan. Rasa terkejutku bukan karena sosoknya yang tiba-tiba muncul melainkan perkataan anak itu yang memanggilku Ayah padahal aku tidak pernah berhubungan dengan wanita manapun. Apakah ini salah satu trik konyol musuhku? Sebab anak itu sangat mirip denganku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bwutami | studibivalvia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 6: the death penalty
KEPALA mungil yang menyembul di celah pintu membuatku menopang dagu, malas. Dia telah berdiri di sana dan mengintip semenit lalu sejak aku menyuruhnya masuk. Namun, yang dia lakukan hanyalah mengedarkan pandangan ke dalam ruang kerja, berpikir bahwa kehadirannya mungkin tidak terdeteksi. Padahal sejak sepasang kaki mungil itu berdiri di depan pintu, dia sudah ketahuan.
Jarak meja kerja dengan pintu masuk memang tidak terlalu dekat tetapi juga tidak terlalu jauh. Hanya saja tubuh kecil dengan jangkauan pandangan yang terbatas itu mungkin tidak mampu melihatnya. Aku memaklumi karena sejak tadi, dari balik meja kerja, yang dapat kulihat adalah bagian atas kepalanya yang bergerak-gerak.
“Kau yang ke sini atau aku yang menyeretmu.”
Dia sertamerta berlari setelah menutup pintu. Namun, meskipun anak itu telah berdiri di depan meja kerja, tubuh mungilnya tetap tidak terlihat. Aku tidak tahu apakah karena dia berdiri terlalu dekat dengan meja atau karena tubuhnya memang terlalu pendek sehingga yang nampak hanya bagian rambut atas kepala Elora yang berwarna kuning.
“Papa memanggil El?”
“Aku sudah memanggilmu sejak tadi. Apa yang kau lakukan?”
“Itu ….”
Aku seperti berbicara dengan rambut kuning yang melayang-layang di udara. Maka mengembuskan napas panjang, berkata, “Kemari.” Tetapi, bagian atas kepalanya hanya menoleh bergantian ke kiri dan ke kanan sehingga mau tidak mau aku berbicara lagi, “Berjalanlah ke samping meja.”
Dress berwarna kuning senada dengan sepatu bot kecil dan pitanya adalah hal pertama yang memenuhi pandangan ketika aku memutar kursi agar saling berhadapan. Setelah dua hari tidak makan siang bersama karena mengurus Petunia, pipi Elora mulai membengkak seperti roti. Tubuhnya sedikit berisi, terlihat jauh lebih baik dari sebelumnya.
Aku menyilangkan kaki, menopang dagu, lalu berkata, “Hari ini kau terlihat seperti tai.”
Namun, dia malah tertawa dan membalas, “El juga lindu Papa!”
Aku menyeringai. “Hamon mana?”
“Dia bilang mau membawakan El pelmen dan puding cokelat!” katanya dengan wajah semringah seraya mengangkat kedua tangan tinggi-tinggi.
Bersamaan dengan selesainya kalimat Elora, pintu ruang kerja diketuk. Hamon menampakkan diri sambil memegang sekeranjang penuh kudapan ringan dan permen besar di tangan kanan. Dia menunduk hormat setelah menutup pintu. “Maaf atas keterlambatan saya, Yang Mulia.”
“Kebetulan sekali kau datang.” Atensiku kembali pada Elora yang sedang mengintip dari jendela kaca ke arah luar. “Kau mau melihat pertunjukan bersama?”
Dia menoleh. “Peltunjukan?”
“Ya.” Aku menyeringai. “Itu pertunjukan yang sangat seru dan menarik.”
Dia terlihat berpikir keras dengan kedua tangan mungil yang terlipat di depan dada. “Um, jika itu belsama Papa, maka, ya!”
Hamon bersama Elora berjalan selangkah di belakang diikuti dengan barisan satu regu ksatria yang terdiri dari tiga belas prajurit. Kami berjalan menuju tempat eksekusi mati yang diadakan di lapangan khusus dekat dengan penjara. Luas lapangan tersebut adalah 50x50 meter dengan pembagian dua zona: area publik dan area eksekusi. Penerima hukuman mati akan berbaris menunggu giliran di lorong yang menghubungkan bangunan penjara dan lapangan.
Sebab diadakan terbuka, maka siapapun yang berada di Adenium bebas menonton. Area publik didesain mengitari lapangan, berbentuk lingkaran yang dipisah menjadi dua setengah lingkaran. Setengah lingkaran pertama dibangun dengan pondasi yang lebih tinggi dan merupakan tempat khusus anggota kekaisaran dan orang-orang berstatus tinggi sementara setengah lingkaran lainnya adalah tempat para pekerja dan orang-orang yang berasal dari golongan bawah.
Hanya terdapat dua kursi yang disediakan di area penonton khusus. Aku memintanya seperti itu karena ini adalah pertunjukan spesial bagi putriku, Elora. Setelah Hamon mendudukkannya di kursi, aku lantas duduk di singgasana kaisar diikuti oleh satu regu ksatria yang berbaris di samping kiri dan kanan.
Di depan sana, peralatan eksekusi telah siap. Bilah besi tajam yang digantung di balok kayu dan terhubung dengan tali. Terdapat susunan papan yang dibuat seperti panggung. Di tengahnya terdapat besi berbentuk cekung yang nantinya akan digunakan untuk meletakkan leher seorang pendosa sehingga ketika tali yang terhubung dengan kapak diputus, sisi tajam besi itu memotong leher dengan tepat.
Empat orang petugas berpakaian serba putih yang sebelumnya berdiri di tengah-tengah lapangan membungkukkan badan. Salah seorang di antara mereka berteriak, “HUKUMAN MATI UNTUK PEMBUNUH YANG MULIA PUTRI TELAH SIAP DILAKSANAKAN!”
Aku mengangguk. Suara gong yang dipukul diikuti instrument alat musik menjadi penanda pemanggilan orang yang mati terpenggal hari ini. Sudut bibirku terangkat ketika dari kejauhan pembunuh itu muncul dari dalam lorong. Dia masih mengenakan pakaian yang sama saat Hamon menangkapnya kemarin. Kedua tangannya diikat ke belakang sementara dua orang ksatria mengawalnya di sisi kanan dan kiri.
Tarikan pelan di lengan baju membuatku menoleh. “Em, … Papa?” Dia nampak gugup dan beberapa kali melirik bagian bawah gaunnya sementara Hamon yang berdiri selangkah di belakang Elora juga memasang ekspresi tidak nyaman.
“Yang Mulia–”
“Berikan dia puding cokelat.” Hamon melirik Elora ragu tetapi aku melanjutkan, “Dia menyukai makanan lembek itu.”
Hingga makanan kesukaannya telah berada di tangan, Elora tetap terlihat resah. Maka aku yang melihatnya segera mengembuskan napas pelan sebelum tanganku bergerak perlahan membelai kepalanya dengan penuh kasih sayang. “Tidak apa-apa. Makanlah sambil melihat orang itu dipenggal.”
Pria itu telah berdiri di depan alat eksekusi mati. Dua orang ksatria yang mengawalnya segera mundur ke belakang ketika petugas eksekusi mati mengambil alih. Dari kejauhan, aku dapat melihat tubuhnya gemetar. Lalu, saat petugas mendorongnya ke depan, dia menjatuhkan diri dengan bertumpu di lutut.
“YANG MULIA! HAMBA MOHON BELAS KASIH ANDA!”
Dua orang petugas segera memaksanya berdiri sebelum menyeret pria itu menaiki tangga kayu. Hingga ketika dia telah tiba di atas panggung kematian, petugas yang sejak tadi menunggunya segera memaksa pria itu berlutut dan memosisikan lehernya di besi cekung. Bilah besi yang berkilauan terkena matahari dan ekspresi wajahnya yang penuh dengan ketakutan adalah perpaduan menarik yang melengkapi pemandangan indah hari ini.
“Em, … Papa?”
Panggilan pelan Elora membuatku menoleh. Tangan kanannya yang bersebelahan dengan tangan kiriku sedang mencengkram kuat lengan bajuku. Sedangkan tangan kirinya yang memegang puding cokelat belum dia sentuh sama sekali. Bibirnya terbuka lalu tertutup, seolah ingin mengatakan sesuatu, tetapi tak bisa. Yang dia lakukan hanyalah menatapku resah lalu menundukkan kepala.
“Jangan alihkan pandanganmu. Kau akan menyesal.”
“Yang Mulia.” Suara pelan Hamon membuatku melirik. “Yang Mulia Putri pasti sangat ketakutan. Tolong pikirkanlah kembali, Yang Mulia.”
“Tenang saja. Ini akan menjadi pengalamannya yang berharga.” Atensiku kembali pada Elora, berkata, “Tak usah takut. Papa di sini.”
Dia menegakkan tubuh, memaksakan diri untuk terus melihat ke depan meski puding cokelat yang dia pegang ikut bergetar, nyaris tumpah. Tangan mungil yang mencengkram lengan bajuku tidak dia lepas, malah semakin dia perkuat. Aku membiarkan Elora melampiaskan ketakutannya dan mengembalikan atensi pada proses eksekusi yang sementara berlangsung.
Petugas yang berdiri di panggung kematian memberi kode kepada petugas yang berdiri di dekat tumpuan tali. Dia mengangguk, menerima kode sebelum tangannya terulur memotong tali yang menghubungkan benda di atas. Kejadian itu berlalu dengan sangat cepat. Ujung mata kapak yang terlhat mengkilap diterpa cahaya mentari jatuh ke bawah sebagai akibat dari gaya grafitasi bumi. Dengan kecepatan yang tak berubah, benda itu jatuh tepat memutus leher pembunuh bayaran.
Darah terhambur hingga mengotori hampir seluruh baju petugas yang berdiri di panggung kematian sementara ketiga petugas lainnya terkena cipratan di bagian depan. Di detik berikutnya, kepala pembunuh tersebut ditendang hingga jatuh dan menggelinding ke tanah. Darah yang berasal dari luka leher yang terbuka lebar merembes lalu menetes melalui sela-sela papan.
Aku menyeringai setelah proses eksekusi selesai dengan khidmat. Rasanya menyegarkan ketika melihat cairan merah tersebut menyembur dengan indah seperti air mancur. Ketika merasa cengkraman di lengan bajuku mengendur, aku refleks menoleh. Puding cokelatnya telah jatuh ke lantai entah sejak kapan, wajahnya pucat, dan seluruh tubuhnya bergetar hebat. Jari-jari mungil yang semula menggenggam lengan bajuku berubah warna menjadi sangat putih seperti tidak dialiri darah.
Dia perlahan menoleh dan menatapku dengan tatapan yang terguncang. Bibirnya terbuka sedikit, tetapi tidak ada suara yang terdengar, tetapi aku tahu dia sedang memanggilku. Seolah tidak peduli dengan kondisinya, aku bertanya sembari mengangkat sudut bibir ke atas, “Pertunjukan hari ini sangat hebat, bukan?”
Namun, yang terdengar selanjutnya bukan jawaban atas pertanyaanku melainkan panggilan “Papa” yang sangat pelan nyaris berbisik sebelum tubuh mungil itu jatuh dari kursi dan diikuti oleh teriakan Hamon yang terdengar frustasi.[]
ya ampun.... elora
detil sekali penjelasannya
butuh siraman cinta agar lebih melunak