"menikah, atau kamu kami coret dari daftar pewaris?"
"tapi dia gila mah,"
.........
Narendra meradang saat jalinan kasihnya selama bertahun-tahun harus kandas dan berakhir dengan menikah dengan perempuan pilihan orang tuanya.
Reyna, putri konglomerat yang beberapa tahun belakangan di isukan mengidap gangguan jiwa karena gagal menikah adalah perempuan yang menjadi istri Narendra.
tak ada kata indah dalam pernikahan keduanya, Naren yang belum bisa melepas masa lalunya dan Rayna yang ingin membahagiakan keluarga nya di tengah kondisi jiwanya, saling beradu antara menghancurkan atau mempertahankan pernikahan.
apakah Naren akhirnya luluh?
apakah Rayna akhirnya menyerah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kyky Pamella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MPG_21
Pernikahan itu sekali seumur hidup. Pasangan yang kamu pilih adalah pasanganmu sampai mati. Salah atau benar, dialah pasanganmu.
Sejak hari aku menyetujui untuk menikah dengan Narendra, tak pernah sekalipun terlintas di benakku niat untuk mempermainkan sebuah pernikahan. Meski aku harus mengikat janji dengan seseorang yang bahkan belum pernah kutemui sebelumnya, aku percaya satu hal. takdir tak pernah salah alamat.
Baik atau buruknya Narendra, ia adalah suamiku. Imam dalam mahligai hidupku. Menjaga marwahnya di hadapan orang lain adalah kewajibanku. Bahkan ikut menyembunyikan hubungan terlarangnya—sesuatu yang seharusnya tak pernah menjadi tugasku—kuanggap sebagai salah satu bentuk ikhtiarku menjaga kehormatan pernikahan ini.
Klik.
Suara pintu terbuka terdengar lirih namun jelas di telingaku. Tak perlu menoleh, aku tahu siapa yang baru saja masuk. Narendra.
Namun aku terlalu lelah. bukan raga, melainkan hati. bahkan untuk sekadar bangkit dan menyambutnya. Aku memilih tetap merebahkan diri di sofa ruang tengah, menatap layar televisi tanpa benar-benar memperhatikan apa yang sedang tayang.
"Assalamu’alaikum," ucapnya.
"Wa’alaikum salam," jawabku singkat.
Dadaku terasa seperti diguyur air seember saat mendengar nada suaranya. Tidak ketus. Tidak dingin. Suaranya terdengar halus, sangat halus seperti tidak pernah makan gorengan.
"Maaf nunggu lama," lanjutnya sambil mendekat.
"Ini salepnya." Ia menyodorkan sebuah kantong plastik kecil berlogo apotek.
"Terima kasih," ucapku, mengulum senyum sekilas kemudian kembali mengalihkan pandangan. hati ku masih dongkol
Padahal, sejujurnya, aku tak lagi membutuhkan salep itu. Nyeri di tubuhku mungkin sudah berkurang, tapi justru luka di hatiku yang masih menganga basah. Jauh lebih perih. meskipun aku sudah menerima kabar dari Ardi. bahwa ia dibantu Bayu dan Bagas sudah bisa mengatasi masalah penthouse itu. tapi intinya kan, Narendra benar-benar jadi membelikan gundik itu.
"Aku masak nasi uduk sama balado tongkol," kataku sambil bangkit berdiri. "Ada di meja makan. Kalau mau, makan aja." Aku melangkah menuju kamar. tak mau ambil pusing tentang ia mau makan atau tidak. tak seperti biasanya, yang selalu berharap agar masakan ku di sentuh oleh tangan dinginnya itu
Sampai hari ini, Narendra tak pernah benar-benar menyentuh masakanku. Selalu ada alasan. tak lapar, sudah makan di luar, atau sekadar diam tanpa jawaban. Entahlah. Kadang aku berpikir, mungkin ia takut aku mencampurinya dengan racun atau jampi jampi jaran goyang.
Namun kali ini aku tak memaksa. Tak merayu. Tak berharap.
"Na," panggilnya tiba-tiba.
Aku berhenti melangkah. Alisku mengernyit. Sejak kapan ia memanggilku begitu? Na adalah panggilan baru yang ku dapatkan dari papahnya yang berarti adalah palah mertua ku. tapi kenapa tiba-tiba ia ikut-ikutan?
Aku berbalik. "Iya?"
"Tadi aku ketemu Mas Raka," katanya. "Kenapa kamu nggak pernah bilang kalau Grand Insumo itu punya keluarga kamu?"
Aku menatapnya sekilas, lalu meraih gagang pintu kamar. "Kamu juga nggak nanya. Buat apa aku cerita? Nanti dikira pamer." jawabku sembari menutup pintu kamar
Jam menunjukkan pukul satu dini hari saat rasa haus membangunkanku. Aku melangkah ke dapur, rumah terasa sunyi. Lampu-lampu temaram menciptakan bayangan panjang di lantai marmer yang dingin.
Saat melewati meja makan, ada sesuatu yang terasa berbeda. Aku berhenti.
Kosong.
Aku bergegas mendekat. Meja yang tadi kupenuhi dengan nasi uduk, balado tongkol, lalapan, dan sambal kini bersih. Tak ada sisa. Bahkan piring kotor pun tak terlihat.
Aku berbalik ke dapur. Rak piring rapi, peralatan makan sudah tercuci bersih dan tertata seolah tak pernah digunakan.
"Eh-hem."
Aku terlonjak. Jantungku nyaris copot. Syukurlah aku bukan tipe orang yang menjerit histeris saat kaget. Narendra berdiri di sana.
Aku refleks gelagapan mencari jilbabku. Seingatku tadi kusampirkan di pundak. Namun kini tak ada.
"Cari ini?"
Aku tercekat. Jilbabku ada di tangannya.
Dengan gerakan cepat, aku menyambarnya dan langsung memakainya.
"Wisss… santai dong, Buk," katanya terkekeh. dan sialnya, wajah tengil nya itu membuat ia semakin tampan.
"Aurat," jawabku ketus.
Narendra manyun. "Aku udah pernah lihat yang lebih dari ini, kalau kamu lupa," ujarnya sambil menaik-turunkan alis. demi dewa, dia benar-benar tengah menggoda ku.
"Apaan sih," dengusku sambil berlalu ke meja makan. aku blingsatan menyembunyikan rona pipiku yang jelas pasti sudah memerah.
Ucul banget sih suami gue, jadi pengen dipuk-puk, jerit batinku meruntuki iman ku yang lemah ini.
"Gimana? Salepnya manjur?" tanyanya sambil menarik kursi dan duduk di hadapanku.
"Lumayan," jawabku singkat.
"Masakan kamu enak."
Aku menatapnya. "Kamu makan? Kirain dibuang."
"Na." panggilnya seolah tak suka aku berkata demikian
"Apa?"
"Aku boleh panggil kamu Na kayak Papah? biar Lebih gampang aja." ucapnya tanpa beban
Aku mengangkat bahu. "Boleh. Terserah kamu."
Kami terdiam. suasana kembali hening. Hanya suara kulkas dan detik jam dinding yang menemani. Ini pertama kalinya kami duduk berhadapan dengan tenang. tanpa pertengkaran, tanpa perjanjian, tanpa syarat dan tuntutan.
"Ya udah, Mas. Aku balik ke kamar dulu. Ngantuk," pamitku.
"Iya," katanya. Lalu menambahkan, "Eh, besok pagi buatin sarapan dua porsi ya. Aku mau sarapan di rumah."
Aku mematung. apakah aku salah dengar?
"Na," panggilnya lagi. "Kok diem? Masak dua porsi ya. eh, tapi kalau kamu lagi capek ya udah deh. gak usah, gak papa, " ralatnya cepat seolah takut mendengar jawaban ku
Aku menatapnya lurus. Perubahan sikap ini terlalu mendadak. Terlalu ekstrem. Dan itu justru membuatku waspada.
"Mas," kataku pelan. "Kamu sehat? Kamu minum obat perangsang lagi?" aku kembali berjalan mendekat
Alisnya bertaut. "kenapa, Kok nanyanya gitu?"
"Soalnya kamu aneh. Tiba-tiba baik banget. Jujur aku malah takut. Kamu lagi ngerencanain apa? gak sabar, pengen nyingkirin aku? " tanyaku waspada
Ia tertawa lepas. "Kamu kebanyakan nonton sinetron."
Saat ia menyibak rambutnya, dadaku terasa sesak. Rambutnya yang biasanya kaku oleh gel kini jatuh alami. Setiap gerakannya terasa menyentuh sesuatu di dadaku. Kenapa yang disibak rambutnya justru hatiku yang porak poranda.
"Aku cuma mau kita gencatan senjata," ucapnya kemudian. Wajahnya kembali serius.
"Emang kapan aku pernah angkat senjata buat lawan kamu?"
"Bukan gitu. Aku sadar aku jahat ke kamu. Padahal kita sama-sama korban." nada suaranya terdengar semakin lirih dan halus
Aku kembali duduk, menata jarak agar tepat berhadapan dengannya.
"Mas," kataku lirih namun tegas. "Menurut kamu, Allah yang Maha Pengasih tega mengorbankan hamba-Nya?"
Aku condongkan tubuhku. "Takdir manusia sudah ditulis jauh sebelum langit dan bumi diciptakan. Pernikahan kita, alasan di baliknya—semua sudah tercatat. Kamu boleh menganggap diri kamu korban. Tapi aku memilih menjadikan pernikahan ini ladang ibadah."
Narendra terdiam.
"Kamu nggak perlu berubah jadi baik begini," lanjutku. "Aku akan tetap menjaga rahasia kamu dan Ajeng. Aku akan jaga marwah suamiku. Kamu bisa pegang omongan aku."
Aku berdiri. "Kalau nggak ada lagi yang perlu dibahas, aku tidur. Dan soal empat syarat yang tersisa—lupain aja."
Aku melangkah pergi, meninggalkannya di meja makan. Tanpa menunggu jawaban. Tanpa menolehnya lagi.
plisss dong kk author tambah 1 lagi