“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Sorry, ya. Kamu mending sama adikku saja, Ning. Dia lebih cocok sama kamu. Kalian selevel, beda sama aku. Aku kerja kantoran, enggak level sama kamu yang cuma tukang ojek," sambungnya semakin merendahkan.
"Kamu bakal nyesel nolak aku, Wi. oke. Aku melamar Ning."
Yuda tersenyum lebih lembut pada gadis yang tak sempurna itu. Gadis berwajah kalem yang kakinya cacat karena sebuah kecelakaan.
"Ning, ayo nikah sama Mas."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon uutami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1 - Diremehkan, Kunikahi saja adiknya
“Kamu mau lamar aku cuma dengan modal motor butut itu?”
Nada suara Dewi tajam, nyaris seperti pisau yang sengaja diasah. Tangannya terlipat di dada, dagunya terangkat, matanya meneliti Yuda dari ujung kepala sampai ujung kaki—seolah sedang menilai barang diskonan di etalase.
"Kamu tadi kemari naik itu, kan?"
Yuda terdiam sejenak. Ia menarik napas pelan, lalu menoleh ke arah halaman rumah. Di sana, motornya terparkir miring—catnya kusam, joknya sudah retak di beberapa sisi. Motor tua itulah yang tadi mengantarnya ke rumah wanita idaman.
“Iya,” jawab Yuda akhirnya, suaranya tenang. “Tapi...”
“Hah!” Dewi tertawa kecil, penuh ejekan. “Enggak tau malu banget ya? Apa kerjaan kamu?”
Yuda membuka mulutnya hendak menjawab, tapi Dewi sudah memotong lagi.
"Ojek?" Tatapan mata Dewi makin merendah. "Kamu dengan modal kek gini mau nglamar aku?"
Pak Hasto yang sejak tadi duduk di kursi kayu di sudut ruang tamu menghela napas panjang. Wajahnya menegang. “Dewi, jaga ucapanmu.”
“Loh, salah aku apa, Yah?” Dewi mendengus. “Aku cuma realistis. Masa aku dinikahi tukang ojek? Hidupku mau dibawa ke mana?”
Yuda menggenggam lututnya, berusaha tetap duduk tegak.
“Kamu... Siapa tadi namamu, anak muda?” tanya Pak Hasto.
"Yuda, Pak. Yuda Prayitna."
Pak Hasto mengangguk paham. "Jadi, kamu berniat untuk melamar anakku?"
Yuda mengangguk.
Pak Hasto memperhatikan pemuda yang baru pertama dia temui ini. Dari kasat mata, dia terlihat tampan, muda, bersih, wajahnya tegas.
"Di mana kamu kenal anakku Dewi? Kenapa ingin melamar anakku?"
Yuda membuka mulut lagi, hendak menjawab, tapi udah keduluan suara lain.
"Ya jelaslah di jalan. Pasti dia biasa mangkal di depan kantor tempat Dewi kerja." Suara Bu Sumi, istri Pak Hasto, ibu dari Dewi. "Pasti dulu dia pernah anter Dewi. Lihat aja jaket ojol ijo itu."
“Benar, Buk. Aku emang agak familar sama wajahnya, tapi...” Dewi memotong cepat. “Aku yakin dia salah satu ojol yang mangkal di depan kantor. Aku enggak mau. Malu sama teman-teman kalau sampai mereka tau aku dilamar sama tukang ojek online.”
Pak Hasto memukul ringan sandaran kursinya. “Cukup, Dewi!”
Dewi mendecak, namun tetap bersuara, “Pokoknya aku menolak, Yah. Jelas-jelas menolak. Aku enggak mau hidup susah sama tukang ojek online yang kebelet kawin.”
Suasana hening sejenak. Di saat itulah pintu dapur terbuka perlahan.
“Permisi… Minumnya, Yah.”
Seorang gadis keluar membawa nampan berisi teh hangat dan beberapa gorengan. Langkahnya sedikit tertatih, kaki kirinya terlihat kaku. Ia menunduk sopan, hendak meletakkan hidangan di meja.
“Ning,” panggil Pak Hasto lembut. “Taruh saja di sini.”
Ningsih—atau Ning—mengangguk pelan. Gadis itu memakai jilbab sederhana yang warnanya hampir pudar, wajahnya bersih tanpa riasan. Tatapannya kalem, teduh, seperti danau di pagi hari. Yuda tak sengaja memperhatikannya lebih lama dari yang seharusnya.
“Ah, pas banget nih!” Dewi tersenyum miring. “Daripada aku, mending kamu nikah sama dia aja.”
Ning terhenyak. Tangannya gemetar kecil.
“Apa maksudmu, Wi?” tanya Pak Hasto tegas.
“Ya maksudku jelas, Yah.” Dewi melirik Ning sambil tertawa kecil. “Ning kan anak ayah juga. Walau kita beda ibu, tapi kan tetep anak ayah juga, kan?” Ia mengangkat bahu. “Dan aku rasa tuh, mereka cocok. Dari segi manapun. Lihat deh, satu tukang ojek, satu gadis pincang, hahaha. Sama-sama enggak punya masa depan. Cocok banget!”
“Dewi!” suara Pak Hasto meninggi. “Kamu keterlaluan! Ning itu adikmu!”
Yuda menoleh ke arah Ning. Gadis itu menunduk, matanya terarah ke lantai. Wajahnya tetap tenang, tapi ada luka yang tak kasatmata di sana. Yuda merasakannya.
Dewi yang tadi tertawa, kini diam merapatkan bibit. Tatapan mata Pak Hasto terasa sangat menghunus tajam.
"Tapi, apa yang Dewi bilang ada benarnya. Mending sama Ning saja," ucap Bu Sumi terdengar bijak. "Jadi enggak timpang. Kalau Dewi, dia lebih pantas sama yang selevel sama dia. Bukan tukang ojek online."
Pak Hasto memejamkan mata sejenak. Lalu menatap Yuda lagi.
“Kenapa kamu mau melamar Dewi, Nak Yuda?” tanya Pak Hasto, berusaha mengalihkan suasana.
Yuda membuka mulut, tapi belum sempat menjawab—
“Ya jelas karena aku cantiklah, Yah,” Dewi menyela sambil menyeringai. “Kerja kantoran, masa depan cerah. Wajar dong kalau tukang ojek kayak dia ngincer aku.”
Yuda mengepalkan tangannya, lalu mengendurkannya kembali. Ia menatap Dewi lurus-lurus. “Sebenarnya... Saya punya alasan lain...”
“Lah, emang kenyataannya begitu,” Dewi tertawa lagi. “Aku bukan level kamu. Nikah sama Ning aja. Dia pincang, kamu miskin. Cocok.”
Plak!
Pak Hasto menepuk meja. Tangannya gemetar menahan amarah. “Dewi! Jaga mulutmu! Ning pincang juga karenamu!”
Dewi terdiam, tapi senyum sinisnya belum hilang. Ning hanya diam menunduk.
Yuda berdiri perlahan. Dia memang sedari tadi menahan diri walau terus direndahkan. “Terima kasih, Pak, sudah menerima saya bertamu di sini.” Ia menoleh pada Dewi. “Maaf kalau kedatangan saya membuatmu tidak nyaman, lain kali saya akan lebih memperhatikan dengan apa datang.”
Ia merogoh saku celananya, mengeluarkan secarik kertas. “Ini nomor saya. Kalau suatu hari Dewi berubah pikiran.”
“Huh,” Dewi menyeringai, lalu mengambil kertas itu dan—tanpa ragu—melemparkannya ke arah Ning. “Tuh. Simpan aja. Kali aja cocok.”
Kertas itu jatuh di dekat kaki Ning. Ning memungutnya, lalu kembali menunduk. "Jangan begitu, Mbak. Mas ini datang dengan niat baik."
"Iya, makanya kamu aja yang nikah sama dia! Embak enggak mau!" tukas Dewi dengan sombongnya.
Yuda melirik Ning sekilas, tak berkata apa-apa lagi. Ia melangkah pergi. Suara motor bututnya terdengar menjauh dari halaman rumah.
"Hhiiisshh! Miskin aja berani lamar aku," gerutu Dewi.
Bu Sumi melirik Suaminya, "Mas! Aku enggak rela kalau kamu terima lamaran pemuda tak tau diri itu. Dia sama sekali tak pantas buat Dewi. Kalau emang mau, lebih baik buat Ning saja. Biar dia cepat keluar dari sini. Dasar benalu!" katanya sambil melirik sinis pada Ning.
Gadis berjilbab itu hanya menunduk, meremas sisi tubuhnya dalam diam. Hatinya yang terasa perih.
Beberapa menit setelah itu, suara beberapa mobil berhenti di depan rumah.
“Assalamu’alaikum!”
Dewi langsung bangkit. “Itu pasti Ridho!”
Ia berlari kecil ke depan, wajahnya berbinar. Bu Sumi ikut menyambut dengan senyum lebar. Pak Hasto berdiri, menyambut rombongan keluarga yang datang dengan rapi.
"Wa'alaikum salam."
"Masuk! Masuk, nak Ridho."
"Terima kasih, Bu," ucap Ridho tersenyum, matanya melirik kecil pada gadis berjilbab yang menunduk kala pandangan bertemu.
"Ning! Sana ke dapur! Kamu enggak pantas di sini," bisik Dewi. Ning menurut, ia beresi bekas tamu sebelumnya. Lalu berjalan tertatih menyeret kakinya.
Rombongan masuk dengan senyum sopan. “Maksud kedatangan kami… kami ingin melamar.”
Dewi hampir melompat kegirangan. Bu Sumi menepuk tangannya sendiri. “Alhamdulillah! Kami tau kedekatan anak kita memang sudah sepantasnya ke jenjang yang lebih serius.”
Orang tua Ridho pun tampak senang karena niat baik bersambut. "Alhamdulillah kalau begitu, Bu Sumi dan Pak Hasto."
Ridho menarik napas.
“Saya ingin melamar Ningsih,” ucap Ridho mantap.
Sunyi.
Dewi membeku. Bu Sumi terperanjat. Pak Hasto menatap Ridho dengan mata membesar.
“Ning…?” suara Dewi nyaris berteriak.