"Dia mencintaiku sampai mati, tapi justru membunuhku perlahan setiap hari."
Di balik kemewahan gaun sutra dan rumah bak istana, Yati hanyalah seorang tawanan yang jiwanya diremukkan oleh suaminya sendiri, Stevanus. Bagi dunia, Stevanus adalah pahlawan; bagi Yati, dia adalah iblis berwajah malaikat.
Puncak pengkhianatan terjadi saat Stevanus membuangnya dalam keadaan hancur demi kekuasaan dan wanita lain. Mereka mengira Yati sudah tidak berdaya dan terkubur bersama rahasia gelap mereka.
Namun, rasa sakit tidak mematikan Yati—ia justru melahirkan sosok baru yang kuat dan tangguh. Kini Yati kembali dengan identitas berbeda, menyusup ke jantung kehidupan Stevanus untuk merebut kembali hidup dan harga dirinya.
Ini adalah kisah tentang perjuangan Yati membuktikan bahwa dari kehancuran, ia bisa bangkit lebih kuat.
Bersiaplah, karena kisah ini akan membawamu pada perjalanan emosional yang penuh liku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon waseng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: JAMUAN DI ATAS LUKA
Restoran mewah di puncak gedung ini menawarkan pemandangan kota yang gemerlap, namun bagiku, lampu-lampu di bawah sana tampak seperti bara api yang siap membakar. Aku berdiri di depan cermin toilet restoran, membenarkan letak gaun backless hitamku. Gaun ini sengaja kupilih untuk memamerkan punggungku yang kini mulus tanpa cela berkat serangkaian perawatan laser mahal yang dibiayai Aris untuk menghapus bekas luka cambukan ikat pinggang Stevanus.
"Kau bukan lagi korban, Widya. Kau adalah pemangsa," bisikku pada pantulan diriku sendiri.
Aku keluar dan menuju meja privat yang telah dipesan Stevanus. Di sana, dia sudah menunggu. Namun, dia tidak sendiri. Di sampingnya, Maya duduk dengan gaun merah yang terlalu mencolok, tangannya menggandeng lengan Stevanus seolah sedang menandai wilayah kekuasaannya.
Senyumku mengembang sempurna saat mendekat. "Selamat malam. Maaf saya sedikit terlambat."
Stevanus langsung berdiri, matanya menelusuri lekuk tubuhku dengan lapar. "Sama sekali tidak, Nona Widya. Kehadiran Anda selalu layak untuk ditunggu."
Maya berdehem keras, wajahnya masam. "Stev bilang ini makan malam bisnis, jadi aku pikir tidak keberatan jika aku ikut. Aku sekertaris sekaligus... tunangan Stevanus."
Aku duduk dengan anggun, meletakkan tas tanganku di meja. "Tentu saja tidak keberatan, Nona Maya. Sangat menyenangkan melihat 'sekretaris' yang begitu berbakti hingga ke urusan pribadi."
Kalimat sarkasme itu mendarat tepat sasaran. Wajah Maya memerah, sementara Stevanus hanya tertawa canggung.
Sepanjang makan malam, Stevanus terus mencoba mencari perhatianku. Dia menceritakan kesuksesannya, kekuasaannya, dan betapa dia menghargai wanita yang "cerdas dan kuat" seperti Widya. Ironi yang luar biasa dia memuji sifat yang dulu dia injak-injak saat masih ada pada diriku sebagai Yati.
"Anda tahu, Nona Widya," ucap Stevanus setelah menyesap wine-nya, "Anda mengingatkan saya pada seseorang. Tapi dia jauh lebih... rapuh. Tidak punya gairah hidup seperti Anda."
"Oh ya? Siapa dia? Mantan kekasih?" tanyaku dengan nada polos yang mematikan.
"Istri saya. Dia baru saja meninggal beberapa bulan lalu," jawabnya tanpa sedikit pun nada sedih. "Dia wanita yang baik, tapi terlalu lemah untuk mendampingi pria seperti saya."
Hatiku perih, seolah disiram cuka. Lemah? Aku lemah karena aku memberikan seluruh cintaku padamu, Stev. Aku lemah karena aku membiarkanmu menghancurkanku demi anak kita yang kau bunuh.
"Meninggal? Kasihan sekali," aku menyesap minumanku, menatapnya tajam. "Saya harap dia beristirahat dengan tenang. Karena biasanya, wanita yang dikhianati sebelum meninggal tidak akan pergi dengan tenang. Mereka akan kembali sebagai mimpi buruk."
Tangan Stevanus sedikit gemetar hingga gelasnya berdenting. Maya segera memotong pembicaraan. "Sudahlah, tidak perlu bahas orang mati. Nona Widya, kudengar Anda besar di luar negeri. Di mana tepatnya? Dan siapa keluarga Anda? Aneh rasanya konsorsium sebesar itu memilih perwakilan yang... identitasnya baru muncul beberapa bulan terakhir."
Maya mulai menyerang. Matanya yang sipit menatapku seperti detektif.
"Keluarga saya adalah privasi, Nona Maya. Tapi jika Anda begitu penasaran, Anda bisa menanyakan langsung pada firma hukum konsorsium kami di Singapura," jawabku tenang. Aku tahu Aris sudah menyiapkan identitas palsu yang berlapis di sana. "Atau mungkin Anda lebih tertarik membahas mengapa saldo cadangan perusahaan Stevanus Group menyusut tajam di bawah pengawasan Anda sebagai sekretaris?"
Maya bungkam. Stevanus menatap Maya dengan tajam, seolah bertanya apakah itu benar.
Makan malam berakhir dengan ketegangan yang kental. Saat Stevanus pergi ke kasir, Maya mendekatiku. Dia berdiri sangat dekat, aroma parfumnya yang menyengat membuatku ingin muntah.
"Aku tidak tahu siapa kamu sebenarnya, Widya. Tapi jangan pikir aku tidak melihat caramu menatap Stevanus," desis Maya. "Aku sudah menyingkirkan satu wanita dari hidupnya, dan aku tidak akan ragu menyingkirkan wanita kedua."
Aku tertawa kecil, suara tawa yang dingin dan meremehkan. "Nona Maya, Anda tidak perlu khawatir. Saya tidak tertarik pada pria yang sudah 'bekas' dan memiliki sejarah memperlakukan istrinya dengan buruk. Saya hanya tertarik pada... hartanya."
Aku berbalik dan melangkah pergi, namun tiba-tiba kepalaku terasa berputar. Bau steak yang tadi kumakan mendadak terasa menjijikkan. Rasa mual yang sangat familiar itu menghantamku lagi.
Aku mempercepat langkah menuju lobi, berusaha mencari udara segar. Di depan pintu restoran, aku terhuyung dan hampir jatuh jika sebuah tangan tidak menangkap pinggangku.
"Nona Widya? Anda baik-baik saja?" Itu suara Stevanus. Dia menatapku dengan cemas, namun tangannya meraba punggungku yang terbuka dengan cara yang menjijikkan.
Aku menjauhkan diri darinya, menahan rasa mual yang memuncak di tenggorokan. "Saya... saya hanya butuh udara, Tuan Stevanus."
"Mari, saya antar ke mobil."
Saat kami berjalan menuju parkiran, sebuah mobil hitam berhenti di depan kami. Aris keluar dari sana dengan wajah khawatir. Dia langsung berdiri di antara aku dan Stevanus.
"Tuan Stevanus, terima kasih telah menjamu rekan saya. Saya akan membawanya pulang," ucap Aris tegas.
Stevanus menatap Aris dengan tatapan tidak suka, ada persaingan antar pria yang meledak di sana. "Tentu. Pastikan dia istirahat."
Di dalam mobil Aris, aku akhirnya tidak bisa menahannya lagi. Aku meminta Aris menepi dan aku muntah di pinggir jalan. Seluruh tubuhku lemas, keringat dingin membasahi dahiku.
"Widya, ada apa? Apa mereka meracunimu?" tanya Aris sambil menyodorkan botol air mineral.
Aku menggeleng lemah, air mata menetes di pipiku. "Aris... ini tidak mungkin. Dokter bilang aku kehilangan bayiku saat jatuh dari tangga itu."
Aris mengerutkan kening. "Lalu?"
"Tapi mual ini... perasaan ini... sama persis seperti saat aku hamil dulu," bisikku dengan suara yang hancur. "Aris, bagaimana jika bayiku... bagaimana jika ada mukjizat yang tersisa di rahim yang hancur ini?"
Aris terdiam, wajahnya berubah menjadi sangat serius. Dia mengeluarkan sebuah amplop dari saku jasnya. "Sebenarnya, ada hasil tes medis dari laboratorium rahasia yang baru keluar sore ini. Aku belum sempat memberitahumu karena kita harus pergi makan malam."
Aku merampas amplop itu dengan tangan gemetar. Saat aku membacanya di bawah lampu jalan yang temaram, jantungku seolah berhenti berdetak. Hasilnya menyatakan bahwa rahimku mengalami trauma hebat, tapi di sana tertulis: 'Terdeteksi sisa jaringan vital yang berkembang abnormal'.
JANGAN LUPA UNTUK SELALU BAHAGIA🫰
Like Setiap Bab Kalau selesai 👍
Rate Bintang 5 🌟
Vote setiap hari Senin 🙏
Kalau Ada Poin Boleh Mawar sebiji🌹
Tinggalkan komentar, penyemangat, kritik & Saran, 🎖️
Makaseh banya samua 🙇🙏😇
tapi ini kisah sat set beres. gak bertele tele. langsung pada inti nya...
semoga mati ny tdk mudah.
gila stevanus.
biar ad sensasi buih buih ny tuh lakik
sakit jiwa nih lakik...