NovelToon NovelToon
BANDHANA

BANDHANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Mengubah Takdir
Popularitas:185
Nilai: 5
Nama Author: Beatt

Bandhana memiliki makna hubungan yang mengikat satu hal dengan hal lainnya. Disini Anindita Paramitha memiliki hubungan yang sangat rumit dengan Zaverio Kusuma yang merupakan mantannya namun sekarang jadi kakak iparnya.
Vyan Syailendra, merupakan sahabat Anindita namun permusuhan dua keluarga membuat mereka saling membenci. Namun, hubungan mereka tidak pernah putus. mereka saling melindungi, meskipun membenci.
Dan waktu kelam itu terjadi, Anindita tewas ditangan keluarga suaminya sendiri. Vyan yang berusaha melindungi sahabatnya pun tewas. Zaverio pun membalas keluarganya sendiri dengan cara sadis dan saat semuanya selesai, dia berniat mengakhiri diri sendiri. Namun, dia malah terlempar ke tempat dimana dia bertemu dengan Anindita kecil yang berusia 5 tahun. Akankah, takdir Anindita Paramitha dapat diubah oleh Zaverio? Dan akankah rahasia kelam dapat terungkap?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Beatt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

"Karena..." Darma menarik nafas panjang, matanya menatap jauh ke masa lalu. "Karena ibumu tidak meninggal saat melahirkanmu, Arman."

Dunia Arman berhenti berputar.

"Apa?" bisiknya, tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. "Apa maksud Paman?"

Darma berjalan kembali ke mejanya, membuka laci terbawah dengan kunci kecil, dan mengeluarkan sebuah kotak kayu tua. Dia membuka kotak itu, mengambil sebuah foto lama yang sudah menguning.

Foto itu menunjukkan enam orang dewasa dan tiga wanita yang sedang hamil..

Di foto itu, ada tiga pria muda… Darma, Arjuna dan Darwan—berdiri dengan senyum lebar. Di samping mereka, tiga wanita cantik—istri mereka masing-masing yang sedang hamil.

"Ini..." Arman meraih foto dengan tangan gemetar. "Ini Mama?"

Wanita yang sedang mengandung Arman saat usia 8 bulan di foto itu sangat cantik—rambut panjang berwarna cokelat terang, mata yang lembut, senyum yang hangat. Wajah yang tidak pernah Arman lihat kecuali di foto-foto lama yang sangat sedikit.

"Ya," jawab Darma. "Itu ibumu. Sari Maharani Syailendra."

"Tapi Papa bilang Mama meninggal saat melahirkanku..." Arman menatap Darma dengan mata yang menuntut penjelasan. "Apa yang sebenarnya terjadi?"

Darma duduk perlahan di kursinya, tiba-tiba terlihat sangat tua—seperti beban rahasia ini menambah puluhan tahun pada usianya.

"Apa yang akan aku ceritakan ini..." Darma menatap Arman dengan serius, "hanya diketahui oleh empat orang: aku, Arjuna, Darwan, beserta istrinya.. Tidak ada yang lain. Bahkan anak-anak kami tidak tahu."

Arman duduk di kursi di hadapan Darma, tubuhnya tegang, siap mendengar kebenaran yang sudah tersembunyi selama puluhan tahun.

"Ceritakan," katanya dengan suara yang berusaha tenang walau jantungnya berdetak kencang.

Darma menutup matanya, dan mulai bercerita—mengungkap rahasia yang sudah terkubur selama 37 tahun.

...****************...

Flashback - 37 Tahun yang Lalu

"Waktu itu, kami bertiga—aku, Arjuna dan Darwan—sedang liburan bersama dengan istri-istri kami di sebuah vila mewah di Puncak. Liburan untuk merayakan kesuksesan bisnis kami yang mulai berkembang pesat."

"Istriku, Dewi—sedang hamil Aditya 7 bulan. Istri Ayahmu, Sari—sedang hamil  dirimu 8 bulan. Istri Darwan, Kartika—sedang hamil Bramantara 5 bulan."

"Kami bahagia. Sangat bahagia. Tiga sahabat yang akan segera punya anak di waktu yang hampir bersamaan. Kami sudah merencanakan masa depan, anak-anak kami akan dibesarkan bersama, akan menjadi sahabat seperti kami."

"Tapi malam itu... malam ketiga liburan kami... segalanya berubah."

...****************...

Darma membuka matanya, air mata mengalir di pipinya.

"Kami sedang makan malam di restoran di kota. Saat kembali ke vila sekitar pukul 10 malam... Sari tidak ada di dalam mobil."

Arman tercekat. "Apa maksudnya tidak ada?"

"Saat kami semua turun dari mobil, kami baru menyadari Sari tidak bersama kami. Dia menghilang." Suara Darma bergetar. "Kami panik. Mencari di sekitar restoran, menelepon ponselnya berkali-kali. Tidak ada jawaban."

"Kemudian sebuah telepon masuk ke ponsel Arjuna. Suara pria yang disamarkan. Dia bilang... dia bilang mereka punya Sari. Dan kalau kami ingin dia kembali dengan selamat, kami harus membayar tebusan 50 miliar rupiah."

Arman mengepalkan tangan, kuku-kukunya menancap ke telapak tangan. "Penculikan..."

"Ya," Darma mengangguk. "Kami langsung melapor ke polisi, menyewa bodyguard terbaik, melakukan pencarian besar-besaran. Tapi penculik itu... mereka profesional. Sangat profesional."

"Tiga hari kemudian..." Darma menutup matanya lagi, seolah mengingat itu terlalu menyakitkan. "Kami menemukan Sari... di sebuah gudang tua di pinggir kota."

"Dia masih hidup. Tapi ada luka tembakan di perutnya. Dan di sampingnya..." Suara Darma pecah. "Di sampingnya ada bayi. Bayi laki-laki yang baru lahir. Kau, Arman."

Arman tidak bisa bernafas. "Apa... apa yang—"

"Penculik memaksa Sari melahirkan prematur di sana. Tanpa bantuan medis yang layak. Tanpa anestesi. Di lantai gudang yang kotor." Darma menggigit bibirnya, menahan tangis. "Mereka menembaknya setelah kau lahir. Meninggalkannya berdarah-darah di sana."

"Arjuna membawa Sari ke rumah sakit secepat mungkin. Dokter berusaha keras menyelamatkannya. Mereka beroperasi selama 8 jam. Tapi..." Darma menggeleng. "Terlalu banyak darah yang hilang. Organ-organ dalamnya rusak parah. Infeksi sudah menyebar."

"Sari meninggal dua hari setelah ditemukan. Dia sempat melihatmu sebentar—digendongan suster—sebelum dia... sebelum dia pergi."

Arman menangis. Untuk pertama kalinya sejak istrinya meninggal, dia menangis—menangis untuk ibu yang tidak pernah dia kenal, ibu yang mati melahirkannya dalam kondisi yang mengerikan.

"Maafkan paman, Arman," bisik Darma. "Kami tidak pernah menceritakan  kebenaran ini pada kalian karena... karena kami pikir akan terlalu menyakitkan. Lebih baik kau pikir ibumu meninggal secara damai saat melahirkanmu daripada tahu dia mati ditembak oleh penculik."

"Tapi itu bukan akhir dari tragedi malam itu," lanjut Darma, suaranya makin pelan. "Saat aku dan Darwan kembali ke vila—meninggalkan Arjuna di rumah sakit dengan Sari—kami menemukan vila kami hancur."

"Semua jendela pecah. Furniture dirusak. Ada darah di mana-mana."

"Dewi—istriku—tidak ada di mana-mana. Tapi Kartika—istri Darwan—kami temukan di kamar mandi, bersembunyi di bathtub, gemetar ketakutan. Lengannya terluka, darah mengalir."

"Darwan langsung berlari padanya. 'Apa yang terjadi?! Di mana Dewi?!' teriaknya."

"Kartika menangis histeris. Dia bilang... sekelompok pria bersenjata menyerbu vila. Mereka mencari sesuatu—atau seseorang. Dewi berusaha melawan agar Kartika bisa kabur dan bersembunyi."

"Dewi... istriku yang lembut dan baik hati... melawan sendirian agar sahabatnya bisa selamat."

Darma terdiam lama, air matanya mengalir tanpa henti.

"Kami mencari Dewi selama dua hari. Polisi, bodyguard, bahkan militer kami kerahkan. Dan akhirnya..." Suaranya pecah total. "Kami menerima telepon. Suara yang sama. Pria yang sama."

"Dia bilang... dia bilang Dewi dan bayiku ada bersama mereka. Tapi Dewi tidak selamat. Hanya bayiku yang masih hidup."

"Mereka memberitahu lokasi di mana kami bisa menemukan... menemukan tubuh Dewi dan mengambil Aditya."

Arman menutup mulutnya dengan tangan, berusaha menahan isak tangis.

"Saat aku tiba di lokasi itu..." Darma menatap kosong ke depan, matanya seperti melihat masa lalu yang mengerikan. "Aku melihat tubuh istriku... Dewi yang cantik dan lembut... penuh memar dan luka. Mereka menyiksanya sebelum membunuhnya."

"Di sampingnya, Aditya yang baru lahir menangis dalam selimut berdarah."

"Aku mengambil Aditya, memeluk tubuh Dewi, dan menangis sampai tidak ada air mata lagi."

Keheningan menggantung berat di ruangan.

Arman menangis dalam diam, tangannya menutupi wajahnya.

Darma duduk dengan bahu yang bergetar, menahan tangisan yang ingin meledak.

"Kami bertiga—aku, Arjuna dan Darwan—melakukan investigasi selama bertahun-tahun," lanjut Darma setelah lama. "Kami menghabiskan miliaran rupiah untuk mencari tahu siapa dalangnya. Tapi..." Dia menggeleng frustasi. "Tidak ada yang berhasil. Tidak ada jejak. Tidak ada petunjuk. Seolah penculik itu... menghilang seperti hantu."

"Sampai sekarang, 37 tahun telah berlalu, kami masih tidak tahu siapa yang membunuh istri kami."

Arman mengangkat wajahnya, mata merahnya menatap Darma. "Dan Paman pikir... orang yang sama yang membunuh Mama dan Bibi Dewi... sekarang membunuh Aditya?"

Darma menatapnya dengan tatapan yang penuh ketakutan. "Aku tidak tahu, Arman. Tapi terlalu banyak kebetulan. Cara kematian yang tidak meninggalkan jejak. Musuh yang tidak terlihat. Hanya saja, Aditya… dia meninggal tanpa adanya luka atau darah."

Dia berdiri, berjalan ke jendela, menatap taman gelap di luar.

"Dan kalau itu benar... kalau musuh yang sama masih di luar sana... maka Anindita dalam bahaya. Vyan dalam bahaya. Kau, aku, Arjuna, Darwan—kita semua dalam bahaya."

Arman berdiri, determinasi mengeras di matanya walau air matanya masih mengalir.

"Kalau begitu aku harus bergerak cepat," katanya tegas. "Aku akan menemukan musuh ini. Aku akan lindungi Vyan, Anindita dan kita semua. Aku akan pastikan mereka membayar—untuk Mama, untuk Bibi Dewi, untuk Aditya, untuk semua yang mereka ambil dari kita."

Darma berbalik, menatap Arman dengan campuran kebanggaan dan ketakutan.

"Hati-hati, Arman," bisiknya. "Musuh yang bisa bertahan 37 tahun tanpa tertangkap adalah musuh yang sangat berbahaya."

"Aku tahu, Paman," jawab Arman. "Tapi aku tidak punya pilihan lain."

Yang tidak mereka ketahui, di luar jendela, tersembunyi di balik semak-semak gelap, sepasang mata mengamati mereka.

Mata yang dingin. Mata yang penuh kebencian.

Orang itu tersenyum—senyum yang mengerikan di kegelapan malam.

Akhirnya rahasia itu terungkap, pikir orang itu dengan kepuasan gelap. Tapi sudah terlalu terlambat. Rencana sudah berjalan. Dan kali ini... kali ini aku akan menghabisi kalian semua. Satu per satu.

Dimulai dari Anindita Paramitha.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!