NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Untukmu

Terlahir Kembali Untukmu

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Rebirth For Love / Hamil di luar nikah / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami / Reinkarnasi
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Volis

Renan Morris pernah menghancurkan hidup Ayuna hingga gadis itu memilih mengakhiri hidupnya.

Ia sendiri tak luput dari kehancuran, sampai kematian menutup segalanya.

Namun takdir memberinya kesempatan kedua. Renan terlahir kembali ke hari sebelum kesalahan fatal itu terjadi.

Ayuna masih hidup.
Dan sedang mengandung anaknya.

Demi menebus dosa masa lalu, Renan memilih menikahi Ayuna.

Tapi bagi Ayuna, akankah pernikahan itu menjadi rumah, atau justru luka yang sama terulang kembali?

Bisakah seorang pria menebus dosa yang membuat wanita yang mencintainya memilih mati?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Volis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9. Makan Malam

Tak seorang pun menyangka Renan bisa sedemikian perhatian.

Bahkan Ayuna sendiri merasa sedikit bingung. Sejak kapan Renan tahu hal itu?

Pandangan Ayuna beralih ke hidangan di atas meja.

Semua ini, apakah juga atas perintahnya?

“Aku sebenarnya sudah heran sejak tadi,” ujar Revan sambil tersenyum menggoda. “Kenapa menu hari ini agak berbeda. Jangan-jangan adikku akhirnya ingat apa yang disukai kakaknya?”

Ia tertawa kecil.

Bagaimanapun, selama Renan bahagia, itu sudah lebih dari cukup baginya.

“Kamu suka kepiting, tapi malas mengupasnya. Kamu suka makanan manis, tapi benci bawang putih,” jawab Renan santai. Namun ujung telinganya perlahan memerah.

Revan tertawa lebih lebar.

“Kamu benar-benar ingat? Lalu kenapa selama ini kamu tetap memaksaku makan bawang putih?”

“Aku hanya iseng,” jawab Renan singkat.

Papa Herman ikut menyela dengan nada menggoda, “Papa kira yang kamu ingat cuma klub di Kota Jakarta, tempatnya seru dan minumannya enak.”

Renan mengangkat dagu dengan percaya diri.

“Itu juga aku ingat. Bahkan aku tahu gadis-gadis di klub privat itu cantik.”

Ucapan itu langsung membuat semua orang menoleh ke arah Ayuna, lalu kembali menatap Renan dengan ekspresi tidak setuju.

“Sudah menikah masih saja bicara sembarangan,” tegur Mama Reni.

Ia lalu menoleh pada Ayuna, nadanya berubah lembut.

“Dia memang begitu. Suka mengatakan kebalikan dari yang dia rasakan, dan sengaja melakukan hal-hal yang bikin orang kesal hanya untuk mencari perhatian.”

“Waktu kecil, supaya kakaknya mau bermain dengannya, dia pernah merobek pekerjaan rumah kakaknya,” lanjutnya sambil menggeleng.

“Bahkan tas sekolah kakaknya pernah dia sembunyikan, lalu pura-pura tidak tahu apa-apa.”

“Licik, kan?” katanya setengah bercanda.

Kenangan-kenangan itu membuat suasana meja makan dipenuhi tawa kecil.

Ayuna ikut tersenyum, lalu tanpa sadar teringat semua perkataan Renan kepadanya hari ini.

Apakah dia juga sengaja bersikap dingin dan menyebalkan hanya untuk melihat reaksinya?

Hanya untuk memastikan apakah ia peduli?

Menyadari tatapan Ayuna yang penuh senyum tertuju padanya, Renan langsung memasang wajah galak.

“Apa yang kamu tertawakan? Berhenti tertawa, atau aku cubit.” Ancaman itu terdengar tidak meyakinkan.

Ayuna justru melihat telinganya yang kembali memerah dan terkekeh pelan.

Entah kenapa, Renan terlihat jauh lebih hidup seperti itu.

Dan lebih mudah di dekati.

Sebelumnya, Ayuna selalu merasa ada jarak yang tak bisa dijembatani di antara mereka, sebuah jurang sunyi yang membuatnya ragu melangkah lebih dekat. Namun sekarang, ia mulai menyadari bahwa yang ada bukanlah jarak, melainkan tumpukan kesalahpahaman.

Renan tidak sedingin yang ia kira. Tapi, bukan berarti semua luka itu bisa dilupakan.

Renan sendiri memperhatikan perubahan suasana hati Ayuna. Gadis di sampingnya tidak lagi murung. Sorot matanya perlahan kembali cerah seperti semula, dan bayangan kesedihan yang dulu jelas terlihat kini memudar.

Kesedihan itu bukan sepenuhnya miliknya.

Ia berasal dari kesalahan yang dia buat sebelumnya, dan kini perlahan-lahan menghilang. Usahanya hari ini untuk memperbaiki semuanya ternyata berpengaruh.

❀❀❀

Setelah makan malam selesai, keluarga Morris berkumpul di ruang tamu. Para pelayan membawakan aneka camilan dan buah kering, semuanya dipilih khusus, aman untuk ibu hamil.

“Kudengar kamu sedang hamil,” tanya Mama Reni dengan nada hati-hati. “Benarkah?”

Ia tidak berani bertanya terlalu jauh. Sejak pertama bertemu, ia sudah melihat kesedihan yang sulit dijelaskan di mata gadis itu. Ia sempat khawatir, jangan-jangan Ayuna sebenarnya tidak membenci Renan.

Karena itu, setiap kata ia ucapkan dengan penuh pertimbangan.

Ayuna tanpa sadar mengusap perutnya.

“Ya… sudah lebih dari sebulan,” jawabnya pelan. “Tapi masih terlalu dini. Dokter menyarankan kontrol lagi di akhir bulan.”

Nada suaranya lembut. Dari caranya berbicara, jelas bahwa ia menginginkan anak ini.

Tak heran Renan pernah mengatakan, tanpa anak ini, pernikahan mereka mungkin tak akan terjadi.

“Keluarga kita punya dokter pribadi,” kata Mama Reni

segera. “Kamu tidak perlu repot ke rumah sakit sendirian.”

Ia menghela napas pelan, lalu tersenyum kecil. “Kalau begitu, pesta pernikahan sebaiknya dilangsungkan dua bulan lagi. Kalau terlalu lama, nanti akan merepotkan saat kehamilanmu membesar. Dan tidak baik juga kalau pesta diadakan setelah bayi lahir.”

Ayuna mengangguk, meski sebenarnya tidak terlalu mengerti. Ia hanya merasa para orang dewasa ini selalu memikirkan segalanya jauh ke depan.

“Kamu masih bekerja?” tanya Mama Reni lagi.

Ia sebenarnya ingin berkata bahwa sebaiknya Ayuna tidak bekerja dulu. Usia kandungannya masih sangat muda, dan setelah melahirkan pun ia bisa tinggal di rumah Morris. Namun kalimat itu tertahan di bibirnya.

“Saya… belum bekerja sejak lulus kuliah,” jawab Ayuna pelan, lalu tanpa sadar menoleh ke arah Renan.

Tanpa sadar jemarinya saling bertaut, khawatir orang tua Renan tidak menyukainya karena dia tidak bekerja.

“Mengapa harus bekerja?” kata Renan datar.

“Bukannya aku tidak mampu menafkahimu.”

Kenyataannya, Renan dulu memang tidak pernah mengizinkannya bekerja. Padahal nilai Ayuna sangat baik, dan ia sempat mendapat penilaian bagus saat magang.

Namun baginya, bekerja dianggap tidak perlu. Ia ingin Ayuna selalu tersedia, selalu berada dalam jangkauannya.

“Anak bodoh,” gumam Mama Reni pelan.

Ia langsung memahami segalanya dari ekspresi Ayuna.

Gadis ini dipaksa.

Ia jelas tidak sepenuhnya bahagia, tapi di saat yang sama, Mama Reni bisa melihat satu hal yang tak terbantahkan.

Ayuna masih peduli pada Renan.

Dan itu saja sudah cukup untuk membuatnya menghela napas panjang, dengan perasaan yang jauh lebih lembut dari sebelumnya.

"Kamu lulus dari mana? Jurusan apa?” Nada suara Papa Herman terdengar datar, bahkan sedikit kaku.

Ia memang tidak terlalu menyukai orang yang tidak bekerja. Dalam pandangannya, anak muda seharusnya punya ambisi.

Renan adalah satu-satunya pengecualian dan itu karena ia sudah terlanjur menyerah pada putranya sendiri.

Sebelum Ayuna sempat menjawab, Renan lebih dulu membuka suara. “Lulusan terbaik Universitas Indonesia, jurusan keuangan,” katanya santai. “Dia unggul di pemasaran, ekonomi, dan bisnis internasional. Papa tidak perlu meragukan kemampuannya”

Ucapannya tenang, seolah membicarakan hal yang sangat biasa.

Namun justru itu yang membuat semua orang terdiam sejenak.

“Serius?” Revan menoleh dengan wajah terkejut. “Kalau begitu, kemampuannya setara denganku dulu. Istrimu hebat.”

Ia tersenyum lebar.

“Kalau mau, dia bisa langsung masuk perusahaan Morris. Kita keluarga, tidak perlu sungkan.”

Pandangan Papa Herman langsung berubah.

“Kalau begitu, setelah bayinya lahir, kamu bisa memilih,” katanya. “Mau lanjut studi atau bergabung dengan perusahaan. Kalau ada yang tidak paham, kamu bisa bertanya pada Revan.”

Ia bertukar pandang dengan istrinya.

Putra bungsu mereka benar-benar beruntung.

Mama Reni ikut tersenyum lega.

“Ya, semua ini salah Renna. Dia yang menahanmu terlalu lama.”

Ia menatap Ayuna dengan penuh kasih. “Mulai sekarang, lakukan saja apa yang kamu inginkan di rumah ini. Jangan khawatir soal Renan. Nanti ada orang yang mengurus anak, dan Papa serta Mama juga masih sanggup membantu.”

Renan langsung tidak senang mendengarnya.

“Dia juga bisa tinggal di rumah,” katanya cepat. “Memang dia tidak bekerja di kantor, tapi setelah lulus dia belajar bahasa asing dan sastra sendiri. Kadang dia menerjemahkan di rumah. Itu juga pekerjaan.”

Nada suaranya terdengar defensif.

“Kamu tahu?” Ayuna menoleh ke arahnya, matanya sedikit membulat.

Ia tidak menyangka Renan memperhatikan hal-hal itu.

Mama Reni semakin puas.

Meskipun latar belakang keluarga Ayuna biasa saja, gadis itu sendiri luar biasa. Tenang, pintar, dan tidak silau dengan materi.

Tak heran putranya menyembunyikannya.

Bukan hanya Mama Reni yang berpikir begitu. Bahkan Papa Herman dan Revan juga merasakan hal yang sama.

Bajingan kecil itu benar-benar mampu menyimpan harta karun.

Malam itu, mereka berdua menginap di rumah keluarga Morris.

❀❀❀

1
Anonymous
Halah ... cowok kek gitu gak usah dikasih kesempatan
Volis: Temanya memang itu 😊
total 3 replies
Aku Fujo
maantaapppp
Volis
Maaf, ya. Author ternyata salah update bab. Bab Tidak Semua Orang Tulus itu seharusnya bab 12 🤗
NOname 💝
Demnnnn
gak ketebak sih ini, siapa yang mati tadi? 😭🤌🏻

Btw semangat ya Thor. mampir juga yuk di karya aku PENYANGKALAN. Siapa tau suka dengan sisipan kata-kata sangsekerta
Adel
bentar... ini dia mati beneran? Trus idup lagi? Gimana? Moga next chap ngejawab🙌
Adel
hm, ini si Renan tanggung jawab nggak lo👊
Adel
hm, mungkin dia mati suri
Indah MB
semoga keluarga renan baik dan kocak🤭
Indah MB
Renan jgn mengulangi kesalahan yg sama lagi ya
Indah MB
pantas di maafin g ya thor? soalnya belum tau 2 tahun lalu itu cerita mereka bagaimana..
Indah MB
syuka banget klo yg terlahir kembali gini hehehe ... 💪 thor ..
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!