Setelah membunuh Liu Sheng,pembunuh orang tuanya, Xu Hao justru menemukan teka-teki yang lebih besar: segel mematikan pada jiwa Liu Sheng. Segel serupa juga ia temukan pada musuh-musuh tingkat tingginya. Segala petunjuk mengarah ke Dataran Tengah, tempat asal Klan Xu yang perkasa. Dengan bakat aslinya yang dicuri, orang tuanya yang difitnah sebagai pengkhianat, dan pengusiran kejam dari klan, Xu Hao kini menyamar memasuki dunia yang jauh lebih berbahaya. Di sana, sebagai murid baru di Sekte Gunung Jati dengan identitas palsu, ia harus menyelidiki konspirasi gelap di balik pembunuhan keluarganya, menghindari deteksi kerabatnya sendiri yang mungkin adalah dalangnya, dan membangun kekuatan dari nol di tanah di mana Dao Awakening-nya saja hampir tak berarti. Siapa sebenarnya "Tuan dari Atas" yang memasang segel itu? Dan bisakah Xu Hao membalas dendam tanpa mengungkapkan identitas aslinya yang akan membuatnya jadi buruan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YUKARO, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pikiran di Taman yang Terguncang
Waktu terus berjalan di dunia pelangi yang sunyi, tak terikat dengan siang atau malam di luar. Dalam keheningan meditasi yang dalam, Xu Hao tenggelam dalam proses konsolidasi yang tak henti-hentinya. Satu tahun berlalu di dunia ini, dihitung dari denyut energi dan siklus internal tubuhnya yang telah mencapai Heaven Ascension.
Saat dia akhirnya membuka matanya, ada kilatan cahaya merah tua yang singkat namun dalam di kedalaman pupilnya, seperti bara yang tersembunyi di bawah abu. Dia menghela napas panjang, menghembuskan udara yang mengandung sisa-sisa energi kacau dari pertempuran melawan Mata Langit setahun yang lalu.
Perubahannya sangat besar. Fondasi Heaven Ascension-nya sekarang terasa kokoh seperti gunung granit yang telah ditempa oleh guntur dan badai. Lautan Qi di dalam tubuhnya tidak lagi berwarna biru baja atau keemasan cerah, tapi telah berubah menjadi warna merah tua, seperti darah yang kaya oksigen atau seperti matahari terbenam yang mendalam. Warnanya mengingatkannya pada masa Core Formation-nya dulu, tapi dengan kedalaman dan kekuatan yang berbeda sama sekali.
Dia mengangkat tangannya, memandangi aliran energi merah yang berputar lembut di telapaknya. "Aneh," gumamnya, suaranya serak karena lama tidak digunakan. "Mengapa merah? Apakah ini pengaruh Dao Pembunuhan? Atau... pengaruh dari pemberontakanku terhadap Langit?"
Dia mencoba mengingat semua yang pernah dia baca, semua yang pernah dia dengar dari bibinya, Xiou Jianxin, tentang tingkat-tingkat kultivasi. Heaven Ascension seharusnya membawa perubahan pada kualitas Qi, seringkali menjadi lebih cerah, lebih murni, lebih dekat dengan warna 'langit'. Emas, perak, putih, atau bahkan warna pelangi. Tapi merah tua? Itu jarang. Biasanya terkait dengan kultivator jalur iblis, atau mereka yang memiliki karma pembunuhan yang sangat berat.
Tapi Xu Hao dengan cepat mengusir pikiran itu. "Lupakan saja," katanya pada dirinya sendiri, suaranya lebih tegas. "Warna hanyalah warna. Yang penting adalah kekuatan dan kendali. Fokus pada Dao-ku."
Dan Dao-nya memang telah meningkat secara dramatis. Hukum Asal sekarang terasa seperti napas alam semesta baginya. Dia bisa merasakan aliran penciptaan dan kehancuran di sekelilingnya dengan jelas, bahkan bisa mempengaruhinya dalam skala kecil. Dao Ruang memberinya pemahaman yang hampir intuitif tentang struktur realitas di dunia ini; dia bisa merasakan 'jahitan' dan 'lipatan' di ruang angkasa, titik-titik lemah yang bisa dimanipulasi. Dao Pembunuhan, meski dia berusaha tidak terlalu bergantung padanya, sekarang adalah bagian tak terpisahkan dari jiwanya, sebuah alat yang siap mematikan jika dibutuhkan.
Dengan kekuatan ini, rasa takut yang dulu selalu mengintai di belakang pikirannya, takut akan pengejaran Klan Xu, takut akan musuh yang tak terlihat, kini telah memudar. Bukan berarti dia menjadi sembrono, tapi dia sekarang merasa punya kemampuan untuk menghadapi, untuk melawan, atau setidaknya untuk melarikan diri dari bahaya yang sebelumnya akan menghancurkannya.
Namun, sebuah pertanyaan terus menggerogoti pikirannya.
Kenapa?
Kenapa Langit begitu membencinya? Kenapa ingin membinasakannya pada saat terobosan? Itu bukan sekadar Tribulasi Langit biasa yang dimaksudkan untuk menguji dan memurnikan. Itu adalah penghakiman, sebuah keputusan untuk pemusnahan total.
Dia mengingat kembali buku-buku yang pernah dia baca di Paviliun Seribu Seni sebagai Haoran, dan petuah-petuah bibinya. "Heaven Ascension memiliki tribulasi yang sangat kuat," kata mereka. "Petir langit, angin puyuh, serangan ilusi, ujian hati. Tapi itu semua adalah ujian, bukan hukuman mati. Langit memberikan kesempatan bagi yang layak."
Apa yang membuatnya tidak layak?
"Apakah karena Dao Ruang-ku?" Dia mempertimbangkan. "Banyak kultivator menguasai elemen ruang, meski tidak sebaik diriku. Itu tidak bisa menjadi alasan. Atau... Hukum Asal? Itu sangat langka, tapi apakah itu dosa? Atau... Dao Pembunuhan?"
Dia menggeleng. Dao Pembunuhan mungkin gelap, tapi itu adalah pilihannya, hasil dari keputusannya di Domain makam iblis untuk memutuskan memurnikan pil fragmen Dao. Dan rubah tua sempat memperingatkan. Jika langit dan bumi akan murka, Xu Hao pada saat itu sangat siap jika itu terjadi. Tapi ini berbeda, langit datang karena Tubuh, Hati, dan Dao nya, bukan karena perkataannya.
Atau mungkin... itu bukan tentang Dao-nya sama sekali. Mungkin tentang siapa dirinya. Darahnya. Bakat spiritual primordialnya yang dicuri. Atau sesuatu yang lain yang belum dia ketahui.
Dia menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. "Lupakan saja untuk sekarang. Aku tidak akan menemukan jawabannya dengan duduk di sini. Kebenaran akan terungkap dengan sendirinya, atau akan kucari sendiri."
Pikirannya beralih ke rencana selanjutnya. Dia harus meninggalkan dunia pelangi ini. Di luar, di dunia nyata, dia masih harus menghadapi Tribulasi Langit yang sebenarnya, atau akibat dari pemberontakannya setahun lalu. Dan kemudian...
"Wilayah Iblis di selatan Dataran Tengah," gumamnya. Sarana pamannya itu masih bergema di telinganya. Gabung dengan Klan Iblis. Tempat di mana perang dan pembunuhan adalah hal biasa. Tempat yang sempurna untuk... membangkitkan pedang hitam yang haus darah.
Tapi di situlah dilemanya. Dia memandang ke arah cincin penyimpanannya, di mana pedang hitam itu disimpan. "Untuk apa pedang hitam ini?" tanyanya pada keheningan. "Jika tujuannya hanya untuk membunuh banyak orang... bukankah Pedang Pemutus Dao yang sudah kumiliki jauh lebih hebat?"
Dia mengeluarkan Pedang Pemutus Dao dari dantianya, lalu melayang lembut di depannya, Xu Hao mengamatinya. Serangannya setahun yang lalu, yang menghancurkan Mata Langit, itu hanyalah sepuluh persen dari kekuatan pedang itu. Dia bisa merasakannya. Pedang ini masih tidur, atau lebih tepatnya, membatasi dirinya untuk mencegah tuannya yang masih terlalu lemah dari kehancuran diri.
"Sepuluh persen saja sudah bisa melukai kehendak Langit," bisik Xu Hao, matanya menyipit. "Lalu, untuk apa pedang hitam yang butuh jutaan nyawa hanya untuk membangkitkannya? Apa ada sesuatu yang istimewa? Atau... apakah pedang hitam itu bukan untuk pertempuran biasa? Apakah ada tujuan lain?"
Pamannya, Xu Tianmu, tidak memberitahunya. Hanya memberi pilihan, dan peringatan.
Xu Hao menghela napas lagi, kali ini lebih berat. Kepalanya penuh dengan pertanyaan yang saling bertabrakan. Dia menggeleng, memasukkan kembali Pedang Pemutus Dao ke dalam tubuhnya.
"Tidak ada gunanya memikirkan ini sekarang. Aku perlu informasi. Dan Klan Iblis mungkin punya jawabannya. Atau setidaknya, mereka bisa memberiku kesempatan untuk mendapatkan kekuatan tanpa harus membantai orang tak bersalah. Di perbatasan selatan, musuh-musuh mereka adalah kultivator dari klan dan sekte orthodox yang seringkali sama sombong dan kejamnya dengan Klan Xu."
Dia berdiri. Tubuhnya terasa ringan, penuh kekuatan. Sekarang, waktunya untuk pergi. Tapi Sebelum itu Xu Hao mengedarkan kesadarannya keseluruh tempat itu, dan Xu Hao tidak menemukan apapun, bahkan monster kuno yang sebelumnya ada kini tidak ada. Perubahan ini cukup mengejutkan, tapi Xu Hao tidak ingin memikirkan nya berlebihan.
Dia mengambil langkah terakhir di taman ini, memandang ke sekeliling untuk terakhir kali. Taman pelangi yang indah, tempat dia mencapai Heaven Ascension dengan cara yang paling tidak biasa. Tempat dia melawan Langit dan menang.
Dia mengangkat tangannya, merasakan struktur ruang di sekelilingnya. Kini, dengan pemahaman Dao Ruang yang jauh lebih dalam, dia bisa merasakan 'batas' dunia ini, titik di mana ruang ini terhubung kembali dengan dunia luar, mungkin melalui 'Mata Dewa Laut' atau titik lainnya.
Dia menemukannya. Sebuah titik kelemahan di ruang, tidak jauh dari taman, terasa seperti bekas luka dari masuknya dirinya ke dunia ini dulu.
Dia berjalan ke sana, lalu berhenti. Tidak perlu gerakan rumit. Dia hanya mengulurkan tangan, menyentuh titik itu dengan ujung jarinya yang memancarkan energi merah tua.
Riiip.
Suara sobekan halus. Sebuah celah muncul di udara, membuka terowongan gelap yang dipenuhi tekanan air dan energi ruang yang kacau.
"Inilah jalan keluar," gumam Xu Hao.
Dia tidak langsung melompat. Dia pertama-tama menguatkan tubuhnya dengan Qi, melapisi dirinya dengan lapisan Hukum Asal untuk menstabilkan segala sesuatu di sekelilingnya, dan menyiapkan Dao Ruang untuk menavigasi lorong yang tidak stabil ini.
Kemudian, tanpa ragu, dia melangkah masuk.
Celah itu menutup di belakangnya, meninggalkan taman pelangi yang sunyi sekali lagi. Hanya retakan-retakan halus di pelangi dan sisa-sisa energi pertempuran yang menjadi saksi bisu dari kehadiran seorang pemberontak yang telah datang, berubah, dan pergi.
up up up