mengisahkan perjalanan Liu Wei, seorang pemuda yang kehilangan desa dan keluarga karena serangan kelompok jahat Pasukan Bayangan Hitam. Setelah bertemu Chen Mei dari Sekte Bintang Penyusun, ia mengetahui bahwa dirinya adalah salah satu dari enam Pendekar Bintang terpilih yang bertugas menjaga keseimbangan alam semesta.
Dengan membawa Pedang Angin Biru pusaka keluarga dan Kalung Panduan Bintang, Liu Wei harus mencari Pendekar lainnya sebelum Pasukan Bayangan Hitam yang dipimpin oleh Zhang Feng menangkap mereka semua dan mendapatkan Lima Batu Kekuatan yang bisa menghancurkan dunia. Perjalanan penuh bahaya menantinya, di mana ia harus menguasai kekuatan batinnya dan menyatukan kekuatan rekan-rekannya untuk menghadapi ancaman kegelapan yang semakin besar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Masa Depan Yang Terang
Setelah tiga bulan sejak pertempuran besar di Kuil Bintang, dunia mulai pulih dari bekas kehancuran yang disebabkan oleh Pasukan Bayangan Hitam. Desa-desa yang hancur sedang dibangun kembali, ladang-ladang yang rusak mulai menghasilkan panen yang subur, dan orang-orang yang tersesat menemukan jalan pulang ke rumah mereka. Liu Wei berdiri di atas bukit yang menghadap ke desa kelahirannya yang sedang dalam proses rekonstruksi, melihat dengan hati yang penuh rasa syukur.
Chen Mei berdiri di sisinya dengan sebuah berkas surat di tangannya. “Semua lapangan kerja sudah siap, Liu Wei. Ribuan pekerja dari berbagai daerah telah datang untuk membantu membangun desa ini menjadi lebih baik dari sebelumnya.”
Liu Wei mengangguk perlahan. “Ayahku pasti akan bangga melihat ini. Desa yang dulunya hancur kini akan menjadi tempat yang lebih kuat dan damai.”
Mereka turun dari bukit dan berjalan menuju pusat desa yang sedang ramai dengan aktivitas. Di sana, Zhou Yu dan Chen Long sedang mengatur sistem irigasi baru yang menggunakan kekuatan air untuk menyiram ladang-ladang secara merata. Wu Jing dan Huang Rong sedang membangun tungku pembakaran yang efisien untuk memasak dan menghangatkan rumah-rumah tanpa membakar banyak kayu.
“Liu Wei!” teriak suara yang akrab dari arah tempat pembangunan sekolah baru. Xie Lan sedang membimbing sekelompok pekerja membangun pondasi gedung dengan menggunakan teknik khusus yang membuat bangunan akan kokoh bahkan jika terjadi gempa.
“Kita sudah menyelesaikan separuh dari pekerjaan sekolah,” kata Xie Lan dengan senyum ketika mereka mendekati. “Dalam beberapa minggu lagi, anak-anak desa bisa mulai bersekolah di sini. Kita akan mengajarkan mereka bukan hanya ilmu pengetahuan biasa, tapi juga nilai-nilai Bintang Penyusun.”
Liu Wei melihat dengan kagum pada struktur sekolah yang sedang terbentuk. Dindingnya dihiasi dengan ukiran tentang sejarah perjuangan mereka untuk melindungi dunia, sebagai pengingat bagi generasi mendatang tentang pentingnya menjaga keseimbangan.
Dari arah jalan masuk desa, Yang Fei datang terbang dengan membawa beberapa paket besar di tangannya. Dia mendarat dengan lembut dan meletakkan paketnya di tanah. “Ini adalah buku dan alat tulis yang saya dapatkan dari Pegunungan Awan Tinggi,” katanya dengan senyum. “Juga ada beberapa guru yang bersedia datang mengajar di sini.”
“Terima kasih, Yang Fei,” ucap Liu Wei dengan hangat. “Kita sangat membutuhkan hal-hal ini.”
Saat itu, seorang anak laki-laki kecil dengan wajah ceria berlari ke arah mereka, diikuti oleh seorang wanita muda yang tampak khawatir. “Paman Liu Wei! Paman Liu Wei!” teriak anak itu dengan gembira.
Liu Wei menunduk dan mengangkat anak itu ke dalam pelukannya. “Apa yang kamu lakukan, Xiao Ming?”
“Lihat ini!” anak itu menunjukkan sebuah gambar yang dia lukis—gambar enam bintang yang saling terhubung dengan beberapa orang yang sedang bertempur melawan makhluk hitam besar. “Saya ingin menjadi seperti kamu nanti, Paman Liu Wei! Saya ingin menjadi Pendekar Bintang Penyusun juga!”
Semua orang tersenyum mendengarnya. Wanita muda yang datang mengikuti anak itu mengucapkan maaf dengan sopan. “Maafkan saya, Tuan Liu. Dia selalu berbicara tentang ingin menjadi pendekar seperti Anda.”
“Tidak apa-apa,” jawab Liu Wei dengan lembut sambil menepuk kepala anak itu. “Impian yang baik. Tapi ingat ya, Xiao Ming—menjadi pendekar bukan hanya tentang memiliki kekuatan besar. Yang lebih penting adalah memiliki hati yang baik dan ingin membantu orang lain.”
Anak itu mengangguk dengan penuh semangat. “Saya akan ingat itu, Paman Liu Wei!”
Setelah anak itu berlari kembali bermain dengan teman-temannya, Su Yin datang mendekati mereka dengan sebuah amplop berwarna merah. Dia melihat ke arah Liu Wei dengan ekspresi serius namun penuh harapan.
“Kita telah menerima surat dari berbagai daerah,” kata Su Yin sambil memberikan amplop itu kepada Liu Wei. “Mereka meminta bantuan kita untuk menangani masalah-masalah yang terjadi di daerah mereka—bencana alam yang tidak biasa, kelompok gelap yang masih aktif, dan konflik antar desa.”
Liu Wei membuka amplop dan membaca surat-surat yang ada di dalamnya. Setelah selesai, dia melihat ke arah semua teman-temannya dengan tatapan yang penuh tekad.
“Seperti yang kita janjikan sebelumnya, tugas kita tidak berakhir setelah pertempuran di Kuil Bintang,” ucapnya dengan suara yang jelas dan kuat. “Kita harus terus bekerja untuk menjaga perdamaian dan keseimbangan di seluruh dunia.”
Huang Rong mengangguk. “Kita bisa membagi tugas. Saya dan Wu Jing akan menangani masalah di wilayah utara. Kami akan mengajarkan orang-orang cara mengendalikan kekuatan Api dengan benar dan membangun sistem pemadam kebakaran yang efektif.”
“Chen Long dan saya akan menangani wilayah selatan yang banyak memiliki sungai dan laut,” tambah Zhou Yu. “Kita akan membantu mereka mengatur irigasi dan melindungi daerah pesisir dari badai besar.”
Xie Lan mengangkat tangannya. “Saya akan menangani wilayah tengah yang banyak memiliki ladang dan pegunungan. Saya akan mengajarkan mereka teknik bertani yang baik dan cara membangun rumah yang kokoh.”
“Yang Fei dan saya akan menangani wilayah barat yang banyak memiliki gurun dan angin kencang,” kata Chen Mei dengan senyum. “Kita akan membantu mereka menemukan sumber air dan membangun benteng untuk melindungi desa dari badai pasir.”
Su Yin tersenyum lembut. “Saya akan tetap berada di Kuil Bintang untuk mengawasi Lima Batu Kekuatan dan memberikan bimbingan kepada mereka yang membutuhkan. Selain itu, saya akan membangun sekolah khusus untuk melatih calon Pendekar Bintang Penyusun yang akan datang.”
Liu Wei merasa hati penuh dengan kebahagiaan dan rasa tanggung jawab. Dia telah menemukan keluarga baru dan tujuan hidup yang jelas. “Baiklah. Kita akan bertemu kembali di Kuil Bintang setiap enam bulan untuk mengevaluasi perkembangan dan membahas masalah-masalah penting. Jika ada yang membutuhkan bantuan darurat, kita bisa saling menghubungi melalui kekuatan Bintang Penyusun.”
Mereka semua mengangguk dengan sepakat. Saat matahari mulai terbenam di ufuk barat, memberikan warna-warni indah pada langit, mereka berdiri bersama-sama melihat ke arah desa yang sedang bangkit kembali. Orang-orang bekerja dengan giat sambil tertawa dan bercanda, anak-anak bermain dengan bebas, dan harapan baru tumbuh di setiap hati.
Di langit malam yang mulai muncul, pola Bintang Penyusun bersinar dengan terang—sembilan bintang yang masing-masing mewakili mereka, serta banyak bintang kecil lainnya yang mulai muncul di sekitarnya. Bintang-bintang kecil itu adalah cahaya dari orang-orang baik di seluruh dunia yang siap membantu menjaga perdamaian dan keseimbangan.
“Lihatlah itu,” bisik Liu Wei sambil menunjuk ke langit. “Bintang-bintang kecil itu adalah harapan untuk masa depan. Mereka adalah generasi berikutnya yang akan melanjutkan pekerjaan kita.”
Su Yin mengangguk dengan penuh penghargaan. “Kamu benar, Liu Wei. Kita tidak sendirian lagi. Seluruh dunia sekarang tahu tentang pentingnya menjaga keseimbangan dan bekerja sama untuk kebaikan bersama.”
Mereka semua berjalan menuju pusat desa untuk bergabung dengan orang-orang yang sedang merayakan penyelesaian pembangunan rumah-rumah baru. Musik tradisional dimainkan, makanan lezat disajikan, dan orang-orang mulai menari dengan gembira. Liu Wei melihat dengan senyum pada semua orang yang bahagia di sekelilingnya—ini adalah alasan mengapa mereka berjuang dengan gigih, untuk melindungi kebahagiaan dan kedamaian seperti ini.
Di tengah keramaian, Xiao Ming datang lagi dengan beberapa teman anak-anak lainnya. Mereka berbaris di depan Liu Wei dan teman-temannya dengan sikap yang sopan.
“Kami ingin berjanji,” kata Xiao Ming dengan suara yang jelas meskipun kecil. “Kami akan belajar dengan giat dan menjadi orang yang baik. Kami akan membantu orang lain dan menjaga dunia ini agar tetap damai!”
Semua Pendekar Bintang Penyusun tersenyum dan mengangguk dengan bangga. Liu Wei menepuk bahu Xiao Ming dengan lembut. “Kita yakin kamu semua bisa melakukannya. Dunia masa depan ada di tanganmu.”
Saat malam semakin larut dan perayaan masih berlangsung, Liu Wei melihat ke arah langit sekali lagi. Bintang Penyusun bersinar dengan sangat terang, seolah memberikan dukungan dan harapan bagi semua orang yang sedang bekerja keras untuk membangun masa depan yang lebih baik. Perjalanan panjang telah berakhir, namun petualangan baru baru saja dimulai—petualangan untuk menjaga kedamaian, membangun hubungan, dan memastikan bahwa cahaya selalu akan menang atas kegelapan.