NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Incaran Di Rumah Sakit

Pukul tiga dini hari. Rumah sakit internasional itu tampak seperti kapal hantu yang terapung di tengah lautan cahaya kota Jakarta. Di lantai tujuh, sayap VVIP, suasana hening yang tadinya menenangkan berubah menjadi atmosfer yang menekan, seolah-olah udara sendiri telah berubah menjadi timah.

Galen masih terduduk di samping tempat tidur Shabiya. Kepalanya bersandar pada pinggiran kasur, tangannya masih menggenggam jemari Shabiya yang dingin. Di bawah pengaruh kelelahan yang ekstrem, sang pemilik kegelapan itu terlelap dalam tidur yang dangkal. Tidur yang dipenuhi oleh bayang-bayang penyesalan dari apa yang sudah dia lakukan selama pernikahan mereka berlangsung.

Di luar, di lorong yang dilapisi karpet tebal, Arsen berdiri tegak. Namun, instingnya sebagai mantan tentara bayaran mendadak berteriak. Ia melihat ke arah ujung koridor. Lampu sensor gerak menyala satu per satu, namun tidak ada perawat yang lewat. Hanya keheningan yang janggal.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang berat namun terukur terdengar dari arah tangga darurat. Bukan satu orang, tapi banyak.

"Tuan, bangun." Arsen masuk ke dalam kamar dengan gerakan cepat, tangannya sudah memegang Glock 17 yang ia cabut dari balik jasnya.

Galen tersentak, matanya langsung awas. "Ada apa?"

"Tamu tak diundang. Elfahreza tidak mau menunggu lama," bisik Arsen tajam.

Belum sempat Galen menjawab, pintu ruangan itu bergetar dihantam peluru. Puff! Puff! Puff! Suara tembakan yang diredam oleh silencer merobek pintu, menciptakan lubang-lubang kecil yang memuntahkan debu dari pintu tersebut. Galen bereaksi dalam hitungan detik, ia merunduk, menarik tubuh Shabiya yang masih terdiam kaku ke sisi tempat tidur yang lebih rendah, menggunakan rangka ranjang medis yang kokoh sebagai perisai.

"Arsen, jaga pintu!" perintah Galen, suaranya kembali menjadi dingin dan penuh otoritas, sosok penguasa yang siap membantai siapa pun yang menyentuh miliknya.

Koridor rumah sakit berubah menjadi medan perang. Tiga pria berpakaian taktis hitam, mengenakan topeng balaclava muncul dari arah lift. Mereka terlihat seperti bukan penjahat amatir, mereka bergerak dengan formasi militer. Arsen melepaskan tembakan balasan dari balik pilar koridor.

BANG! BANG!

Satu penyerang tumbang dengan lubang di dahi, darahnya memuncrat ke dinding putih rumah sakit yang steril. Namun, dua lainnya terus maju, memberondong posisi Arsen dengan submachine gun. Percikan api memantul di lantai marmer, sementara kaca-kaca jendela di koridor pecah berkeping-keping, menciptakan hujan kristal yang mematikan.

Lantai yang dihuni sebagai ruang rawat Shabiya telah dikosongkan oleh Galen saat istrinya pindah ke ruangan tersebut. Tidak ada penghuni lain selain mereka. Jadi, kejadian yang terjadi secara mendadak itu tidak mengganggu orang lain.

Galen masih berada di dalam kamar, jantungnya berdegup kencang bukan karena ia takut mati, tapi karena ketakutan bahwa ada peluru nyasar yang akan mengenai tubuh Shabiya yang tak berdaya. Ia mengambil pistol cadangan yang disembunyikan di bawah meja medis.

"Kau ingin dia, Reza? Kau harus melangkahi mayatku!" raung Galen.

Seorang penyerang berhasil mendobrak pintu kamar. Galen tidak menunggu. Ia melepaskan dua tembakan beruntun. Peluru pertama menghantam bahu penyerang, dan yang kedua merobek tenggorokannya. Pria itu jatuh tersungkur di kaki tempat tidur Shabiya, darahnya merembes ke karpet mahal ruangan itu.

Di luar, Arsen bertarung dengan brutal. Ia kehabisan peluru dan terlibat dalam perkelahian jarak dekat dengan salah satu penyusup. Suara hantaman daging dan tulang yang patah menggema di lorong sunyi itu. Arsen memiting leher lawan, lalu menghantamkan kepalanya ke sudut meja perawat hingga pria itu tak sadarkan diri.

Namun, dari arah lift cadangan, Elfahreza muncul. Ia tidak memakai topeng. Wajahnya tenang, memegang pistol dengan santai, seolah sedang berjalan-jalan di tempat kekuasaannya sendiri.

"Galen! Keluarlah!" teriak Reza, suaranya memantul di dinding koridor yang kini penuh lubang peluru. "Kenapa mempertahankan seseorang yang sudah rusak itu? Dia sudah tidak berguna. Bayinya sudah mati, istrimu koma. Biarkan aku mengakhiri penderitaannya!"

Galen berdiri di balik pintu yang hancur, matanya menyipit penuh kebencian. "Kau tahu sesuatu tentang bayi itu, bukan?"

Reza tertawa, sebuah tawa yang kering dan jahat. "Tanyakan pada Arsen-mu yang setia, Galen. Dia adalah penguasa kebohongan yang jauh lebih hebat darimu. Dia membiarkanmu bermimpi tentang bayi yang sudah jadi abu! Kau tertipu oleh bawahan mu sendiri!"

Galen tertegun sejenak. Kata-kata itu menghantamnya lebih keras dari peluru mana pun yang pernah menembus tubuh kekar nya. Ia melirik Arsen yang baru saja selesai menghabisi lawan terakhir. Arsen membeku, tidak berani menatap mata Galen.

Di saat keraguan itu muncul, Reza membidikkan senjatanya ke arah Shabiya melalui celah pintu yang terbuka. Galen melihat gerakan itu. Tanpa berpikir panjang, ia melemparkan dirinya ke depan Shabiya, menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup.

BANG!

Peluru Reza menghantam bahu kiri Galen. Pria itu langsung mengerang, memberikansebuah respon yang menandakan dia tetap manusia. Namun ia tetap berdiri tegak, senjatanya terarah langsung ke kepala Reza. Di saat yang sama, tim keamanan tambahan Gemilar yang baru tiba dari lantai bawah merangsek masuk melalui tangga darurat.

Reza menyadari situasinya berbalik. "Ini belum selesai, Galen. Kebenaran akan menghancurkanmu lebih cepat dari peluruku." Reza melempar bom asap dan menghilang ke dalam kabut putih yang menyesakkan, melarikan diri melalui jalur yang sudah ia siapkan.

Galen berusaha melindungi Shabiya dari asap yang mengepul sangat tebal itu dengan dirinya sendiri yang terus menjadi tameng.

Asap mulai menipis. Galen terduduk di lantai, memegangi bahunya yang bersimbah darah. Ia tidak mempedulikan lukanya. Ia langsung meraih tangan Shabiya, memastikan monitor jantungnya masih berdenyut.

Bip... bip... bip...

Shabiya masih ada. Dia berhasil melindungi istrinya dari bahaya kali ini. Namun ... Galen kini menoleh ke arah Arsen dengan tatapan yang mungkin bisa saja langsung membunuh orang yang menatap matanya.

"Apa yang dia katakan tadi benar, Arsen?" tanya Galen, suaranya sangat rendah, menyimpan badai yang siap meledak.

Arsen berlutut di depan Galen, menundukkan kepalanya dalam-dalam. Ia sudah tertangkap basah lebih dulu sebelum mengaku dengan sendirinya. "Maafkan saya, Tuan. Janinnya... tidak selamat saat operasi. Saya dipaksa merahasiakannya."

Keheningan yang terjadi setelahnya lebih mengerikan daripada suara baku tembak tadi. Galen tidak berteriak. Ia hanya menatap Shabiya yang masih terlelap dalam komanya. Penyesalan yang ia rasakan di beberapa hari sebelumnya kini bercampur dengan kehancuran total. Tidak ada lagi harapan yang bisa dia pegang. Ia telah bertaruh nyawa untuk melindungi sebuah kebohongan.

Dan di tengah kehancuran kepercayaan dua orang itu, jari Shabiya tiba-tiba bergerak kecil di dalam genggaman Galen. Kelopak matanya bergetar. Di tengah bau mesiu dan darah, Shabiya mulai terbangun ke dalam sebuah dunia yang jauh lebih kacau daripada saat ia meninggalkannya.

1
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!