NovelToon NovelToon
Serpihan Yang Patah

Serpihan Yang Patah

Status: tamat
Genre:Pernikahan Kilat / Balas Dendam / CEO / Tamat
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Dua tahun terjebak dalam neraka pelecehan dan ancaman sang kakak ipar, Markus, membuat Relia kehilangan jiwanya—terlebih saat kakak kandungnya sendiri memilih berkhianat. Di titik nadir, Relia berhasil melarikan diri dan bertemu Dokter Ariel, seorang psikiater sekaligus CEO yang menjadi pelindungnya. Melalui pernikahan yang awalnya berlandaskan rasa aman dari ancaman Markus, Ariel membimbing Relia menyembuhkan trauma parah dan kecemasannya. Ini adalah kisah tentang keberanian seorang wanita untuk memecah keheningan dan merebut kembali hidup yang sempat terenggut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Beberapa hari kemudian, suasana di ruang perawatan terasa lebih ceria.

Dokter Rendy dan Dokter Sukma akhirnya memberikan lampu hijau bagi mereka untuk pulang, meski dengan beberapa catatan medis yang ketat.

Pagi itu, sebelum keluar dari rumah sakit, Ariel duduk di tepi ranjangnya.

Ia memegang sebuah penutup mata (eye patch) kulit berwarna hitam yang baru saja diberikan oleh perawat.

Dengan gerakan perlahan, ia memasang tali elastisnya melingkari kepala, menutupi mata kanannya yang kini menjadi saksi bisu perjuangannya.

Relia, yang sedang merapikan tas pakaian, menoleh dan sempat terdiam melihat penampilan baru suaminya.

Ada guratan sedih di wajahnya, namun Ariel dengan cepat menyadarinya.

Ariel tiba-tiba berdiri—meski tubuhnya sedikit goyah—dan meletakkan tangannya di pinggang dengan pose yang sangat dramatis.

"Arrrgh, Matey! Mana kapal kita, Nyonya Arkatama?" seru Ariel dengan suara yang sengaja dibuat berat dan serak, menirukan gaya bajak laut di film-film.

Ia menggunakan sendok bekas makannya seolah-olah itu adalah pedang.

"Harta karun terbesar sudah ada di depan mataku, dan sekarang dia sedang mengandung bajak laut kecil!"

Relia yang tadinya ingin menangis, justru tertawa terbahak-bahak melihat tingkah konyol suaminya.

"Mas! Apa sih? Malu dilihat perawat!"

"Biar saja! Bajak laut tidak punya rasa malu," Ariel terkekeh, meski kemudian ia harus segera duduk kembali karena kepalanya terasa berdenyut.

"Aduh, sepertinya bajak laut ini butuh bantuan kursi roda untuk sampai ke dermaga parkiran."

Satrio kemudian masuk membawa kursi roda. Dengan bantuan Satrio, Ariel duduk di kursi tersebut.

Meskipun saraf keseimbangannya masih terganggu akibat luka di kepala, semangatnya untuk menghibur Relia tidak padam.

"Ayo, Satrio! Dorong kapal ini menuju istana!" perintah Ariel sambil menunjuk ke arah pintu keluar dengan gaya heroik.

Relia mendekat, mengusap pundak suaminya dengan penuh kasih.

Ia tahu Ariel melakukan semua akting lucu ini hanya agar dirinya tidak stres dan menjaga kandungan pertamanya ini.

"Terima kasih sudah selalu berusaha membuatku tersenyum, Mas," bisik Relia lembut.

Mereka pun meninggalkan rumah sakit.

Di depan pintu keluar, Mama Wahyuni sudah menunggu dengan mobil yang nyaman.

Meskipun Ariel harus duduk di kursi roda dan memakai penutup mata, langkah mereka pulang terasa jauh lebih ringan.

Badai besar telah berlalu, dan kini mereka bersiap menyambut anggota keluarga baru yang akan melengkapi kebahagiaan mereka.

Mobil berhenti tepat di depan teras utama rumah Arkatama.

Begitu pintu terbuka, Relia tertegun melihat perubahan di lantai bawah.

Mama Wahyuni tersenyum bangga sambil memandu Satrio mendorong kursi roda Ariel masuk ke dalam sebuah ruangan luas yang biasanya merupakan ruang perpustakaan keluarga.

Kini, ruangan itu telah disulap menjadi kamar tidur yang sangat mewah dan nyaman, lengkap dengan fasilitas medis pendukung.

"Mama tidak mau kalian ambil risiko naik tangga," ujar Mama Wahyuni sambil membantu Relia duduk di sofa empuk di dalam kamar baru tersebut.

"Semua kebutuhan kalian ada di sini. Dekat dengan dapur, dekat dengan ruang tengah, jadi Mama bisa terus mengawasi kalian."

Ariel melihat sekeliling dengan mata sehatnya yang berbinar.

"Terima kasih, Ma. Ini jauh lebih dari cukup."

Siang itu, suasana rumah terasa begitu hangat saat mereka berkumpul di meja makan untuk makan siang pertama sejak kejadian dermaga.

Meja makan dipenuhi dengan berbagai hidangan sehat untuk memulihkan kondisi Ariel dan menjaga kandungan Relia. Namun, di tengah aroma sup ayam yang lezat, Relia tiba-tiba meletakkan sendoknya.

Ia tampak gelisah, hidungnya mengendus-endus udara seolah mencari sesuatu.

"Ada apa, Relia? Masakannya kurang enak?" tanya Mama Wahyuni cemas.

Relia menggeleng pelan, wajahnya memerah karena malu.

"Bukan, Ma. Tiba-tiba saja, aku ingin sekali makan manisan mangga. Yang asam, pedas, dan segar. Rasanya lidahku tidak mau menerima yang lain."

Ariel tertawa kecil, meskipun ia harus memegangi kepalanya yang sedikit berdenyut.

"Wah, sepertinya si 'bajak laut kecil' sudah mulai membuat permintaan pertamanya, Sayang."

"Manisan mangga?" Mama Wahyuni langsung berdiri dengan semangat.

"Satrio! Tolong carikan manisan mangga paling enak dan bersih sekarang juga. Kalau tidak ada, cari mangga mudanya, biar Mama yang buatkan sendiri bumbunya!"

Satrio sigap mengangguk dan segera berangkat. Sambil menunggu, Ariel menggenggam tangan Relia di bawah meja.

"Sabar ya, Sayang. Sebentar lagi datang," goda Ariel sambil menyesuaikan penutup mata hitamnya.

"Lihat, bahkan dalam kondisi seperti ini, Papa Bajak Laut akan memastikan semua keinginan Ratu dan Pangeran kecil terpenuhi."

Relia tersenyum lebar, rasa mual dan gelisah yang tadi menyerang seolah sirna melihat perhatian keluarganya.

Makan siang itu penuh dengan tawa, sebuah pemandangan yang beberapa minggu lalu terasa mustahil untuk didapatkan.

Satrio masuk kembali ke ruang makan dengan langkah tegap, namun kedua tangannya penuh dengan kantong-kantong plastik besar.

Di dalamnya terlihat berbagai macam toples dan bungkusan manisan mangga, mulai dari manisan basah yang segar, manisan kering dengan taburan gula, hingga manisan mangga muda dengan bumbu rujak yang merah merona.

"Lapor Nyonya, ini manisan mangganya. Saya beli dari beberapa tempat berbeda agar Nyonya bisa memilih mana yang paling cocok di lidah," ucap Satrio dengan wajah serius khasnya, meski pemandangan seorang ajudan kekar membawa tumpukan manisan itu terlihat cukup menggelitik.

Mata Relia seketika berbinar. Rasa mual yang sedari tadi menggantung di kerongkongannya seolah hilang digantikan dengan air liur yang terbit melihat potongan mangga kuning yang menggoda itu.

"Wah, Satrio! Banyak sekali! Terima kasih ya," seru Relia sambil segera mengambil satu toples manisan mangga basah.

Ariel tertawa melihat istrinya yang begitu antusias.

"Pelan-pelan, Sayang. Ingat kata Dokter Sukma, jangan terlalu banyak makan yang terlalu pedas dulu."

Relia hanya mengangguk cepat sambil menyuapkan sepotong mangga ke dalam mulutnya.

"Hmm! Ini dia! Pas sekali rasanya. Asam dan segarnya benar-benar enak."

Mama Wahyuni hanya tersenyum haru melihat menantunya mulai memiliki nafsu makan kembali. Namun, di tengah keceriaan itu, Satrio mendekat ke arah Ariel dan membisikkan sesuatu yang membuat ekspresi santai Ariel sedikit berubah.

"Tuan, ada kiriman dokumen dari pengadilan terkait berkas penyitaan aset Markus. Ada sesuatu yang perlu Anda lihat di ruang kerja bawah nanti," bisik Satrio pelan agar tidak merusak suasana hati Relia.

Ariel mengangguk singkat, lalu kembali menatap istrinya yang sedang asyik menikmati manisan.

Ia sadar, meski kebahagiaan sedang menyelimuti rumah ini, sisa-sisa badai Markus belum sepenuhnya tuntas.

Sebagai kepala keluarga, ia harus memastikan tidak ada lagi ancaman yang bisa mengusik ketenangan istri dan calon bayinya.

Ariel meminta Satrio membantunya menuju ruang kerja sementara di sudut kamar bawah.

Dengan perlahan, ia duduk dan mulai membuka map cokelat besar yang berisi berkas-berkas pengadilan.

Dengan satu mata sehatnya, ia memfokuskan pandangan pada deretan angka dan nama aset yang disita dari Markus.

Wajah Ariel menegang saat matanya tertuju pada sebuah lampiran khusus.

"Satrio, apa kamu sudah membaca ini?" tanya Ariel dengan suara rendah.

"Belum semuanya, Tuan. Saya hanya memastikan dokumen itu sampai ke tangan Anda dengan aman," jawab Satrio.

Ariel menunjuk sebuah nama perusahaan cangkang yang tercatat sebagai pemilik sah sebuah rumah di pinggiran kota.

"Markus ternyata tidak hanya menyimpan uang di rekening rahasia. Dia menggunakan nama Relia tanpa sepengetahuannya untuk membeli beberapa properti yang digunakan sebagai tempat persembunyian barang-barang ilegalnya."

Ariel menghela napas berat, tangannya meremas pinggiran dokumen.

"Jika polisi tidak mendapatkan penjelasan bahwa tanda tangan Relia di sini dipalsukan, istriku bisa terseret kasus pencucian uang dan kepemilikan barang ilegal.

Ini alasan kenapa Markus bersikeras ingin membawa Relia kembali; dia menjadikannya tameng hukum."

"Lalu apa langkah kita, Tuan?" Satrio bertanya siap siaga.

"Kita harus segera menghubungi pengacara keluarga. Semua bukti pemalsuan tanda tangan dan tekanan mental yang dialami Relia selama ini harus disusun. Aku tidak akan membiarkan Relia menginjakkan kaki di kantor polisi dalam kondisinya yang sedang hamil," tegas Ariel.

Tiba-tiba, suara tawa Relia terdengar dari ruang tengah, ia sepertinya sedang berbincang dengan Mama Wahyuni sambil menikmati manisannya.

Ariel menutup map itu dengan cepat. Ia tidak ingin kebahagiaan kecil istrinya terganggu oleh bayang-bayang Markus yang masih berusaha menjerat mereka dari balik jeruji besi.

1
Yuningsih Nining
😭😭
Uthie
Awal cerita yg sudah sangat mengerikan 😰
Mundri Astuti
lagi napa ngga diborgol si, kan dah bahaya banget ...dari kemarin nafsu banget mau bunuh relia juga ..
Mundri Astuti
si Markus bener" ya, masih belum jera..miskinin sekalian dia biar ngga bnyk gaya ma ga berkutik
Mundri Astuti
usut sampe tuntas Ariel, siapa" aja dibelakang Markus yg ngebantu melrikan diri ..ringkus juga si Sarah.
mudah"an relia selamat
Herdian Arya
mungkin itu lebih baik, kalaupun lahir juga akan menderita punya bapak kelainan mental seperti Markus.
Mundri Astuti
lah relia kan belum nikah sama Markus, jatuhnya anak diluar nikah calon bayi relia, dan itu nasabnya pada ibu
my name is pho: iya kak.
total 1 replies
Herdian Arya
saking bencinya dengan Markus dan sarah pengen tak kremasi hidup hidup tuh 2 manusia iblis.
my name is pho: sabar kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!