NovelToon NovelToon
Suami Hyper Anak SMA

Suami Hyper Anak SMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Teen Angst / CEO / Dijodohkan Orang Tua / Nikah Kontrak
Popularitas:11.1k
Nilai: 5
Nama Author: Raey Luma

"DAVINNNN!" Suara lantang Leora memenuhi seisi kamar.
Ia terbangun dengan kepala berat dan tubuh yang terasa aneh.
Selimut tebal melilit rapat di tubuhnya, dan ketika ia sadar… sesuatu sudah berubah. Bajunya tak lagi terpasang. Davin menoleh dari kursi dekat jendela,
"Kenapa. Kaget?"
"Semalem, lo apain gue. Hah?!!"
"Nggak, ngapa-ngapain sih. Cuma, 'masuk sedikit'. Gak papa, 'kan?"
"Dasaaar Cowok Gila!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Raey Luma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Proteksi Davin

Malam turun lebih cepat hari itu.

Lampu kota terlihat samar dari balik jendela besar kamar kelas satu. Angin AC terasa lebih dingin, Bi Marni duduk di sofa kecil sambil membereskan wadah bekal yang ia bawa. Sementara Leora masih di kursi samping ranjang, menatap jam dinding.

Sudah melewati pukul delapan malam.

Davin berbaring memejamkan mata, namun belum sepenuhnya tertidur.

Tok… tok…

Pintu kamar diketuk pelan.

Seorang perawat masuk sambil membawa clipboard.

“Permisi. Cek jadwal kontrol pasien.”

Leora dan Bi Marni langsung duduk lebih rapi.

Perawat menulis sesuatu sebentar, lalu melirik ke arah dua orang yang duduk di ruangan.

“Ehm… maaf sebelumnya,” ucapnya sopan.

“Aturan rumah sakit, yang berjaga di malam hari hanya satu orang.”

Leora terdiam. Bi Marni ikut melongo pelan.

“Lho… nggak boleh dua orang tah, Mbak?” tanya Bi Marni.

Perawat menggeleng lembut. “Kami khawatir pasien terganggu istirahatnya. Jadi maksimal satu penunggu saja Bu.”

Leora langsung berdiri. “Kalau gitu saya aja yang pulang, Bi,” katanya cepat.

Suara itu terdengar lega tanpa ia sadari.

Leora merasa punya kesempatan untuk keluar dari situasi yang membuatnya bimbang dan merasa bersalah…

Ia segera mengambil tasnya. Wajahnya penuh girang.

Namun baru satu langkah — suara Davin pelan memotong.

“Nggak usah, Bibi aja yang pulang.”

Leora menoleh, terkejut. Davin masih berbaring, tapi matanya kini terbuka.

“Den, mana bisa Bibi pulang? Aden kan masih sakit,” ucap Bi Marni.

Davin tersenyum kecil. “Justru itu. Bibi besok harus beberes di rumah. Masa aku repotin terus.”

Lalu, Leora buru-buru menyangkal. "Gue juga bisa kalo cuma beberes. Lagian gue juga… harus balik. Capek."

Davin menatapnya lama.

Seakan-akan Leora adalah satu-satunya jangkar yang masih membuatnya tenang.

Perawat memecah keheningan. “Kalau boleh tanya, yang akan berjaga nanti… hubungan darahnya dengan pasien siapa?”

Pertanyaan itu melayang tepat di tengah. Leora tercekat. Bi Marni spontan angkat tangan.

“Ini istr—”

“Sepupu!” potong Davin cepat.

Perawat menoleh.

Leora ikut kaget. Bi Marni langsung menutup mulutnya sendiri.

“Sepupu paling dekat,” lanjut Davin tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Dia sering bantu keluarga. Jadi… ya, paling bisa dimintain tolong.”

Perawat mengangguk.

“Baik. Kalau sepupu dekat masih diperbolehkan.”

Ia menulis sesuatu di form.

Sementara Leora masih membeku di tempatnya.

Setelah perawat selesai memberi instruksi, perawat itupun pamit keluar.

Pintu tertutup kembali. Ruangan kembali sunyi.

Bi Marni berdiri pelan “Non, Bibi pulang dulu kalau gitu…”

Leora ingin menahan. Ingin bilang:

“Bi, jangan. Saya aja yang—”

Tapi suara itu tak pernah keluar. Karena pada detik yang sama Davin menghela napas kecil. Tangan kirinya bergerak, mencengkeram selimut.

“…Leora." Panggilannya rapuh tidak dibuat-buat.

Leora menoleh. Tatapannya bertemu.

“Kalau lo pulang sekarang… gue rasa gue nggak bakal bisa tidur.”

Pertahanan Leora runtuh. Ia membuang napas panjang.

“…Bi,” ucapnya pelan. “Bibi pulang aja. Besok pagi datang lagi.”

Bi Marni mengangguk, meski sempat terlihat ragu.

Ia menepuk lengan Leora.

“Hati-hati jaga Den Davin ya, Non. Kalau apa-apa panggil suster.”

Leora hanya mengangguk. Pintu kembali tertutup. Menyisakan hanya mereka berdua.

Davin memejamkan mata kembali. Namun bibirnya bergerak pelan.

“Makasi…”

Leora menatapnya lama.

“…dasar licik,” gumamnya lirih.

"Tapi, gue beneran gak bisa kalo ditungguin Bi Marni. Gue gak bakal leluasa minta tolong" tambah Davin, jujur.

"Terserah lo..."

Davin tak menjawab lagi, ia tahu Leora marah.

Dan benar saja, setelah percakapan itu Leora segera membalikkan badan begitu saja. Tanpa sepatah kata pun.

Kursi di samping ranjang ia geser sedikit menjauh, lalu pergi ke sofa kecil dekat dinding. Punggungnya sengaja membelakangi Davin.

Ia menarik napas kesal.

“…gue bener-bener nggak suka lo kayak gini,” gumamnya pelan.

Davin tidak menjawab, hanya memandangi siluet punggungnya yang kaku.

Leora berbaring di sofa tanpa alas tambahan. Seragamnya kini sudah berganti baju santai, tapi kain tipis itu sama sekali tidak menahan dingin AC.

Ia memeluk tas kecilnya sebagai bantal.

Matanya lama terbuka.

Lalu perlahan…menutup.

Tak butuh lama, kelelahan akhirnya menariknya masuk ke tidur.

Ruang kamar kembali sunyi.

Hanya suara mesin pendingin dan detak alat monitor.

Davin membuka mata perlahan.

Leora meringkuk kecil. Bahunya menggigil.

Davin menghela napas pendek, “dasar.”

Ia melirik ke selimut cadangan yang terlipat rapi di atas nakas. Tangan kirinya bergerak pelan, menahan nyeri di bahu. Ia memaksa duduk, tubuhnya sedikit goyah.

Namun ia tetap berdiri. Langkahnya hati-hati.

Begitu tiba di sisi sofa, Davin berhenti sebentar. Ia menatap wajah Leora yang tertidur.

“jaga diri sendiri aja nggak bisa,” gumamnya lirih.

Selimut ia buka perlahan, lalu dibentangkan dan menurunkannya pelan di atas tubuh Leora, memastikan bahunya tertutup.

Gerakannya hati-hati — seolah takut membangunkannya.

Angin AC kini tertahan. Leora menghela napas lebih tenang.

Davin menunduk sedikit. Menatapnya lebih lama dari seharusnya.

Ada rasa bersalah dan ketakutan. Bukan karena ia tidak percaya Leora bisa pulang sendiri, atau karena ia butuh dijaga.

Tapi, justru sebaliknya. Ia takut kalau perempuan itu sendirian, Leora akan kembali mengambil keputusan konyol tanpa pikir panjang.

“…kalau gue lepasin lo pulang,” bisiknya pelan, “lo pasti bakal bikin masalah lagi, kan?”

Ia membungkuk sedikit, lebih dekat. Lalu berbisik nyaris tak terdengar.

“Jangan pergi sendirian lagi. Gue tau lo cewek paling ceroboh.”

Ia berdiri perlahan. Menahan rasa sakit di bahunya. Dan kembali ke ranjang dengan napas pelan.

Namun sebelum memejamkan mata, ia melirik sekali lagi. Memastikan selimut itu masih menutupi Leora.

***

Keesokan harinya...

Cahaya matahari menembus tirai tipis. Jam dinding menunjuk pukul sembilan lewat sedikit.

Davin membuka mata perlahan. Kepala masih terasa berat, namun napasnya lebih stabil dibanding malam sebelumnya.

Ia menoleh ke arah sofa. Kosong.

Selimut sudah terlipat rapi.

“…Leora?” suaranya lirih.

Matanya bergerak cepat, memindai sudut ruangan. Namun yang ia dapati hanya seorang perawat yang baru saja datang memeriksa infus, serta Bi Marni yang duduk tenang di kursi.

“Den Davin sudah bangun?” sapa Bi Marni sambil tersenyum kecil.

Davin mengernyit tipis.

“Bi… Leora mana?”

Pertanyaannya terdengar lebih panik dari yang ia niatkan.

“Non Leora sudah berangkat sekolah dari subuh tadi.”

Davin terdiam beberapa detik. Tatapannya jatuh lagi ke sofa kosong itu.

“…sendirian?”

“Dia berangkat sama siapa?” lanjutnya cepat.

Bi Marni terkekeh kecil, “Aduh Den… Masih pagi sudah banyak pikiran.”

“Bi serius,” Davin menahan napas. “Dia naik apa?”

“Takutnya—”

“Tenang,” potong Bi Marni sambil menaikkan alis.

“Non Leora Bibi pesenin taksi online.”

Davin langsung menghela napas panjang. Bahu yang tadi menegang perlahan turun.

“Syukurlah…”

Perawat melirik sekilas, menangkap nada lega itu.

Davin memalingkan wajah, menatap langit-langit. Setidaknya… bukan Rey yang nganter, batinnya dingin.

Bi Marni tiba-tiba tertawa pelan.

Perawat dan Davin sama-sama refleks menoleh.

“Kenapa, Bi?” tanya Davin, heran.

“Bibi jadi ingat masa muda,” jawabnya santai.

“Lihat Den Davin sama Neng Leora begini…”

Ia tersenyum hangat.

“…rasanya kaya lihat cinta pertama Bibi waktu SMP.”

Perawat spontan ikut menahan senyum.

Davin memicingkan mata.

“Bi… jangan asal ngomong,” gumamnya setengah malu.

Bi Marni justru semakin semangat.

“Dulu, Bibi juga suka diem-diem jagain orang yang Bibi sayang, tapi malu buat ngakuin perasaan.”

Perawat refleks berhenti menulis. Matanya berbinar sedikit penasaran.

“Oh? Terus gimana, Bi?” tanya Davin pelan.

Bi Marni mendadak terhenti. Ia terbatuk kecil.

“Ehem… ah sudahlah.”

Ia melambaikan tangan cepat.

“Itu mah masa lalu. Nggak penting.”

1
Neneng
g suka bgt sm leora
Raey Luma
Bacaan yang ringan dan santai. Cocok untuk menemani waktu luang.
muna aprilia
lanjut kak bagus ceritanya
banyak" in update kak
diah nursanti
lanjut thor,,,penasaran,itu Rey udah tau kalo leora tinggal ma davin ya??
Raey Luma: kita lihat nanti kak🤭
total 1 replies
diah nursanti
leora bener2 gak punya hati,buat leora menyesal thor
diah nursanti
hah,,,jadi leora tau semua kelakuan Rey nyelakai Davin???cinta memang buta,,awas leora nanti km bakal nyesel
muna aprilia
lanjutkan kak
diah nursanti
keras kepala bnget leora,,tau rasa nanti kalo dikerjain Rey lagi
Raey Luma: Namanya orang jatuh cinta kak😃
total 1 replies
muna aprilia
lanjut
diah nursanti
leora keras kepala banget jadi cewek
Shifa Burhan
author tolong jawaban donk dengan jujur

*kenapa di novel2 pernikahan paksa dan sang suami masih punya pacar, maka kalian tegas anggap itu selingkuh, dan pacar suami kalian anggap wanita murahana, dan suami kalian anggap melakukan kesalahan paling fatal karena tidak menghargai pernikahan dan tidak menghargai istrinya, kalian akan buat suami dapat karma, menyesal, dan mengemis maaf, istri kalian buat tegas pergi dan tidak mudah memaafkan, dan satu lagi kalian pasti hadirkan lelaki lain yang jadi pahlawan bagi sang istri

*tapi sangat berbanding terbalik dengan novel2 pernikahan paksa tapi sang istri yang masih punya pacar, kalian bukan anggap itu selingkuh, pacar istri kalian anggap korban yang harus diperlakukan sangat2 lembut, kalian membenarkan kelakuan istri dan anggap itu bukan kesalahan serius, nanti semudah itu dimaafkan dan sang suami kalian buat kayak budak cinta dan kayak boneka yang Terima saja diperlakukan kayak gitu oleh istrinya, dan dia akan nerima begitu saja dan mudah sekali memaafkan, dan kalian tidak akan berani hadirkan wanita lain yang baik dan bak pahlawan bagi suami kalau pun kalian hadirkan tetap saja kalian perlakuan kayak pelakor dan wanita murahan, dan yang paling parah di novel2 kayak gini ada yang malah memutar balik fakta jadi suami yang salah karena tidak sabar dan tidak bisa mengerti perasaan istri yang masih mencintai pria lain

tolong Thor tanggapan dan jawaban?
Raey Luma: Sementara contoh yang kakak sebutkan mungkin lebih menonjolkan karakter pria yang arogan, sehingga apa pun yang dia lakukan selalu tampak salah di mata pembaca. Apalagi di banyak novel, perempuan yang dinikahkan secara paksa biasanya digambarkan berasal dari tekanan ekonomi atau tanggung jawab keluarga, sehingga karakternya cenderung lebih lemah dan rapuh. Dan itu yang akhirnya membuat tokoh pria terlihat seperti pihak yang “dibenci”.


Beda dengan alur ceritaku di sini, di mana pernikahan mereka justru terjadi karena hal konyol dua orang ayah yang sama-sama sudah kaya sejak lama, jadi dinamika emosinya memang terasa berbeda.

Kurang lebih seperti itu sudut pandangku. Mohon maaf kalau masih ada bagian yang kurang, dan terima kasih sudah berbagi opini 🤍
total 2 replies
Felina Qwix
kalo aja tau Rey si Davin suaminya Leora haduh🤣🤣🤣
Raey Luma: beuuh apa ga meledak tuh sekolah🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!