cerita fantasi berlatarbelakang zaman majapahit, ada plot twistnya, ada pengkhianatannya, penghiatan cinta, sahabat, ada percintaan, percintaan sebelah tangan, cinta segitiga, ada intrik sosial ada intrik politik, pemeran utama adalah anak penguasa yang terbuang, dihinakan, terlunta-lunta dengan dibenci karena orang tuanya yang dicap penghianat, pada akhirnya dia menapak sedikit demi sedikit dengan menyembunyikan identitas, merangkak naik kekuasaan untuk membalas dendam, pemeran utama tidak baik-baik amat, dia juga menggunakan cara-cara untuk mencapai tujuan baik itu cara licik, pura2 menjalin hubungna asmara, pura-pura bersahabat untuk mencapai tujuan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mokhammad Soni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 1 DARAH DI HALAMAN ISTANA
Api menjilat dilangit Wilwatikta pada malam itu, merah menyala seperti luka yang sengaja dibiarkan terbuka.
Asap kemenyan bercampur kayu terbakar, bau besi panas dan bau amis darah mengambang di udara. Angin malam membawa jerit, doa, dan sumpah serapah, menabrak dinding-dinding batu bata rumah Rakyana Arya Wardana yang selama puluhan tahun berdiri kokoh. Pendapa yang biasanya menjadi tempat menerima tamu dan musyawarah kini berubah menjadi panggung penghakiman.
Di balik dinding ukiran kala-makara yang menghadap halaman, seorang anak lelaki menahan napas. Diam dan sorot mata tajam melihat kedepan.
Raka Wardhana. Si anak tunggal dari Rakyan Arya Wardana. ANak semata wayang yang selalu disayang dan dipenuhi segala kebutuhannya. Para emban dan cantrik yang selalu siap sedia ngrumat Raka.
Tubuhnya masih kecil, baru menginjak usia 10 tahum, terjepit di antara dua lapis dinding batu. Celah itu sempit, celah itu bukan tempat rahasia yang dibuat untuk bersembunyi—melainkan lorong pengintai lama, sisa arsitektur tua yang jarang dipakai. Ayahnya pernah menunjukkan pada Raka sambil berkata, “Raka, ingatlah kotaraja bukan hanya sebagai tempat tinggal semata, Berhati-hatilah, kota raja juga penuh dengan orang-orang yang saling mengintai.”
Kini, celah itu menjadi satu-satunya harapan bagi Raka untuk bertahan hidup.
Dari balik celah-celah, ia melihat halaman rumahnya yang diterangi obor. Prajurit Bhayangkara berjajar, tombak dan pedang mereka berkilat, ujungnya masih basah. Beberapa jasad tergeletak di sudut halaman, ditarik ke pinggir seperti barang tidak berharga. Dicampakkan begitu saja.
Di tengah halaman, ayahnya, Rakyan Arya Wardana berlutut.
Rakryan Arya Wardhana— adalah salah satu pejabat tinggi istana, Demung Wilwatikta, orang yang selama ini mengurusi urat nadi logistik kerajaan Wilwatikta. Sebuah posisi yang strategis. Lelaki yang setiap fajar selalu pulang dengan wajah letih dan bau tinta lontar.
Tangannya terikat tali goni. Ikatannya kasar, membuat pergelangan tangannya berdarah. Wajahnya lebam, bibirnya pecah, rambutnya awut-awutan, baju sobek sana sini, namun dia tetap mampu duduk tegak. Pandangan dengan sorot tajam dan penuh wibawa.
Raka menggigit bibirnya sendiri, air mata menetes melihat kondisi ayahnya.
“Ayah…”
Suara itu hanya ada di kepalanya saja, tidak terucapkan. Jika ia bersuara, ia tahu, malam ini juga ia akan menyusul.
Beberapa pejabat istana yang datang berdiri melingkar. Rakryan, patih, senapati—orang-orang yang selama ini menyebut ayahnya saudara dalam sidang-sidang kerajaan. Mulut mereka lantang meneriakkan tuduhan, namun mata mereka tak bisa menyembunyikan kegelisahan.
Dan ambisi.
Langkah berat terdengar dari arah pendapa. Seorang lelaki berbusana kebesaran melangkah maju. Kalung emas bertatahkan lambang Wilwatikta tergantung di dadanya.
Mahapatih Agung. Dia berdiri di depan Arya Wardana.
“Rakryan Arya Wardhana,” suaranya menggema, dingin dan terukur, “atas nama Wilwatikta, engkau dituduh menyelewengkan perbekalan kerajaan, menyembunyikan cadangan senjata, dan bersekongkol dengan pihak-pihak yang hendak mengguncang tatanan Negara Wilwatikta.”
Terdengar suara -suara kecil bersahutan, tidak keras tapi seperti dengungan tawon, pelan tapi bising. Dan ada yang terlalu cepat bersorak, seolah takut kesempatan itu berlalu, serta kemungkinan ditunjuk untuk menggatikan Arya Wardana.
“Aku telah mengabdi pada Wilwatikta sejak darahku masih muda, berpeluh bersama-sama mengangkat wibawa kerajaan,” jawab ayah Raka, suaranya serak namun tak goyah. “dari menjadi pejabat yang tak layak untuk dilihat sampai dengan sekarang, aku telah mencatat, menghitung, dan mendistribusikan dengan persetujuan dan distempel kerajaan tidak ada yang kupakai untuk memperkaya diriku dan keluargaku, dan negeri ini bisa terhindar dari rasa lapar. Jika itu kini Mahapatih sebut sebagai pengkhianatan, maka dimana hukum di istana bisa dijunjung tinggi.”
Beberapa pejabat saling pandang. Mahapatih tersenyum tipis.
“Kebenaran bukan lagoi menjadi urusanmu, Rakryan,” katanya. “Negeri ini membutuhkan '"ketertiban" meski ditempuh dengan jalan darah, bukan penjelasan tidak dibutuhkan disini.”
Setiap percakapan tertangkap jelas di telinga Raka. Kata-kata yang berputar, membolak-balik kata, Raka merasakan perutnya melilit.
Tiba-tiba kegaduhan muncul dari sisi lain halaman. Dua prajurit menyeret seorang perempuan ke tengah halaman.
Ibunya, istri Arya Wardana. Dyah Ratna.
Rambutnya terurai, sanggulnya hancur. Busana kebesaran yang biasanya rapi kini robek di beberapa bagian, ternoda lumpur dan darah. Namun langkahnya tetap tegak meski kedua lengannya ditahan.
Raka menahan isak tangis.Bibir berdarah menahan emosi dan kesedihan melihat kondisi kedua orangtuanya, dia bertekad apapun yang terjadi dia harus hidup.
Raka dengan lekat melihat ke ibunya. Disaat itulah Dyah Ratna merasakan seseorang melihat kedirinya. Sebuh getaran. Getaran sang anak menyaksikan kejadian ini. Dyah Ratna tersennyum.
Ia menatap kearah getaran yang dia rasakan, tapi samar, karena Dyah Ratna juga harus menjaga keamanan anaknya agar tidak diketahui.
Tidak ada teriakan. Tidak ada kepanikan. Hanya senyum kecil.
Senyum yang membuat dada Raka seolah diremas dari dalam.
Seoalah-olah ibunya berbisik bertahanlah untuk hidup, Pergilah.
Itu yang dirasakan oleh Raka dari tatapn serta senyum yang ada terpancar dari ibunya.
“Dyah Ratna,” Mahapatih berkata datar, “sebagai istri pengkhianat, engkau turut menanggung akibat perbuatan suamimu.”
Ibunya mengangkat wajah. “Jika Wilwatikta harus berdiri di atas darah orang-orang jujur,” katanya pelan, “tunggulah maka negeri ini akan runtuh oleh kebusukannya sendiri, lakukanlah.”
Suara yang pelan dan tegas, juga mebakar kesabaran, seklebat gerakan pedang dengan cepat menusuk ke tubuh Dyah Ratna.
Raka memejamkan mata—namun suara itu tetap menembus kepalanya.
Dentingan besi menembus dada. Darah mengalir diujung pedang. Pedang dicabut pelan-pelan, gesekan pedang, darah, daging dan tulang membekas di ingatan Raka. Ujung kuku menembus telapak tangan. Tidak terasa, kalah dengan perihnya hati melihat ibunya dieksekusi.
Tubuh wanita paru baya itupun jatuh.
Darah mengalir di halaman yang berbatu.
Raka membuka matanya kembali, dunia di depannya terasa bergetar. Terasa memerah.
Arya Wardana menatap ke arah tubuh istrinya. Kesedihan yang mendalam, telah berpuluh tahun dalam suka dan duka, ditinggalkan begitu saja terengut oleh ujung pedang tanpa hati. Untuk pertama kalinya, ketenangan itu runtuh. Namun ia tetap tidak memohon. Air mata tertahan. Bibir terkatup.
“Lakukanlah,” katanya lirih. “Sejarah sudah ditulis sesuai kemauanmu, tapi ingatlah kebenaran akan mencari jalannya sendiri.”
Mahapatih memberi isyarat.
Satu tarikan napas.
Bilah pedang turun.
Raka menutup mulutnya dengan tangan. Air mata runtuh, bibir tergigit begitu keras hingga terasa asin. Ia tak tahu apakah itu air mata atau darah. Hatinya terguncang, dalam hitungan detik dia telah kehilangan kasih sayang kedua orang tuanya, hari-hari yang dihiasi dengan kebahagian yang penuh canda dan tawa, pelukan hangat ibunya, ketegasan ayahnya kini telah tercerabut bersama dengan pedang yang dicabut dari tubuh ayahnya.
Sorak kecil terdengar. Doa dilantunkan. Seseorang mencatat kejadian itu di atas lontar—dengan tinta yang kelak disebut sejarah.
Api mulai menjalar ke bangunan-bangunan Rakyan Arya Wardana. Para pejabat berangsur pergi, sibuk mengamankan kepentingan masing-masing. Mayat-mayat dibiarkan.
Waktu berlalu—entah berapa lama.
Saat halaman mulai sepi, dan ketika dirasa aman, Raka merangkak keluar dari celah persembunyian. Kakinya gemetar. Ia mendekati tubuh orang tuanya.
Masih tersisa nafas disana, ibunya… bergerak.
Napasnya tinggal satu-dua.
“Raka…” suaranya hampir tak terdengar.
Raka berlutut, menggenggam tangan itu.
“Hiduplah Raka, jangan pernah hidup seperti orang-orang Kotaraja yang penuh dengan fitnah. Jangan percaya pada sebuah Identitas,” bisik ibunya. “Jangan biarkan hatinya dibutakan jabatan. Harta dan wanita… hiduplah dengan damai.”
Dan tangan itu kemudian terkulai. Satu yang terpatri dalam diri Raka, bagaimana dia bisa hidup damai dila disaat terakhir kedua orang-tuanya berakhir dipelukannya penuh darah. Dia tidak bisa menerima. Dia menuntut keadilan.
Langkah kaki mendadak terdengar.
“Hei masih ada satu orang,” suara seseorang berkata.
Sosok bayangan muncul dibelakang orang yang berteriak—dibalik asap pekat bayangan menyergap, senyap tanpa suara, tubuh jatuh. Seorang abdi dalem tua menarik Raka.
“Sekarang, Ndoro,” bisiknya. “Lewat jalur lama. Seperti titah ayahmu.”
Rakapun berlari mengikuti Abdi dalem. Di belakangnya, rumahnya mulai habis terbakar.
Bayangan prajurit-prajurit yang terlatih berkumpul, mengenali salah satu tubuh temannya yang jatuh. Suara perintah terdengar jelas, laporan keberadaan anggota keluarga Rakyan Arya Wardana yang masih hidup dikirimkan, derap kaki bergerak menuju ke arah pelarian Raka.
"Kejar.... Periksa dengan teliti jangan sampai lolos........".