Sheila Adalah Gadis Cantik Dengan Kepribadian Bar-Bar Dan Ceria Yang Menjalani Kehidupan Remajanya Dengan Penuh Warna. Namun, Warna Itu Memudar Sejak Ia Mengenal Devano, Seorang Laki-Laki Tampan Bertangan Dingin Yang Memiliki Kendali Penuh Atas Hati Sheila. Selama Dua Tahun Menjalin Hubungan, Sheila Selalu Menjadi Pihak Yang Mengalah Dan Menuruti Segala Keinginan Liar Devano, Meskipun Cara Berpacaran Mereka Sudah Jauh Melampaui Batas Kewajaran Remaja Pada Umumnya.Selama Itu Pula, Sheila Mati-Matian Menjaga Satu Benteng Terakhir Dalam Dirinya, Yaitu Kehormatan Dan Keperawanannya. Namun, Devano Yang Manipulatif Mulai Menggunakan Senjata Janji Suci Dan Masa Depan Untuk Meruntuhkan Pertahanan Tersebut. Devano Memberikan Pilihan Sulit Menyerahkan Segalanya Sebagai Bukti Cinta Atau Kehilangan Dirinya Selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30
Arkan menatap Sheila dengan tatapan yang sangat lembut. Ada binar harapan di matanya melihat semangat Sheila mulai kembali. Ia merapikan sedikit helai rambut Sheila yang menutupi keningnya dengan gerakan yang sangat sopan.
"Jika kamu ingin segera kembali ke kampus, maka kamu harus pulih sepenuhnya lebih dulu, Sheila." ucap Arkan lembut namun tegas. "Seorang dokter bedah membutuhkan fisik yang kuat dan tangan yang tidak bergetar. Jadi, jangan terlalu memaksakan diri, ya?"
Sheila mengangguk pelan, menyerap setiap dukungan yang diberikan Arkan. Pria di hadapannya ini adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkannya kembali dengan masa depannya.
"Bagaimana kalau kita ke taman sekarang?" tawar Arkan sambil beranjak mengambil kursi roda. "Udara pagi sangat baik untuk kesehatanmu. Matahari pagi bisa membantumu merasa lebih segar daripada hanya menatap dinding putih kamar ini."
Sheila terdiam sejenak, lalu memberikan anggukan setuju. "Mungkin Dokter benar. Saya butuh melihat sesuatu yang hidup selain peralatan medis ini."
Arkan tersenyum lebar. Ia membantu Sheila berpindah ke kursi roda dengan sangat hati-hati, memastikan tidak ada beban yang menekan luka operasinya. Selama perjalanan menuju taman, Arkan terus bercerita tentang kasus-kasus ringan di kampus untuk memancing tawa Sheila—sebuah upaya kecil untuk perlahan-lahan menghapus bayang-bayang duka yang masih tersisa di wajah wanita itu.
Sinar matahari pagi menembus celah-celah pepohonan di taman rumah sakit, memberikan semburat keemasan di wajah Sheila. Arkan perlahan menghentikan kursi roda itu di dekat kolam ikan yang tenang. Ia kemudian melangkah ke depan dan berlutut di hadapan Sheila, menyamakan tingginya agar bisa menatap langsung ke dalam mata wanita itu.
Suasana sejenak menjadi hening, hanya terdengar suara gemericik air dan kicauan burung di kejauhan. Arkan meraih tangan Sheila, menggenggamnya dengan lembut namun penuh keyakinan.
"Sheila..." panggilnya dengan nada suara yang lebih dalam dari biasanya. "Bisakah kamu memanggil saya Arkan saja? Jangan terlalu formal seperti itu. Kita sudah melewati banyak hal bersama, dan saya ingin menjadi seseorang yang dekat denganmu, bukan sekadar dokter atau dosenmu."
Sheila tertegun. Ia menatap wajah Arkan yang tampak tulus, tanpa ada sedikit pun kepura-puraan. Selama ini, sekat formalitas itulah yang menjadi pelindungnya, namun kini ia merasa Arkan layak untuk mendapatkan lebih dari sekadar panggilan gelar.
"Tapi... apakah tidak apa-apa?" tanya Sheila ragu, sebuah rona tipis muncul di pipinya yang pucat.
Arkan tersenyum lebar, jemarinya mengusap punggung tangan Sheila dengan lembut. "Tentu saja. Di luar jam kampus dan rumah sakit, saya hanya Arkan. Pria yang ingin melihatmu tersenyum lagi. Jadi, cobalah panggil namaku."
Sheila menarik napas panjang, mencoba membiasakan lidahnya. "Baiklah... Arkan."
Mendengar namanya disebut oleh Sheila, hati Arkan terasa menghangat. Ia tahu ini adalah langkah kecil, namun bagi Sheila yang sedang membangun kembali hatinya yang hancur, ini adalah sebuah kemajuan yang sangat besar.
Arkan duduk di bangku taman tepat di samping kursi roda Sheila. Ia membiarkan keheningan yang nyaman menyelimuti mereka sejenak sebelum memulai percakapan.
"Dulu, saat aku memutuskan mengambil spesialis bedah, banyak orang bilang aku gila karena jarang tidur." ujar Arkan memecah kesunyian dengan nada santai. Ia terkekeh pelan. "Tapi melihat pasien yang tadinya di ambang maut kembali membuka mata... itu perasaan yang tidak bisa dibayar dengan apa pun, Sheila."
Sheila menoleh, menatap profil samping wajah Arkan. "Itukah alasanmu tetap bertahan di dunia medis meskipun tekanannya sangat besar?"
Arkan mengangguk, lalu menoleh menatap Sheila dengan sorot mata penuh arti. "Ya. Dan sekarang, aku melihat potensi itu ada padamu. Kamu punya ketenangan yang jarang dimiliki mahasiswa lain. Saat kamu sudah kembali ke kampus nanti, aku ingin kamu fokus pada satu hal: jadilah dokter yang paling hebat agar tidak ada lagi nyawa yang hilang sia-sia karena ketidakadilan."
Sheila terdiam, meresapi kata-kata Arkan. "Arkan... terima kasih." ucap Sheila tulus. "Selama ini aku merasa hidupku sudah berhenti di malam itu. Tapi mendengar ceritamu, aku sadar bahwa aku harus memiliki kekuatan agar bisa melindungi orang lain. Aku tidak ingin ada ibu lain yang merasakan kehancuran seperti yang aku alami."
Arkan tersenyum, ia merasa lega melihat cahaya di mata Sheila mulai kembali berpijar. "Itu semangat yang aku tunggu. Aku akan membantumu, Sheila. Mulai dari materi kuliah yang tertinggal, hingga praktik klinis nanti. Aku akan menjadi mentor sekaligus... orang yang selalu bisa kamu andalkan."
Sheila tersenyum—kali ini lebih lebar dari sebelumnya. "Kalau begitu, bersiaplah. Karena aku tidak akan menjadi mahasiswi yang mudah menyerah. Aku akan mengejarmu, Dokter Arkan."
Matahari perlahan semakin tinggi dan sinarnya mulai terasa menyengat kulit. Arkan melirik jam tangannya, lalu menatap Sheila dengan penuh perhatian.
"Sebaiknya kita kembali ke kamar sekarang, Sheila." ujar Arkan lembut sambil berdiri dan mulai memutar posisi kursi roda. "Berjemur di pagi hari sudah cukup untuk hari ini. Mataharinya mulai terik, dan itu tidak baik untuk kesehatanmu yang belum pulih benar."
Sheila tidak membantah. Ia hanya mengangguk pelan, menikmati cara Arkan mendorong kursi rodanya dengan sangat hati-hati. "Terima kasih, Arkan. Kamu sudah sebaik ini menjagaku." batin Sheila sambil menatap punggung tangan Arkan yang menggenggam pegangan kursi roda.
Tanpa Sheila sadari, setiap perhatian kecil dan kelembutan yang diberikan Arkan bukan sekadar kewajiban seorang dokter. Setiap tatapan cemas saat Sheila meringis kesakitan adalah manifestasi dari rasa cinta yang telah lama Arkan pendam di lubuk hatinya. Bagi Arkan, mencintai Sheila berarti bersedia menjadi bayangan yang melindungi, tanpa harus menuntut untuk diakui.
Saat mereka memasuki lift rumah sakit, Arkan sengaja berdiri di depan kursi roda Sheila, sedikit menghalangi pandangan orang lain yang mungkin menatap Sheila dengan rasa iba. Arkan melirik pantulan wajah Sheila di pintu lift yang mengkilap. "Cukup biarkan aku menjagamu seperti ini, Sheila. Melihatmu kembali memiliki harapan hidup, itu sudah lebih dari cukup bagiku." bisiknya dalam hati.
Sheila yang masih bergelut dengan pikirannya sendiri sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang mendorong kursi rodanya saat ini tengah menyerahkan seluruh hatinya untuk kesembuhannya.
Vano : Ogah. Bidadari surga jauh LBH cantik darimu.
Diriku: Justice Prevail... 😅😅😅🤣🤣🤣
Melepas LBH baik drpd terluka dlm diam.
Kadang kesel sama keBegoan karakternya.
Kadang benci sama egoisnya pra karakternya.
Tapi kembali LG, semoga kisah sprti ini gak ada didunia nyata.
Semangat terus menulisnyaaaaa...
penasaran saya🤭