"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 4. kutukan?
"Nad, menurutmu orang sini aneh nggak sih? Kok kayak takut banget sama rumah Mbah kamu?" tanya Elsa
Mereka berjalan santai sehabis belanja dari warung sembako Bu Mutia. Setiap ketemu warga lain, mereka akan terlihat takut jika tahu Nadira dan Elsa tinggal dirumah almarhumah mbah Saryati.
"aku juga ngerasa gitu, sebenernya aku pengen nyelidikin rumah Simbah. Tapi kita nggak bisa leluasa kalo berada dalam rumah itu" ucap Nadira yang membuat Elsa tambah penasaran
"kenapa gitu? kan disana cuman ada simbok sama suaminya" tanya Elsa
"itu yang terlihat, gimana sama yang tak terlihat?" Nadira bertanya balik
"maksud kamu...setan?" tanya Elsa
"iya, mungkin malah lebih bahaya. Kita juga harus waspada sama simbok dan suaminya" ucap Nadira sambil menatap lurus kedepan
"loh bukannya simbok sama Suaminya udah sejak jaman mbahmu dulu kerja dirumah itu?" Elsa tidak mengerti kenapa sahabatnya malah mencurigai simbok Minah dan paklek Saruji
"mereka beraura gelap, bahkan aku bisa merasakan energi negatif disekitar mereka" jawab Nadira
Mereka menghentikan obrolan ketika sudah mendekati gerbang rumah Simbah yang sekarang adalah milik Nadira. Alasan apa dibalik diwariskannya rumah itu kepada Nadira, gadis itu pun tidak tahu.
.
Sedangkan dirumah orang tua Nadira, seorang laki-laki berpakaian ustadz tengah menatap tajam kedua orang tuanya. Ia tak habis pikir kenapa orang tuanya justru mengizinkan sang adik pergi ke kampung halaman neneknya tanpa pengawalan.
"ayah tau kan disana berbahaya, bahkan ayah juga tau jika Nadira adalah darah yang terpilih. Kenapa kalian mengizinkannya pergi sendiri?!" laki-laki itu bernama Zayyan, Kakak laki-laki Nadira.
"kamu tidak mengerti Zayn, Nadira putriku adalah gadis tangguh. Inilah saatnya ia mengetahui tentang kutukan itu dan memutuskannya sendiri" ucap sang ayah dengan tenang
"tapi mas, benar kata Zayn. apa tidak terlalu berbahaya jika kita membiarkan Nadira disana tanpa pengawasan kita?" tanya sang bunda
"inilah yang kalian harus ketahui. Zayn, apa kamu ingat anak laki-laki yang dulu suka mengganggu Nadira?" tanya ayah Wijaya
"anak laki-laki? Apa anaknya Bu Mutia?" tanya Zayyan
"yah, sekarang dia sudah menjelma menjadi pria dewasa yang gagah dan juga tangguh. Ia sudah ayah bekali ilmu dan do'a perlindungan. Dialah yang ayah tugaskan untuk menjaga Nadira. Tapi mungkin, jalan mereka akan banyak halangan. Walaupun begitu ayah tidak mungkin melepaskan putri ayah begitu saja. Kita akan datang kesana jika sewaktu-waktu posisi mereka dalam keadaan terdesak" jelas ayah Wijaya panjang lebar
"jadi, apakah dia sudah bertemu dengan Nadira mas?" tanya bunda
"belum, Kamu tahu kan jika dia suka menjahili Nadira. dia bilang jika dia akan membuat Nadira kebingungan dengan dirinya. Musuh atau partner" ucap ayah Wijaya terkekeh
"aishh jika dia mengganggu adikku maka aku sendiri yang akan menghajarnya" ucap Zayyan
"abi, Abi itu seorang ustadz masa kesabarannya setipis tisu" ucap isteri Zayyan yang sedari tadi diam menyimak
Zayyan dan Liana menikah baru dua tahun dan belum memiliki momongan. Zayyan sendiri berumur dua puluh delapan tahun beda tujuh tahun Dengan Nadira. Itulah sebabnya dia sangat menjaga adiknya itu
Malah sekarang sang adik harus berjuang sendiri di kampung sama melawan bahaya tanpa pengawasan darinya. Sungguh ia rasanya ingin menyusul sang adik dan mengajaknya kembali kesini. Namun, jika itu ia lakukan maka kutukan dari zaman buyutnya dulu tidak akan terputus dan jiwa Nadira akan dalam bahaya.
.
Di warung sembako Bu Mutia.
"Bu, apa dua perempuan tadi yang tinggal dirumah Simbah Saryati?" Tanya anak laki-laki Bu Mutia
"iya, Nadira kan teman kecilmu dulu. kenapa nggak kamu temui?" tanya Bu Mutia
"Hem belum sempat aja nanti jika ia ceroboh maka aku akan muncul dihadapannya" ucap laki-laki itu dengan senyum misterius
plukk
Bu Mutia melempar sehelai kangkung ke wajah anaknya itu
"sok misterius banget kamu itu" ucap Bu Mutia yang tertawa melihat anaknya yang dulu sangat nakal kini menjadi sosok tak tersentuh. Namun dengan keluarga ia akan hangat dan humoris