Kehidupan Swari hancur dua kali: pertama saat suaminya tewas, dan kedua saat seorang pria misterius merenggut kehormatannya di balik kegelapan kain penutup mata.
Swari yakin kalau mantan kakak iparnya yang memperkosanya, tapi ia tidak mempunyai bukti.
Di ambang keputusasaan untuk mengakhiri hidup, tangan seorang lelaki asing menyelamatkannya. Kini, Swari harus memilih: tenggelam dalam duka, atau bangkit bersama sang penyelamat untuk mengungkap siapa sebenarnya iblis yang telah mencuri jiwanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
Dua jam kemudian, mobil Navy kembali terparkir di halaman.
Ratri turun dengan wajah yang sedikit lebih tenang setelah mendoakan mendiang adik iparnya di masjid. Namun, ketenangan itu menguap seketika saat ia melihat pintu depan rumah Swari sedikit terbuka.
"Mas, kenapa pintunya terbuka lebar?"
Navy tidak menjawab dan langsung turun dari mobil dan segera mereka naik ke kamar Swari.
Langkah Navy dan Ratri yang terburu-buru menaiki tangga terasa seperti dentuman genderang perang di tengah keheningan rumah yang mencekam.
Bau keringat asing dan hawa dingin dari pintu yang terbuka lebar membuat firasat Navy semakin memburuk.
"Swari! Kamu di dalam?" teriak Navy sambil menendang pintu kamar yang hanya tertutup separuh.
Pemandangan di dalam kamar itu seketika menghentikan detak jantung mereka.
Lampu kamar yang tadinya padam kini menyala temaram dan memperlihatkan kekacauan yang tak terbayangkan.
Ratri menjerit tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan saat melihat pemandangan memilukan di atas ranjang.
Swari terbaring dalam posisi yang sangat merendahkan martabat manusia.
Pergelangan tangannya memerah dan lecet akibat ikatan tali yang kasar ke kepala ranjang.
Tanpa sehelai benang pun, tubuhnya yang gemetar hanya ditutupi sisa-sisa kain penutup mata yang terlepas sebagian.
Ratri segera menghambur, meraih selimut tebal dan menyelimuti tubuh adiknya yang sedingin es.
Dengan tangan gemetar, ia membuka kain yang menutup mulut yang Swari.
"Mbak Ratri!!!"
Lengkingan suara Swari pecah, membelah kesunyian malam.
Ia langsung menghambur ke pelukan Ratri, menangis histeris hingga tubuhnya terguncang hebat.
Suara tangisnya bukan lagi sekadar sedih, melainkan suara dari jiwa yang baru saja dibunuh untuk kedua kalinya.
"Iblis! Dia iblis, Mbak! Mas Pradutha, tolong aku..." racaunya dengan tatapan mata yang liar dan ketakutan.
Navy memejamkan matanya saat mendengar suara tangisan adik iparnya.
Ia mengambil ponselnya dan akan menghubungi kepolisian.
Tangan Navy yang sudah siap menekan tombol panggil mendadak kaku di udara.
Ia menoleh dengan tatapan tidak percaya ke arah ranjang.
"Jangan, Mas. Aku mohon, jangan telepon polisi," ucap Swari dengan suara parau yang tersendat di antara isak tangis yang menyesakkan.
Ratri yang masih memeluk erat tubuh adiknya yang gemetar, menatap Navy dengan gelengan kepala, mengisyaratkan suaminya untuk menurunkan ponselnya.
"Tapi kenapa, Swari? Ini kejahatan keji! Iblis itu harus membusuk di penjara!" suara Navy meninggi, dipenuhi amarah yang hampir meledak.
Rahangnya mengeras hingga urat-urat di lehernya menonjol.
Swari menggelengkan kepalanya dengan histeris, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Ratri.
"Aku tidak mau. Aku tidak sanggup jika seluruh dunia tahu. Aku baru saja kehilangan Mas Pradutha. Aku tidak mau namaku dan namanya diseret dalam kehinaan ini. Aku mohon, Mas... Mas Navy, Mbak Ratri. Tolong jaga ini sebagai rahasia."
Navy memukul dinding kamar dengan kepalan tangannya.
Bunyi dentuman itu membuat Swari tersentak ketakutan.
"Lalu kita biarkan saja dia bebas? Setelah apa yang dia lakukan padamu di atas ranjang suamimu sendiri?!"
Swari terdiam, namun tangisnya kian pecah. Di balik kain penutup mata yang tadi sempat menutupi pandangannya, ia memang tidak melihat wajah pria itu.
Begitu juga dengan aroma parfum yang sangat asing.
"Apa Dimas yang melakukannya?" tanya Navy.
Swari terdiam saat mendengar pertanyaan dari kakak iparnya.
"Aku tidak tahu, Mas." jawab Swari.
Ia tidak yakin apakah mantan kakak iparnya yang melakukannya sebagai bentuk balas dendam atas penolakannya di depan orang banyak tadi siang. Tapi ia tahu, tanpa bukti fisik yang jelas, menuduh Dimas hanya akan menjadi bumerang bagi nama baiknya.
Setelah Navy akhirnya setuju untuk tidak melapor malam itu, suasana kamar berubah menjadi sangat sunyi.
Ratri membantu Swari mandi, membersihkan sisa-sisa "kehinaan" yang melekat pada kulitnya.
Setiap siraman air hangat terasa seperti duri bagi Swari.
Setelah Swari kembali berbaring dengan pakaian tertutup rapat.
Navy masuk dengan segelas air hangat dan obat untuk adik iparnya.
Matanya yang merah menunjukkan bahwa ia habis menangis di luar.
"Istirahatlah, Swari. Malam ini Mas dan Mbak Ratri akan tidur di sini, di sofa depan kamarmu. Tidak akan ada yang bisa menyentuhmu lagi," ucap Navy pelan, suaranya kini melunak.
"Mas Navy..." panggil Swari lirih sebelum kakaknya itu keluar.
"Ya?"
"Tolong buang sprei ini. Bakar semuanya. Aku tidak ingin melihat apa pun yang tersisa dari malam ini."
Navy menganggukkan kepalanya dan mengambil kain sprei itu.
Navy segera menggulung sprei yang ternoda itu dengan kasar, seolah ingin meremas habis kenangan buruk yang tertinggal di sana.
Matanya berkilat penuh amarah saat ia melangkah keluar kamar tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
"Mas Navy, mau ke mana?!" seru Ratri tertahan, namun Navy tidak menjawab.
Ia terus menuruni tangga dan keluar menuju mobilnya.
Mesin mobil meraung keras saat Navy melajukannya membelah kegelapan malam.
Sepanjang jalan, tangan Navy mencengkeram kemudi hingga buku-bukunya memutih.
Bayangan wajah hancur Swari terus menghantuinya.
Sesampainya di sana, Navy tidak memedulikan bel. Ia menggedor pintu depan dengan kepalan tangannya yang keras.
"DIMAS! KELUAR KAMU!"
Pintu terbuka, memperlihatkan Dimas yang masih mengenakan kemeja santai, tampak sedang menyesap segelas kopi.
Wajahnya terlihat tenang, namun ada kilat provokasi di matanya.
"Ada apa malam-malam begini, Navy? Masih suasana duka, kan?" tanya Dimas dengan nada datar.
Tanpa peringatan, Navy menerjang maju dan mencengkeram erat kerah baju Dimas, mendorongnya hingga menghantam dinding ruang tamu.
"Jangan pura-pura bajingan! Apa yang kamu lakukan pada Swari Maghrib tadi?!" Navy berteriak tepat di depan wajah Dimas.
Dimas tertawa kecil, suara yang terdengar sangat menjijikkan di telinga Navy.
"Aku? Sejak jam enam sore sampai sekarang aku ada di kantor, Navy. Kamu bisa cek CCTV atau tanya sekretarisku. Aku punya alibi yang sempurna."
Navy semakin mempererat cengkraman tangannya.
"Kamu sengaja memanfaatkan situasi saat kami di masjid, kan?!"
Dimas menepis tangan Navy dengan kasar, lalu merapikan kerah bajunya dengan senyum miring yang menyakitkan.
"Dengar, Navy. Dunia ini kejam bagi janda muda yang lemah. Kalaupun, katakanlah ia memang baru saja menjadi korban perkosaan, siapa lagi yang mau menerimanya kalau bukan aku? Aku bahkan rela menikahinya meski ia sudah tidak suci lagi. Bukankah itu bukti cintaku yang tulus?"
BUGH!
Pukulan keras Navy mendarat telak di wajah Dimas, membuat pria itu tersungkur ke lantai dengan sudut bibir yang pecah.
"Tutup mulut busukmu! Sekali lagi kamu mendekati Swari, aku pastikan kamu tidak akan punya kesempatan untuk bicara lagi!" ancam Navy dengan napas memburu, sebelum akhirnya ia berbalik meninggalkan Dimas yang masih terkekeh sinis di lantai gelap rumahnya.
Dimas tersenyum tipis saat melihat mobil Navy yang meninggalkan rumahnya.
Sementara itu di tempat lain dimana Swari menggenggam kancing kemeja pelaku yang ia tarik.
Ia memasukkan kancing itu ke plastik dan setelah itu memasukkannya ke dalam saku pakaiannya.
Swari mendengar suara mobil Navy dan ia langsung merebahkan tubuhnya.
Navy masuk kedalam dan disambut oleh Ratri yang sedang menunggunya.
"Dimas mempunyai alibi dan ia mengatakan siap menikahi Swari walaupun dengan kondisi Swari yang seperti itu," ucap Navy.
Ratri menutup mulutnya dan terkejut dengan perkataan suaminya.
Swari mendengar percakapan mereka berdua dengan wajah yang jijik.
Kemudian Navy mengajak istrinya untuk istirahat di kamar tamu.
Kegelapan malam terasa semakin mencekik saat Swari bermimpi tentang kejadian itu lagi.
Ia bangkit dari tempat tidurnya dan keluar dari kamarnya.
Ia melihat Ratri dan Navy yang masih tertidur pulas di kamar tamu.
"Mbak, Mas. Aku minta maaf." gumam Swari yang kemudian membuka pintu rumah.
Dengan tatapan kosong, ia menyusuri jalanan sepi menuju jembatan layang yang melintang di atas sungai beraliran deras.
"Maafkan aku, Mbak Ratri, Mas Navy. Aku tidak sanggup membawa noda ini selamanya," gumam Swari lirih.
Swari kini berdiri di tepi jembatan dengan angin kencang menerpa wajahnya yang pucat.
Ia menatap air sungai yang hitam di bawah sana, membayangkan kedamaian di mana ia bisa bertemu kembali dengan Pradutha tanpa rasa malu.
"Mas Pradutha, tunggu aku. Maafkan aku yang tidak bisa menjaga diri..." Swari memejamkan mata, condong ke depan, siap menjatuhkan raga yang ia rasa tak lagi berharga.
"HENTIKAN!!"
Sebuah suara bariton yang kuat menggelegar, disusul dengan sentakan keras di lengannya.
Tubuh Swari ditarik paksa ke belakang hingga ia jatuh terjerembap ke dada bidang seorang lelaki asing.
"Apa yang kamu lakukan?! Nyawa bukan mainan!" bentak lelaki itu.
Swari yang sudah berada di puncak traumanya tidak mampu menjawab.
Ia menatap wajah lelaki itu dengan pandangan kabur.
Ketakutan hebat kembali menyergapnya, ia mengira kalau pria misterius yang merenggut kehormatannya kembali datang.
"Jangan! Tolong jangan sentuh aku..." rintih Swari sebelum dunianya mendadak gelap.
Ia langsung pingsan dalam pelukan lelaki asing tersebut.
Lelaki itu terdiam, menatap wajah Swari yang berantakan karena air mata.
Ia melihat bekas luka merah di pergelangan tangan Swari dan pakaian yang berantakan.
Ia tahu kalau wanita ini bukan sekadar ingin bunuh diri karena patah hati biasa.
"Kita ke bandara sekarang," ucap lelaki itu kepada asistennya yang baru saja menepikan mobil hitam di samping mereka.
Dengan hati-hati ia menggendong Swari masuk ke dalam mobil.
Ia mengambil tisu dan menghapus sisa air mata di pipi wanita yang tak dikenalnya itu dengan gerakan yang sangat lembut, kontras dengan suaranya yang tadi menggelegar.
"Aku tidak tahu siapa yang telah menghancurkanmu, tapi di tempat yang akan kita tuju, kamu akan punya kesempatan untuk membalas mereka," bisiknya rendah saat mobil itu melaju kencang meninggalkan kota yang penuh duka tersebut.
Lelaki itu adalah Baskara, seorang pengusaha muda yang selama ini dikenal dingin dan tak tersentuh. Namun, malam itu, sorot matanya yang tajam tampak meredup oleh rasa bersalah yang amat dalam.
Baskara menatap wanita yang pingsan di pangkuannya.
kalau aku asal. konflik nya tidak menguras emosi udah pasti suka... semangat thor