NovelToon NovelToon
TAWANAN CINTA TUAN SAGA

TAWANAN CINTA TUAN SAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Barat / CEO / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah / Dark Romance / Mafia
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: An_cin

Real cerita asli
No Jiplak!!!!
Yang jiplak gue gaplak

Ivana, wanita berusia 26 tahun harus merasakan pahit yang lebih dalam setelah kakaknya meninggal. Ia di haruskan menggantikan sang kakak untuk menikahi Saga, calon kakak iparnya setelah Olivia meninggal. Namun rupanya, Saga pun tak melepaskan Ivana, karena tahu bahwa jantung yang ada di dalam dirinya adalah milik Olivia.

"Tolong, izinkan aku pergi!" Rintihan itu terus Ivana ucapkan dari balik pintu kamar berinterior mewah.

Di depan kamar itu, terdapat beberapa orang yang mengawasinya.

"Kau mau kemana Ivana? Kau harus tetap di sini, Olivia tidak akan pernah membangkang padaku. Kau harus menurut, atau aku akan mengambil jantungmu dan memberikannya pada wanita lain sebagai Olivia" ucap Saga dari balik pintu kamar Ivana.

"Kau sudah gila Saga, lepaskan aku! Aku tidak ingin di sini! Aku ingin pergi! "

Ivana, apakah kamu benar-benar akan bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22

Saga berbalik badan, ia mendekati Aretha dan memeluknya dengan erat. “Aku tidak akan melakukan hal itu mama, maaf karena telah membuat mama khawatir. Aku bahkan tak benar-benar melakukannya, itu hanya amanah yang di titipkan Olivia padaku sebelum dia meninggal. Namun jika tidak ada restu dari kalian, maka aku juga tak akan menikahi Ivana. Hatiku juga masih sangat tertutup untuk menerima wanita lain.”

Aretha menatap putranya, ia merasa pilu, tampak kesedihan yang mendalam di wajah pria itu. “Saga, yang kuat ya sayang, mama tahu, kamu pasti bisa lalui semua ini.” Aretha menangkup pipi putranya, dan Saga kini kembali memeluk sang ibu dengan erat.

“Tidak apa-apa Saga, kamu boleh menangis, itu hal yang wajar.” Dalam pelukan itu, Saga tersenyum menyeringai. “Mama bahkan tak curiga sama sekali, ini benar-benar awal yang sangat bagus.” Ujar Saga, dalam hatinya.

Saga melepaskan pelukan itu, ia kemudian mengendurkan dasinya lalu membuka jas miliknya dan memberikannya pada seorang pelayan. Saga membuka dua kancing kemeja putihnya, tanpa pria itu sadari ada sebuah noda darah pada kemeja pria itu.

Aretha sadar akan darah itu, ia kemudian menarik kemeja Saga, mencoba melihatnya lebih jelas lagi, dan benar saja, itu benar-benar noda darah. “Saga, apa kamu terluka?.” Tanya Aretha dengan raut wajah yang begitu cemas.

“Sial, bagaimana kau bisa lupa soal darah pria itu, untung mama masih mengira bahwa ini adalah darah milikku.” Saga berucap dalam hatinya. Ia harus tenang, tak boleh panik. Ia sudah terjun ke dalam dunia gelap itu, dan ia tak bisa lagi mundur.

“Tidak apa-apa mama, ini hanya luka kecil saja.”

Aretha menarik Saga menuju atas, mereka menaiki anak tangga dan pergi ke lantai dua. Keduanya kini pergi ke ruang kerja Saga, Aretha menyuruh seorang pelayan untuk memberikannya kotak obat. “Terima kasih, kamu boleh pergi sekarang.” Pelayan itu melangkahkan kakinya pergi setelah Aretha menyuruhnya.

Wanita paruh baya itu melepaskan kemeja Saga, namun dengan cepat Saga kembali menutup tubuhnya dengan kemeja putih itu. Aretha yang melihat reaksi itu pun langsung kembali menatap putranya. Padahal ia kini sudah tinggal mengoleskan obat dan membalut luka di pinggang Saga.

“Biar aku lakukan sendiri.” Saga mengambil obat itu, namun Aretha kembali mengambilnya dari tangan Saga.

“Jangan Saga, biar mama bantu kamu.”

“Tidak usah mama, Saga sudah besar, bukan anak kecil lagi.”

Saga kemudian berbalik badan, ia mengoles tubuhnya yang sebenarnya baik-baik saja, tak ada luka sama sekali. Saga kemudian mencari pembahasan lain, karena ia tak mau membuat mamanya curiga.

“Mama, bukankah harusnya sudah berada di paris sekarang? Papa juga belum pulang, tumben mama di rumah.”

Ucapan Saga itu langsung membuat Aretha merasa bersalah pada putranya. “Saga, maafkan mama ya, mama dan papa tidak benar-benar ada waktu untuk kamu. Namun, sekarang mama sudah memiliki begitu banyak waktu luang. Jadi kita bisa me time bersama.” Saga yang mendengar itu pun kemudian tersenyum.

“Terima kasih mama, mama selalu bekerja keras. Mama juga butuh waktu untuk istirahat bukan, jangan cemaskan Saga. Lagi pula Saga sibuk akhir-akhir ini.”

Aretha merasa bersalah, selama ini, ia dan tuan Howard sangatlah sibuk, mereka bahkan tak punya cukup waktu untuk benar-benar bertanya pada Saga, apakah ia baik-baik saja. Hingga pada akhirnya mereka akan pensiun, namun kini justru Saga yang sibuk.

“Saga, maafkan mama, mama benar-benar merasa bersalah sebagai seorang ibu. Mama pasti adalah ibu yang gagal.”

Saga kemudian berdiri dari duduknya, ia langsung berdiri di hadapan sang ibu. “Apa, bagaimana bisa mama bilang, bahwa mama adalah ibu yang gagal. Mama justru sudah berhasil, cobalah lihat. Saga tumbuh menjadi anak yang baik, dan itu semua karena mama dan papa selalu ada untuk Saga.” Mendengar itu Aretha pun mengangguk, air mata jatuh di matanya.

“Sudah, jangan menangis, jika papa tahu dia pasti marah padaku karena mengira aku yang menyakiti mama.” Saga mengusap air mata Aretha. Aretha benar-benar merasa bersalah lantaran telah berburuk sangka pada putranya sebelumnya.

*****

Di kediaman wingston, kini semuanya tampak kacau. Terutama bagi nyonya mereka, jiwanya benar-benar sangat terguncang hebat. Bagaimana tidak, ia harus kehilangan kedua putrinya hanya dalam waktu 1 bulan.

Nyonya Emalia, seorang single mom, setelah suaminya meninggal 16 tahun yang lalu. Dia mempunyai BPD (Borderline Personality Disorder), hal ini ia dapatkan setelah jiwanya terguncang atas kematian suaminya. Ia sudah tak punya siapa pun lagi selain mereka. Orang tua Emalia telah pergi sejak ia duduk di sekolah menengah atas. Ia benar-benar merasa sendiri, merasa di tinggalkan. Merasa tak di inginkan, bahkan merasa tak cukup, untuk dirinya sendiri.

“Aku adalah ibu yang gagal, mengapa semua ini harus terjadi padaku.” Emalia terus menangis tanpa henti di kamarnya, ia tak ingin keluar kamar meski para pelayan sudah mencoba untuk mengajaknya keluar, namun ia tak mau. Emosinya benar-benar tak terkontrol, hingga akhirnya Grace datang. Pada awalnya wanita itu datang ke sana untuk meminta tanda tangan dari bosnya. Namun setelah melihat itu, Grace kembali menyimpan proposalnya.

Wanita dengan baju formal berjas hitam itu menghampiri Emalia, ia duduk di sampingnya dan mencoba menenangkan wanita itu, membuatnya menjadi tempat sandaran untuk Emalia.  “Nyonya, tenangnya. Anda tak pernah sendiri, ada kami di sini.”

Emalia kembali menegakkan tubuhnya, ia kemudian menatap Grace dengan tatapan yang pilu. “Aku gagal menjadi ibu, sekarang semua pergi meninggalkan aku. Aku sudah tak punya siapa pun selain Ivana. HHHHHH, AKU IBU YANG GAGAL. AKU ORANG YANG GAGAL........”

Grace kembali memeluknya, membuat wanita itu setidaknya jauh lebih tenang. “Nyonya, Anda bukanlah seseorang yang gagal.”

“Nona Ivana tak benar-benar pergi atas kemauannya sendiri, apa kau ingat. Kau bilang padaku kemarin bahwa ada seseorang yang sedang mengincar putrimu. Dia di culik, dia tidak benar-benar pergi atas kemauannya.” Mendengar hal itu, Emalia pun langsung mengangkat kepalanya.

“Kau benar Grace, aku harus mencari dia.” Dengan wajah yang pucat, serta badan yang sempoyongan akibat kelelahan berat yang di alaminya, membuat Emalia terjatuh.

Ia pingsan dengan sekejap, “Nyonya,” Grace pun langsung menghampiri wanita itu.

“Panggil dokter ke sini, cepat!.” Mendengar perintah dari Grace, membuat kepala pelayan langsung pergi untuk menelepon.

*****

Danuel kembali ke Villa, di tangannya, kini terdapat sebuah surat tanah milik seorang petani kecil yang baru saja ia rampas. Pria itu kemudian melemparkan surat itu kepada kepala pelayan, orang yang bertugas atas segala urusan di Villa itu.

“Tolong taruh ini di kamar Saga.”

“Baik Tuan.”

Kepala pelayan itu pun pergi dengan membawa surat itu, tak lama setelah kepala pelayan pergi, datanglah pelayan lain yang menghampiri Danuel. “Tuan Danuel, ada keributan.”

Seketika raut wajah Danuel menjadi tegang, “Apa maksudmu?, keributan apa?”

“Itu tuan, gadis yang berada di kamarmu. Dia melarikan diri, para pelayan sudah mencoba menahannya. Namun dia malah memukul para pelayan dan membuat semua pelayan takut padanya.”

“Sial, mengapa kepala pelayan itu tak bilang padaku.”

Danuel pun langsung berlari ke lantai 2, ia pergi menuju kamarnya. Dan benar saja, engsel pintu di kamarnya kini telah rusak lantaran di dobrak.

“Sial, pergi ke mana gadis itu?”

Danuel pargi menyisiri setiap sudut rumah, tampak para pelayan panik. Ada beberapa yang terluka, dan sebagian pergi bersembunyi karena takut pada Jane. Namun tak semua pelayan tahu, ada beberapa yang masih mengerjakan tugasnya, lantaran mereka tak tahu apa yang sedang terjadi. Sampai akhirnya........

“Dor” Danuel menarik pelatuk pistolnya, bunyi itu terdengar sangat keras bahkan menggema hingga di seluruh rumah.

Martin yang sedang mengerjakan coding juga terkejut mendengar itu, namun itu tak aneh baginya, lantaran ia sudah terbiasa mendengar hal itu di sini.

“Itu pasti Danuel, ada apa lagi dia sampai harus seperti itu.”

Martin berdiri dari kursinya, ia keluar dari kamarnya dan pergi menemui Danuel, meninggalkan Rei sendiri di kamar itu dengan keadaan yang masih syok, dengan suara tembakan.

Hal yang sama juga terjadi pada Ivana, ia yang mendengar hal itu, benar-benar semakin di buat ketakutan. “Itu adalah suara pistol, mereka bukan orang biasa, mereka punya senja api.” Ivana duduk di pojokan, dengan kedua tangan yang menutup telinganya.

Sedangkan kini, Danuel kembali melepaskan satu tembakan, masih sama, dengan peluru yang kosong. “Jane, keluar kau, aku akan memberimu toleransi jika kau keluar sekarang. Jika kau tak mau keluar, aku akan menembakmu, 1 dan 2 boleh peluru kosong, namun saat kau tak keluar, peluru ini akan menjadi asli dan benar-benar akan menghancurkanmu. Keluarlah.”

Jane bersembunyi di bawah ranjang kamar seorang pelayan. “Tuhan, harus bagaimana ini. Aku benar-benar sudah sangat terpojok. Tak ada lagi ruang untukku berlari menghindar dari sini.”

Jane membungkam mulutnya, ia benar-benar tak tahu lagi menggunakan cara apa untuk kabur dari sini. Meski gadis itu tangkas dan sangat cekatan, namun Danuel bukanlah tandingan untuknya.

Danuel yang tak menemukan Jane, kemudian terpikir untuk mengecek kamar para pelayan. Danuel membuka satu persatu kamar itu sebari mengambil ancang-ancang. Jika sewaktu-waktu, Jane tiba-tiba muncul di hadapannya.

“Tidak ada di sini.”

“Di sini juga tidak ada.”

Hingga pada akhirnya Danuel sampai di kamar paling ujung, ia kini menaruh tanganya di knop pintu, mencoba memutar knop pintu itu, dan hal itu membuat Jane benar-benar ketakutan, pasalnya gadis itu kini tengah berada di kamar itu.

“Tuhan, tolong selamatkan aku, aku mohon, kali ini saja.”

1
Mar lina
aku mampir
Thor
An_cin: Terima kasih kak😍
total 1 replies
Homerun
Alurnya bagus dan terkonsep. Aku suka. Lanjut thor🤗
An_cin
Yang suka akal-akalan barat, ayo sini
Homerun
aw aw, sempat suuzon sama Jane. Tapi ternyata baik juga tu anak 🤭btw semangat cintaku
An_cin: makasih sayangku🤭👍
total 1 replies
christian Defit Karamoy
mantap thor
An_cin: Terima kasih kak, sudah mampir 🤭👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!