NovelToon NovelToon
Selayaknya Cinta

Selayaknya Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Cinta Seiring Waktu / Keluarga
Popularitas:11.3k
Nilai: 5
Nama Author: 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏

Di balik gerbang kemewahan keluarga terpandang, Putri tumbuh sebagai bayangan. Terlahir dari rahim yang tak pernah diinginkan, ia adalah noda bisu atas sebuah perasaan yang tak terbalaskan.

Warisan pahit dari ibu yang pergi sesaat setelah melahirkannya, ia dibesarkan di bawah tatapan dingin ibu tiri dan kebisuan sang ayah, Putri tak pernah mengenal apa itu kasih sayang sejati. Ia hanyalah boneka yang kehadirannya tak pernah diinginkan, namun keberadaannya tak bisa disingkirkan.

Ketika takdir kembali bermain kejam, Putri sekali lagi dijadikan tumbal. Sebuah skandal memalukan yang menimpa keluarga besar harus ditutup rapat, dan ia, sang anak yang tak pernah diinginkan dan yang tak berarti, menjadi kepingan paling pas dalam permainan catur kehormatan.

Ia dijodohkan dengan Devan, kakak kelasnya yang tampan dan dingin, pria yang seharusnya menikah dengan kakaknya, Tamara.

Di sanalah penderitaan Putri berlanjut, akankah ia menyerah pada takdir yang begitu pahit, atau bertahan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝑹𝒊𝒂𝒏𝒂 𝑺𝒂𝒏, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Terbaik...

"Dengar keputusan saya," ucap Brahma dingin tanpa menoleh.

"Mulai besok, saya akan membekukan semua kartu kredit kalian. Tidak ada lagi belanja, tidak ada lagi pesta."

"PAPA GILA?!" jerit Tamara histeris. "Aku butuh uang buat perawatan! Devan suka cewek cantik, kalau aku jelek dia bakal lari!"

"Biarin dia lari!" sentak Brahma, "dan satu lagi... saya akan menghubungi pengacara besok. Saya akan merombak surat warisan saya."

Mata Anggun membelalak lebar, kepanikan luar biasa melandanya.

"Maksud kamu apa, Mas? Jangan macem-macem ya!"

Brahma menoleh sedikit, memberikan tatapan tajam terakhirnya malam itu.

"Setengah aset saya, akan saya alihkan atas nama Putri. Sebagai penebusan dosa saya, dan sebagai hak dia yang selama ini kalian rampok."

"JANGAN!" teriak Anggun gila, berlari mengejar suaminya. "Mas, kamu nggak bisa gitu! Putri itu mau mati! Buat apa kasih uang ke orang mati?!"

Brahma menghempaskan tangan Anggun yang mencoba meraihnya.

"Justru karena dia sekarat, saya mau dia merasakan keadilan walau cuma sebentar, dan kalaupun dia pergi... setidaknya dia pergi sebagai pemilik sah dari apa yang seharusnya jadi miliknya. Bukan sebagai penumpang di rumah ayahnya sendiri."

Brahma melangkah naik ke lantai atas, masuk ke ruang kerjanya, dan membanting pintu. Mengunci diri dari teriakan histeris istri dan anak emasnya yang kini ketakutan kehilangan sumber kemewahan mereka.

Malam itu, fondasi keserakahan di rumah itu mulai retak. Dan di balik retakan itu, keadilan untuk Putri mulai menyinarkan cahayanya, meski terlambat.

**

Siang itu, matahari bersinar terik, namun tirai tebal di ruang tamu rumah Devan tertutup rapat, menciptakan suasana temaram yang menenangkan.

Putri sedang berbaring di sofa panjang, selimut tebal menutupi tubuhnya sampai ke dada. Efek samping obat kemoterapi terbaru membuatnya mual dan lemas luar biasa, namun ia memaksa dirinya untuk makan sedikit buah agar tidak muntah lagi.

Brak!

Ketenangan itu pecah berkeping-keping, pintu depan rumah dibuka paksa dengan kasar.

Putri tersentak kaget, jantungnya berpacu cepat, sesuatu yang berbahaya bagi kondisi jantungnya yang melemah.

Di ambang pintu, berdiri Tamara, penampilannya jauh dari kata cantik dan elegan.

"Kak Tamara?" cicit Putri, mencoba bangun dengan susah payah dan sopan santun yang masih tersisa.

"Jangan sok manis panggil gue kakak!" bentak Tamara. Ia melangkah masuk, heels-nya menghentak lantai kayu dengan intimidasi penuh.

Tamara berdiri menjulang di hadapan Putri yang masih terduduk lemah.

"Puas lo sekarang, Put? Puas lo ngadu domba papa sama mama? Lo hasut apa buat bekukan semua aset kami, iya?!" tuduh Tamara berapi-api.

Putri memegangi dadanya yang berdebar menyakitkan. "Aku nggak tau apa-apa soal papa, Kak. Aku nggak pernah minta apa-apa..."

"Bohong! Papa mau ubah surat warisan dan kasih setengah asetnya ke lo! Lo pikir gue bodoh?" Tamara melempar tas tangannya ke sofa dengan kasar. "Lo sadar diri dong, Put. Lo itu cuma benalu! Lo sakit-sakitan, bentar lagi juga mati, buat apa lo pegang harta sebanyak itu?!"

Putri menarik napas dalam, menahan perih di hatinya mendengar ucapan kakaknya.

"Kak Tamara..." suara Putri terdengar tenang namun tegas. "Aku tidak pernah meminta harta papa. Kalaupun papa melakukan itu, mungkin papa hanya ingin berlaku adil."

"Adil?!" Tamara tertawa sinis. "Adil buat siapa? Buat lo? Lo pikir lo pantes ngedapetin itu semua? Lo enggak pantes sama sekali!" sentak Tamara.

"Jadi... Kak Tamara takut jatuh miskin?"

"Hah? Lo pikir gue takut melarat?! Enggak akan, Put! Mama itu Direktur Keuangan di perusahaan Papa! Mama punya gaji sendiri, mama punya karir. Kita nggak bakal jatuh miskin cuma gara-gara lo!"

"Kalau enggak takut, kenapa koar-koar di sini?" tanya Putri dengan santainya.

"Lo bener-bener ya." Tamara sudah tidak sabar lagi, dia menggigit bibirnya menahan amarah.

Putri menatap kakaknya dengan tatapan iba. Tamara benar-benar tidak paham situasi sebenarnya.

"Kakak benar, mama Anggun memang bekerja. Kalian tidak akan kelaparan," ucap Putri pelan, "tapi Kakak lupa satu hal. Mama bekerja di perusahaan siapa? Di perusahaan papa."

Wajah Tamara menegang sedikit.

"Semua fasilitas, mobil dinas, akses VIP, kartu kredit unlimited yang mama dan Kakak pakai selama ini... itu semua fasilitas dari papa," lanjut Putri, menusuk tepat di titik ketakutan Tamara. "Kalau papa benar-benar marah dan menarik semua itu... apa gaji mama cukup untuk membiayai gaya hidup kakak yang seperti ini? Tas branded, perawatan puluhan juta, liburan ke Eropa... apa itu bisa tertutup hanya dengan gaji mama?"

Tamara terdiam, wajahnya pucat. Itu yang ia takutkan. Ia tidak takut miskin, ia takut tidak bisa bergaya mewah lagi.

"Diam lo!" teriak Tamara frustrasi karena argumennya dipatahkan.

Putri tertawa sinis...

"Itu semua nggak penting! Yang penting sekarang, balikin Devan ke gue! Devan itu sumber uang gue juga, dan dia cinta mati sama gue! Kalau lo mati besok, dia bakal langsung nikahin gue dan gue bakal balik kaya lagi!"

Putri memaksakan kakinya untuk berdiri. Ia berdiri tegak, meski tubuhnya goyah.

"Kak Tamara..." panggil Putri lagi, kali ini tatapannya menajam. "Tolong berhenti bicara seolah mas Devan itu barang dagangan. Dia manusia, dia itu suamiku."

"Suami karena terpaksa!"

"Tapi aku istri yang sah, Kak!" potong Putri, suaranya meninggi untuk pertama kalinya. "Aku yang merawat dia saat Kakak pergi tinggalkan dia demi Reno. Aku yang ada di sampingnya saat dia hancur. Kakak di mana waktu itu? Kakak sibuk dengan ego Kakak sendiri!"

Putri melangkah maju selangkah, membuat Tamara mundur karena kaget melihat keberanian adiknya.

"Dulu aku diam karena aku menghormati Kakak. Tapi sekarang aku sadar. Aku mencintai mas Devan bukan karena hartanya. Kalaupun mas Devan jatuh miskin hari ini, aku akan tetap di sampingnya. Tapi Kakak? Kakak cuma panik karena takut kehilangan fasilitas mewah, kan?"

"Kurang ajar lo ya!" tangan Tamara terangkat

oleh kalimat menohok itu.

Tangan Tamara yang terangkat di udara gemetar hebat. Kemarahannya memuncak, bukan hanya karena ia merasa dihina, tapi karena jauh di lubuk hatinya, ia tahu Putri benar.

Tamara takut miskin, ia takut kehilangan status sosialnya jika Devan dan papanya berpaling.

"Lo pikir lo menang karena lo sakit, hah?!" teriak Tamara frustrasi.

Alih-alih menampar, Tamara melampiaskan emosinya dengan mendorong bahu Putri sekuat tenaga.

"Jangan sok suci lo!"

Tubuh Putri yang memang sudah goyah, terdorong ke belakang dengan mudah. Kaki lemasnya tak sanggup menahan keseimbangan.

"Akh!"

Putri jatuh terjerembab. Pinggangnya menghantam sudut meja kayu sebelum tubuhnya membentur lantai. Rasa nyeri yang luar biasa langsung menjalar di punggung dan perutnya, membuat pandangannya berkunang-kunang.

"Sakit..." rintih Putri sambil memegangi perutnya, wajahnya memucat seketika.

Melihat adiknya jatuh kesakitan, bukannya menolong, Tamara justru mendengus. "Drama! Baru didorong gitu doang udah kayak mau mati. Bangun lo!"

Tamara hendak maju untuk menarik tangan Putri dengan kasar, tapi sebelum jemarinya menyentuh kulit Putri...

BRAK!

Pintu depan rumah kembali terbuka. Kali ini bukan sekadar dibuka, melainkan dibanting hingga engselnya berbunyi nyaring.

Angin kencang seolah masuk bersamaan dengan sosok pria yang berdiri di sana dengan napas memburu, dan wajah merah padam menahan murka.

"Devan..."

Tamara menoleh kaget, namun sedetik kemudian wajahnya berubah menjadi senyum manis yang dipaksakan. Topeng polosnya langsung terpasang otomatis.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
ujian menuju kebahagiaan ada aja
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
gak tau malu banget Reno
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
ditunggu pesta pernikahan kalian arga nindi .
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
karena Devan harapan satu satu nya untuk putri agar hidup nya lebih baik
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
iy kenapa mereka terlalu cepat jatuh cinta
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Apa kali ini keputusan yang putri ambil tepat 🤔
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Penyakit hati memang sulit disembuhkan, apalagi kalo ego nya tinggi
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
sifat putri yang tenang membuat dia semakin elegant
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kadang sikap buruk tidak harus dibalas sama sikap buruk jg kan put?
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tamara kena batu nya juga akhir nya /Facepalm/
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Tipu daya wanita emang dahsyat /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
lanjutkan
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
salah satu sifat manusia yang merugikan adalah sifat pendendam dan ambisius.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
awalnya aku bingung judulnya Rumah sakit, apa kaitannya. Aq baca lgi dari atas mksd judulnya kiranya drama Tamara yg ketauan Reno di rumah sakit.
🥑⃟Rɪᴀᷨɴͤᴀͤ: Iya Va...🤣🤣🤣
total 1 replies
🥑⃟Sᴇɴͫᴀͤᴀͤ🦋⃞⃟𝓬🧸
Reno korban nya dimana mana /Facepalm/
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ ⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘ❀ ⃟⃟ˢᵏ
kapok mu kapan Tamm?
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
apa Mc nya bakal mati
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Jangan lemah put !
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Cerita nya bikin emosi.
♛⃞⃝𖤐qͤωᷞєͥєᷡи
Ada ya cowok kayak gitu, parah !
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!