NovelToon NovelToon
Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Semua Mengaku Keluarga, Tak Satupun Membela

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Penyesalan Suami / Selingkuh
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nesakoto

Di antara suami dan keluarga, Maira terjebak dalam dilema yang tak pernah ia pilih. Sejak ibu, ayah tiri yang menganggur, dan adik tiri yang belum bekerja datang bukan sekadar bertamu, melainkan menetap, rumah tangganya perlahan retak. Dengan dalih bakti pada orang tua dan ancaman cap anak durhaka, Maira terpaksa mengalah. Sejak saat itu, konflik demi konflik bermunculan, batas dilanggar, kehangatan hilang—hingga celah itu dimanfaatkan oleh pihak ketiga. Apa yang dulu disebut rumah, kini menjadi awal kehancuran.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nesakoto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMOTONG UANG BULANAN

“Kenapa kamu tidak pulang semalam, Mas?”

Suara Maira terdengar datar, namun cukup tajam untuk menghentikan langkah Farid yang baru saja membuka pintu kamar.

Farid terkejut. Ia pikir Maira sudah berangkat ke restorannya pagi-pagi seperti biasa, itulah mengapa ia sengaja pulang pukul sembilan pagi berharap rumah dalam keadaan kosong dan ia bisa lolos dari segala pertanyaan istrinya.

Tapi kenyataan berkata lain.

“Ah… Ma—Mas semalam ke rumah Ibu." Jawabnya tergagap, berusaha tetap tenang “Ya… ketiduran di sana.”

Maira menoleh perlahan dari tempat tidurnya, menatap Farid yang kini berdiri kaku di ambang pintu.

“Ke rumah Ibu?” Ulangnya, seolah ingin memastikan.

Farid mengangguk, mencoba tersenyum kecil. Tapi Maira tak langsung menerima jawaban itu. Ia duduk tegak, lalu menatap suaminya dalam-dalam.

“Bukannya semalam kamu bilang mau ke rumah temen?” Pertanyaannya meluncur tenang, namun cukup untuk membuat tenggorokan Farid tercekat.

Ia terdiam sejenak, pikirannya mencari celah alasan. Dalam hati, ia merutuki kebodohannya yang tak konsisten. Tapi ia tahu, panik hanya akan membuatnya makin mencurigakan.

“Iya… habis dari rumah temen, terus langsung ke rumah Ibu. Niatnya cuma mampir, eh malah ketiduran disana." Jawabnya cepat, berusaha terdengar meyakinkan.

Maira tak lagi menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu kembali menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya setelah itu.

“Kamu nggak ke restoran hari ini, Sayang?” Tanya Farid berusaha terdengar santai, mencoba mengalihkan perhatian istrinya dari kebohongan yang baru saja dibuatnya.

“Nanti siang, Mas. Kepalaku lagi agak pusing." Jawab Maira pelan, tanpa menoleh.

Farid sedikit menoleh saat tangannya meraih jas kerja yang tergantung di balik pintu. Dalam pikirannya, ia kembali diingatkan pada tadi malam di mana ia memutuskan untuk bermalam di rumah Vina.

Wanita itu tidak membiarkannya pulang dengan alasan masih butuh ditemani, masih butuh ketenangan.

Farid yang sedang bingung dan lelah akhirnya menyerah. Dan pagi ini ia pulang dengan diam-diam, berharap tidak ada tetangga disekitar rumah Vina yang melihatnya atau mengenalnya.

Ia pun sudah mandi di sana, bersih rapi, tinggal mengganti pakaian di rumah sebelum berangkat ke kantor.

“Sakit? Nggak mau periksa ke dokter?” Tanyanya lagi, kali ini dengan nada sedikit lebih lembut.

Maira menggeleng. “Nggak. Tadi habis sarapan juga udah minum obat.”

Farid mengangguk pelan. Ia merapikan kerah kemejanya di depan cermin.

“Ini kamu baru datang jam segini ke kantor, nggak apa-apa emangnya Mas?” Tanya Maira, kali ini menoleh sejenak, matanya menatap punggung Farid.

“Mas udah izin telat." Jawab Farid cepat. Ia membenarkan posisi dasinya, meski tangan sedikit bergetar.

Maira tak lagi menanggapi. Ia menutup matanya sejenak mencoba untuk menenangkan pikirannya dan juga sakit kepalanya setelah kepergian Farid semalam. Bohong jika ia tidak memikirkan semuanya.

Setelah setengah hari berada di restorannya, Maira memilih untuk pulang ke rumah saat sore hari.

Namun kali ini, langkahnya terhenti di depan rumah saat mendapati Bu Susi sudah berdiri di ambang pintu dengan wajah garang.

“Maira!” Bentak Bu Susi lantang.

Maira sedikit terkejut dengan sambutan itu. Ia mengerutkan kening, meletakkan tas kerjanya di pundak.

“Kenapa, Bu? Anak pulang kerja bukannya disambut, malah dibentak.”

Mata Bu Susi membulat, nadanya meninggi “Kamu apa-apaan, cuma transfer ke ibu lima ratus ribu? Katanya kemarin mau naikin uang bulanan!”

Maira menatap Bu Susi datar, mencoba mengingat. “Kapan aku bilang mau naikin, Bu? Yang aku bilang, kita semua memang harus mulai berhemat.”

Pak Bowo yang baru saja keluar dari dalam kamar dengan mengenakan sarung kebanggaannya, ikut menimpali.

“Tapi kamu bilang ke ibu kamu kalau bakal dapat lebih bulan ini.”

Maira menoleh, suaranya tetap tenang meski tajam. “Yang aku bilang 'memang kita harus lebih hemat'. Nggak pernah janji mau naikin uang bulanan. Lagian aneh, ibu nyuruh aku berhemat tapi malah minta uang bulanan ditambah!" Celetuk Maira dengan wajah dibuat polos.

Perkataan Maira membuat Bu Susi terkesiap “Tapi… tapi kenapa dipotong?! Biasanya lima juta!” Tanyanya yang masih tak terima.

Tanpa menanggapi lagi, Maira melepas sepatunya, masuk ke kamar. Tak lama kemudian, ia kembali sambil membawa dua gamis yang dibelinya kemarin.

“Ini aku beliin ibu gamis." Ucapnya datar sambil menyodorkannya.

“Apa-apaan ini?! Gamis?!” Tanya Bu Susi dengan mata melotot.

“Lho, bukannya waktu itu ibu bilang lebih suka dikasih gamis daripada uang?” Sahut Maira cepat. “Itu juga aku udah kasih uang lima ratus ribu, loh. Harusnya ibu bersyukur.”

Pak Bowo melirik ke arah istrinya, sementara Bu Susi tampak tak bisa berkata-kata.

“Waktu itu Dini ngasih satu gamis aja ibu sampai memujinya, sekarang aku kasih dua loh bu, harusnya ibu juga puji aku seperti ibu membanggakan Dini. Aku juga anggap gamis ini pengganti uang, karena ibu waktu itu bilang kalau aku nggak pernah ngasih ibu sesuatu.”

Bu Susi mendekap dua gamis yang baru saja diterimanya dengan raut tak percaya. Tangannya gemetar, bukan karena terharu—melainkan karena emosinya yang bergejolak.

"Ma—maira, kamu ini kenapa makin hari makin kurang ajar, ya!” Suaranya akhirnya meninggi, karena tak tahan.

Maira hanya tersenyum tipis, menyandarkan tubuhnya pada dinding rumah. “Kurang ajar?" Ulangnya pelan, seperti mencicipi kata itu.

"Lucu ya, Bu. Dulu waktu aku kasih uang lima juta sebulan, Ibu diem aja nggak ada kalimat terimakasih dan nggak pernah bilang aku baik. Tapi sekarang aku kurangin sedikit, langsung dibilang kurang ajar.

Tak hanya Bu Susi yang tertegun dengan jawaban Maira, Pak Bowo yang berdiri tak jauh dari istrinya pun sama. Mulutnya membuka, tapi tak ada kata yang keluar.

“Kalau Ibu marah karena aku kasih dua gamis bukan uang, ya maaf. Aku cuma belajar dari Ibu juga, waktu Ibu bilang kalau aku nggak pernah ngelakuin sesuatu untuk ibu. Jadi aku pikir, ya udahlah… kasih gamis aja kayak yang Dini kasih. Kan menurut ibu lebih berkesan.”

“Ma—Maira!” Seru Bu Susi makin tak tahan. Tangannya memegang kening. Matanya berair bukan karena sedih, tapi karena emosi yang tak bisa lagi ditahan. “Kamu—kamu itu anak durhaka!”

“Durhaka? Udah berapa kali ibu bilang aku anak durhaka?” Mata Maira menatap tajam. “Yang selama ini kerja siang malam dan kasih uang ke ibu tetap dianggap nggak pernah kasih apa-apa? Kalau itu yang Ibu sebut durhaka, ya terserah. Mungkin emang udah waktunya aku berhenti jadi anak baik.”

Bu Susi terduduk di sofa dengan tangan menekan pelipisnya. Kepalanya terasa berdenyut. Pak Bowo hanya bisa berdiri mematung, ia tak bisa membantu istrinya untuk melawan setiap kata yang dilontarkan oleh Maira.

Sementara itu, Maira berjalan santai ke kamarnya tanpa menoleh lagi. Ia tahu emosi Ibunya itu pasti kini tengah bergejolak.

1
Aerik_chan
duh jadi deg degan
Aerik_chan
lah kok marah 🤭
Aerik_chan
katanya nominalnya kecil kok minjam 🤭🤭🤭
Aerik_chan
yeeee

semangat kak 💪 iklan untukmu
Aerik_chan
minta mamakmu lah

semangat ya thor satu bunga untukmu nih biar ssmangat
Aerik_chan
enteng bener mulutnya...


kak yuk saling dukung
Nesakoto: Siap kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!