Seorang wanita cantik memiliki jabatan CEO di Perusahaan Berlian milik Papahnya. Rania Queenzhi yang ceria memiliki ketertarikan dengan asisten juga merangkap sekaligus sekretarisnya, seorang pria tampan.
Boris William, Sekretaris sekaligus Asisten yang mengabdi di Perusahaan, karena membalas budi akan hidupnya. Diam-diam juga memiliki ketertarikan dengan Atasannya di Perusahaan. Tapi, dirinya masih mempertimbangkan segala hal yang membuatnya tidak percaya diri.
"Aku menjodohkan putriku denganmu, Boris. Tapi, aku tidak memaksa dan membuatmu terburu-buru. Santai dan belajarlah semua hal mengenai Perusahaan. Cari tahu sedikit demi sedikit dari Rania. Dia tahu sepenuhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anjarthvk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Dua Kartu Hitam
...Selamat membaca semuanya.. ...
Berbagai foto yang diambil diam-diam oleh anak buah Steven adalah jepretan dari aktifitas Boris dan Rania saat di Korea Selatan. Foto saat dua orang itu sedang berada di sana, semua momen berhasil ditangkap.
Dua foto yang membuat Frederick memukul meja keras, murka tersirat dari matanya. Satu foto yang menampilkan sebuah gedung seberang dan terdapat seorang sniper menargetkan Rania tidak sengaja tertangkap. Foto lain hasil pantauan dari kamera tersembunyi yang dipasang anak buah Steven dalam ruang pertemuan Rania dan Kim Do Woo saat melakukan wawancara pribadi.
"Berani sekali mereka menyakiti putriku," kepalan erat tangannya semakin menunjukkan dendam yang harus diluapkan. "Steven!" Pria tegap berjas itu mendekat, "hancurkan semua yang menyakiti putriku, secara perlahan!"
"Baik Tuan,"
Frederick memegang dua foto tersebut, sebuah korek di atas meja dia raih dan dinyalakan. Api itu perlahan membakar foto-foto itu hingga hangus dan menjadi abu.
"Dasar Sampah!" umpatnya meneguk wine di gelas kaca bermodel mewah. Matanya meraih beberapa foto yang berhasil diambil, aura yang tadinya murka berubah lebih hangat.
Tampak Boris yang berciuman dengan Rania. Mereka yang sedang bermain salju, dan jalan-jalan dengan seorang anak laki-laki yang dia ketahui itu adalah Noah, anak dari salah satu sahabat Boris. Terlihat seperti keluarga kecil yang bahagia.
"Manis sekali mereka," ujar Frederick dengan senyuman hangat.
...-------------...
"Bagaimana tadi di kantor?" dengan nada pelan Rania bertanya takut membuat Boris tersinggung.
Boris mengangguk singkat memberikan senyuman tipis, "Nona tidak perlu khawatir, dan jangan terlalu lama merajuk dengan Tuan Frederick. Beliau sangat menyayangi, Nona," bibir merah itu mengerucut kecil.
"Aku ingin menikah denganmu, Papah saja yang terlalu labil. Awalnya menjodohkan kita, Papah juga yang mau membatalkan? Enak saja! Tidak konsisten!" kesalnya dengan ekspresi yang terlihat menggemaskan untuk Boris.
Kekehan kecil tercipta, "jadi, Nona sungguh ingin menikah dengan saya?" anggukan cepat Rania membuat Boris berinisiatif mengelus lembut kepala Rania.
Dia merasa belum percaya bahwa dirinya mampu menggantikan posisi Frederick untuk bertanggung jawab menjaga Rania. Di luar sana penuh dengan sampah yang bersiap menyakiti wanita itu.
Tatapannya sangat dalam menatap kedua manik mata Rania, wanita yang memiliki definisi sempurna. Rencana pertama yang dibentuk oleh Boris untuk menjadi seseorang yang pantas adalah berusaha menggali dan belajar dari Rania. Dia sudah melewatkan berbagai kesempatan, sebab sebelumnya dia lebih memprioritaskan aspek kehidupan hal romantisnya.
Saat keduanya terlena dipikiran masing-masing, Jackson mendekati keduanya. Raut wajah Boris yang tadinya hangat berubah malas melihat kedatangan adek laki-lakinya.
"Kak, minta uang!" satu alis Boris terangkat, tidak biasanya anak kembar itu meminta uang padanya setelah berkarir.
Rania yang melihat itu, langsung bangkit dari duduknya dan berlari meninggalkan kakak beradik tersebut. Boris kembali memandang adeknya dengan wajah mencurigakan.
"Setelah sekian lama, kamu akhirnya meminta Kakak uang," sindirnya dengan tatapan penuh curiga. Jackson duduk di sofa depan kakaknya, menampilkan seringaian kecil dan kerlingan mata.
"Sekalian memberiku Pajak Jadian," kedua alis Jackson terangkat beberapa kali menampilkan senyum yang menggoda Boris. Pria itu hanya berdecak malas melihat kelakuan adeknya.
Belum sempat memberikan uang kepada Jackson, dari arah kamar Rania keluar berjalan kembali menghampiri mereka. Posisi Boris berubah lebih tegap daripada sebelumnya. Sikap itu tidak luput dari mata Jackson yang semakin ingin menggodanya.
Wanita itu menyodorkan kartu berwarna hitam ke depan Jackson, pria itu merasa bingung menerima kartu tersebut dan menatap Kakaknya yang bereaksi terkejut.
"Jajan saja sepuas kamu, ajak sekalian saudaramu," Boris mengambil paksa kartu hitam tersebut dari tangan Rania.
"Nona, kenapa memberikan dia kartu ini? Tidak perlu! Mereka sudah bisa mencari uang sendiri," tolak Boris memberikan kembali kartu tersebut ke Rania, dengusan kesal Jackson sambil melihat Kakaknya.
"Aku memberikan kartunya untuk dia. Bukan kamu Boris!" Jackson menjulurkan lidahnya ke arah Boris, meledek pria itu dan langsung menyahut kembali kartu hitam tersebut. Rania tersenyum memandangi wajah Jackson lekat, tersadar dengan tatapan Rania sedikit meragukan. Boris memanggilnya beberapa kali baru wanita itu tersadar.
"Dia lebih tampan darimu," jujur Rania membuat Boris membuka mulutnya tidak percaya, tatapan kesal mengarah ke adeknya. Mulutnya berisik pelan memberi kode ke Jackson agar pria itu pergi dari sana. Gelak tawa kencang Jackson memenuhi ruangan, seakan terdengar mengejek Kakaknya yang kalah tampan darinya.
Rania memandangi punggung Jackson hingga pria itu masuk ke dalam kamar. Sebelum hilang dari pandangannya, dia berteriak, "jangan lupa ajak saudaramu jajan!" setelah itu dia menatap ke arah Boris yang berdecak malas.
"Nona tidak perlu memanjakan mereka!" peringat Boris yang tidak enak karena kelakuan adeknya. Rania mendekat dan duduk di sampingnya, tangannya memegang lengan Boris dan dipeluknya erat.
"Akan aku anggap saudaraku sendiri, mereka calon adek iparku, kan?" Rania menjawab dan membela diri, Boris menghembuskan napas pasrah.
Keheningan tercipta kembali, hingga Rania yang menyandarkan kepalanya pada bahu Boris bersuara pelan.
"Boris," panggilnya lirih mendapat deheman singkat, "kamu siap belajar mengenai Perusahaan?" pertanyaan yang Boris tunggu selama ini. Rania mengangkat kepalanya memandang lekat Boris yang ikut menatapnya serius. "Kalau kamu siap, aku akan mengajarimu mulai sekarang."
...Bersambung.....
Terima kasih sudah mampir di ceritaku ya, jangan lupa like dan komen. Ceritaku penuh dengan adegan sweet terus ya teman-teman. Maaf..