NovelToon NovelToon
Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Satya Wanara, Pendekar Toya Emas Angin Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Ilmu Kanuragan / Perperangan / Penyelamat / Kelahiran kembali menjadi kuat / Action / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:924
Nilai: 5
Nama Author: Zaenal 1992

Di ambang keruntuhan Majapahit dan fajar menyingsingnya Islam di Nusantara, seorang pemuda eksentrik bernama Satya Wanara berkelana dengan tingkah laku yang tak masuk akal. Di balik tawa jenaka dan tingkah konyolnya, ia membawa luka lama pembantaian keluarganya oleh kelompok rahasia Gagak Hitam. Dibekali ilmu dari seorang guru yang lebih gila darinya, Satya harus menavigasi dunia yang sedang berubah, di mana Senjata bertemu doa, dan pedang bertemu tawa.

​Daftar Karakter Utama:

​Satya Wanara (Raden Arya Gading): Protagonis yang lincah, konyol, namun mematikan.

​Ki Ageng Dharmasanya: Ayah Satya, Panglima Telik Sandi Majapahit (Almarhum).

​Nyai Ratna Sekar: Ibu Satya, keturunan bangsawan yang bijak (Almarhumah).

​Eyang Sableng Jati: Guru Satya yang konyol dan sakti mandraguna.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zaenal 1992, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gurat Takdir di Tusuk Bambu

Pagi itu, kabut di lereng Gunung Kelud tampak seperti kapas yang terkoyak. Satya Wanara sudah siap dengan bungkusan kain di pundak dan Toya Emas Angin Langit yang melintang gagah di punggungnya. Eyang Sableng Jati berdiri di depan gubuk, tangannya memegang sapu lidi—bukan untuk menyapu, tapi untuk menggaruk punggungnya sendiri.

​"Dengar, Satya!" seru Eyang dengan suara yang tiba-tiba berwibawa. "Jika nanti kau sudah selesai membasmi para Gagak Hitam itu, dan sudah berguru kepada Sunan Kalijaga untuk menimba ilmu, satu pesan dariku: Jangan pernah kembali ke gunung ini."

​Satya tertegun. "Lho, kenapa Guru? Apa Guru takut aku bakal menghabiskan stok ubi bakar di sini?"

​Eyang menggeleng, tatapannya menerawang jauh. "Berkelanalah. Basmi kejahatan di mana pun kakimu berpijak. Ingat, Satya... ilmu yang tidak diamalkan itu ibarat pohon yang tidak berbuah; hanya menjadi beban bagi tanah dan hanya layak menjadi kayu bakar. Jika kau sakti tapi diam saja melihat kedzaliman, lebih baik kau jadi batu nisan saja!"

​Satya terdiam sejenak, lalu membungkuk hormat. "Siap, Guru. Akan kupastikan ilmu 'sholat bonus' darimu tidak akan kusebarkan ke orang lain agar dunia tetap aman."

​"Hus! Pergi sana!" usir Eyang sambil melemparkan sandal jepitnya yang langsung dihindari Satya dengan gerakan salto yang sangat lentur.

​Setelah berjalan berjam-jam menembus hutan dan menyusuri jalan setapak menuju pesisir, perut Satya mulai melakukan "protes keras". Bunyi keroncongannya bahkan lebih nyaring daripada suara burung hutan.

​"Aduh, perutku ini sepertinya sedang mengadakan konser gamelan," keluh Satya sambil memegangi perutnya yang atletis.

​Tepat saat ia keluar dari rimbunnya pohon besar, hidungnya menangkap aroma yang sangat surgawi. Bau daging terbakar yang gurih bercampur aroma lemak dan bumbu kacang. Di pinggir jalan yang sepi, tampak seorang pria paruh baya mengenakan caping lebar sedang mengipasi panggangan sate di atas pikulannya.

​"Sate! Sate Ayam, Den?" tawar penjual itu tanpa mengangkat wajahnya.

​"Waduh, Paman! Kau seperti malaikat penolong bagi perutku!" Satya langsung duduk bersila di atas akar pohon dengan santai. "Pesan satu porsi, Paman! Potongannya yang besar ya, biar ototku tidak menyusut!"

​Dengan cekatan, penjual itu membakar sate. Asapnya mengepul wangi. Dalam sekejap, sepiring sate mengepul sudah berpindah ke tangan Satya. Satya makan dengan lahap, sesekali ia memberikan sepotong kecil daging pada seekor monyet liar yang tiba-tiba turun dari pohon—kebiasaan lamanya.

​Setelah kenyang, Satya merasa kekuatannya pulih dua kali lipat. Ia mengambil beberapa keping uang dari sakunya dan meletakkannya di atas meja kayu kecil milik penjual itu.

​"Terima kasih, Paman. Satenya luar biasa! Kalau aku jadi raja, kau akan kujadikan koki istana!" canda Satya sambil berdiri dan merapikan ikat kepala merak-nya.

​Satya berjalan gagah meninggalkan tempat itu. Namun, baru dua langkah berjalan, sebuah perasaan aneh menjalar di tengkuknya. Hening. Suara kipas bambu yang tadinya ritmis tiba-tiba hilang. Ia menoleh ke belakang untuk memberikan lambaian terakhir.

​Deg!

​Tempat itu kosong. Tidak ada penjual sate. Tidak ada asap mengepul. Bahkan debu di tanah tampak rata seolah-olah tidak pernah ada orang yang berdiri di sana. Yang tersisa hanyalah aroma wangi bunga kenanga yang sangat tipis di udara, menggantikan aroma sate yang tadi begitu nyata.

​"Eh? Lho? Mana tukang satenya?" Satya mengucek matanya berkali-kali. Ia berjongkok, meraba tanah yang tadi diduduki penjual itu. Dingin. Tidak ada bekas panas dari pembakaran arang.

​Satya Wanara tertegun. Ia teringat pesan Gurunya tentang Sunan Kalijaga yang gemar berkelana dan menyamar dengan berbagai rupa untuk menguji hati manusia.

​"Waduh... jangan-jangan itu tadi Sang Wali?" gumam Satya. Ia tiba-tiba merasa malu karena tadi sempat bicara sembarangan soal koki istana.

​Namun, dasar Satya Wanara, rasa takjubnya hanya bertahan sedetik. Ia malah menyengir lebar sambil memandangi langit. "Kalau benar itu Sunan Kalijaga, berarti beliau adalah wali yang paling mengerti perut orang lapar! Baiklah, Kanjeng Sunan, tunggu aku! Aku akan selesaikan urusan 'Gagak' ini, lalu aku akan mengejarmu sampai ke ujung samudra!"

​Dengan semangat baru, Satya berlari melesat, gerakannya kini lebih cepat, seolah-olah sate misterius tadi telah memberikan tenaga gaib pada kaki-kakinya.

1
anggita
wah ada anggota Wali Songo juga😊.
anggita
oke lah👌👍
anggita
ikut dukung like👍iklan👆👆, buat author novel fantasi timur lokal. semoga lancar sukses novelnya.
anggita
nama teknik jurusnya unik😉
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!