Dikhianati dan dipermalukan, Nafiza Azzahra, wanita bercadar yang lembut, mendapati pernikahannya hancur berantakan. Dipaksa memulai hidup baru, ia bertemu Zayn Al Malik, CEO muda yang dingin dan tak tersentuh, Namun, sesuatu dalam diri Nafiza menarik Zayn, membuatnya mempertanyakan keyakinannya. Di tengah luka masa lalu, benih-benih asmara mulai bersemi. Mampukah Zayn meluluhkan hati Nafiza yang sedang terluka? Dan bisakah mereka menemukan cinta sejati di tengah badai pengkhianatan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Zayn mengangguk sambil tersenyum. "Tentu saja. Aku penasaran banget bagaimana kamu terlihat dengan lingerie itu. Tapi, sebelum itu ..." Zayn menjeda ucapannya, lalu menatap Nafiza dengan tatapan lembut. "Bagaimana kalau kita sholat sunnah dulu, Sayang? Memohon keberkahan dari Allah SWT untuk malam pertama kita," bisiknya.
Nafiza tersentuh mendengar ajakan suaminya. Ia merasa sangat beruntung memiliki Zayn, seorang pria yang selalu mengutamakan agama dalam setiap langkahnya. Dengan malu-malu, ia mengangguk setuju. "Boleh, Mas," ucap Nafiza lirih, pipinya merona.
Zayn tersenyum, lalu menggandeng tangan Nafiza menuju tempat sholat yang sudah disiapkan di kamar itu. Mereka berdua melaksanakan sholat sunnah dua rakaat dengan khusyuk, memohon kepada Allah SWT agar rumah tangga mereka selalu dilimpahi keberkahan dan cinta. Nafiza merasakan kedamaian yang luar biasa saat bersujud kepada Allah SWT, seolah semua beban dan kekhawatirannya terangkat.
Setelah selesai sholat, Zayn mendekat ke arah Nafiza dan membacakan doa pengantin baru dengan suara yang lembut dan penuh penghayatan. Nafiza mendengarkan dengan seksama, meresapi setiap kata yang diucapkan oleh suaminya. "Allahumma inni as'aluka khairaha wa khaira ma jabaltaha 'alaihi, wa a'udzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha 'alaihi," ucap Zayn, yang artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya. Dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukannya dan keburukan apa yang Engkau ciptakan padanya."
Setelah selesai membaca doa, Zayn mencium kening Nafiza dengan lembut. "Semoga Allah SWT selalu melindungi dan memberkahi rumah tangga kita, Sayang," bisiknya, menyalurkan kehangatan dan cinta melalui sentuhannya.
Nafiza mengangguk sambil tersenyum, air mata haru menggenang di pelupuk matanya. Ia merasa sangat bahagia dan bersyukur atas semua nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT kepadanya. "Aamiin ya Rabbal Alamin," bisiknya dalam hati.
"Sekarang ... sesuai janji sebelumnya," ucap Zayn dengan nada menggoda, membuat Nafiza kembali merona. "Mari kita lihat bagaimana kamu terlihat dengan lingerie itu," bisiknya, tatapannya penuh dengan antisipasi.
Nafiza menelan ludah, lalu mengangguk pelan. Dengan langkah ragu, ia menuju kamar ganti untuk mengganti pakaiannya. Jantungnya berdegup kencang, membayangkan bagaimana reaksi Zayn saat melihatnya nanti.
Tak berapa lama, Nafiza keluar dari kamar ganti dengan balutan lingerie merah menyala yang sangat seksi. Ia menunduk malu, tak berani menatap Zayn. Cahaya lampu kamar yang redup membuat kulitnya tampak semakin halus dan menggoda.
Zayn yang melihat Nafiza, terpana. Ia tak bisa berkata apa-apa, hanya bisa menatap istrinya dengan tatapan penuh cinta dan kekaguman. Nafiza terlihat begitu mempesona dan menggoda, melebihi apa yang ia bayangkan. Ia merasa seperti seorang raja yang memiliki seorang ratu yang sangat cantik.
Perlahan, Zayn mendekati Nafiza dan meraih tangannya. Ia mengangkat dagu istrinya, memaksanya untuk menatap matanya. "Kamu cantik banget, Sayang," bisik Zayn dengan suara serak, membuat Nafiza merinding. "Kamu adalah wanita tercantik yang pernah aku lihat."
Nafiza tersenyum malu-malu, lalu memeluk Zayn dengan erat. Ia merasa sangat bahagia dan dicintai oleh suaminya. "Aku juga cinta sama Mas," bisiknya di dada Zayn.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Zayn membalas pelukan Nafiza dengan mesra. Ia mengangkat tubuh istrinya dan membawanya menuju tempat tidur. Nafiza tertawa kecil saat Zayn menggendongnya, merasa seperti seorang putri yang diangkat oleh pangerannya.
Di bawah rembulan yang bersinar terang, mereka berdua menyatukan cinta mereka dalam ikatan suci pernikahan, mengukir kenangan indah yang tak akan pernah terlupakan. Malam itu, cinta mereka bersemi dengan indah, disaksikan oleh bintang-bintang di langit.
Mentari pagi menyelinap masuk melalui celah-celah gorden kamar pengantin, membangunkan Zayn dari tidurnya. Ia mengerjapkan mata, lalu tersenyum saat melihat Nafiza masih tertidur lelap di sampingnya. Wajah Nafiza tampak begitu damai dan cantik dalam tidurnya, bagai lukisan indah yang diciptakan oleh sang Pencipta. Zayn mengulurkan tangannya, membelai lembut rambut panjang Nafiza yang tergerai di bantal. Aroma lavender yang lembut menguar dari rambutnya, menenangkan jiwa Zayn. Ia merasa sangat bahagia dan bersyukur telah memiliki Nafiza sebagai istrinya.
Perlahan, Nafiza membuka matanya. Ia mengerjap-ngerjap, lalu tersenyum saat melihat Zayn menatapnya dengan penuh cinta. "Selamat pagi, Sayang," sapa Zayn lembut, suaranya serak khas orang baru bangun tidur.
"Selamat pagi, Mas," balas Nafiza dengan suara yang tak kalah lembut. Pipinya merona saat mengingat kejadian semalam, membuatnya semakin cantik. "Mas ngeliatinnya gitu banget, emang aku secantik itu ya pagi ini?" godanya malu-malu, mencoba mencairkan suasana.
Zayn mendekatkan wajahnya ke arah Nafiza, lalu mengecup keningnya dengan mesra. "Bukan cuma pagi ini, Sayang. Kamu selalu cantik, setiap saat," bisiknya, membuat jantung Nafiza berdebar kencang. "Gimana tidurnya? Nyenyak?" tanyanya, dengan perhatian yang tulus.
Nafiza mengangguk sambil tersenyum. "Nyenyak banget, Mas. Aku mimpi indah semalam," jawabnya jujur, tapi dia tidak mau menceritakan mimpinya pada Zayn. "Mimpi ketemu pangeran berkuda," tambahnya sambil terkekeh, mencoba menyembunyikan emosi yang sebenarnya.
"Pangerannya aku kan?" goda Zayn sambil menaikkan alisnya, dengan percaya diri.
"GR banget!" elak Nafiza sambil mencubit pelan lengan Zayn, tapi dia tidak bisa menyembunyikan senyumnya. "Rahasia ah, nggak mau kasih tahu," jawabnya sambil menjulurkan sedikit lidahnya, membuat Zayn tertawa kecil dan gemes sama istri kesayangannya itu.
"Ya udah deh, kalau nggak mau cerita," ucap Zayn sambil mencubit hidung Nafiza dengan gemas, menunjukkan kasih sayangnya. "Oh iya, kamu tahu nggak jam berapa sekarang?"
Nafiza menggeleng. "Nggak tahu. Emang jam berapa?"
Zayn melirik jam dinding yang tergantung di kamar itu. Sinar matahari yang menembus gorden menampakkan debu-debu yang menari-nari di udara, mengingatkannya betapa cepatnya waktu berlalu. "Udah jam delapan pagi, Sayang. Kita telat bangun nih," ucapnya sambil bangkit dari tempat tidur.
"Apa? Kita melewatkan waktu subuh!" panik Nafiza berusaha untuk ikut bangun, namun saat hendak beranjak dari tempat tidur, ia merintih kesakitan di bagian bawahnya. "Aww ..." ringisnya sambil memegangi perutnya, mencoba menahan sakitnya.
Kekhawatiran langsung terpancar di mata Zayn. Senyum cerah yang tadi menghiasi wajahnya lenyap seketika, digantikan kerutan di dahi. Tanpa ragu, ia mendekat dan berjongkok di hadapan Nafiza. "Sayang, kamu kenapa? Sakit di mana?" tanyanya, suaranya penuh dengan kekhawatiran dan perhatian. Ia merasa bersalah karena telah membuat Nafiza kesakitan.
Bersambung ...