Bagas, seorang petani yang hidup di desa. Walaupun seorang pertani, dia mempunyai keuangan yang stabil. Bahkan bisa di katakan dia dan keluarga termasuk orang berada.
Namun, uang bukan segalanya. Buktinya, walaupun banyak uang dia tidak bisa menikah dengan pacar yang sudah menemaninya sejak delapan tahun terakhir.
Kenapa begitu?
Dan alasan apa yang membuat mereka tidak menyatu ...
Yuk, ikuti kisah Bagas ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muliana95, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tragedi Di Jalan
Anwar dan Hesti pulang, dengan perasaan lega. Keduanya telah menemukan jodoh yang tepat untuk anak tercinta.
Dari hasil obrolan mereka tadi, Wandi setuju untuk bertemu dengan Nadia. Dan Anwar dan Hesti yang mengatur waktunya.
Tapi sebelumnya, Anwar juga telah memberikan nomor Nadia pada Wandi.
Sepeninggalan Anwar, Wandi menatap deretan nomor Nadia dengan senyum dingin.
"Menikah? Semoga kamu bisa menjaga rahasiaku," gumam Wandi.
Sudah tiga hari, sejak Wandi mengambil nomor Nadia. Tak sekalipun dia mencoba mengirimkan pesan padanya. Dia hanya ingin lihat, sejauh mana Anwar meyakininya.
Dan benar saja, Anwar kembali menemuinya dan menanyakan tentang kedekatannya dengan Nadia.
"Aku gak berani pak," ujar Wandi memberi alasan.
"Hais ... Kamu itu lelaki, harus yakin dan gentle," balas Anwar menepuk bahu Wandi.
"Baiklah, aku akan mencobanya,"
"Hai Nadia, ini aku Wandi ... Apa kabar?"
Wandi memperlihatkan pesan yang telah ia kirimkan pada Anwar.
Anwar tersenyum, dia mengangguk-angguk puas.
Diseberang sana, Nadia menatap nomor asing yang mengirimnya pesan. Dia tahu itu Wandi. Bahkan, jika nama itu tak di tuliskan.
Karena selama tiga hari ini, setiap jam orang tuanya menanyakan tentang Wandi padanya.
"Baik," balas Nadia singkat.
Dan obrolan pun, berakhir disitu.
✨✨✨
Terhitung sudah tiga bulan Safira hamil. Hari ini, Safira mengajak Bagas untuk menikmati gorengan serta bandrek yang tak jauh dari kampungnya.
Entah kenapa, dia pingin makan dan menikmati suasana laut disana.
Jam empat sore, keduanya berangkat.
Namun, baru setengah jalan, ban depan sepeda motornya kempes. Alhasil, Bagas terpaksa menghentikan sepeda motornya.
"Bocor dik," ujar Bagas, turun dari sepeda motor. "Mana di tempat sepi lagi," sesalnya.
"Ya udah, kita dorong aja bang," usul Safira, turun dari sepeda motor.
"Ya udah, kamu naik lagi. Biar abang yang dorong," pinta Bagas.
"Eh, kita dorong berdua aja abang," tolak Safira.
"Jangan, kamu hamil. Lagi pula, kamu gak bisa makan apa-apa, mana ada tenaga untuk jalan sejauh ini," papar Bagas, menatap Safira.
"Tapi ..."
"Percaya sama abang, dik ... Biar abang yang dorong, kamu hanya duduk manja,"
Dengan ragu, Safira duduk di depan. Tangannya memengang setir.
Bagas mulai mendorong sepeda motornya. Safira menatap suami dengan kasihan.
"Abang pasti capek," ujar Safira.
"Gak, abang kuat. Demi kamu," sahut Bagas, melirik sekilas kearah Safira.
"Bagaimana kalo bengkelnya masih jauh?" tanya Safira hati-hati.
"Sejauh apapun tetap abang arungi demi kamu dik," sahut Bagas, tanpa melirik ke arah Safira.
Wajah Safira bersemu, dia menunduk malu-malu.
"Bagaimana aku tega membuatmu lelah sayang," tambah Bagas, semakin membuat wajah pucat Safira memerah.
"Terima kasih," ucap Safira lirih.
Bagas tersenyum, sebenarnya dia sangat menyukai ekspresi sang istri. Namun, sekarang bukan saatnya untuk menikmati.
"Tuhan, jaga suamiku selalu," batin Safira.
"Tuhan, izinkan aku menjaganya selalu," batin Bagas.
Doa yang berbeda namun memiliki tujuan yang sama. Dan tanpa Bagas sadari, ketidak tegaannya itu bukan tanpa alasan. Tapi, memang karena cinta yang semakin kuat diantara keduanya.
Lima belas menit kemudian, sebuah sepeda motor berhenti di depan mereka. Lelaki itu bertanya kenapa dan apa yang bisa di bantunya.
Karena jika motor mogok, ataupun kehabisan bensin, dia siap menolongnya.
"Kalo begitu, istrinya naik sama aku aja, nanti tunggu di bengkel," tawar lelaki itu tulus.
"Gak usah pak, terima kasih. Biar sama aku aja, biar gak sendirian," tolak Bagas cepat.
Tentu saja dia gak rela. Masak membiarkan istrinya yang cantik jelita, berboncengan sama orang lain. Mana masih muda lagi.
"Bagaimana mbak?" tanya lelaki itu sama Safira. Bahkan mengabaikan penolakan Bagas.
"Terima kasih pak, saya sama suami aja," tolak Safira halus.
Akhirnya lelaki yang terlihat jauh lebih muda dari Bagas pun berlalu.
Dan kini, mereka kembali berjalan.
Hampir setengah jam kemudian, akhirnya mereka tiba di bengkel.
Begitu turun dari motor, Safira langsung menangis sesegukan. Bukan hanya Bagas yang panik. Si empunya motor juga tak kalah panik. Bahkan dia sempat mengira jika Safira korban dari kdrt.
"Abang salah apa? Apa abang menyakitimu?" tanya Bagas, risau.
"Abang terlihat capek. Napas abang ngos-ngosan gara-gara adik," isak Safira.
"Lah," sang pemilik bengkel menggaruk-garuk kepala yang tak gatal. Karena ternyata paniknya, salah tempat.
Bagas menarik Safira kepelukannya. Dia mengelus pelan punggung istrinya.
"Udah ya, abang gak apa-apa. Bahkan abang lebih gak rela jika adik yang merasa kecapean. Maafkan abang ya," bisik Bagas, sembari melepaskan pelukannya.
"Maaf pak, istri saya lagi hamil muda. Makanya perasaannya agak gimana gitu," jelas Bagas tanpa diminta.
"Wah, lagi hamil? Selamat ya pak, bu. Anda beruntung sekali, sejak hamil, istriku malah enggan menatap ku pak. Dia selalu merasa mual," adu pemilik bengkel.
"Istri bapak hamil juga?"
"Iya, baru dua bulan ... Dan sudah satu minggu terakhir aku harus menginap disini," keluhnya.
Dan mengalir lah, cerita dari pemilik bengkel, tentang keadaan istrinya.
✨✨✨
Tiba di tempat bandrek, sebelum pesanan mereka datang, Safira mendekati ombak.
Diam-diam, Bagas mengambil gambar yang mana, Safira sedang membelakanginya.
"Sayang," panggil Bagas, tanpa merasa malu.
Safira mengigit bibir, namun dia berbalik menatap suaminya dengan wajah bersemu.
Klik ... Kembali Bagas mengabadikan momen itu.
"Jangan panggil sayang di tempat umum, malu," rengek Safira. Dia mendekati Bagas dengan bibirnya yang manyun.
"Sayang," goda Bagas, menaik-turunkan alisnya.
"Iss, abang ..."
"Sayang, duduk lah ... Pesanan kita telah tiba," ucap Bagas, tak menghiraukan larangan istinya.
Mau tak mau, akhirnya Safira duduk disebelah Bagas.
"Abang, orang-orang lihat loh," adunya.
"Biarkan. Biarkan mereka tahu, jika sayang abang hanya untukmu seorang," kekeh Bagas.
Namun, tanpa mereka sadari, Anwar dan Hesti yang kebetulan berada tak jauh dari meja mereka, mencibir kearahnya.
"Itu hanya pura-pura. Bahkan kisah sebenarnya si suami masih mencintai anakku," cibir Hesti memberitahu orang diseberangnya.
Namun, orang tersebut malah tak peduli. Apalagi, mereka yang memang tak mengenal Hesti, Safira dan Bagas. Begitu juga anak yang di sebutkan Hesti.
"Mereka hanya mengumbar kemesraan palsu," kekeh Hesti lagi.
"Bu, kami kesini mau bersantai. Bukan mau mendengar ocehanmu yang tak bermutu," cetus seorang pemuda, menatap tajam kearah Hesti.
Tak terima istrinya di hina. Anwar langsung berdiri. Bahkan, kursi yang di dudukinya terlentang begitu saja.
"Coba kamu ulangi," tunjuk Anwar.
*
*
*
Makasih untuk Biji, telah memberikan izin untuk ku tuliskan, kisahmu dalam menjaga istrimu tercinta.
Adegan dorong motor ialah kisah nyata, dan sedikit dimodifikasikan ...
Terima kasih