Mikhasa tidak pernah menyangka jika cinta bisa berakhir sekejam ini. Dikhianati oleh pacar yang ia cintai dan sahabat yang ia percaya, impian tentang pelaminan pun hancur tanpa sisa.
Namun Mikhasa menolak runtuh begitu saja. Demi menjaga harga diri dan datang dengan kepala tegak di pernikahan mantannya, ia nekat menyewa seorang pelayan untuk berpura-pura menjadi pacarnya, hanya sehari semalam.
Rencananya sederhana, tampil bahagia dinikahan mantan. Menyakiti balik tanpa air mata.
Sayangnya, takdir punya selera humor yang kejam. Pelayan yang ia sewa ternyata bukan pria biasa.
Ia adalah pewaris kaya raya.
Mikhasa tidak bisa membayar sewa pria itu, bahkan jika ia menjual ginjalnya sendiri.
Saat kepanikan mulai merayap, pria itu hanya tersenyum tipis.
“Aku punya satu cara agar kau bisa membayarku, Mikhasa.”
Dan sejak saat itu, hidup Mikhasa tak lagi tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon F.A queen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUA BELAS
"Nona Mikhasa. Saya sebagai orang tua Axel meminta tolong padamu dengan tulus agar mau dekat dengannya. Agar bersedia menerima dirinya bersamamu. Karena kita tahu kapan saja jantungnya bisa berhenti berdegup tiba-tiba. Maka dari itu, saya ingin Axel memiliki semangat hidup melalui kamu, Nona. Anggaplah cek itu ucapan terima kasih karena kalian dipertemukan dengan cara apapun."
Tubuh Mikhasa terasa kaku. Pandangan matanya masih terpaku pada foto Liora, rasa bersalah, takut, dan simpati bercampur menjadi satu.
“T-tapi… saya… saya bukan pengganti Liora, Nyonya besar,” suara Mikhasa gemetar, nyaris tak terdengar.
Nyonya Mercier tersenyum lembut. “Tidak, Mikhasa. Aku tidak meminta kamu menjadi pengganti. Aku hanya ingin Axel memiliki seseorang yang bisa memberinya semangat, seseorang yang bisa membuatnya tersenyum lagi. Dan… aku percaya kamu bisa menjadi itu.”
Mikhasa menunduk lebih dalam, hatinya bergejolak. Di satu sisi, ia merasa terbebani. Di sisi lain, rasa iba dan simpati membuatnya ingin menolong Axel, meski itu berarti harus mendekat pada pria yang selama ini membuatnya ketakutan dan cemas.
Melihat Mikhasa yang masih diliputi keraguan, Nyonya Mercier perlahan mengambil tablet di atas meja. Wanita itu menyalakan perangkat tersebut, jemarinya bergerak tenang saat membuka akses ke sistem rumah sakit milik keluarga mereka.
Sejenak, ia menatap layar itu, lalu menggesernya ke hadapan Mikhasa.
“Axel ada di sini sekarang."
Perlahan, Mikhasa menundukkan kepala, membiarkan pandangannya jatuh pada layar yang mulai menyala terang. Dan dalam sekejap, sorot matanya melembut, sendu… hampir tak percaya.
Axel, pria arogan yang selama ini selalu terlihat kuat, tak tersentuh, bahkan menyebalkan, terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Selang infus menembus kulit tangannya, sensor-sensor kecil menempel di dada dan pelipisnya, sementara alat monitor di sampingnya memancarkan grafik detak jantung yang stabil tapi lemah.
Bukan Axel yang dikenalnya. Bukan pria yang menyebalkan dan menakutkan. Di layar itu, Axel hanyalah seorang manusia yang sedang berjuang untuk bertahan hidup.
Mikhasa merasakan berat tanggung jawab yang tiba-tiba jatuh di pundaknya. Ia menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum menjawab dengan pelan, “Baik, Nyonya besar, saya akan mencoba.”
Nyonya Marcier tersenyum lega mendengar keputusan Mikhasa.
"Terima kasih, Nona Mikhasa. Saya memiliki harapan yang besar padamu."
Mikhasa kembali dengan di antar sopir pribadi Nyonya besar. Ia menunduk, memperhatikan cek di pangkuannya.
"Anggap saja aku sedang bekerja pada keluarga Mercier dan ini adalah upahku. Ada beberapa orang yang bekerja menjadi perawat bayi, ada juga yang menjadi perawat lansia. Ya, anggap saja aku adalah seorang perawat di keluarga Mercier, perawat Tuan Muda Axel. Nyonya besar juga menjanjikan gaji untukku setiap bulan. Lumayan kan."
Kata-kata itu terdengar ringan, tapi hati kecilnya tahu, ini bukan pekerjaan biasa. Bukan sekadar merawat tubuh seseorang, tapi juga luka lama yang belum sembuh.
Matanya menatap keluar jendela, senja membelah cakrawala. Di balik warna keemasan itu, mungkin langkah kecil yang ia ambil hari ini akan mengubah seluruh jalan hidupnya.
Dan sekarang, dialah yang dibayar untuk dekat dengan Axel.
🍀🍀🍀
Tiga minggu setelah pertemuan emosional itu, Mikhasa berdiri di depan gedung tinggi menjulang bertuliskan “Havenlux Wordwide" sebuah jaringan hotel berskala dunia milik keluarga Mercier. Fasad kacanya berkilau terkena sinar matahari pagi, memantulkan langit biru cerah yang entah kenapa justru membuat jantung Mikhasa berdegup tak karuan.
Sebenarnya, lamaran ini hanyalah kedok. Nyonya Besar Mercier yang menyusunnya agar Mikhasa bisa bertemu kembali dengan Axel.
Di ruang tunggu yang luas dan beraroma kopi mahal, para pelamar duduk rapi dengan map di pangkuan. Sebelahnya, seorang gadis berpenampilan menawan dengan rambut bergelombang halus menatap Mikhasa dari ujung kepala hingga kaki.
“Kamu kerja di mana sebelum ini, Kak?” tanyanya sambil memainkan kuku panjangnya yang dicat merah marun.
“Di hotel pulau seberang,” jawab Mikhasa cepat, berbohong.
“Oh?” Gadis itu tersenyum menyeringai. “Ada lagi?”
“Enggak ada.”
“Aku sih udah kerja di beberapa hotel internasional,” katanya dengan nada setengah pamer. “Aku bisa lima bahasa dunia. Bahasa Inggris, Prancis, Jepang, Spanyol, sama Korea.”
“Siapa?” sahut Mikha datar.
“Aku-lah.”
“Yang nanya.”
Gadis itu memutar bola mata. “Shit.”
“Aku lagi PMS ya, lagi pusing juga. Jadi tolong jangan pamer-pamer, aku nggak butuh dengar riwayat hidup kamu,” ucap Mikha tegas, menahan kesal.
Beberapa pelamar lain menoleh. Suasana yang tadinya hening berubah panas.
“Nyolot banget kamu. Sialan!" balas gadis itu dengan suara meninggi.
Belum sempat Mikhasa menjawab, suara langkah sepatu kulit terdengar mendekat. Ritme langkahnya tenang tapi memancarkan wibawa. Serempak semua staf berdiri tegak dan membungkuk hormat. Mikhasa pun refleks ikut berdiri.
Langkah itu berhenti tepat di depan mereka. Aroma parfum maskulin yang elegan menyelimuti udara. Mikhasa menoleh perlahan dan nyaris menahan napas.
Axel Mercier. Jas hitamnya pas di badan, dasinya berwarna abu metalik, ekspresinya dingin dan berwibawa. Sorot matanya sempat menatap Mikhasa sekilas.
“Siapa yang membuat kegaduhan di sini?” suaranya dalam, tenang, tapi cukup untuk membuat semua orang membeku.
Gadis seksi tadi langsung menunjuk ke Mikhasa. “Dia, Tuan! Tiba-tiba marah tidak jelas. Padahal saya cuma ngobrol baik-baik!” katanya dengan ekspresi paling polos yang bisa dibuat.
Mikhasa membulatkan mata. Menatap wanita itu.
Axel tidak menunggu penjelasan. Tatapannya beralih pada Mikhasa, menusuk, tenang tapi mengintimidasi. “Ikut ke ruanganku. Kamu harus mendapatkan sanksi.”
Ruangan mendadak sunyi. Para pelamar saling berbisik pelan, sebagian menatap Mikhasa dengan iba, sebagian lagi dengan senyum sinis.
Mikhasa terdiam sejenak, berusaha membaca ekspresi Axel tapi tak ada yang bisa ditebak. Hanya tatapan datar yang membuat kakinya refleks melangkah mengikuti pria itu.
Langkah mereka bergema di koridor marmer. Mikhasa berusaha menenangkan diri. Ia menatap punggung Axel.
'Jadi dia sakit. Jadi dia teringat dengan masa lalunya saat ketemu aku. Jadi ternyata itu alasan kenapa dia begitu mudah nerima tawaranku malam itu, karena ternyata aku mirip dengan kekasihnya yang telah tiada.'
Ada rasa getir yang tak bisa ia jelaskan, campuran iba dan sakit hati yang entah datang dari mana.
Entah bagaimana jalan ini nanti, saat ini tugasnya hanya satu, mengembalikan semangat hidup seseorang yang jiwa dan raganya tengah sakit.
Langkah Axel berhenti di depan lift khusus, pintu berlapis logam mengilap dengan ukiran logo perusahaan di tengahnya.
Asisten pribadinya segera menghampiri, wajahnya cemas dan penuh sopan.
“Tuan, apakah saya harus mengajak Nona ini menggunakan lift umum untuk sampai ke ruangan Anda?” tanyanya hati-hati.
Axel tak menoleh. “Tidak perlu. Kamu yang pergi.”
Asisten itu segera membungkuk dalam. “Baik, Tuan.” Ia mundur perlahan dan menghilang di balik lorong.
Kini hanya mereka berdua. Hening.
Pintu lift terbuka pelan, suara mekanisnya terdengar nyaris sakral di keheningan itu. Axel melangkah lebih dulu, lalu berbalik menghadap Mikhasa. Tatapan matanya menusuk, dalam, dingin, tapi penuh sesuatu yang nyaris rapuh.
“Mau masuk sendiri, atau kupaksa?” ucapnya datar, tapi nadanya seperti tantangan.
Mikhasa mendecak pelan. “Ck. Dasar orang kaya, dikit-dikit maksa.” Ia melangkah masuk, berdiri di samping Axel.
“Susah nyari kerja?” sindir Axel sambil melirik ke arah Mikhasa, suaranya tenang tapi menggoda.
Mikhasa mengangkat bahu tanpa menatapnya. “Ya. Sangat susah,” jawabnya datar, menatap angka di layar lift yang perlahan naik.
Axel terkekeh pelan. “Kenapa ngundurin diri dari Luminary Dataworks? Bukannya udah enak kerja di sana?” Nada suaranya seolah tahu jawabannya, tapi sengaja memancing.
“Harusnya kamu tahu alasannya,” sahut Mikhasa tanpa ekspresi.
“Karena aku?” Axel menatapnya lekat.
“Ya, siapa lagi?” balas Mikhasa cepat, nadanya tajam.
Axel menyandarkan punggung ke dinding lift, melipat tangan di dada dengan senyum miring. “Niat banget menghidariku."
Mikhasa mendengus, menoleh, menatapnya sejenak dengan ekspresi tidak percaya. “Coba pikir deh, siapa yang nggak takut sama orang kayak kamu? Tiba-tiba nyium bibirku tanpa izin, padahal kita baru kenal. Tiba-tiba nongol di apartemenku, tiba-tiba jadi direktur di kantorku, terus ngajak kencan seolah dunia ini punya kamu sendiri. Serem tahu nggak?” keluh Mikhasa berapi-api.
Axel menunduk sedikit, pura-pura berpikir. “Hmm... berarti yang bikin kamu takut bukan aku-nya, tapi kejutan-kejutannya?”
“Semua yang berhubungan sama kamu itu kejutan nggak enak!” bentak Mikha.
Axel malah tertawa pelan, suara tawanya rendah. “Tapi kamu masih inget semuanya dengan detail. Menarik juga.”
Mikha memutar bola mata. “Aku inget karena trauma, bukan karena pengen.”
Axel semakin tertawa, jelas menertawakan Mikhasa. “Dan sekarang? Kamu malah ngelamar di perusahaanku.”
“Karena aku nggak tahu ini perusahaan kamu,” balas Mikhasa cepat, nada suaranya setengah membela diri, setengah kesal.