📝 Tang Siyun adalah seorang pengembang game online berbakat, tetapi hidupnya hancur berantakan saat ia dikhianati secara bersamaan oleh pacar yang diselingkuhinya dan rekan kerja yang merebut hasil jerih payahnya.
⚰️ Kematiannya yang menyusul penuh dengan rasa pahit dan penyesalan.
🌍 Ia terbangun di dunia novel "Soul Land" yang sangat dikenalnya, terlahir kembali sebagai seorang bayi yatim piatu.
⏱️ Soul-nya yang bangkit bukanlah senjata atau binatang buas, melainkan Pocket Watch (Jam Saku) misterius dengan kemampuan yang belum tergali sepenuhnya.
🏚️ Nasibnya berubah drastis ketika ia diselamatkan oleh Tang Hao, ayah dari protagonis dunia itu, Tang San. Melihat potensi dan nasib malang Siyun, Tang Hao memutuskan untuk mengangkatnya sebagai anak angkat, menjadikan Tang Siyun kakak angkat Tang San.
🔖 Isekai, Reinkarnasi, Fantasi, Romansa Dewasa, Harem, Aksi, Petualangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meong Punch, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
[ Bab 18 ] » Catatan Harian Sang Pengawal Bayangan
Malam di Asrama Tujuh biasanya riuh dengan suara bantal yang dilempar atau tawa keras anak-anak beasiswa yang mencoba melupakan rasa lapar mereka. Namun, sejak kedatangan dua bersaudara Tang itu, terutama si kakak, Tang Siyun, udara di sini terasa lebih "berat", namun juga lebih "aman".
Aku, Wang Sheng, yang selama bertahun-tahun dianggap sebagai penguasa asrama ini hanya karena kepalaku paling besar dan tinjuku paling keras, kini menemukan diriku berada dalam posisi yang aneh. Aku bukan lagi bos. Tang San mengalahkan ku dengan terhormat, tapi Tang Siyun... dia menaklukkan ku dengan sesuatu yang tidak bisa ku jelaskan.
Beberapa hari setelah kepulangan mereka dari Hutan Berburu Roh, aku duduk di tepi tempat tidurku, memperhatikan Siyun. Ia tidak melakukan banyak hal. Ia hanya berbaring di tempat tidurnya yang kini entah bagaimana terlihat sepuluh kali lebih mewah daripada milik kami. Ia memutar-mutar jam saku peraknya dengan ritme yang membuat siapapun yang melihatnya merasa mengantuk sekaligus waspada.
"Wang Sheng," panggilnya tanpa membuka mata.
Aku tersentak. "Ya, Siyun-ge?"
Panggilanku padanya berubah secara alami. Padahal secara usia, aku jauh lebih tua. Tapi ketika dia bicara, kau akan merasa seperti sedang berhadapan dengan kakek buyutmu yang sudah hidup seribu tahun.
"Kau terlalu banyak membuang energi pada bahu kananmu saat memukul," ucapnya datar. "Dalam tiga hari ke depan, para siswa bangsawan dari kelas senior akan mencoba memprovokasi kita di kantin. Mereka kesal karena jatah daging mereka berkurang. Jika kau tidak memperbaiki tumpuan kakimu, mereka akan mematahkan hidungmu dalam sepuluh detik."
Aku tertegun. "Bagaimana kau tahu mereka akan menyerang?"
Siyun hanya tersenyum tipis. "Informasi adalah komoditas, Wang Sheng. Dan aku baru saja 'membeli' sedikit masa depan."
Keesokan harinya, Siyun memintaku menemaninya ke belakang kantin. Aku bingung. Sebagai siswa beasiswa, kami biasanya hanya menerima sisa-sisa makanan atau bubur encer. Tapi Siyun berjalan dengan kepercayaan diri seorang dekan.
Di sana, kami bertemu dengan Koki Kepala, seorang pria besar bernama Paman Liu yang terkenal pemarah. Biasanya, dia akan mengusir kami dengan sutil panas. Namun, saat melihat Siyun, wajah Paman Liu berubah.
"Ah, Tuan Muda Siyun! Waktunya pas sekali," ujar Paman Liu dengan nada yang hampir... hormat?
Siyun mendekat ke meja pemotongan daging. "Paman Liu, kau terlihat lelah. Biarkan aku membantumu sedikit."
Siyun mengeluarkan jam sakunya. Cahaya kuning redup terpancar. Aku melihat Siyun mulai membantu memotong sayuran. Gerakannya tidak cepat, tapi entah bagaimana, tumpukan wortel dan daging itu selesai terpotong dengan presisi sempurna dalam waktu yang menurut perasaanku hanya beberapa detik. Paman Liu tampak melongo, seolah-olah dia baru saja melihat keajaiban.
"Efisiensi adalah kunci, Paman," kata Siyun sambil mengelap tangannya dengan sapu tangan sutra. "Sekarang, tentang perjanjian kita..."
Sepuluh menit kemudian, aku membawa satu karung penuh dendeng daging berkualitas tinggi dan dua botol susu segar kembali ke asrama.
"Bagaimana kau melakukannya, Ge?" tanyaku terengah-engah.
"Paman Liu punya masalah dengan sendi tangannya. Aku hanya 'mengatur' waktu rasa sakitnya agar dia bisa bekerja lebih cepat tanpa merasa pegal, dan sebagai gantinya, dia memberi kita aset yang tidak tercatat di buku inventaris," jawab Siyun santai.
Aku mulai menyadari sesuatu. Siyun tidak hanya kuat secara fisik atau roh; dia sedang meretas sistem kehidupan di akademi ini. Dia menemukan orang-orang yang merasa tidak puas, orang-orang yang lelah, dan memberikan mereka apa yang mereka butuhkan, waktu atau kemudahan, sebagai ganti untuk loyalitas.
Malam-malam berikutnya adalah neraka sekaligus berkah bagiku. Siyun mulai melatihku. Bukan latihan fisik berat seperti yang dilakukan Tang San, melainkan latihan mental.
"Tutup matamu," perintah Siyun.
Aku menurut. Tiba-tiba, aku merasa dunia di sekitarku melambat. Aku bisa mendengar suara tetesan air di luar asrama dengan sangat jelas. Aku bisa mendengar detak jantung teman-teman yang sedang tidur.
"Itu adalah persepsi waktu," suara Siyun berbisik di telingaku. "Lawanmu bukan musuhmu, tapi keraguanmu sendiri. Saat siswa bangsawan itu menyerang, jangan lihat tinjunya. Lihatlah niatnya. Niat muncul satu detik sebelum gerakan."
Dia memukul dadaku pelan, tapi rasanya seperti hantaman godam karena aku tidak siap. "Lagi. Fokus."
Sepanjang minggu itu, sementara Tang San sibuk dengan Grandmaster belajar tentang teori cincin roh, Siyun mengubah kami, anak-anak kumal dari Asrama Tujuh, menjadi unit yang terorganisir. Dia mengajari Xiao Wu bagaimana cara menyelinap tanpa suara (meskipun gadis itu lebih suka menendang pintu depan), dan dia mengajariku cara menjadi dinding yang tak tertembus.
Prediksi Siyun tepat. Di hari ketiga, sekelompok siswa bangsawan yang dipimpin oleh Xiao Chenyu menghadang kami. Mereka tampak sangat marah.
"Heh, anak-anak miskin! Kudengar kalian sekarang makan daging setiap hari? Dari mana kalian mencurinya?!" teriak salah satu pengikut Xiao Chenyu.
Aku maju ke depan. Tang San baru saja ingin melangkah, tapi Siyun menahan bahunya. "Biarkan Wang Sheng yang menyelesaikannya. Dia butuh latihan lapangan."
Aku gemetar, tapi aku ingat kata-kata Siyun. Niat muncul sebelum gerakan.
Saat siswa senior itu mengayunkan tinjunya, aku melihatnya. Bukan dalam kecepatan normal, tapi seolah-olah dia bergerak di dalam air. Aku bergeser hanya beberapa sentimeter, dan dengan satu gerakan singkat yang diajarkan Siyun, aku memanfaatkan momentum lawanku untuk menjatuhkannya ke lantai.
Kantin menjadi sunyi. Siswa bangsawan itu terjatuh dengan cara yang memalukan, celananya tersangkut di meja dan robek, persis seperti kejadian yang diceritakan teman-teman tempo hari.
Aku menoleh ke belakang. Siyun sedang duduk di meja paling pojok, menyesap sup nya dengan tenang. Dia tidak melihat ke arah pertarungan sama sekali. Dia tahu hasilnya bahkan sebelum dimulai.
Setelah kejadian itu, reputasi Asrama Tujuh meroket. Kami bukan lagi sekadar penghuni asrama; kami adalah faksi. Namun, Siyun tampak mulai bosan dengan urusan asrama.
"Tempat ini terlalu kecil, Wang Sheng," ucapnya suatu sore saat kami duduk di atap. "Dinding-dinding akademi ini terlalu sempit untuk orang yang ingin menguasai waktu."
Aku melihatnya memperhatikan pakaiannya sendiri yang mulai terlihat biasa saja di matanya. Siyun adalah tipe orang yang membutuhkan keindahan dan kenyamanan tingkat tinggi. Dia mulai bertanya-tanya tentang kota Nuoding, tentang siapa yang memegang kendali ekonomi di sana, dan tentang tempat-tempat yang menyediakan pengetahuan lebih dalam dari sekadar buku teks dasar akademi.
"Ge, apa yang akan kau lakukan?" tanyaku.
Siyun berdiri, merapikan rompi hitamnya yang baru saja ia 'dapatkan' dari seorang penjahit yang ia bantu mempercepat jadwal produksinya. "Aku butuh sekutu yang lebih dewasa, Wang Sheng. Anak-anak seperti kalian bagus untuk otot, tapi untuk membangun sebuah imperium, aku butuh sumber daya yang hanya dimiliki oleh mereka yang sudah mengerti pahit manisnya dunia."
Dia menatap ke arah gerbang akademi, ke arah pusat kota Nuoding yang berdenyut dengan lampu-lampu awal malam.
"Besok, aku akan keluar. Aku dengar ada seorang janda kaya yang menjalankan toko obat, dan seorang kurator perpustakaan yang menyimpan rahasia di balik kacamatanya. Mereka adalah variabel yang lebih menarik daripada guru-guru kaku di sini."
Pagi itu, sebelum peristiwa dimulai, aku melihat Siyun bersiap-siap. Dia tidak membawa senjata. Dia hanya membawa jam sakunya, seulas senyum manipulatif yang menawan, dan aroma teh mahal yang entah dari mana asalnya.
Tang San menghampirinya. "Ge, kau mau ke mana? Kita ada kelas teori pagi ini."
Siyun menepuk kepala adiknya. "Pergilah belajar tentang jenis-jenis rumput, San. Aku akan pergi belajar tentang cara kerja dunia yang sebenarnya. Jangan lupa, jika ada yang mencari ku, katakan aku sedang bermeditasi dalam waktu yang terhenti."
Tang San hanya bisa menggelengkan kepala. Dia mungkin jenius dalam kultivasi, tapi dia tidak akan pernah mengerti cara kakaknya berpikir.
Aku memperhatikan Siyun berjalan melewati gerbang akademi. Dia tidak terlihat seperti bocah enam tahun yang hendak bermain. Dia terlihat seperti seorang raja yang sedang berjalan menuju singgasananya yang sah.
Saat itulah aku sadar, Asrama Tujuh hanyalah langkah awal. Tang Siyun tidak sedang mencari kekuatan untuk mengalahkan musuh; dia sedang menenun jaring yang akan menjerat seluruh kota ini, dan mungkin, suatu hari nanti, seluruh benua.
Dan aku? Aku merasa bangga bisa menjadi salah satu benang dalam jaring itu. Karena di bawah perlindungan sang "Penasihat", kami bukan lagi mangsa. Kami adalah bayangan yang bergerak di bawah perintah Sang Dalang Waktu.