Jika biasanya istri yang dikhianati suaminya, maka yang terjadi pada Rohan tidak demikian. Dia lah yang dikhianati oleh sang istri.
Pernikahan yang dibangun oleh cinta nyatanya tak selalu manis. Rohan harus menerima kenyataan pahit istrinya berselingkuh.
Perceraian pun tak terelakkan. Ia mendapatkan hak asuh putra putrinya yang baru berusia 5 dan 3 tahun.
Tak ingin berlarut dan mengingat sakit hatinya, Rohan menjual semua asetnya di kota dan berpindah ke desa.
Namun siapa sangka, di sana dia malah menjadi primadona.
"Om Dud, mau dibantuin nggak jemur bajunya? Selain jago dalam pekerjaan rumah, aku juga jago dalam hal lain lho."
Entah sejak kapan itu terjadi tapi yang jelas, gadis itu, gadis yang dijuluki Kembang Desa tersebut mulai mengusik kehidupan dan hati Rohan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Apa? 10
"Aku pacar Bestari, beneran. Sebentar lagi, kami juga akan menikah."
Apa??
Ucapan Nanta itu sontak membaut Lina dan Sara terkejut. Mereka tahu bahwa pria yang menginginkan Bestari itu tak hanya satu dua saja. Tapi yang berani bicara seperti ini mungkin hanya pria ini.
"Cowok-cowok biasanya cuman ngaku jadi pacarnya, tapi ini orang ngaku kalau mereka bakalan nikah. Kayaknya bener ini, Mbak Lin," bisik Sara tepat di telinga Lina.
"Iya, kayaknya beneran deh. Dan pas-pas aja sih sama Bestari. Nih cowok ganteng, kayaknya kaya juga,"balas Lina balik berbisik kepada Sara.
Dua wanita beda usia dan beda status itu saling berbisik membicarakan Nanta. Sedangkan Nanta sendiri, hanya senyum-senyum, menunggu mereka berdua selesai.
"Terus kamu ada keperluan apa ke sini? Kenapa nggak langsung nemuin Bestari? Kok malah berdiri di sini?" tanya Lina. Entah mengapa dia belum sepenuhnya percaya dengan ucapan Nanta.
"Oh, saya lagi jalan-jalan aja. Udara di sini seger banget, jadi enak buat jalan-jalan. Sekalian bersihin paru-paru yang kotor karena polisi kota. Oh iya, kemarin saya lihat ada seorang pria sama dua anak, kayaknya dia akrab banget sama Bestari. Dan kayaknya dia bukan warga sini ya?"
Ternyata ini lah tujuan Nanta yang sebenarnya. Dia ingin mencari tahu perihal pria yang kemarin dekat dengan Bestari yang tidak lain dan tidak bukan adalah Rohan.
Yang dilihat Nanta tentu adalah Rohan. Karena hanya pria itu kemarin yang dia lihat bersama dengan Bestari dan membuatnya harus sendirian karena gadis itu memilih pergi bersama pria dengan dua anak.
"Oh Om Dud,"sahut Sara
"Om Dud, siapa dia?" tanya Nanta semakin penasaran.
"Itu Om Duda, dia sama dua anak kan cewek cowok? Ya Bestari emang deket sih sama Om Dud. Om Dud dan dua anaknya warga baru di sini, sebulanan lah kalau nggak salah hitung. Dan Bestari emang deket sama mereka. Karena Bestari anak Pak RT jadi banyak bantu Om Dud dan dua anaknya yang sedang adaptasi di desa ini,"jelas Lina panjang lebar.
"Oh gitu?" sahut Nanta singkat. Agaknya ia tengah berpikir tentang pria yang dipanggil Om Dud itu. Ia tahu Bestari adalah orang yang baik, akan tetapi gadis itu tidak akan seakrab itu terhadap seorang laki-laki.
Hal tersebutlah yang membuat Nanta penasaran. Cara bicara, cara memandang dan cara tersenyum Bestari terhadap pria itu seolah memiliki makna.
"Yup begitu. Tapi katanya kamu ini kan pacarnya, kok nggak nanya langsung aja sama Bestari?" ucap Lina dengan nada curiga.
"Iya bener, kenapa nggak nanya sama Mbak Bestari langsung, malah nanya sama kita. Jangan-jangan situ ngaku-ngaku aja ya? Bukan pacar beneran Mbak Best. Mas, aku kasih tahu ya. Mbak Bestari emang cantik, dan banyak yang suka. Dan aku rasa Mas nya ini salah satu cowok yang ngaku-ngaku jadi pacarnya Mbak Bestari,"ucap Sara sambil menunjukkan tatapan curiga.
Nanta hanya bisa menampilkan senyum simpulnya. Dua wanita yang ada di depannya ini sungguh tidak memercayainya. Dan dia juga tak lagi berani bicara banyak.
Tapi apapun hubungan Bestari dengan pria yang dipanggil Om Dud itu, Nanta tidak peduli. Dia tidak ingin kembali ke kota dengan tangan kosong. Maka dari itu dia harus bisa kembali mendapatkan hati Bestari.
Nanta yang kepalanya dipenuhi denga pikiran itu sampai-sampai tidak sadar bahwa dua wanita tadi sudah berjalan menjauh. Padahal masih ada lagi yang ingin dia tanyakan tentang pria itu.
"Ah sialan," umpatnya lirih sambil mengusap wajahnya kasar. Mau tidak mau ia harus pergi menemui Bestari lagi untuk mengetahui hubungan mereka lebih lanjut.
Ketika tengah berjalan dengan santai, langkah kaki Nanta terhenti. Dia mendengar suara tawa yang sangat dikenalnya. Siapa lagi kalau bukan suara milik Bestari.
"Jangan manggil kayak gitu, Riesha. Nanti orang-orang jadi salah paham lho. Tapi nggak masalah sih, aku seneng-seneng aja,"ucap Bestari diiringi tawa kecil.
"Boleh benelan? kalau ditu, Liesha sekalang mandil Kakak Cantik jadi Ibun aja ya,"jawab Riesha. Anak itu sudah kembali cerita setelah sakit pada perutnya jauh lebih baik dari pada tadi malam.
"Eiii mana boleh begitu, Dek," sahut Rishi.
"Iya sayang, nggak boleh gitu. Nanti orang-orang bingung lagi. Kak Bestari kan belum menikah juga. Kalau dipanggil ibun nanti dikiranya udah menikah lagi," imbuh Rohan.
Obrolan ringan tersebut benar-benar bisa terdengar jelas di telinga Nanta. Sontak dia merasa kesal dan tidak suka dengan pembicaraan yang terasa akrab itu.
"Bener tuh, ntar dikiranya Bestari udah nikah. Padahal kan belum. Dan sebagai pacarnya aku nggak setuju," sahut Nanta.
Sreeet
Bestari langsung melihat ke arah Nanta dengan tatapan tajam. Mendengar ucapan Nanta yang memanggilnya pacar, membuat gadis itu merasa jijik lagi.
"Jangan pernah manggil aku sebagai pacar mu. Jijik tahu nggak,"ucap Bestari tajam. Tentu saja dia berkata demikian dengan mendekat ke arah Nanta. Bestari tidak mau anak-anak mendengar ucapan yang kurang baik itu.
"Kenapa, aku kan pacarmu,"ucap Nanta tak mau kalah.
"Mantan, bekas, kamu tahu itu kan artinya apa. Pergi dari sini. Sampai kapanpun, mau seperti apapun kamu memohon, aku nggak akan pernah balikan sama kamu. TITIK!" tukas Bestari tajam.
Nanta terdiam, kemarahan Bestari sangat besar saat ini dan dia tidak ingin menambah masalah. Sehingga Nanta memutuskan untuk pergi dari halaman rumah tersebut.
"Nah kalau gitu, kakak pulang dulu ya. Nanti kakek nyariin. Riesha, semoga cepet sembuh ya. Om Dud, aku permisi dulu,"ucap Bestari. Secara cepat dia bisa mengubah ekspresi wajahnya dimana Rohan tahu bagaimana kesal dan marahnya Bestari kepada pria tadi.
"Makasih ya, Bestari. Makasih karena udah banyak membantu saya dan anak-anak. Dan untuk permintaan Riesha tadi, nggak perlu diindahkan,"jawab Rohan.
"Oh itu, nggak apa-apa kok Om Dud. Aku nggak masalah kalau Riesha emang mau manggil aku begitu. Siapa tahu dengan cara itu bisa ngobati rindunya Riesha dengan sosok ibu. Dan intinya, aku nggak masalah kok. Malahan aku seneng,"sahut Bestari.
Eh?
Rohan terkejut dengan jawaban Bestari. Dia bukan pria yang polos yang tak mengerti sinyal-sinyal semacam ini. Akan tetapi Rohan tak ingin besar kepala. Dia memilih untuk diam dan menanggapi ucapan Bestari dengan senyuman.
"Ayo anak-anak kita masuk,"ucap Rohan. Tadi mereka berada di teras maka dari itu Rohan mengajak kedua anaknya kembali masuk ke rumah.
"Yah, apa ayah mau nyari ibu buat kami buat gantiin bunda?"
Apa?
Rohan tercengang mendengar ucapan Rishi. Entah mengapa anak itu tiba-tiba bertanya demikian.
"Kenapa Abang tiba-tiba tanya begitu?" sahut Rohan.
"Aku nggak mau punya ibu lagi kalau ujung-ujungnya dia nggak bisa ada buat kita. Lebih baik kayak gini aja bertiga selamanya."
Degh!
TBC