NovelToon NovelToon
MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

MASALALU YANG MENGANTAR KEBAHAGIAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Mertua Kejam / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Penyesalan Suami
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: zanita nuraini

Naya percaya cinta cukup untuk mempertahankan pernikahan.

Namun tekanan dari ibu mertua yang terus menuntut keturunan, ditambah kemunculan masa lalu suaminya dengan sebuah kenyataan pahit, membuat hidup Naya perlahan runtuh.
Ini bukan kisah perempuan yang kalah, melainkan tentang Naya—yang pergi, bangkit, dan menemukan bahagia yang benar-benar ia pilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zanita nuraini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB. 9. Pilihan Yang Menggeser Arah Hidup

Sore itu, Naya kembali berdiri di depan pintu rumah kayu mereka. Tangannya memegang lap kecil, sekadar alasan agar ia tidak terlihat hanya menunggu. Sejak Adit bekerja di kota, kebiasaan menanti ini menjadi bagian hidupnya. Setiap dua minggu sekali, ia selalu berdiri di titik yang sama, menajamkan pendengaran, menebak dari jauh suara motor yang mendekat.

Ia tidak pernah mengeluh. Tidak pernah menghitung berapa kali Adit pulang. Baginya, selama suaminya masih menyempatkan diri kembali ke desa, itu sudah cukup. Senyum yang ia siapkan selalu sama—sederhana, tidak berlebihan, tapi tulus.

Saat suara motor tua itu akhirnya terdengar, jantung Naya berdetak sedikit lebih cepat. Ia melangkah ke luar rumah, dan benar saja, Adit muncul di ujung jalan kecil, helm lusuh tergantung di setang. Debu tipis menempel di celananya. Begitu turun dari motor, Adit tersenyum lemah.

“Assalamu’alaikum.”

“Wa’alaikum salam,” jawab Naya cepat, senyum itu otomatis terbit di wajahnya.

Ia menyambut Adit seperti biasa. Mengambilkan air minum, menyodorkan handuk kecil, lalu membiarkannya duduk sejenak. Semua tampak sama. Tapi bagi Naya, ada sesuatu yang terasa berbeda.

Ia memperhatikan suaminya diam-diam. Cara Adit meneguk air lebih lambat. Bahunya yang turun seolah menahan beban. Bahkan napasnya terdengar berat. Naya tidak langsung bertanya. Ia tahu, Adit bukan tipe lelaki yang mudah mengeluh.

“Kamu mandi dulu, Mas,” ucapnya lembut.

Adit mengangguk. “Iya.”

Naya menunggu di ruang tengah sambil melipat kain yang sebenarnya sudah rapi. Pikirannya melayang. Setiap kali Adit pulang belakangan ini, rasa hangat itu masih ada, tapi disertai kegelisahan yang tidak bisa ia jelaskan. Seperti ada jarak yang tumbuh bukan karena cinta berkurang, melainkan karena lelah yang menumpuk.

Saat Adit kembali dan duduk di kursi kayu, Naya mendekat. Ia mulai memijat bahu suaminya, pelan, seperti yang selalu ia lakukan sejak dulu. Dari sentuhan itu, ia semakin yakin—tubuh Adit benar-benar kelelahan.

“Kamu capek banget ya, Mas?” tanyanya hati-hati.

Adit tidak langsung menjawab. Ia hanya menghela napas panjang, lalu mengangguk. “Iya, Nay.”

Jawaban singkat itu justru membuat dada Naya menghangat dan perih bersamaan. Ia tahu, Adit sedang berjuang. Tapi sebagai istri, melihat suaminya seperti ini membuatnya merasa bersalah, seolah-olah ia tidak cukup membantu.

“Kerjaan di kota makin berat?” tanyanya lagi.

“Lumayan,” jawab Adit. “Banyak yang harus diurus.”

Naya melanjutkan pijatannya. Dalam hati, ia berdoa agar rasa lelah itu tidak berubah menjadi sakit. Ia teringat motor tua yang sering mogok, perjalanan panjang yang harus ditempuh Adit setiap kali pulang. Semua itu bukan hal sepele.

Malam semakin larut. Suara jangkrik terdengar jelas dari luar. Setelah makan malam, mereka duduk berdampingan dalam diam. Biasanya, keheningan itu terasa nyaman. Tapi malam ini, Naya merasakan ketegangan halus di udara.

Adit tampak gelisah. Ia berkali-kali menarik napas, seolah ingin mengatakan sesuatu tapi ragu. Naya menunggu. Ia tahu, jika Adit sudah siap, ia akan bicara.

“Naya,” panggil Adit akhirnya.

“Iya, Mas?” jawab Naya, menoleh.

Adit menatap lurus ke depan, bukan ke wajah Naya. “Aku nggak bisa terus-terusan begini.”

Kalimat itu membuat jantung Naya berdegup lebih kencang. Tangannya yang semula bertumpu di pangkuan mengencang. “Begini gimana?” tanyanya pelan.

“Aku capek bolak-balik,” lanjut Adit jujur. “Capek badan, capek pikiran.”

Naya menelan ludah. Ia sudah menduga, tapi tetap saja mendengarnya langsung membuat dadanya sesak. Ia tidak memotong. Tidak menyela. Ia ingin mendengar semuanya.

“Aku mikir,” kata Adit lagi, suaranya sedikit bergetar, “kalau kamu ikut ke kota.”

Ucapan itu membuat dunia Naya seolah berhenti sejenak.

“Ke… kota?” ulangnya lirih, memastikan ia tidak salah dengar.

“Iya,” jawab Adit, akhirnya menoleh. “Biar kita tinggal bareng. Biar aku nggak harus pulang-pergi terus.”

Naya terdiam. Banyak hal berputar di kepalanya dalam waktu singkat. Kota. Rumah orang tua Adit. Dunia yang asing baginya. Tapi yang paling kuat muncul di benaknya adalah satu hal: kebun.

“Kebun…” gumamnya tanpa sadar.

Adit menangkap kata itu. “Aku tahu kamu mikir soal kebun.”

Naya mengangguk pelan. “Mas, kebun itu…” Ia berhenti, mencari kata yang tepat. “Itu hidup aku.”

Ia menunduk, matanya menatap lantai kayu. Kebun itu bukan hanya tanah dan tanaman. Di sanalah ia belajar bertahan setelah orang tuanya tiada. Di sanalah ia merasa berguna. Meninggalkannya bukan perkara mudah.

“Kalau aku ikut ke kota,” lanjut Naya pelan, “siapa yang ngurus kebun?”

Pertanyaan itu menggantung di udara. Adit terdiam beberapa detik sebelum menjawab. “Kita bisa minta orang.”

Naya menoleh. “Orang lain?”

“Iya,” kata Adit. “Kita bayar. Yang penting kebunnya tetap jalan.”

Naya kembali terdiam. Hatinya mulai bergejolak. Di satu sisi, ia melihat wajah lelah suaminya. Di sisi lain, ia melihat kebunnya yang setia menunggu setiap pagi.

Malam itu, Naya hampir tidak bisa tidur. Tubuhnya terbaring di samping Adit, tetapi pikirannya melayang jauh. Ia menatap langit-langit rumah kayu yang sudah ia kenal seumur hidupnya. Setiap garis, setiap celah papan, menyimpan kenangan. Dan kini, semuanya terasa seperti akan ditinggalkan.

Ia menoleh ke arah Adit. Suaminya sudah terlelap, napasnya teratur, wajahnya terlihat sangat lelah. Naya merasa dadanya mengencang. Ia mencintai lelaki itu. Ia tahu, keputusan Adit bukan datang dari keinginan mengekang, melainkan dari kelelahan yang tidak lagi bisa ditahan.

“Aku istrimu,” bisik Naya dalam hati. “Aku seharusnya menemanimu.”

Kalimat itu terasa seperti kewajiban yang tidak tertulis, tetapi sangat kuat. Ia teringat nasihat yang sering ia dengar sejak kecil—tentang istri yang mengikuti suami selama tidak melanggar jalan Allah. Namun mengikuti bukan berarti tanpa rasa kehilangan. Dan Naya merasakannya sekarang.

Pagi hari, Naya bangun lebih awal dari biasanya. Ia langsung menuju kebun. Udara masih dingin, tanah masih basah oleh embun. Ia berjalan di antara tanaman dengan langkah pelan, menyentuh daun-daun hijau yang sudah ia rawat bertahun-tahun. Setiap sudut kebun menyimpan cerita tentang bertahan, tentang bangkit setelah jatuh.

“Kamu akan aku tinggalkan?” gumamnya lirih, seolah kebun itu bisa menjawab.

Di sanalah ia berdiri cukup lama, membiarkan pikirannya berdebat sendiri. Ia mencoba jujur pada dirinya. Ia takut pada kota. Takut pada dunia yang tidak memberinya ruang bernapas. Takut pada tatapan orang-orang yang mungkin merendahkannya. Dan lebih dari itu, ia takut kehilangan jati dirinya.

Siang harinya, Naya mulai memberanikan diri berbicara dengan beberapa orang desa. Ia tidak langsung menawarkan kebun. Ia hanya bertanya pelan, seolah tidak ingin mengakui bahwa ia akan pergi.

“Kalau misalnya kebun ini dititipkan,” ucapnya kepada seorang tetangga, “kira-kira bisa?”

Pertanyaan itu terasa berat di lidahnya. Mendengar jawabannya justru membuat dadanya semakin sesak. Ada yang bersedia membantu, ada yang ragu. Semua terasa tidak sama. Tidak ada yang bisa merawat kebun itu seperti dirinya.

Sore menjelang, Adit kembali dari rumah tetangga. Ia melihat Naya duduk di teras, wajahnya terlihat tenang, tapi mata itu tidak bisa berbohong.

“Kamu habis dari kebun?” tanya Adit.

Naya mengangguk. “Iya.”

Adit duduk di sampingnya. Mereka terdiam cukup lama. Naya tahu, inilah saatnya bicara jujur. Bukan sebagai perempuan yang takut, tapi sebagai istri yang ingin dipahami.

“Mas,” ucapnya akhirnya, suaranya lirih tapi jelas. “Aku takut.”

Adit menoleh, menatap wajah Naya dengan serius. “Takut apa?”

“Takut kalau aku ikut ke kota, aku nggak jadi siapa-siapa,” jawab Naya jujur. “Di sini, aku punya kebun. Aku tahu aku berguna. Di sana… aku cuma istrimu.”

Ucapan itu bukan keluhan, melainkan pengakuan yang selama ini ia pendam. Adit terdiam. Ia baru benar-benar menyadari beban yang Naya pikul.

“Aku juga takut,” lanjut Naya, menahan getar di suaranya. “Takut nggak bisa kuat. Takut nggak bisa menyesuaikan diri.”

Adit menarik napas panjang. “Aku nggak pernah berniat bikin kamu kehilangan dirimu,” katanya pelan. “Aku cuma… capek sendirian.”

Kalimat itu membuat hati Naya runtuh. Bukan karena tuntutan, tapi karena kejujuran. Ia tahu, Adit juga sedang berkorban. Meninggalkan kenyamanan masa lalunya, memilih hidup sederhana, dan kini masih harus berjuang sendiri di kota.

Malam itu, Naya duduk sendirian setelah Adit tertidur. Ia membuka sajadah, menghadap ke arah kiblat. Air matanya jatuh tanpa suara. Ia tidak meminta kemudahan. Ia hanya meminta kekuatan.

“Ya Allah,” bisik nya, “kalau ini jalan yang harus aku tempuh, kuatkan hatiku. Jangan biarkan aku menyesal pada takdir-Mu.”

Di dalam doanya, Naya mulai menerima satu kenyataan pahit: terkadang, menjadi istri berarti belajar merelakan, bahkan saat hati belum sepenuhnya siap.

Keputusan itu tidak pernah benar-benar diucapkan dengan lantang oleh Naya. Ia hanya semakin jarang terlihat di kebun. Langkahnya masih ke sana, tetapi tidak lagi sepanjang dulu. Ia mulai mengajari orang lain bagaimana merawat tanaman, kapan harus menyiram, kapan harus memupuk. Setiap kali ia memberi arahan, dadanya terasa seperti diikat pelan-pelan.

Ia tersenyum saat berbicara, seolah semuanya biasa saja. Namun setiap selesai, ia memalingkan wajahnya, takut ada yang melihat matanya yang mulai basah.

Pada suatu sore, Naya berdiri di tengah kebun sendirian. Matahari hampir tenggelam, cahaya jingga menyentuh pucuk-pucuk daun. Ia memejamkan mata, menarik napas panjang, lalu melepaskannya perlahan.

“Aku titipkan kamu,” ucapnya lirih, nyaris seperti doa.

Bukan pada manusia, melainkan pada tanah yang telah memberinya hidup.

Ia tidak menangis keras. Hanya air mata yang jatuh satu per satu, membasahi tanah yang sama-sama ia cintai dan ia tinggalkan.

Di rumah, Naya mulai membereskan barang-barangnya. Tidak banyak yang ia bawa. Beberapa pakaian, buku kecil berisi catatan harian, dan foto lama orang tuanya. Ia melipat pakaian dengan rapi, berhenti sesekali saat tangannya gemetar.

Setiap lipatan terasa seperti penanda: satu tahap hidupnya selesai.

Adit memperhatikannya dari pintu. Ia ingin membantu, tetapi memilih diam. Ia tahu, ini bukan tentang koper atau baju. Ini tentang perpisahan yang tidak mudah.

“Nay,” ucap Adit pelan, “kalau kamu belum siap—”

Naya menggeleng sebelum kalimat itu selesai. Ia tersenyum kecil, senyum yang terlihat kuat, tapi rapuh di baliknya.

“Aku siap, Mas,” katanya. “Aku cuma perlu berdamai dulu.”

Malam itu, mereka duduk di teras rumah. Angin desa berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan dedaunan. Naya menatap langit, mencoba menghafal suasana yang mungkin tidak akan ia temui lagi setiap hari.

“Aku takut berubah,” kata Naya tiba-tiba.

Adit menoleh. “Berubah bagaimana?”

“Takut jadi orang lain,” jawabnya jujur. “Takut kehilangan diriku sendiri.”

Adit menggenggam tangannya. “Kamu tetap Naya,” katanya yakin. “Di mana pun kamu berada.”

Kalimat itu sederhana, tapi cukup menenangkan. Naya menunduk, mengangguk pelan. Ia memilih percaya, meski hatinya masih gemetar.

Keesokan paginya, sebelum matahari naik tinggi, Naya kembali ke kebun untuk terakhir kalinya sebagai pemilik yang merawat setiap hari. Ia berjalan menyusuri barisan tanaman dengan langkah pelan. Ia tidak ingin terburu-buru. Ia ingin mengingat semuanya—bau tanah, suara serangga, rasa lelah yang dulu terasa bermakna.

Saat akhirnya ia berbalik, dadanya terasa kosong.

Namun ia tidak menoleh lagi.

Di teras rumah, tas-tas sudah tersusun. Adit menunggu dengan motor tuanya. Naya berdiri sebentar di depan rumah, menatap dinding kayu yang penuh kenangan. Ia menempelkan telapak tangannya di sana, seolah berpamitan.

“Terima kasih,” bisiknya.

Perjalanan ini bukan tentang kota. Bukan tentang meninggalkan desa. Ini tentang seorang perempuan yang memilih ikut suaminya, meski harus merelakan sebagian besar dirinya tertinggal di belakang.

Motor itu perlahan meninggalkan Desa Sukamerta.

Naya duduk di belakang, memeluk tas kecilnya erat.

Ia tidak tahu apa yang menunggunya di kota.

Ia hanya tahu, hidupnya telah bergeser arah—dan tidak akan pernah kembali sama.

Selamat pagi readers,selamat membaca...

Like komennya dong..

Terimakasih..

1
sherapine
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!