NovelToon NovelToon
Negosiasi Di Ranjang Musuh

Negosiasi Di Ranjang Musuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Pelakor / Wanita Karir / Penyesalan Suami / Selingkuh / Menikah dengan Musuhku / Romansa
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

​Alicia Valero adalah ratu properti Madrid yang tak tersentuh—hingga ia mencium aroma pengkhianatan di balik kemeja suaminya, Santiago. Alih-alih meratap, Alicia memilih jalur yang lebih panas: balas dendam total. Ia akan merebut kerajaan Solera Luxury Homes dan menghancurkan Santiago.
​Namun, demi memenangkan perang ini, Alicia harus bersekutu dengan iblis: Rafael Montenegro.
​Rafael, pesaing suaminya yang kejam dan memikat, adalah bayangan gelap yang selalu mengincar kehancuran Solera. Ia memiliki tatapan yang menjanjikan dosa dan sentuhan yang bisa membakar segalanya.
​Alicia Valero kini menari di antara dewan direksi yang kejam dan pelukan rahasia yang terlarang. Persekutuan berbahaya ini bukan hanya tentang bisnis, tetapi tentang gairah yang menyala di atas tumpukan pengkhianatan.
​Dalam permainan kekuasaan, siapa yang akan menjadi korban? Apakah Alicia bisa mengendalikan serigala itu, ataukah ia akan menjadi mangsa berikutnya dalam kehancuran yang paling manis dan mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 30 : Mahkota yang Runtuh

Lorong lantai teratas gedung Montenegro Group biasanya terasa seperti koridor menuju surga bagi mereka yang haus kekuasaan. Namun pagi ini, bagi Rafael Montenegro, setiap langkah di atas lantai marmer hitam itu terasa seperti langkah menuju tiang gantungan. Bau asap cerutu mahal dan aroma pengkhianatan tercium pekat di udara.

Di depan pintu ruang rapat jati yang berat, dua pengawal yang biasanya menunduk hormat padanya, kini berdiri tegak dengan wajah kaku. Mereka tidak membukakan pintu.

"Minggir," desis Rafael. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang biasanya membuat orang gemetar.

"Maaf, Tuan Rafael," salah satu pengawal menjawab tanpa menatap matanya. "Instruksi dari Tuan Mateo. Anda baru boleh masuk setelah seluruh dewan direksi duduk."

Rafael mengepalkan tangannya. Amarah membuncah di dadanya, namun ia menahannya. Ia bisa merasakan jantungnya berdegup kencang, bukan karena takut, melainkan karena rasa muak yang luar biasa. Keluarga. Darah yang seharusnya lebih kental dari air, kini terasa seperti cuka yang membakar luka.

Pintu terbuka. Rafael melangkah masuk ke dalam ruangan luas yang menghadap ke langit Madrid. Di ujung meja oval yang panjang, duduk Mateo Montenegro—paman yang selama ini ia anggap sebagai figur pengganti ayah yang bijak. Di sekelilingnya, deretan pria paruh baya berpakaian jas mahal menatap Rafael seolah-olah ia adalah noda di atas taplak meja sutra.

"Duduklah, Rafael," ucap Mateo. Suaranya tenang, namun ada nada kemenangan yang tak bisa ia sembunyikan.

Rafael tidak duduk. Ia berdiri di ujung meja, menatap pamannya dengan mata yang tajam. "Langsung saja, Mateo. Aku tidak punya waktu untuk sandiwara moral kalian."

Mateo terkekeh, suara tawanya kering seperti daun jatuh. "Sandiwara? Rafael, kau telah menyeret nama Montenegro ke dalam lumpur. Skandal Ibiza, hubunganmu yang berantakan dengan wanita Valero itu... kau memberikan musuh-musuh kita peluru untuk menembak jantung kita sendiri."

"Aku menyelamatkan perusahaan ini dari dosa-dosa ayahku!" bentak Rafael. Suaranya menggelegar, memantul di dinding kaca. "Jika bukan karena aku, jaksa sudah menyegel gedung ini sekarang juga!"

"Dan dengan melakukan itu, kau mengkhianati keluargamu," sela seorang direktur tua yang selama ini selalu menjilat pada mendiang Hector. "Kau lebih memilih menjadi pahlawan bagi wanita Pemimpin Solera itu daripada menjadi pelindung bagi kekayaan kami."

Mateo berdiri, ia meletakkan sebuah dokumen di depan Rafael. "Dewan direksi telah melakukan pemungutan suara. Berdasarkan pasal etika dan kegagalan kepemimpinan yang menyebabkan kerugian citra secara masif, kau resmi dicopot dari posisi CEO Montenegro Group."

Rafael terdiam. Dunia seolah berhenti berputar. Ia sudah menduga hal ini akan terjadi, namun mendengarnya secara langsung terasa seperti ditikam dari belakang oleh orang-orang yang dulu menyembah kakinya.

"Kau tidak bisa melakukan ini," bisik Rafael, suaranya bergetar karena emosi. "Aku memegang saham mayoritas lewat yayasan ayahku."

"Yayasan yang sekarang sedang diselidiki karena kasus korupsi?" Mateo tersenyum tipis. "Hak suaramu dibekukan oleh pengadilan pagi ini, Rafael. Kau bukan lagi raja di sini. Kau hanyalah penonton."

Mateo berjalan mendekati Rafael, menepuk bahunya dengan cara yang sangat menghina. "Pergilah, Nak. Ambil barang-barangmu. Kau masih punya kekasih yang menunggumu, kami tidak akan menyentuh itu—setidaknya untuk saat ini. Tapi gedung ini? Nama Montenegro? Itu bukan lagi milikmu."

Rafael menepis tangan Mateo dengan kasar. "Kau pikir aku peduli dengan nama ini? Ambil saja! Ambil semua kemunafikan ini! Ayahku mati karena kegilaannya sendiri, dan kau... kau hanyalah burung bangkai yang menunggu sisa-sisa daging dari bangkai yang busuk!"

"Jaga mulutmu, Rafael!" teriak Mateo, wajahnya memerah.

"Tidak, Mateo. Kau yang dengarkan aku," Rafael mencondongkan tubuhnya, menatap pamannya dengan kebencian yang murni. "Kau mendapatkan gedungnya, kau mendapatkan kursinya. Tapi kau tidak akan pernah mendapatkan rasa hormat yang pernah aku miliki. Kau akan selalu menjadi bayangan dari saudaramu yang kejam. Kau kecil, Mateo. Kau pengecut sama seperti Hector! Kau pecundang! Dan kau akan hancur oleh beban yang kau curi ini."

Rafael berbalik, berjalan menuju pintu.

"Rafael!" panggil Mateo. "Jangan bawa satu berkas pun. Jangan bawa satu rahasia pun dari komputer itu. Keamanan akan memeriksa setiap inci tubuhmu sebelum kau keluar."

Rafael berhenti, kepalanya tertoleh sedikit. "Aku tidak butuh berkas kotor kalian untuk membangun masa depanku. Simpan saja sampah-sampah itu."

...****************...

Rafael masuk ke ruang kerjanya yang luas untuk terakhir kali. Ruangan itu sunyi, hanya suara detak jam dinding yang terdengar. Ia melihat foto dirinya bersama Alicia di atas meja. Foto itu diambil di hari mereka merasa dunia ada di genggaman mereka. Sekarang, foto itu terasa seperti ejekan.

Ia tidak mengambil laptopnya. Ia tidak mengambil jam tangan koleksi mahalnya yang ada di laci.

Ia hanya membuka sebuah kotak beludru kecil di dalam laci rahasia. Di dalamnya tersimpan sebuah cincin emas tua dengan batu safir biru kecil—cincin milik ibunya, Lara. Satu-satunya barang yang tidak pernah tersentuh oleh tangan dingin Hector Montenegro.

"Maafkan aku, Ibu," bisik Rafael, matanya berkaca-kaca. "Aku gagal menjaga apa yang kau cintai. Tapi aku berjanji, aku tidak akan membiarkan mereka menghancurkan jiwaku."

Ia memasukkan cincin itu ke saku celananya. Itu adalah seluruh "warisan" yang ia bawa keluar.

Saat Rafael berjalan keluar melewati lobi utama, ratusan karyawan berhenti bekerja. Mereka berdiri di balik meja masing-masing, menatap mantan pimpinan mereka yang biasanya tak tersentuh. Ada yang menatap dengan kasihan, ada yang menatap dengan dendam, namun kebanyakan dari mereka diam karena takut.

Rafael berjalan dengan kepala tegak. Ia tidak menunduk. Ia tidak mempercepat langkahnya.

Di pintu keluar, ia dihadang oleh dua petugas keamanan yang membawa alat pemindai logam. "Maaf, Tuan Rafael. Kami harus memeriksa Anda."

Rafael merentangkan tangannya dengan senyum pahit. "Silakan. Periksa apakah aku mencuri udara di gedung ini juga."

Mereka memeriksa saku-sakunya. Saat menemukan cincin itu, petugas itu ragu sejenak. "Ini..."

"Itu milik ibuku. Sebelum dia mengenal bajingan bernama Hector Montenegro," desis Rafael. "Kau ingin mengambilnya juga? Silakan, tapi langkahi dulu jasadku."

Petugas itu gemetar dan membiarkannya lewat.

Begitu Rafael melangkah keluar dari pintu kaca besar itu, udara dingin Madrid menerpa wajahnya. Di depan gedung, puluhan wartawan sudah menunggu seperti kawanan serigala yang lapar. Kilatan lampu kamera membutakan matanya.

"Rafael! Apakah benar Anda dipecat?!"

"Bagaimana nasib saham Montenegro?!"

"Di mana Alicia Valero? Apakah dia meninggalkan Anda sekarang?!"

Rafael tidak menjawab satu pun pertanyaan itu. Ia terus berjalan menuju mobil pribadinya yang diparkir di seberang jalan. Saat ia duduk di belakang kemudi, ia melihat ke arah jendela lantai teratas. Mateo sedang berdiri di sana, menatapnya dengan gelas wiski di tangan.

Rafael menyalakan mesin. Tangannya mencengkeram setir hingga buku jarinya memutih. Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh membasahi pipinya. Bukan karena ia kehilangan jabatan CEO-nya. Bukan karena ia kehilangan kekuasaan.

Ia menangis karena ia sadar, untuk menjadi bebas, ia harus benar-benar hancur terlebih dahulu.

"Selamat tinggal, Montenegro," bisiknya.

Ia memacu mobilnya menjauh dari gedung itu, meninggalkan masa lalunya yang berdarah. Tujuannya hanya satu: rumah aman di mana Alicia berada. Ia tidak lagi punya takhta untuk ditawarkan, ia hanya punya sebuah cincin tua dan cinta yang kini menjadi satu-satunya harta yang nyata.

...****************...

Hujan mulai membasuh kota Madrid saat Rafael tiba di depan pintu apartemen rahasia Alicia. Ia berdiri di sana, basah kuyup, dengan pundak yang merosot—pemandangan yang mustahil terlihat pada seorang Rafael Montenegro beberapa jam yang lalu. Tangannya gemetar saat mencoba menekan bel, namun sebelum jarinya menyentuh tombol, pintu sudah terbuka.

Alicia berdiri di sana mengenakan gaun putih longgar, wajahnya pucat karena kecemasan yang ia pendam sejak pagi. Begitu melihat sosok Rafael yang berantakan, Alicia tersentak.

"Rafael... apa yang terjadi?" tanya Alicia, suaranya pecah menembus derai hujan.

Rafael tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Alicia dengan mata yang memerah, penuh dengan kehancuran yang tak sanggup diucapkan kata-kata. Detik berikutnya, ia jatuh ke dalam pelukan Alicia, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher wanita itu. Tubuhnya yang besar bergetar hebat.

"Semuanya habis, Alicia," suara Rafael teredam, serak dan perih. "Mereka mengambil segalanya. Nama itu, gedung itu... mereka membuangku seolah aku adalah sampah."

Alicia merangkul kepala Rafael, jemarinya masuk ke sela-sela rambut pria itu yang basah. "Biarkan mereka mengambilnya, Rafael. Biarkan. Kau tidak butuh mereka untuk menjadi dirimu."

Alicia menuntun Rafael masuk, menutup pintu dan menguncinya dari dunia luar yang kejam. Di ruang tamu yang hanya diterangi lampu remang-remang, Rafael melepaskan jasnya yang berat dan basah, melemparkannya ke lantai begitu saja. Ia menatap Alicia dengan intensitas yang menakutkan—perpaduan antara keputusasaan dan gairah yang meledak-ledak.

"Aku tidak punya takhta lagi untuk diberikan padamu," Rafael melangkah mendekat, memojokkan Alicia ke dinding. "Aku hanya pria yang hancur. Apakah kau masih menginginkanku, Alicia Fernández?"

Alicia menangkup wajah Rafael dengan kedua tangannya. Ibu jarinya menghapus air mata yang bercampur sisa air hujan di pipi pria itu. "Aku tidak pernah mencintai CEO Montenegro, Rafael. Aku mencintai pria yang bersembunyi di balik topeng itu. Dan hari ini, topeng itu sudah hancur. Aku menginginkanmu... seluruhnya."

Kata-kata itu menjadi pemicu ledakan emosi yang sudah tertahan terlalu lama. Rafael menyambar bibir Alicia dengan ciuman yang haus, penuh tuntutan, dan gila. Tidak ada lagi keraguan. Tidak ada lagi negosiasi kontrak atau syarat-syarat seperti pertama kali mereka melakukannya. Kali ini, yang ada hanyalah kebutuhan primitif untuk merasa hidup di tengah kematian karir dan nama baiknya.

"Alicia... tolong aku," rintih Rafael di sela ciumannya. "Buat aku lupa. Buat aku merasa bahwa aku masih memiliki sesuatu di dunia ini."

"Kau memilikiku," jawab Alicia dengan napas memburu. Ia menarik kemeja Rafael, melepaskan kancingnya satu per satu dengan tangan yang tidak sabar. "Kau tidak akan pernah kehilangan aku."

Mereka bergerak menuju kamar tidur tanpa memutuskan tautan bibir. Gairah itu terasa panas, membakar rasa sakit yang menyiksa hati mereka. Saat tubuh mereka bersentuhan di atas ranjang, Rafael merasuki Alicia dengan kelembutan yang sekaligus beringas. Ia mencium setiap inci kulit Alicia seolah sedang memetakan tempat perlindungan terakhirnya.

"Kau sangat cantik, Alicia Fernández," bisik Rafael, menatap dalam ke mata Alicia saat ia menanggalkan pakaian wanita itu. "Hanya kau yang nyata. Sisanya... sisanya hanyalah debu."

Alicia menarik kepala Rafael ke bawah, menautkan kaki mereka. "Rasakan aku, Rafael. Jangan pikirkan Mateo. Jangan pikirkan mereka. Hanya ada aku dan kau."

Saat mereka bersatu, gairah yang tercipta bukan lagi tentang dominasi atau permainan kekuasaan. Ini adalah penyatuan dua jiwa yang sedang terluka, saling menyembuhkan dengan setiap sentuhan dan desahan. Rafael bergerak dengan ritme yang penuh emosi, setiap dorongannya seolah mengatakan betapa ia sangat takut kehilangan Alicia.

"Ah, Alicia... jangan pernah tinggalkan aku," desis Rafael, suaranya parau karena kenikmatan yang bercampur kepedihan.

"Tidak akan," Alicia mencengkeram bahu Rafael, kuku-kukunya sedikit menusuk kulit pria itu. "Aku milikmu, Rafael. Selamanya."

Kamar itu dipenuhi oleh suara napas yang memburu dan penuh gairah yang hanya dimengerti oleh mereka yang pernah berada di dasar jurang. Mereka memadu kasih dengan liar, melampiaskan amarah terhadap dunia, kemarahan terhadap keluarga mereka, dan rasa syukur karena masih memiliki satu sama lain.

Di puncak gairah mereka, Rafael membenamkan wajahnya di leher Alicia, meneriakkan nama wanita itu seolah itu adalah doa penyelamatan. Alicia membalasnya dengan dekapan erat, memberikan seluruh kehangatannya untuk membasuh dinginnya pengkhianatan yang baru saja dialami Rafael.

Setelah badai itu mereda, mereka berbaring berpelukan di bawah selimut tipis. Napas mereka perlahan kembali normal, namun genggaman tangan mereka tidak terlepas sedikit pun.

"Cincin itu," bisik Rafael setelah keheningan panjang. "Hanya itu yang kubawa. Cincin ibuku."

Alicia menoleh, menatap Rafael yang kini tampak jauh lebih tenang. "Itu sudah cukup, Rafael. Nama Lara... nama ibumu. Itu yang akan kita gunakan untuk membangun kembali segalanya. Kau bukan lagi seorang Montenegro. Kau adalah pria yang bebas."

Rafael menarik napas panjang, mencium kening Alicia. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia tidak merasa perlu menjadi raja untuk merasa kuat. Di dalam pelukan Alicia Fernández, ia menemukan singgasana yang jauh lebih berharga daripada gedung pencakar langit mana pun di Madrid.

"Besok kita mulai lagi," gumam Rafael.

"Kau benar. Besok," jawab Alicia lembut. "Tapi malam ini, biarkan dunia berpikir kita sudah kalah. Padahal, kita baru saja mulai menang."

1
(🐼Pãñdä%Syâ🐼) 💤
Semangat terus ya thor💪
nadinta
oh my god, Alicia. Perempuan mahallll
Ida Susmi Rahayu Bilaadi
cerita bagus gini yg nge like kok cm sdkt ya. minim typo, aq suka. semangat thor 💪💪💪
chrisytells: Makasih, kakak🙏
Harapan aku, makin banyak lagi yg baca karya aku🤗
Kalau boleh aku minta bantu promosi juga, wkwk 🤭😄
Rajin² tinggalkan komentar ya, kak😍
total 1 replies
BiruLotus
lanjut thor
d_midah
Rafael, pilis jangan jadi pria jahat😭
d_midah
jangan gitu dong Rel🥲
Tulisan_nic
Pembalasan yang elegan sekali Alicia,aku suka tipe wanita sepertimu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!