Ye Fan adalah seorang psikopat yang menjadikan orang-orang jahat sebagai target eksekusinya. Ia menikmati perburuan tersebut tanpa rasa bersalah.
Sebelum kematiannya, Ye Fan menghabiskan waktu dengan sebuah game kultivasi yang menurutnya sangat menarik, karena di dalamnya ia bisa memburu dan membunuh para penjahat tanpa batas.
Namun, hidupnya berakhir ketika ia tewas ditembak polisi. Saat membuka mata kembali, Ye Fan mendapati dirinya telah bereinkarnasi ke dalam dunia kultivasi—dunia yang persis seperti game yang pernah ia mainkan, tempat hasrat lamanya kini dapat terwujud sepenuhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agen one, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13: Pelukan di Ambang Kegelapan
Tepat saat Ye Fan hendak berbalik dan menghilang ke dalam kegelapan malam, pintu kayu di belakangnya terbuka kembali dengan sentakan keras. Sebelum ia sempat bereaksi, sepasang lengan melingkar erat di pinggangnya dari belakang.
Xiao Mei memeluknya dengan sangat kencang, menyandarkan wajahnya yang basah oleh air mata pada punggung Ye Fan yang kini terasa kokoh dan tegap. Isak tangisnya pecah, meredam kesunyian malam di asrama pelayan itu.
"Jangan pergi... tolong jangan pergi seperti itu," isak Xiao Mei. Tubuhnya bergetar hebat karena sisa ketakutan dan kelegaan yang bercampur aduk.
Ye Fan tertegun. Tubuhnya kaku seperti batu. Sebagai pemburu predator yang terbiasa dengan kebencian, jeritan, dan darah, kontak fisik yang penuh kasih sayang seperti ini adalah sesuatu yang sangat asing baginya. Di dunia lamanya, tidak ada yang berani memeluk seorang psikopat sepertinya.
"Kau... sudah aman," ucap Ye Fan datar, namun ia tidak melepaskan pelukan itu.
"Aku takut, Ye Fan! Aku bukan takut pada orang-orang jahat seperti mereka... aku takut kehilanganmu," suara Xiao Mei meredam di balik jubah Ye Fan. "Sejak kau berubah, sejak kau bisa bicara... kau terasa sangat jauh. Aku takut suatu hari nanti aku tidak akan bisa melihatmu lagi di halaman ini."
Xiao Mei mempererat pelukannya, seolah-olah jika ia melepaskannya sedikit saja, Ye Fan akan menguap menjadi asap hitam. Di dalam pelukan itu, ada perasaan cinta yang murni—perasaan yang telah tumbuh selama bertahun-tahun sejak mereka masih menjadi budak yang paling sering dihina di sekte ini. Bagi Xiao Mei, Ye Fan bukan sekadar teman nasib; dia adalah seluruh dunianya.
Ye Fan memejamkan mata. Di dalam benaknya, sistem memberikan notifikasi yang tidak biasa.
[DING!]
[Fluktuasi Emosional Terdeteksi pada Host]
[Koneksi Jiwa dengan Xiao Mei Menguat: 85%]
[Efek: Fokus Kultivasi Meningkat saat berada di dekat Xiao Mei]
Ye Fan perlahan membalikkan tubuhnya. Ia menatap wajah Xiao Mei yang sembap. Dengan tangannya yang baru saja digunakan untuk mencekik Guntur, ia kini menghapus air mata di pipi gadis itu dengan ibu jarinya secara perlahan.
"Aku... tidak akan... ke mana-mana," bisik Ye Fan. Suaranya kali ini terdengar lebih lembut, hampir menyerupai suara manusia normal. "Siapa pun... yang menyentuhmu... akan mati."
Mata Xiao Mei berbinar mendengar janji itu. Meski ia merasakan aura dingin yang mengerikan dari Ye Fan, ia tidak peduli. Baginya, Ye Fan adalah pelindungnya. Ia berjinjit dan mengecup pipi Ye Fan dengan cepat sebelum akhirnya menyembunyikan wajahnya yang merona merah di dada pemuda itu.
Ye Fan merasakan debaran jantung yang aneh. Ia tidak mengerti cinta, tapi ia mengerti tentang kepemilikan. Baginya, Xiao Mei sekarang adalah "miliknya" yang paling berharga. Dan sebagai pemburu, ia akan memburu siapa pun yang berani mengusik miliknya.
"Masuklah... istirahat," ucap Ye Fan sambil mengusap kepala Xiao Mei. "Besok... aku akan menjadi... murid dalam. Tidak akan ada... yang berani... menghinamu lagi."
Xiao Mei mengangguk patuh. Ia melepaskan pelukannya dengan berat hati, menatap Ye Fan sekali lagi sebelum masuk ke kamarnya dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
Setelah pintu tertutup, wajah hangat Ye Fan langsung menghilang, digantikan oleh ekspresi dingin yang kejam. Ia melirik ke arah bayangan tempat ia menyembunyikan Guntur di dalam Inventori.
“Sekarang,” batin Ye Fan sambil berjalan menjauh. “Mari kita selesaikan urusan dengan 'tamu' kita yang ada di dalam ruang hampa.”
Malam itu, di dalam dimensi sistem yang gelap gulita, jeritan Guntur pecah saat Ye Fan mulai mengeksekusinya tanpa ampun, menyerap sisa-sisa esensinya untuk memastikan kekuatannya berada di puncaknya sebelum seleksi murid dalam dimulai esok pagi.