"Jangan pernah melawan dunia, Nak. Semesta ini terlalu besar untukmu yang kecil. Begitu pun nanti jika kau dewasa. Semesta dan isinya terlalu besar untuk kamu lawan. Lebih baik menghindar dan mengalah demi keselamatanmu." Pesan mendiang Kakek selalu terngiang, bahkan telah tertanam dalam benak Naina.
Meski ia sempat mencintai orang yang salah, yang selalu memenjarakannya di sangkar emas, mengekang hidupnya dengan cinta yang dipaksakan, Naina tak dapat melawan penguasa tersebut. Naina terlalu lemah di hadapan Ryan, suaminya. Dapatkah cinta mereka bersatu kembali setelah beberapa kali badai besar menerjang bahtera mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Hari ini, adalah hari bahagia bagi Ryan, seharusnya begitu. Karena hari ini, Ryan melangsungkan pernikahan yang selalu ia impikan. Bersanding dengan wanita yang ia cintai dan ia dambakan setiap hari.
Ryan menggunakan pakaian serba putih, dengan bunga melati sebagai simbolis ikatan pernikahan. Sangan tampan dan memesona. Begitupun Maeta dengan balut kebaya putih dan siger Sunda yang elegan.
Prosesi yang begitu sakral dan sangat bermakna. Dekorasi yang mewah bak pesat dongeng kerajaan. Benar-benar pesta pernikahan yang sangat di dambakan semua orang.
Tamu undangan yang datang pun menatap kagum akan keindahan pesta pernikahan Ryan dan Maeta. Pasangan yang serasi, sangat cocok bersanding di atas pelaminan.
Ryan tersenyum manis pada Maeta, begitu pun sebaliknya. Namun ada satu rasa yang membuat isi hati Ryan merasa kosong. Ada rasa hampa dan dingin. Seperti ruangan yang terbengkalai namun menyimpan sejuta kenangan.
Dalam acara sakral itu, terlintas wajah gadis kecil yang membuatnya tak nyaman. Dalam lamunan Ryan gadis itu menangis dan menatapnya tajam. Sayup-sayup terdengar ucapan benci yang terus berdengung di telinga Ryan.
"Kamu kenapa, Yan?" Tanya Maeta saat menyadari keseimbangan Ryan mulai goyah.
"Aku sedikit pusing." Elaknya, dan langsung duduk.
"Istirahatlah dulu, biar aku yang handle tamu."
Ryan hanya mengangguk dan berlalu meninggalkan Maeta.
Dalam sela kekosongan itu, Ryan mencoba menghubungi nomor Naina. Namun tak ada jawaban berapa kali pun Ryan memanggilnya. Hal tersebut membuat hati Ryan semakin resah.
"Apa mereka sedang keluar rumah?" Gumam Ryan.
Ryan beberapa kali mendapati Naina jika keluar rumah tak pernah membawa ponsel. Mungkin iya, Naina berbelanja dan tak membawa ponselnya. Ryan harus tetap fokus pada acara pernikahannya.
Terlebih besok ia harus berangkat ke Paris untuk berbulan madu bersama Maeta. Bulan madu yang di selangi dengan bekerja.
Iya, Ryan memutuskan untuk mengantar Maeta kembali ke Paris untuk melanjutkan pekerjaannya. Ryan hanya akan tinggal di sana selama beberapa minggu saja.
Sebab, setelah itu, keduanya akan lama untuk bertemu kembali. Ryan memutuskan untuk mengunjungi Maeta 3 bulan sekali. Jadi Ryan masih bisa bersama Naina dan juga Nayla. Begitulah pikiran Ryan, yang terkesan egois.
Pesta pernikahan berlangsung meriah dan lancar. Malam itu, Ryan membuatkan segelas susu untuk Maeta. Ia memberikannya pada istrinya dengan penuh kasih sayang.
"Apa kau capek?" Tanya Ryan basa basi.
"Sedikit, kenapa?" Maeta langsung mengalungkan tangannya pada leger Ryan.
Ryan tersenyum bahagia. Perlahan mereka saling beradu pandang dan mulai melumat bibir masing-masing. Pemanasan yang sangat pelan dan romantis. Tak terkesan kasar dan mendominasi. Mereka saling berbagi rasa, seolah sudah biasa melakukannya.
Percintaan yang di dasari rasa suka dan sayang, tak menjadikan Ryan terkesan liar dan kasar. Ryan sangat hati-hati dan memberikan kenyamanan untuk Maeta dalam bercinta.
Meski bukan malam pertama, namun malam ini, adalah malam yang sah dan sangat bermakna bagi keduanya. Harapan besar tumbuh di antara keduanya. Meski Maeta tak begitu mencintai Ryan, tapi ia sadar, laki-laki yang sederajat dengannya hanyalah Ryan.
Ia tak ingin mencintai pria yang miskin dan tak bisa menghasilkan uang yang banyak. Maka dari itu Maeta memilih Ryan karena selain Ryan bucin padanya, penghasilan Ryan sangatlah luar biasa.
Malam itu pun berlalu dengan penuh peluh. Saling berbagi cinta dan kasih sayang dalam dekapan hangatnya tubuh. Ryan memeluk Maeta selepas bercinta. Menggunakan selimut berdua. Benar-benar romantis.
Malam berlalu pagi pun datang, Ryan mengecup kening Maeta sebelum ia beranjak dari tempat tidurnya.
"Ikut," ucap Maeta manja.
"Ayo." Ryan menggendong Maeta untuk mandi bersama.
Meski hatinya hampa, tapi ia merasa bahagia dengan pernikahannya.
Pagi itu Ryan bersiap-siap untuk berangkat ke bandara dan pergi berbulan madu. Sebelum berangkat keduanya sarapan terlebih dahulu.
"Apa tidak bisa minggu depan saja berangkatnya? Kami semua masih rindu, loh." Seru Yeti ibu kandung Ryan yang begitu sangat menyayangi menantunya.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaan ku bu. Nanti jika ada cuti, aku sempatkan untuk pulang." Jawab Maeta.
"Baiklah, hati-hati, ya."
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 20 jam, dengan transit yang tak bisa diperkirakan. Akhirnya, mereka sampai di Bandara Charles de Gaulle, sebelum mereka pergi ke apartemen milik Maeta.
Siapa sangka, setibanya di apartemen, Maeta dan Ryan di kejutkan dengan pesta kecil-kecilan dari sahabat dan rekan kerja Maeta.
Mereka mengucapkan selamat pada Ryan dan Maeta atas pernikahannya. Namun siapa sangka pesta itu bukan untuk Ryan, tapi untuk Maeta.
Bukan Ryan tak mengerti bahasa mereka, atau tak bisa menggunakan bahasa Inggris, tapi memang teman Maeta yang tak bisa di ajak berkomunikasi. Mereka terlalu asik pada cerita Maeta dan mengabaikan Ryan.
Ryan pergi dan duduk di balkon. Ia menyalakan tembakaunya dan menghisapnya pelan. Pandangan lurus menatap langit Paris. Satu tangannya lagi menggenggam bir kaleng. Ryan meneguk habis bir tersebut, dan menghisap dalam tembakaunya.
"Kalian sedang apa sekarang?" Gumam Ryan yang tiba-tiba ingat pada Naina dan Nayla.
Dua perempuan yang tak akan pernah mengabaikan dirinya. Dua perempuan yang selalu tersenyum dan manja pada dirinya.
Siapa sangka, pikiran yang terus mengganggunya itu, membuatnya tak sadar menghabiskan tembakau itu semuanya. Satu bungkus penuh di habiskan dalam beberapa jam.
Ryan melihat Maeta dan kawan-kawannya yang tertawa bahagia tanpa dirinya. Bahkan Maeta seolah tak menganggapnya ada. Ryan benar-benar di abaikan.
Ryan melihat bungkus rokoknya yang habis, seketika ia kesal. Ryan berjalan dan menghampiri Maeta.
"Aku keluar dulu."
"Mau ngapain?" Tanya Maeta.
"Beli rokok."
"Oh, hati-hati, jangan keluyuran, ya." Seru Maeta yang terkesan tak acuh dan kembali tertawa bersama teman-temannya.
Ryan merasa kesal, baru kali ini ia tak di hargai oleh wanita. Tapi ini pilihannya. Bagaimana pun, Ryan yang menginginkan hidup bersama Maeta. Setidaknya ia harus tahu konsekuensinya.
Namun Ryan yang biasa di perlakukan seperti Raja, merasa tak terima jika ia di abaikan begitu saja. Ryan kesal, dan juga benci akan situasinya sekarang.
Setibanya di minimarket, Ryan memesan rokok dan beberapa kaleng bir. Cuaca di Paris sangat dingin, dan ia butuh kehangatan.
Tangannya menyalakan kembali tembakau kecil itu. Setelah ia menghisapnya, Ryan kembali melihat ponselnya. Berharap ada notifikasi yang mengobati rindunya. Namun sayang tak ada pesan apapun.
"Kemana mereka?" Gumam Ryan sedikit cemas dan kesal.
Ryan kembali menghubungi ponsel Naina. Tetap tak ada jawaban. Hal tersebut membuat Ryan semakin panik dan tak tenang.
"Kemana mereka sebenarnya?" Desis Ryan tak tenang.
Ryan mecoba menghubungi Dani, ia meminta tolong untuk menjenguk dan mengecek keadaan Naina. Entah kenapa Ryan semakin panik dan tak tenang. Terlebih saat Dani tak juga mengangkat panggilannya.
Ryan melihat jamnya, ia mengingat jam berapa di Indonesia saat ini. Saat Ryan menghubungi mereka, di Paris tepat pukul 9 malam, maka di Indonesia sudah dini hari, telatnya pukul 1 dini hari.
"Mungkin mereka sudah tertidur. Besok aku akan menghubunginya kembali." Gumam Ryan dan mematikan puntung rokok.
Ryan kembali ke apartemen, namun kawan-kawan Maeta masih betah dan belum juga pulang. Ryan tak bisa mengusirnya, maka Ryan putuskan untuk tidur lebih dulu.
Maeta tak ambil pusing, ia kembali melanjutkan pestanya sampai pagi dan mengabaikan Ryan sepenuhnya.
Ryan terbaring di ranjang yang besar seorang diri. Tawa mereka bergema dan masih terdengar sampai ke kamarnya. Bahkan jarak mereka yang cukup jauh pun masih dapat terdengar suara cekikikan mereka.
Ryan benar-benar kesal karena tak di hargai oleh mereka. Meski berbeda budaya dan kebiasaan, setidaknya menghargai orang lain semua negara pun sama. Tapi kenapa mereka benar-benar menyebalkan.
"Brengsek... Gue di abaikan." Gerutu Ryan tak terima.
"Jika begini terus, lebih baik, besok aku pulang saja." Ryan mencoba memejamkan matanya berharap waktu cepat berlalu.