SINOPSIS
Feng Ruxue adalah Permaisuri dari Kekaisaran Phoenix yang dikhianati oleh suaminya sendiri, sang Kaisar, dan adik perempuannya yang licik. Mereka menjebak Ruxue, mencabut tulang sumsum phoenix-nya (sumber kekuatannya), dan membakarnya hidup-hidup di Menara Terlarang.
Namun, alih-alih mati, jiwa Ruxue justru bangkit kembali ke tubuh seorang gadis lemah berwajah buruk rupa yang sering ditindas di desa terpencil. Dengan ingatan masa lalunya sebagai kultivator tingkat tinggi, ia mulai berlatih kembali, menyembuhkan wajahnya, dan membangun pasukan rahasia. Ia kembali ke ibu kota bukan untuk meminta maaf, tapi untuk mengambil kembali mahkotanya dan membakar setiap orang yang pernah mengkhianatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mieayam(•‿•), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Menyeberangi Batas Langit
Kehancuran di Paviliun Mawar malam itu meninggalkan luka yang lebih dalam daripada sekadar puing-puing batu yang berserakan. Bagi Lin Xiao, setiap retakan di lantai istananya adalah pengingat akan kelemahannya sendiri di hadapan kekuatan dari Benua Pusat. Selama tiga tahun ia merasa telah mencapai puncak, namun dalam satu malam, seorang utusan muda dari sekte luar telah membuktikan bahwa ia masih hanyalah seekor ikan kecil di kolam yang sangat sempit.
Fajar belum menyingsing ketika Lin Xiao berdiri di aula utama istana yang masih gelap. Ia tidak lagi mengenakan jubah permaisuri yang megah. Sebagai gantinya, ia mengenakan pakaian perjalanan kulit berwarna hitam yang ramping, dirancang untuk fleksibilitas maksimal. Rambut peraknya diikat tinggi, memberikan kesan tajam dan siap tempur.
"Anda benar-benar akan pergi sendirian, Nona?" suara Kepala Paviliun Gu memecah kesunyian. Ia berdiri di bayang-bayang pilar, memegang sebuah tas ruang dimensi yang berisi persediaan obat-obatan terbaik yang bisa dikumpulkan dalam waktu semalam.
Lin Xiao berbalik, matanya tampak dingin namun penuh tekad. "Jika aku membawa pasukan, itu hanya akan memperlambat perjalananku dan membuat mereka menjadi sasaran empuk. Benua Pusat bukan tempat di mana jumlah prajurit menentukan kemenangan. Di sana, hanya kekuatan individu yang diakui."
Ia berjalan mendekati Gu dan meletakkan tangannya di bahu pria tua itu. "Gu, aku menyerahkan Kekaisaran Nirwana padamu. Gunakan 'Dewan Mawar' untuk memerintah. Jika ada ancaman yang tidak bisa kau tangani, aktifkan formasi pertahanan Inti Dewa yang sudah kutanam di bawah istana. Itu akan melindungimu setidaknya selama satu bulan."
Gu menundukkan kepalanya dalam-dalam, suaranya bergetar. "Saya akan menjaga takhta ini dengan nyawa saya sampai Anda kembali membawa Nona Muda Yun'er. Tapi... bagaimana Anda akan menyeberangi Samudra Kematian yang memisahkan benua kita dengan Benua Pusat? Tanpa kapal terbang dewa, itu mustahil."
Lin Xiao tersenyum tipis, sebuah senyuman yang mengandung sedikit kegilaan. "Aku tidak akan terbang di atasnya, Gu. Aku akan menggunakan energi Nightshade untuk membuka jalur di antara dimensi. Berisiko, tapi jauh lebih cepat."
Tanpa menunggu lebih lama, Lin Xiao melesat keluar dari istana. Ia berlari secepat kilat menuju puncak tertinggi di Pegunungan Salju Abadi—titik terdekat di mana gravitasi dunia terasa paling tipis.
Perjalanan menyeberangi perbatasan dimensi bukanlah hal yang mudah. Selama tiga hari, Lin Xiao harus bertarung melawan badai ruang hampa yang mencoba mencabik-cabik tubuhnya. Namun, kemarahan yang membakar dadanya karena penculikan Yun'er menjadi perisai yang lebih kuat dari zirah apa pun.
Pada hari keempat, Lin Xiao akhirnya melihat sebuah daratan yang begitu luas hingga cakrawalanya seolah-olah tidak berakhir. Ini bukan lagi daratan biasa. Udara di sini mengandung energi spiritual yang sepuluh kali lebih padat daripada di rumahnya, namun energi itu terasa sangat liar dan tajam, menusuk-nusuk pori-pori kulitnya seperti jarum halus.
Ia mendarat di sebuah wilayah yang dikenal sebagai Hutan Belantara Hitam, wilayah terluar dari Benua Pusat Keabadian yang menjadi zona penyangga sebelum mencapai kota-kota besar.
"Jadi, ini adalah Benua Pusat," gumam Lin Xiao sambil menghirup udara yang berat tersebut. Ia bisa merasakan Inti Dewa Kegelapan-nya berdenyut kegirangan, menghisap energi spiritual liar di sekitarnya dengan rakus. Di tempat ini, ia merasa kekuatannya bisa tumbuh lebih cepat, namun ia juga sadar bahwa ia adalah mangsa baru di wilayah para predator.
Baru saja ia melangkah beberapa ratus meter, indra pendengarannya menangkap suara dentingan logam dan teriakan di balik pepohonan raksasa yang tingginya mencapai ratusan meter.
Lin Xiao bergerak tanpa suara, menyatu dengan bayangan pepohonan. Di sebuah tanah lapang, ia melihat sebuah karavan dagang sedang dikepung oleh sekelompok pria berpakaian zirah kulit serigala. Yang mengejutkan bagi Lin Xiao bukan perampokannya, melainkan tingkat kekuatan mereka.
‘Bahkan perampok di sini rata-rata berada di Tahap Pembentukan Inti tingkat puncak?’ batin Lin Xiao terkejut.
Di kekaisarannya, orang-orang seperti ini sudah bisa menjadi jenderal besar, tapi di sini mereka hanyalah penyamun jalanan.
Karavan itu dijaga oleh seorang gadis muda yang tampaknya terluka parah. Ia mencoba melindungi seorang pria tua di belakangnya.
"Serahkan 'Batu Roh Langit' itu, atau kami akan mengumpankan kalian pada Serigala Bayangan!" raung pemimpin perampok, seorang pria besar dengan kapak raksasa yang memancarkan aura Inti Emas Tingkat Dua.
Lin Xiao sebenarnya tidak ingin terlibat dalam urusan orang lain. Tujuannya hanya satu: Kota Awan Putih. Namun, ia menyadari bahwa ia butuh informasi dan peta wilayah ini. Masuk ke kota besar tanpa mengetahui aturan main di Benua Pusat adalah tindakan bunuh diri.
‘Baiklah, anggap saja ini pemanasan,’ pikir Lin Xiao.
Ia muncul dari bayangan tepat di belakang pemimpin perampok. Pria besar itu bahkan tidak menyadari kehadiran Lin Xiao sampai ia merasakan dinginnya bilah Nightshade di lehernya.
"Siapa—"
Sret!
Tanpa banyak bicara, Lin Xiao mengayunkan pedangnya. Dalam satu gerakan yang bersih, kepala pemimpin perampok itu terpisah dari tubuhnya. Tubuhnya ambruk, menyemburkan darah ke tanah yang kering.
Para perampok lainnya membeku. Mereka menatap gadis berambut hitam dengan helai perak itu dengan tatapan tidak percaya. "Siapa kau?! Berani sekali mencampuri urusan Geng Serigala Hitam!"
Lin Xiao tidak menjawab dengan kata-kata. Ia melepaskan sebagian kecil dari Energi Nirwana-nya. Kelopak mawar hitam mulai berputar di sekelilingnya, menciptakan zona kematian yang dingin.
"Mati atau pergi," ucap Lin Xiao datar.
Melihat pemimpin mereka tewas dalam satu serangan, para perampok itu kehilangan nyali. Mereka segera berbalik dan lari tunggang langgang ke dalam hutan, meninggalkan karavan dagang yang ketakutan.
Gadis muda yang menjaga karavan itu jatuh terduduk, menahan luka di bahunya. Ia menatap Lin Xiao dengan rasa takut yang bercampur kagum. "Terima kasih... Senior. Terima kasih telah menyelamatkan nyawa kami."
Lin Xiao menyarungkan pedangnya dan berjalan mendekat. "Aku tidak butuh terima kasihmu. Aku butuh informasi. Di mana letak Kota Awan Putih, dan seberapa jauh dari sini?"
Mendengar nama Kota Awan Putih, gadis itu dan pria tua di belakangnya saling pandang dengan wajah pucat.
"Senior... Kota Awan Putih adalah pusat dari Sekte Cahaya Suci," ucap si pria tua sambil gemetar.
"Perjalanan ke sana melewati tiga wilayah kekuasaan sekte besar. Dengan berjalan kaki, itu akan memakan waktu berbulan-bulan, dan wilayahnya dipenuhi dengan binatang buas tingkat tinggi."
Lin Xiao mengerutkan kening. "Terlalu lama. Apakah ada cara yang lebih cepat?"
"Ada sebuah Kota Transportasi bernama Kota Karang Hijau sekitar dua hari perjalanan dari sini," jawab gadis itu. "Di sana ada formasi teleportasi kuno, tapi biayanya sangat mahal... mereka meminta Batu Roh tingkat tinggi sebagai pembayarannya."
Lin Xiao menatap tas dimensinya. Ia membawa banyak harta dari istananya, tapi ia tidak yakin apakah mata uang kekaisarannya berlaku di sini.
"Antarkan aku ke Kota Karang Hijau," perintah Lin Xiao. "Sebagai imbalannya, aku akan menjamin keamanan karavan kalian sampai di sana."
Gadis itu, yang memperkenalkan namanya sebagai Mu Rong, segera setuju dengan penuh semangat. Memiliki pelindung sekuat Lin Xiao di hutan berbahaya ini adalah berkah yang tak terduga.
Sepanjang perjalanan selama dua hari berikutnya, Lin Xiao belajar banyak hal. Ia menyadari bahwa di Benua Pusat, status ditentukan oleh warna lencana sekte dan kemurnian energi spiritual. Ia juga belajar bahwa Wei Lan, pria yang menculik Yun'er, adalah putra dari salah satu tetua agung Sekte Cahaya Suci, yang membuat misi penyelamatannya menjadi jauh lebih sulit dari yang ia bayangkan.
Namun, Lin Xiao tidak gentar. Justru sebaliknya, setiap informasi tentang kekuatan musuhnya hanya membuat api di hatinya semakin berkobar.
Saat mereka akhirnya mencapai puncak bukit dan melihat tembok Kota Karang Hijau yang menjulang tinggi di kejauhan, Lin Xiao merasakan tatapan-tatapan lapar dari para kultivator yang berlalu-lalang. Di tempat ini, kekacauan adalah hukum, dan kekuatan adalah keadilan.
"Yun'er, tunggu kakak," bisik Lin Xiao pada angin.
"Siapa pun yang menghalangi jalanku, akan kujadikan pupuk bagi mawar hitamku."
Dengan langkah yang penuh dengan aura pembunuh yang terpendam, Lin Xiao memasuki kota pertama di Benua Pusat, siap untuk memulai badai yang akan mengguncang langit keabadian.